Harga Minyak Melonjak Lebih 2%, Timur Tengah Memanas Setelah Iran Serang Israel
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar energi global kembali diguncang oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak mentah naik tajam pada perdagangan Senin (8/6/2026) setelah Iran meluncurkan rudal ke Israel.
Baca Juga
Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Runtuh, Israel Klaim Diserang Rudal
Serangan rudal Iran ke Israel, seperti dilansir Reuters, memicu kekhawatiran bahwa konflik regional akan kembali meluas dan menghambat upaya perdamaian yang selama ini dimediasi Amerika Serikat.
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli naik sekitar 2,4% ke kisaran US$92,73 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melonjak 2,4% menjadi US$95,36 per barel. Di sejumlah perdagangan internasional lainnya, Brent bahkan sempat menembus US$95 per barel akibat meningkatnya premi risiko geopolitik.
Kenaikan terbaru ini mengakhiri optimisme pasar yang sempat muncul beberapa pekan terakhir ketika investor berharap negosiasi antara Washington dan Teheran dapat membuka jalan bagi normalisasi lalu lintas energi di kawasan Teluk.
Namun harapan tersebut kini kembali memudar.
Seorang pejabat Iran yang terlibat dalam perundingan mengatakan kepada media internasional bahwa kesepakatan dengan Presiden Donald Trump "tidak lagi realistis pada tahap ini." Pernyataan tersebut mempertegas bahwa jalur diplomasi masih menemui jalan buntu. Sementara itu, Trump sendiri mengakui bahwa serangan rudal Iran ke Israel "tidak akan membantu proses negosiasi."
Selat Hormuz
Fokus utama pasar energi saat ini bukan hanya konflik Iran-Israel, melainkan kondisi Selat Hormuz yang hingga kini belum kembali beroperasi normal.
Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut merupakan rute bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan berkepanjangan sejak pecahnya konflik telah menyebabkan salah satu krisis pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern.
Reuters melaporkan bahwa banyak produsen utama OPEC+, termasuk Arab Saudi, Irak, dan Kuwait, masih kesulitan memenuhi kontrak pengiriman karena hambatan ekspor melalui kawasan Teluk. Produksi kelompok OPEC+ bahkan turun drastis dari sekitar 42,77 juta barel per hari pada Februari menjadi sekitar 33,19 juta barel per hari pada April.
Menurut analis energi yang dikutip Reuters, pasar saat ini berada dalam situasi unik. Di satu sisi terdapat risiko kekurangan pasokan akibat terganggunya Hormuz, sementara di sisi lain dunia juga menghadapi ancaman kelebihan pasokan jika konflik mereda dan jalur tersebut kembali dibuka secara penuh.
OPEC+ Tambah Produksi
Dalam upaya meredakan kekhawatiran pasar, OPEC+ akhir pekan lalu menyetujui kenaikan target produksi sebesar 188.000 barel per hari mulai Juli. Ini merupakan kenaikan kuota keempat berturut-turut sejak krisis Hormuz dimulai.
Namun para analis menilai langkah tersebut lebih bersifat simbolis daripada substantif.
"Masalah utama bukan kuota produksi, melainkan kemampuan menyalurkan minyak ke pasar," kata sejumlah analis yang dikutip Reuters. Banyak negara produsen memiliki kapasitas tambahan, tetapi tidak dapat mengirimkan minyak secara optimal karena gangguan jalur pelayaran dan risiko keamanan di kawasan Teluk.
Ancaman Inflasi Global
Lonjakan harga minyak juga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global yang sebelumnya mulai menunjukkan tanda-tanda melandai.
Baca Juga
Pangkas Proyeksi Ekonomi, OECD Peringatkan Konflik AS-Iran Bisa Seret Dunia ke Jurang Resesi
Goldman Sachs dalam beberapa analisis terbarunya memperingatkan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar US$10 per barel dapat menambah tekanan inflasi global dan memperlambat rencana bank sentral untuk menurunkan suku bunga. Sementara analis di JPMorgan dan Citigroup menilai risiko terbesar saat ini bukan lagi volume produksi, melainkan ketidakpastian durasi gangguan pasokan dari kawasan Teluk.
Menurut laporan Reuters, pasar kini memandang perkembangan geopolitik sebagai faktor dominan dalam pembentukan harga minyak. Setiap indikasi eskalasi militer langsung diterjemahkan sebagai ancaman terhadap pasokan global.
Dalam jangka pendek, arah harga minyak akan sangat ditentukan oleh tiga faktor utama: perkembangan konflik Iran-Israel, nasib negosiasi antara Washington dan Teheran, serta kondisi operasional Selat Hormuz.
Selama jalur strategis tersebut belum sepenuhnya normal dan diplomasi belum menghasilkan terobosan, pasar energi global diperkirakan akan tetap berada dalam kondisi rentan. Bagi negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia, kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap biaya energi, subsidi, inflasi, dan nilai tukar dalam beberapa bulan mendatang.
Dengan kata lain, meskipun OPEC+ terus menambah kuota produksi, pasar saat ini lebih memperhatikan satu pertanyaan besar: kapan Selat Hormuz benar-benar kembali aman dan beroperasi normal? Selama jawabannya belum jelas, harga minyak kemungkinan tetap bergerak di level tinggi dan sangat sensitif terhadap setiap perkembangan baru di Timur Tengah.

