Trump Ancam Hajar Iran Lagi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran setelah gencatan senjata yang rapuh antara kedua negara nyaris runtuh akibat rangkaian serangan baru di kawasan Teluk dan Lebanon. Trump menilai Iran terlalu lama mempermainkan AS.
Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada Rabu (10/06/2026) waktu Washington atau Kamis dini hari WIB, Trump menegaskan bahwa Iran telah “terlalu lama” menunda kesepakatan damai dan kini harus “membayar harganya”. Ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat siap menyerang Iran dengan keras apabila Teheran terus melanjutkan aksi militernya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Iran dan AS kembali terlibat saling serang menyusul jatuhnya helikopter tempur Apache milik Angkatan Darat AS di dekat Selat Hormuz. Sumber: CBS News, 10 Juni 2026. “Iran telah mempermainkan kami terlalu lama. Mereka mengambil terlalu banyak waktu untuk bernegosiasi. Mereka akan membayar harganya,” kata Trump.
Baca Juga
Trump Ungkap Operasi Rahasia Hormuz, Klaim Amankan 100 Juta Barel Pasokan Minyak Dunia
Ketegangan terbaru dipicu insiden pada Senin malam (08/06/2026) ketika sebuah helikopter Apache AS jatuh di kawasan Selat Hormuz. Menurut Trump, helikopter tersebut ditembak jatuh oleh drone Iran saat melakukan patroli keamanan maritim. Kedua awak berhasil diselamatkan dalam operasi penyelamatan yang melibatkan drone laut tanpa awak milik Angkatan Laut AS. Operasi tersebut menjadi misi penyelamatan militer pertama yang menggunakan teknologi drone permukaan laut secara penuh.
Sebagai respons atas insiden tersebut, militer AS melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran. Teheran kemudian membalas dengan menembakkan rudal dan drone ke fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Meski demikian, hingga Rabu siang belum ada laporan mengenai kerusakan signifikan karena sebagian besar serangan berhasil dicegat sistem pertahanan udara AS dan negara-negara sekutunya.
Trump juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat selama sebulan terakhir menjalankan operasi rahasia untuk mengamankan jalur pelayaran energi di Selat Hormuz. Menurutnya, operasi tersebut berhasil memastikan lebih dari 100 juta barel minyak dan lebih dari 200 kapal dagang melintasi selat strategis tersebut dengan aman.
“Hari ini saya dengan bangga mengumumkan bahwa lebih dari 100 juta barel minyak berhasil mencapai pasar global. Amerika Serikat yang mengendalikan Selat Hormuz, bukan Iran,” tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.
Baca Juga
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran energi terpenting dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati kawasan ini. Karena itu, setiap ancaman terhadap Selat Hormuz selalu memicu kekhawatiran pasar energi dan gejolak harga minyak dunia.
Di sisi lain, konflik Lebanon kembali menjadi titik panas yang menghambat perundingan damai antara Washington dan Teheran. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada Rabu (10/6/2026) menyerukan rakyat Lebanon untuk melepaskan diri dari pengaruh Hizbullah yang didukung Iran.
Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak memerangi rakyat Lebanon, melainkan Hizbullah yang disebutnya telah menyandera negara tersebut demi kepentingan Iran. Dalam beberapa pekan terakhir, Israel memperluas operasi militer di Lebanon selatan, termasuk melancarkan serangan ke kota pelabuhan kuno Tyre yang merupakan salah satu pusat kekuatan Hizbullah. “Israel tidak berperang melawan rakyat Lebanon. Kami berperang melawan Hizbullah yang menjadikan Lebanon sandera dan menjalankan agenda Iran,” ujar Netanyahu.
Sementara itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengecam ancaman Trump untuk menyerang infrastruktur strategis Iran seperti pembangkit listrik, jaringan air bersih, dan jembatan transportasi. Menurutnya, ancaman tersebut menunjukkan keputusasaan Washington menghadapi ketahanan rakyat Iran.
Baca Juga
“Infrastruktur vital adalah urat nadi kehidupan rakyat. Ancaman untuk menghancurkannya bukanlah tanda kekuatan, melainkan tanda keputusasaan,” kata Pezeshkian melalui platform X.
Ia menegaskan Iran akan tetap bertahan menghadapi tekanan dan ancaman apa pun dengan mengandalkan kemampuan nasional, solidaritas rakyat, dan teknologi dalam negeri.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa meskipun Trump berulang kali menyatakan kesepakatan damai dengan Iran sudah dekat, realitas di lapangan masih sangat rapuh. Perselisihan mengenai program nuklir Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta masa depan Hizbullah di Lebanon masih menjadi penghalang utama tercapainya perdamaian permanen.
Baca Juga
IHSG Berpeluang Naik Menuju Level 6.000, Tiga Saham Dipimpin DSAA Layak Dilirik
Sejumlah media internasional, termasuk CBS News, CNN, The New York Times, Reuters, dan BBC, melaporkan bahwa parameter dasar kesepakatan sebenarnya telah lama dibahas. Namun hingga kini kedua pihak masih berupaya mencari formula yang memungkinkan masing-masing mengklaim kemenangan politik di hadapan publik domestik mereka.
Di tengah ketidakpastian tersebut, pasar energi global tetap waspada. Harga minyak bergerak fluktuatif karena investor terus memantau perkembangan di Selat Hormuz, kawasan yang menjadi jalur ekspor energi utama dari negara-negara Teluk menuju pasar dunia.
Jika ketegangan kembali meningkat dan mengganggu arus pelayaran di Selat Hormuz, risiko kenaikan harga minyak dan tekanan inflasi global diperkirakan akan kembali membesar. Karena itu, keberhasilan atau kegagalan perundingan damai AS-Iran dalam beberapa hari ke depan tidak hanya menentukan masa depan kawasan Timur Tengah, tetapi juga stabilitas ekonomi dunia.

