Bursa Eropa di Zona Merah, Saham Akzo Nobel Anjlok 17% Setelah Negosiasi Akuisisi Gagal
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id – Bursa saham Eropa melemah pada perdagangan Rabu (3/6/2026), seiring investor mencermati proposal tarif baru Amerika Serikat terhadap puluhan negara mitra dagang serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga
Bursa Eropa 'Rebound', Investor Cermati Geopolitik Timur Tengah dan Ukraina
Dikutip dari CNBC, indeks Stoxx 600 pan-Eropa turun 0,5%, dengan sebagian besar sektor berakhir di zona merah. Bursa utama di London, Paris, Frankfurt, dan Milan juga ditutup melemah.
Tekanan terbesar datang dari saham Akzo Nobel, produsen cat asal Belanda yang dikenal melalui merek Dulux. Saham perusahaan tersebut merosot 17,2% setelah upaya akuisisi oleh Nippon Paint dan Sherwin-Williams resmi kandas.
Sebelumnya, Akzo Nobel telah menolak tawaran akuisisi tunai senilai 73 euro per saham. Manajemen menilai proposal tersebut tidak mencerminkan nilai fundamental perusahaan maupun prospek jangka panjangnya.
Perusahaan juga menilai struktur transaksi yang diajukan tidak memberikan kepastian yang memadai terkait pemisahan bisnis serta perlindungan yang cukup bagi pemegang saham.
Pada Rabu, Akzo Nobel menyatakan telah menerima konfirmasi dari Nippon Paint dan Sherwin-Williams bahwa kedua perusahaan tidak lagi berminat melanjutkan penawaran publik.
Di sisi lain, saham Inditex, pemilik merek fesyen Zara, naik lebih dari 1% setelah melaporkan kinerja kuartal pertama yang sesuai ekspektasi pasar. Penjualan perusahaan tumbuh 5,8% menjadi 8,7 miliar euro, sementara laba bersih meningkat 5,4% menjadi 1,38 miliar euro.
Sementara itu, saham perusahaan investasi asal Swiss, Partners Group, jatuh 16,3% setelah mengumumkan pembatasan penarikan dana investor pada salah satu dana private equity miliknya. Langkah tersebut mencerminkan tekanan likuiditas yang juga mulai terlihat pada sektor kredit swasta di Amerika Serikat.
Ancaman Tarif Baru AS
Sentimen pasar turut dibebani proposal baru dari Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) yang mengusulkan tarif tambahan hingga 12,5% terhadap 60 negara dan wilayah perdagangan.
Washington menuduh sejumlah mitra dagangnya gagal mencegah masuknya produk yang diproduksi menggunakan tenaga kerja paksa. Negara dan kawasan yang berpotensi terdampak antara lain China, Uni Eropa, dan Jepang.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyatakan kegagalan mitra dagang utama Amerika dalam menangani isu tersebut menciptakan persaingan yang tidak adil bagi pekerja AS.
Uni Eropa langsung menolak alasan tersebut dan menyebut kebijakan tarif terbaru Washington sebagai langkah yang tidak dapat dibenarkan.
Konflik Iran
Investor juga terus memantau perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah ketegangan meningkat meskipun gencatan senjata masih secara formal berlaku.
Presiden Donald Trump mengatakan Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir, namun menambahkan bahwa Teheran masih bisa mengubah sikapnya sewaktu-waktu.
Baca Juga
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengungkapkan adanya sejumlah perbedaan taktis dengan Trump terkait strategi menghadapi Iran. Netanyahu bahkan menyebut jalur alternatif selain Selat Hormuz sedang dikembangkan untuk mengurangi risiko gangguan terhadap pasokan energi global.
Kombinasi risiko geopolitik dan ancaman perang dagang baru tersebut membuat investor memilih mengurangi eksposur pada aset berisiko di Eropa.

