ERIA: Rekonsiliasi RI-Timor Leste Jadi Fondasi Penting Stabilitas Asia Tenggara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Lembaga riset ekonomi kawasan, Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), menilai hubungan bilateral dan proses rekonsiliasi yang sukses dijalani oleh Indonesia dan Timor-Leste telah menjadi pilar krusial bagi perdamaian di Asia Tenggara. Pengalaman tersebut dinilai membawa optimisme besar bagi kawasan menjelang aksesi penuh Timor-Leste ke dalam ASEAN.
Hal itu ditegaskan oleh Dean dan Managing Director ERIA School of Government, Nobuhiro Aizawa, dalam sambutannya pada acara ERIA School of Government Leadership Lecture Series ke-4 di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
"Timor-Leste merupakan contoh nyata bagaimana perdamaian dan rekonsiliasi dapat mengubah sejarah konflik menjadi masa depan yang penuh kerja sama. Rekonsiliasi dan persahabatan antara Timor-Leste dan Indonesia menjadi salah satu fondasi penting bagi stabilitas Asia Tenggara yang kita nikmati saat ini," ujar Aizawa.
Menurut Aizawa, nilai-nilai kepemimpinan yang adaptif dan mampu mengubah ketegangan menjadi kemitraan strategis seperti di Timor-Leste perlu diwariskan serta dipelajari secara mendalam oleh para akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan di Asia Tenggara.
Senada dengan hal tersebut, Presiden ERIA, Tetsuya Watanabe, menyatakan di tengah dinamika ketidakpastian global yang kian meningkat, transfer pengetahuan dari para tokoh sejarah menjadi sangat krusial. Pelajaran kepemimpinan tidak lagi cukup jika hanya bersumber dari literatur teori konvensional.
Baca Juga
Timor Leste Gelar Karpet Merah untuk Investor Asal Indonesia
"Generasi pemimpin masa depan tidak hanya perlu belajar dari buku, makalah kebijakan, dan ruang kelas, tetapi juga dari mereka yang mengalami langsung berbagai tantangan dan perubahan besar," kata Watanabe.
Ia menambahkan rekam jejak panjang Ramos-Horta dalam membangun perdamaian, menginisiasi rekonsiliasi nasional, serta mendorong jalur diplomasi regional memberikan pelajaran konkret yang sangat relevan dengan situasi geopolitik dunia hari ini.
Ramos-Horta: Stabilitas adalah Upaya Mengubah Lawan Menjadi Mitra
Menanggapi pandangan para petinggi ERIA, Presiden Timor Leste José Ramos-Horta membagikan refleksinya mengenai perjalanan panjang negaranya keluar dari masa kelam pasca-konflik. Ia menegaskan, perdamaian yang berkelanjutan menuntut keberanian besar dari sebuah bangsa untuk berdamai dengan masa lalunya.
"Stabilitas kawasan yang sesungguhnya bukan hanya tentang tidak adanya konflik, tetapi tentang upaya bersama untuk mengubah pihak-pihak yang pernah berseberangan menjadi mitra yang dapat bekerja sama demi masa depan yang lebih baik," ungkap Ramos-Horta dalam sesi dialog.
Peraih Nobel Perdamaian ini juga mengenang kembali kepemimpinan sejumlah Presiden Indonesia, seperti B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri, yang dinilainya ikut berjasa membuka jalan transisi kemerdekaan yang damai bagi negaranya.
Ia juga menggarisbawahi selama masa ketegangan dahulu, tidak ada warga sipil Indonesia yang dijadikan sasaran, sehingga tidak ada residu kebencian antarmasyarakat di kemudian hari. Terbukti hingga kini, banyak warga Timor Leste yang dapat menempuh pendidikan dan berkarier dengan baik di Indonesia tanpa diskriminasi.
Ramos-Horta optimististis keanggotaan penuh Timor Leste di ASEAN kelak akan memberi warna baru. Negara tersebut berkomitmen untuk membawa pengalaman empiris mereka dalam hal pembentukan negara, manajemen konflik, dan rekonsiliasi untuk kemajuan bersama.
"ASEAN telah menunjukkan bahwa negara-negara dengan latar belakang sejarah, budaya, dan sistem politik yang berbeda tetap dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Timor Leste berharap dapat berbagi pengalaman seiring semakin eratnya keterlibatan kami di kawasan," pungkasnya.
Acara kuliah umum ini dihadiri oleh jajaran korps diplomatik, perwakilan pejabat pemerintah dari berbagai negara, akademisi, serta para pakar kebijakan regional.
