Moody’s Turunkan Peringkat Israel, Ini Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Moody's Investors Service menurunkan peringkat kredit Israel dari A1 menjadi A2. Lembaga pemeringkat internasional itu menilai perang Israel yang berkepanjangan dengan Hamas akan menjadi beban ekonomi dan politik yang signifikan bagi negara tersebut dalam jangka panjang.
Moody's mengungkapkan, kerusakan ekonomi akibat perang telah mengakibatkan ribuan korban manusia dan memicu ketegangan geopolitik di seluruh dunia.
Menurut Moody's, penggerak utama keputusan itu diambil karena konflik militer yang sedang berlangsung memiliki akibat dan konsekuensi yang lebih luas secara material, sehingga meningkatkan risiko politik bagi Israel.
Baca Juga
Militer Israel Serang Rafah, PBB Khawatir Korban Makin Banyak
"Hal ini juga melemahkan lembaga eksekutif dan legislatif serta kekuatan fiskal Israel di masa depan," ujar Moody's, dikutip dari CNN, Selasa (13/2/2024).
Meskipun peringkat A2 masih dianggap sebagai nilai investasi, penurunan peringkat tersebut kemungkinan akan membuat pinjaman uang Israel menjadi lebih mahal.
Sebelumnya, pada pertengahan Oktober 2023, Moody's memperingatkan peringkat kredit Israel berada dalam bahaya penurunan.
Saat itu, Moody's menyebutkan, meskipun profil kredit Israel telah tahan terhadap konflik militer di masa lalu, keparahan konflik militer saat ini meningkatkan kemungkinan dampak kredit yang lebih lama dan material.
Moody's menyatakan, keputusannya didasarkan pada proyeksi defisit anggaran Israel yang lebih tinggi akibat meningkatnya belanja militer.
Baca Juga
Moody's membeberkan, belanja pertahanan Israel diperkirakan meningkat hampir dua kali lipat pada akhir 2024 dan berpotensi naik lebih tinggi lagi pada tahun-tahun mendatang.
Terakhir, Moody's juga memperingatkan risiko signifikan dari eskalasi konflik saat ini, termasuk potensi keterlibatan Hizbullah, sebuah kelompok Islamis dengan pasukan paramiliter di utara Israel.
"Konflik dengan Hizbullah akan menimbulkan risiko yang jauh lebih besar terhadap wilayah Israel," imbuh Moody's.

