Pasar Obligasi Global Diprediksi Tertekan Gelombang Pengetatan Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Di tengah perdebatan mengenai kapan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) akan menurunkan tingkat suku bunganya, pelaku pasar global justru mulai melihat adanya kecenderungan bakal terjadinya pengetatan moneter secara global.
Proyeksi pengetatan moneter yang sudah bisa dipastikan diimplementasikan dalam bentuk kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral, tentu menimbulkan tekanan besar bagi pasar obligasi global. Para pelaku pasar pun memperkirakan biaya pinjaman di Jepang, Kanada, Inggris, dan kawasan euro akan meningkat lebih cepat daripada di Amerika Serikat dalam setahun ke depan.
Setidaknya data yang diungkap Bloomberg menunjukkan bahwa dua pertiga dari 32 pasar swap yang dipantau telah (priced in) memperhitungkan kenaikan suku bunga dalam pasar swap. Korea Selatan digambarkan memimpin potensi kenaikan hingga lebih dari 100 basis poin. Fenomena ini menandai pergeseran siklus suku bunga yang selama ini selalu menunggu pergerakan The Fed, pada kebijakan yang ditelurkan oleh bank sentral lainnya di dunia.
Bank sentral di luar AS seperti Jepang, Korea Selatan, Inggris, Kanada, dan Kawasan Euro, mulai menaikkan suku bunga lebih cepat dan lebih agresif atas dorongan kondisi ekonomi domestik mereka sendiri. Mereka kini tidak harus menunggu aba-aba atau langkah dari The Fed terlebih dahulu.
Pergeseran dinamika moneter ini dipicu oleh gabungan tekanan harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Iran, tingginya belanja pemerintah, serta ledakan investasi kecerdasan buatan (AI) yang mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Kombinasi faktor-faktor tersebut mendorong tingkat inflasi di negara-negara Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyentuh level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Situasi ini menempatkan investor pada posisi yang dilematis, mengingat obligasi yang tadinya berfungsi sebagai peredam risiko ketika pasar saham bergejolak, kini justru berpotensi menambah kerugian portofolio.
George Efstathopoulos dari Fidelity International yang dikutip Bloomberg menegaskan bahwa "dari perspektif diversifikasi, obligasi tidak lagi menjalankan tugasnya," sehingga ia memilih untuk meminimalkan porsi surat utang pemerintah dalam portofolionya.
Ekspektasi pasar memperkirakan total kenaikan suku bunga bisa mencapai sekitar 400 basis poin di tujuh pasar utama dunia di sepanjang tahun depan.
Apabila perkiraan tersebut benar, dampaknya tidak hanya terbatas pada pasar obligasi, melainkan juga berpotensi menekan pasar saham bernilai tinggi dari proyeksi pendapatan di masa depan.
Baca Juga
Transmisi Suku Bunga Berlanjut, Permintaan Kredit dan Kualitas Pembiayaan Jadi Perhatian
Ed Al-Hussainy dari Columbia Threadneedle menambahkan bahwa kenaikan suku bunga turut meningkatkan imbal hasil dari kepemilikan uang tunai, sehingga pemerintah dan perusahaan terpaksa menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi guna memperebutkan modal investor. Di Asia, Seoul dan Tokyo diprediksi memimpin gelombang pengetatan akibat benturan antara tingginya biaya energi dan belanja infrastruktur AI, yang berujung pada penurunan kinerja obligasi pemerintah Korea Selatan dan Jepang.
Sementara itu di Eropa, biaya energi yang tinggi dan belanja pertahanan yang melonjak turut menekan obligasi acuan di Jerman, Italia, dan Prancis.
Meskipun demikian, sebagian pengelola dana seperti Iain Stealey dari JPMorgan Asset Management masih melihat peluang pada obligasi Eropa, khususnya obligasi pemerintah Inggris (gilts), karena menilai Bank of England tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga.
"Saya jauh lebih yakin untuk membeli bagian depan kurva Eropa, khususnya Inggris," kata Stealey, Minggu 916/8/2026).
Di sisi lain, pasar obligasi Amerika Serikat juga mengalami kenaikan imbal hasil obligasi tenor panjang akibat kekhawatiran atas defisit anggaran yang terus membengkak, sebagaimana ditunjukkan oleh tingginya imbal hasil pada lelang obligasi 30 tahun baru-baru ini.
Secara keseluruhan, obligasi kini menempati porsi yang jauh lebih kecil dalam portofolio investasi dibandingkan satu dekade lalu.
Kenneth Goh dari UOB Kay Hian di Singapura mengungkapkan bahwa "banyak investor masih mengasumsikan obligasi dapat melindung portofolio, padahal instrumen tersebut tidak lagi bekerja dengan cara seperti itu."
Ketika bank sentral di berbagai negara melakukan pengetatan secara bersamaan, diversifikasi melalui obligasi tidak lagi memberikan perlindungan seefektif saat siklus kebijakan moneter global masih saling bertolak belakang.

