Wall Street Terdongkrak Sentimen Inflasi dan Harga Minyak, S&P 500 Tembus Rekor Baru
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Bursa saham Amerika Serikat (AS) kembali mencetak rekor pada perdagangan Kamis waktu AS atau Jumat ( /8/2026) WIB. Indeks S&P 500 naik 0,65% dan ditutup pada rekor 7.798,99, setelah sebelumnya menembus level 7.800 untuk pertama kalinya dalam sejarah perdagangan intraday.
Nasdaq Composite juga menguat 0,81% menjadi 26.803,03, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 69,72 poin atau 0,13% ke 53.839,99.
Baca Juga
Harga Produsen AS Stagnan, The Fed Diperkirakan Tak Akan Naikkan FFR pada September
Sentimen positif terutama berasal dari data PPI (producer price index) Juli yang menunjukkan harga produsen tidak berubah secara bulanan. Ekonom sebelumnya memperkirakan PPI meningkat 0,2%.
PPI inti naik 0,2%, sedikit lebih rendah dari perkiraan 0,3%.
Data tersebut dirilis sehari setelah laporan CPI Juli yang menunjukkan inflasi konsumen meningkat 0,1% secara bulanan, sesuai ekspektasi. Inflasi tahunan tercatat 3,4%, sedangkan inflasi inti mencapai 2,5%.
Rangkaian data tersebut memberikan indikasi bahwa tekanan inflasi mulai moderat dan tidak semakin memperburuk prospek kebijakan moneter.
"Untuk saat ini, gambaran inflasi belum cukup untuk menggagalkan apa yang pada dasarnya masih merupakan pasar yang didorong oleh kinerja laba perusahaan," kata Bill Merz, kepala riset pasar modal U.S. Bank Asset Management, dikutip CNBC.
Menurut Merz, pasar masih menunggu bagaimana The Fed di bawah Ketua Kevin Warsh menafsirkan data tersebut dan apakah bank sentral akan mengambil tindakan. "Untuk sementara, moderasi tambahan pada angka CPI dan PPI merupakan perkembangan yang konstruktif," ujarnya.
Harga Minyak Anjlok
Selain data inflasi, penurunan harga minyak turut memberikan dukungan terhadap pasar saham.
Harga minyak Brent turun lebih dari 2% dan ditutup pada US$87,07 per barel. West Texas Intermediate (WTI) juga merosot lebih dari 2% menjadi US$81,25 per barel.
Baca Juga
Harga Minyak Turun, AS Klaim Ekspor via Selat Hormuz Capai 9 Juta Barel per Hari
Penurunan harga minyak terjadi ketika pasar mempertimbangkan melemahnya permintaan minyak di tengah perang AS-Iran yang masih berlangsung.
Harga energi menjadi salah satu faktor penting bagi investor karena penurunan harga minyak dapat membantu meredakan tekanan inflasi dan memberikan ruang lebih besar bagi The Fed untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga.
Prospek suku bunga yang lebih rendah atau stabil biasanya menjadi katalis positif bagi saham, terutama sektor teknologi yang sangat sensitif terhadap perubahan biaya pendanaan dan valuasi.
Saham Teknologi Jadi Penopang
Kenaikan Nasdaq didukung sejumlah saham teknologi besar. Meta Platforms, Micron Technology, dan Netflix menjadi beberapa saham yang mencatat penguatan dan membantu mendorong indeks teknologi tersebut.
Namun, tidak semua saham teknologi menikmati sentimen positif. Cisco Systems menjadi salah satu pemberat utama setelah sahamnya merosot lebih dari 8%. Investor kecewa terhadap hasil kinerja kuartalan terbaru perusahaan meskipun perusahaan mencatat hasil yang relatif baik.
Saham Cerebras juga turun hampir 12%, sementara Coherent merosot sekitar 8% setelah masing-masing menyampaikan laporan kinerja terbaru.
Perbedaan respons investor tersebut menunjukkan bahwa pasar saat ini tidak hanya bergantung pada sentimen makroekonomi, tetapi juga semakin selektif terhadap prospek pertumbuhan dan kinerja perusahaan.
Rekor S&P 500 menunjukkan bahwa investor masih memiliki selera terhadap aset berisiko. Namun, arah pasar berikutnya akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi selanjutnya, kebijakan The Fed, harga energi, serta perkembangan perang AS-Iran.
Jika tekanan inflasi terus melandai dan harga minyak tetap terkendali, pasar berpotensi mendapatkan ruang untuk melanjutkan reli. Sebaliknya, lonjakan kembali harga energi atau perubahan sikap The Fed dapat menjadi ancaman bagi reli tersebut.

