Iran Sebut Tutup Hormuz, AS Klaim 8 Juta Barel Minyak Berhasil Melintas dengan Pengawalan Militer
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Pemerintah Amerika Serikat menyatakan lebih dari 8 juta barel minyak berhasil melintasi Selat Hormuz pada Minggu (12/7/2026) dengan dukungan pengamanan militer AS. Di tengah kembali memanasnya konflik bersenjata antara Washington dan Teheran, pihak AS mengeklaim pelayaran di selat strategis itu masih berlangsung.
Juru bicara Departemen Energi AS mengatakan militer Negeri Paman Sam akan memastikan pasokan minyak dunia tetap mengalir, terlepas dari tindakan Iran.
Baca Juga
Eskalasi Baru Konflik AS-Iran, Perebutan Kendali Selat Hormuz Kian Memanas
"Kami akan memastikan aliran minyak tetap berlangsung, dengan atau tanpa persetujuan Iran, sehingga pasar energi global tetap memperoleh pasokan yang memadai," kata juru bicara tersebut dalam pernyataan kepada CNBC, Senin (13/7/2026).
Departemen Energi AS menyebut total ekspor minyak dari kawasan Teluk Timur Tengah saat ini rata-rata mencapai sekitar 15 juta barel per hari.
Meski demikian, lalu lintas kapal di Selat Hormuz mengalami penurunan tajam dalam sepekan terakhir setelah serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial memicu kembali konfrontasi militer dengan Amerika Serikat. Iran juga mengeklaim telah menutup Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan. Namun, klaim tersebut dibantah oleh militer AS.
Baca Juga
AS Bombardir Kota Pelabuhan Iran, Ketegangan di Selat Hormuz Kembali Memuncak
Data perusahaan intelijen perdagangan Kpler menunjukkan hanya 14 kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Minggu, termasuk empat kapal tanker minyak mentah. Jumlah tersebut merosot sekitar 60% dibandingkan 37 kapal yang melintas pada hari yang sama sepekan sebelumnya.
Sebelum perang antara AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari, lebih dari 100 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Saat itu sekitar 20 juta barel minyak dan produk energi dikirim melalui jalur strategis tersebut setiap harinya.
Presiden Donald Trump pada Senin mengumumkan akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap kapal-kapal Iran. Namun, blokade hanya berlaku bagi kapal Iran, sementara kapal negara lain tetap diperbolehkan melintas.
Trump juga meminta seluruh kapal non-Iran yang menggunakan Selat Hormuz membayar kompensasi kepada AS sebesar 20% dari nilai muatan sebagai biaya perlindungan keamanan.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka dan lalu lintas pelayaran masih berlangsung. Namun, sebagian kapal memilih melintas melalui jalur selatan dengan mematikan sistem transponder sehingga jumlah kapal yang sebenarnya sulit dipastikan.
Situasi keamanan di Selat Hormuz terus memburuk dalam beberapa hari terakhir. Iran berulang kali menyerang kapal dagang yang menggunakan jalur pelayaran di dekat pantai Oman yang selama ini mendapat perlindungan militer AS.
Sebaliknya, Teheran menuntut seluruh kapal menggunakan jalur utara yang berada di perairan teritorial Iran.
Sebagai respons atas serangan terhadap kapal komersial, AS kembali melancarkan sejumlah serangan udara ke wilayah Iran. Teheran kemudian membalas dengan menyerang sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk.
Kpler mencatat semakin banyak kapal kini memilih menggunakan jalur perairan Iran. Sementara perusahaan intelijen maritim Windward menyebut koridor selatan yang dijaga militer AS praktis "lumpuh" pada Sabtu lalu.
Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith, mengatakan lebih dari 9,2 juta barel minyak mentah Iran telah melewati Selat Hormuz sejak Presiden Trump menyatakan gencatan senjata dengan Teheran berakhir pada 8 Juli.
