AS Incar Aset Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) tengah mempertimbangkan langkah baru yang berpotensi semakin memperkeruh hubungan dengan Iran. Washington dikabarkan sedang mengkaji penggunaan aset-aset Iran untuk membiayai rekonstruksi dan perbaikan kerusakan di negara-negara Teluk yang menjadi sasaran serangan Teheran selama perang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan.
Laporan Reuters yang diterbitkan CNBC pada Sabtu (06/06/2026) menyebutkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah memerintahkan timnya untuk menghitung kerugian yang dialami sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk akibat serangan Iran, khususnya di Kuwait dan Bahrain. Menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Washington tidak hanya mempertimbangkan penggunaan aset Iran yang saat ini dibekukan di luar negeri, tetapi juga kemungkinan memanfaatkan aset lainnya untuk membiayai perbaikan kerusakan yang terjadi di masa depan akibat serangan Teheran.
Langkah tersebut muncul hanya sehari setelah penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan kepada CNN bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai sangat bergantung pada pencairan sekitar US$24 miliar aset Iran yang dibekukan oleh AS.
Rencana Washington diperkirakan menjadi sumber ketegangan baru dalam proses negosiasi yang saat ini sudah berada di titik kritis. Perundingan damai antara AS dan Iran yang dimediasi sejumlah negara, termasuk Pakistan dan Qatar, dilaporkan mengalami kebuntuan. Kedua pihak masih saling mengirim sinyal yang bertolak belakang mengenai syarat-syarat penghentian perang.
Media semi-resmi Iran, ISNA, melaporkan seorang pejabat tinggi Pakistan tiba di Teheran pada Sabtu (6/6/2026) membawa surat untuk Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Langkah diplomatik tersebut dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang rapuh sewaktu-waktu dapat runtuh.
Dalam beberapa hari terakhir, kedua pihak kembali melakukan aksi militer terbatas. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pasukannya menyerang fasilitas radar pantai Iran di Goruk dan Pulau Qeshm yang berada di kawasan Selat Hormuz setelah berhasil menembak jatuh sejumlah drone Iran yang dinilai mengancam pelayaran internasional.
Militer AS juga mengumumkan berhasil menghancurkan dua drone serang Iran lainnya yang terbang di atas jalur pelayaran strategis tersebut.
Baca Juga
100 Hari Perang Iran: Negosiasi Buntu, Trump Tak Mau Tarik Pasukan
Kuwait dan Bahrain Jadi Sasaran
Sebagai balasan, Islamic Revolutionary Guard Corps atau Garda Revolusi Iran mengklaim menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain.
Militer Kuwait menyatakan sedikitnya tujuh rudal balistik melintasi wilayah udara negara tersebut dan beberapa di antaranya jatuh di kawasan permukiman sehingga menyebabkan kerusakan material. Namun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Di Bahrain, sirene peringatan serangan udara dibunyikan dan pemerintah meminta warga mencari tempat perlindungan. Pemerintah Kuwait dan Bahrain mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap stabilitas kawasan.
Iran kemudian mengklaim berhasil menghantam pangkalan militer AS di kedua negara tersebut. Namun militer AS menyatakan enam rudal berhasil dicegat dan satu rudal lainnya gagal mencapai sasaran.
Hormuz Tetap Menjadi Kunci
Di balik kebuntuan diplomasi, akar persoalan utama masih belum berubah. Teheran menuntut akses terhadap miliaran dolar pendapatan minyak yang dibekukan, pelonggaran sanksi ekspor minyak mentah, pencabutan blokade pelabuhan-pelabuhan Iran, serta pengakuan terhadap kepentingannya di Selat Hormuz.
Sejak perang pecah pada akhir Februari 2026, Iran secara efektif menghambat lalu lintas di Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Menurut berbagai laporan internasional, termasuk dari Reuters dan Bloomberg, gangguan di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mendorong harga energi global tetap tinggi meskipun produksi minyak dunia meningkat.
Trump Tertekan di AS
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan politik yang semakin besar di dalam negeri. Kenaikan harga bensin dan inflasi energi telah menurunkan dukungan publik terhadap perang. Dalam wawancara dengan NBC yang ditayangkan akhir pekan lalu, Trump mengakui Iran masih memiliki sekitar 20% hingga 22% persediaan rudal yang dimilikinya sebelum perang dimulai.
Baca Juga
“Mereka masih memiliki rudal dan drone. Jumlahnya memang jauh lebih sedikit dibandingkan ketika kami pertama kali menyerang, tetapi tetap merupakan jumlah yang besar,” kata Trump. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar fasilitas produksi rudal dan drone Iran telah dihancurkan, kemampuan militer Teheran belum sepenuhnya lumpuh.
OPEC+ Dilema
Sementara itu, perang juga terus mengganggu pasar energi global.
Tiga sumber di kelompok produsen minyak OPEC+ mengatakan organisasi tersebut diperkirakan kembali menyetujui peningkatan target produksi minyak untuk bulan keempat berturut-turut dalam pertemuan Minggu (7/6/2026).
Namun peningkatan produksi tersebut belum tentu mampu menurunkan harga energi secara signifikan karena sejumlah negara anggota masih mengalami gangguan ekspor akibat konflik yang berlangsung di kawasan Teluk.
Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya juga memperingatkan bahwa setiap gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi menciptakan risiko baru terhadap pasokan energi global dan memperburuk tekanan inflasi dunia.
Front Lebanon Memanas
Ketegangan juga meningkat di front Lebanon. Militer Israel pada Minggu (7/6/2026) menyatakan berhasil mencegat dua proyektil yang ditembakkan dari wilayah Lebanon ke Israel utara. Serangan itu terjadi sehari setelah pemerintah Lebanon melaporkan dua perwira dan seorang prajurit tewas akibat serangan udara Israel terhadap kendaraan militer di Lebanon selatan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah kini tidak lagi terbatas pada perang AS-Iran, tetapi telah meluas ke berbagai titik panas regional yang saling terkait.
Dengan rencana Washington mengalihkan aset Iran untuk membiayai rekonstruksi sekutu-sekutunya, peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat tampaknya semakin sulit. Bagi Teheran, aset yang dibekukan merupakan salah satu syarat utama menuju perdamaian. Sebaliknya bagi Washington, aset tersebut justru mulai dipandang sebagai sumber pendanaan untuk menutup kerugian akibat perang.

