Wabah Ebola di Kongo Berpotensi Jadi yang Terburuk Sepanjang Sejarah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id -- Direktur Jenderal Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC), Jean Kaseya, menyampaikan peringatan serius mengenai situasi darurat kesehatan di Republik Demokratik Kongo. Ia menegaskan bahwa wabah Ebola yang tengah melanda negara tersebut berpotensi menjadi yang terburuk dalam sejarah.
Jika kelemahan kritikal dalam respons penanganan tidak segera diatasi, biaya yang diperlukan untuk mengendalikan virus ini di masa depan dapat membengkak hingga miliaran dolar Amerika Serikat. Peringatan senada juga telah dikeluarkan oleh lembaga pengendalian penyakit Amerika Serikat, US CDC, yang melihat adanya kemiripan risiko dengan tragedi masa lalu.
Kekhawatiran tersebut merujuk pada dampak mematikan dari wabah Ebola di Afrika Barat yang melanda Guinea, Liberia, dan Sierra Leone pada periode 2014 hingga 2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 korban jiwa. Berdasarkan data terbaru dari pemerintah Kongo, saat ini telah dilaporkan lebih dari 800 kasus infeksi strain Bundibugyo.
Jenis virus ini sangat diwaspadai karena belum memiliki metode pengobatan ataupun vaksin yang terbukti efektif. Penyakit yang dapat menular melalui cairan tubuh, bahkan setelah pasien meninggal dunia, kini dilaporkan telah menyebar dengan sangat cepat di tiga provinsi di Kongo.
"Jika kita tidak segera menghentikan wabah ini dalam waktu dekat, situasinya akan lebih buruk daripada apa yang kita alami di Afrika Barat dan Kongo timur," ujar Jean Kaseya dalam pertemuan virtual bersama para kepala negara Afrika dan donor di Burundi, seperti dikutip Reuters, Rabu (17/6/2026).
Krisis ini semakin diperparah oleh kesenjangan dana bantuan internasional yang sangat masif. Rencana strategis Afrika untuk mengumpulkan dana sebesar US$ 518 juta dalam enam bulan ke depan sejauh ini baru terealisasi sebagian kecil.
Presiden Burundi sekaligus Ketua Uni Afrika, Evariste Ndayishimiye, mengungkapkan dalam pidato pembukaannya bahwa sumber daya yang diterima saat ini belum mencapai US$ 100 juta. Minimnya suntikan dana operasional tersebut membuat pergerakan tim medis di lapangan menjadi sangat terbatas.
Terkait kekurangan anggaran tersebut, Jean Kaseya memperingatkan bahwa total kebutuhan dana akan melonjak drastis jika rencana awal tidak mendapat dukungan finansial yang memadai dari para donor. Ia memberikan estimasi logistik yang sangat mengkhawatirkan mengenai penundaan bantuan. Menurut perhitungannya, jika dana yang dibutuhkan tidak terpenuhi dalam empat pekan ke depan, pihak otoritas menyebut dana yang dibutuhkan bisa membengkak menjadi sekitar US$ 1,5 miliar, bahkan dapat menyentuh angka US$ 7,5 miliar apabila penanganan terus tertunda.
Baca Juga
Kacau! Wabah Ebola Ganggu Persiapan RD Kongo ke Piala Dunia 2026
Di sisi lain, perwakilan dari Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), Bruno Michon, menyatakan bahwa epidemi Ebola di Kongo timur masih belum mencapai puncaknya.
Berbicara melalui sambungan video dari lokasi terdampak, ia mengutarakan kekhawatiran bahwa tim medis mungkin memerlukan waktu hingga satu tahun penuh untuk dapat benar-benar mengakhiri penyebaran penyakit mematikan ini. Lambatnya progres penanggulangan di lapangan disebabkan oleh minimnya pusat perawatan medis yang memadai bagi para pasien.
Hambatan terbesar di lapangan juga datang dari resistensi masyarakat setempat terhadap penerapan langkah-langkah higienis yang ketat. Akibatnya, setelah lebih dari satu bulan sejak wabah ini resmi dideklarasikan, skala penularan yang sebenarnya masih belum dapat dipetakan secara akurat.
Tim IFRC yang bertugas mengedukasi warga serta memfasilitasi proses pemakaman yang aman dan bermartabat bahkan harus menghadapi berbagai pelecehan verbal, ancaman, hingga serangan fisik dari komunitas lokal dalam beberapa hari terakhir.
Penolakan dari masyarakat menjadi titik krusial mengingat jenazah korban Ebola tetap memiliki tingkat infeksi yang sangat tinggi setelah kematian. Tradisi pemakaman kuno yang melibatkan kontak langsung antara anggota keluarga dengan jenazah tanpa alat pelindung diri menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat laju transmisi virus.
Selain masalah sosial tersebut, Africa CDC mencatat adanya kendala besar dalam melacak rantai kontak dari 800 kasus konfirmasi yang ada saat ini.
"Kami hanya mengikuti 12 persen dari masyarakat kami. Ini adalah indikator utama bagi kami yang berarti kami belum mengetahui besaran nyata dari wabah ini sejauh ini," kata Kaseya dikutip Korea Herald, menjelaskan rapuhnya sistem pengawasan epidemiologi saat ini.
Kondisi darurat tersebut diperparah oleh kelangkaan tim pemakaman khusus serta keterbatasan alat pelindung diri bagi petugas kesehatan yang berada di garis depan. Para pekerja kemanusiaan menilai dukungan internasional terhadap krisis Ebola kali ini sangat minim jika dibandingkan dengan penanganan wabah di Afrika Barat terdahulu yang melibatkan personel militer Inggris dan Amerika Serikat serta dokter-dokter asing secara masif. Merespons situasi tersebut, perwakilan dari Washington mengklaim bahwa pihaknya telah menjadi donor tercepat dan paling murah hati, sembari menyerukan negara lain untuk segera berkontribusi. Menutup pertemuan tersebut, sejumlah negara seperti Afrika Selatan, China, Jerman, dan Prancis menyatakan komitmen mereka untuk segera mengirimkan bantuan tambahan guna mengatasi kondisi darurat di Kongo.

