Wall Street Menguat, Dow Melonjak Hampir 200 Poin dan Tembus Rekor Baru
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (28/5/2026) WIB. Indeks Dow Jones mencetak rekor penutupan tertinggi baru setelah harga minyak turun di tengah optimisme deeskalasi konflik Iran.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 182,60 poin atau 0,36% menjadi 50.644,28, sekaligus mencatat rekor baru. Indeks S&P 500 naik tipis 0,02% ke level 7.520,36, sementara Nasdaq Composite menguat 0,07% menjadi 26.674,73.
Baca Juga
Sentimen pasar didorong oleh penurunan harga minyak mentah AS sebesar 5,55% menjadi US$88,68 per barel setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran berkomitmen memulihkan lalu lintas komersial di Selat Hormuz ke level sebelum perang dalam waktu satu bulan.
Namun Gedung Putih membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai “rekayasa total.”
Meski demikian, investor tetap menyambut positif prospek meredanya ketegangan geopolitik yang selama beberapa pekan terakhir mengguncang pasar energi global.
Reli saham teknologi, mulai kehilangan momentum pada perdagangan Rabu. Saham Intel turun 1%, sedangkan Qualcomm merosot 6%.
Saham Micron Technology yang sehari sebelumnya melonjak lebih dari 19% dan menembus kapitalisasi pasar US$1 triliun, ditutup naik 3,6%. Saham Micron sebelumnya sempat melesat setelah adanya laporan bullish dari UBS yang menyebut nilai saham perusahaan masih berpotensi naik lebih dari dua kali lipat berkat lonjakan permintaan memori untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga
Kapitalisasi Pasar Micron Tembus US$1 Triliun, Saham Melonjak 18% Ditopang Demam AI
Investor kini semakin memburu produsen chip memori sebagai cara baru memanfaatkan booming AI. Rekan Micron asal Korea Selatan, SK Hynix, juga telah mencapai valuasi pasar US$1 triliun.
Kepala strategi pasar Great Valley Advisor Group, Eric Parnell, mengingatkan valuasi saham semikonduktor mulai terlalu tinggi.
Menurutnya, dampak transformasional AI memang sangat besar dalam beberapa tahun mendatang, tetapi valuasi banyak saham chip sudah terlalu panas dan bergerak jauh melampaui fundamentalnya.
“Dampak transformatif AI dalam beberapa tahun dan dekade mendatang tidak dapat dilebih-lebihkan, tetapi valuasi saat ini yang terkait dengan banyak saham semikonduktor yang menyediakan infrastruktur komputasi untuk mewujudkannya telah menjadi sangat berlebihan dan jauh melampaui nilai sebenarnya,” beber Parnell, seperti dikutip CNBC.
Ia menambahkan bahwa sejarah menunjukkan booming saham chip biasanya diikuti fase koreksi tajam.
Dalam tahun 2026 saja, saham Micron maupun Intel telah melonjak lebih dari tiga kali lipat.
Sementara itu, saham JPMorgan Chase turun 2% setelah CEO Jamie Dimon mengatakan bank tersebut bisa menggelontorkan hingga US$20 miliar untuk akuisisi dalam beberapa tahun ke depan.

