Wall Street Menguat Setelah Rilis Data Inflasi AS, Saham AI Melonjak
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Bursa saham Amerika Serikat (AS) mayoritas menguat pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (13/8/2026) WIB. Wall Street menguat setelah data inflasi Juli menunjukkan tekanan harga masih terkendali. Kenaikan indeks juga didorong lonjakan saham perusahaan teknologi yang terkait dengan investasi kecerdasan buatan (AI).
Indeks S&P 500 naik 0,26% dan ditutup pada 7.748,50. Nasdaq Composite menguat 0,54% menjadi 26.588,49. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun tipis 21,58 poin atau 0,04% ke level 53.770,27.
Baca Juga
Inflasi AS Melandai Imbas Penurunan Biaya Energi, Tekanan Kenaikan Bunga Mereda?
Sentimen pasar mendapat dorongan dari laporan inflasi AS yang sesuai dengan ekspektasi. Indeks harga konsumen (CPI) meningkat 0,1% secara bulanan pada Juli, sementara inflasi tahunan mencapai 3,4%.
Inflasi inti, yang tidak memperhitungkan harga makanan dan energi, naik 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan. Kedua angka tahunan tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan Juni.
Data tersebut memperkuat harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Pasar kini memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%-3,75% dalam pertemuan September mencapai sekitar 60%, berdasarkan CME FedWatch. Angka tersebut meningkat dari lebih dari 45% sepekan sebelumnya.
“Inflasi yang sesuai ekspektasi memperkuat pandangan bahwa The Fed belum perlu menaikkan suku bunga, sebagaimana mulai terlihat setelah laporan ketenagakerjaan pekan lalu,” kata Ellen Zentner, chief economic strategist Morgan Stanley Wealth Management, dikutip CNBC.
Menurut Zentner, masih akan ada satu data inflasi lagi sebelum pertemuan FOMC September. Karena itu, arah kebijakan masih dapat berubah jika data berikutnya menunjukkan tekanan harga yang jauh lebih tinggi.
Namun, jika tidak terjadi perubahan besar, The Fed kemungkinan masih memiliki alasan untuk mempertahankan suku bunga pada September.
Pasar sebelumnya sempat memperkirakan kenaikan suku bunga lebih besar setelah tiga pejabat The Fed menyatakan perbedaan pendapat dalam rapat terakhir dan mendukung kenaikan suku bunga.
Selain inflasi, perhatian investor tetap tertuju pada harga minyak. Harga minyak AS kembali menembus US$83 per barel pada Rabu di tengah semakin kecilnya harapan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kenaikan harga energi tetap menjadi risiko bagi inflasi AS. Jika harga minyak kembali melonjak akibat konflik Timur Tengah, tekanan terhadap konsumen dan kebijakan moneter The Fed dapat meningkat.
Baca Juga
Iran Perketat Syarat Pembukaan Hormuz, Harga Minyak Kembali Melonjak
Saham AI Jadi Penggerak
Di luar faktor makroekonomi, saham perusahaan teknologi berbasis AI menjadi motor penguatan Wall Street.
Saham CoreWeave melonjak 19% setelah perusahaan infrastruktur komputasi awan tersebut melaporkan margin laba operasional kuartal II yang disesuaikan sebesar 5%, lebih tinggi dari ekspektasi. Pendapatan perusahaan juga meningkat dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Super Micro Computer turut melonjak 19% setelah memberikan proyeksi laba dan pendapatan kuartal pertama yang kuat.
Kinerja tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa permintaan terhadap infrastruktur AI masih solid meskipun pasar mulai menghadapi valuasi tinggi di sektor teknologi.
Sejumlah saham terkait AI lainnya juga menguat. Dell Technologies naik hampir 10%, Micron Technology bertambah hampir 5%, sedangkan Cisco Systems meningkat hampir 3%.
Saham perusahaan neocloud asal Belanda, Nebius, yang tercatat di AS, bahkan melonjak 34%.
Kinerja saham-saham tersebut menunjukkan bahwa investor masih bersedia memberikan premi terhadap perusahaan yang dinilai akan menjadi penerima manfaat dari pembangunan infrastruktur AI.
Di sisi lain, pasar tetap harus menghadapi dua risiko utama, yaitu arah kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik Timur Tengah.
Baca Juga
Inflasi dan Perang Iran Bikin Pejabat The Fed Terpecah soal Suku Bunga
Inflasi yang lebih jinak memberikan ruang bagi bank sentral untuk menahan suku bunga. Namun, lonjakan harga minyak akibat konflik atau gangguan jalur energi global dapat kembali mengubah perhitungan tersebut.
Dengan demikian, pergerakan Wall Street dalam beberapa pekan ke depan kemungkinan akan sangat bergantung pada kombinasi data inflasi, pasar tenaga kerja, harga energi, dan perkembangan investasi AI.

