Bagikan

Harga Minyak Anjlok Lebih dari 5% Usai Trump Sebut Negosiasi Iran Masuki ‘Tahap Akhir’

Poin Penting

Minyak WTI turun ke US$98,26 per barel setelah Trump menyebut negosiasi Iran memasuki tahap akhir.
Brent crude turun lebih dari 5% dan ditutup di US$105,02 per barel.
Citibank memperingatkan pasar masih meremehkan risiko gangguan pasokan dari Selat Hormuz.

NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah anjlok lebih dari 5% pada perdagangan Rabu (21/5) setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran telah memasuki “tahap akhir”, memicu optimisme pasar terhadap potensi meredanya konflik Timur Tengah.

Baca Juga

AS-China Redam Lonjakan Minyak

Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun 5,66% ke level US$98,26 per barel, kembali berada di bawah psikologis US$100 per barel. Sementara minyak mentah Brent turun 5,63% dan menetap di US$105,02 per barel.

Pernyataan Trump muncul setelah sebelumnya ia membatalkan rencana serangan militer baru terhadap Iran demi memberi ruang diplomasi atas permintaan negara-negara Arab Teluk. Kepada wartawan, Trump mengatakan pemerintahannya kini berada pada “tahap akhir” pembicaraan dengan Teheran.

Meski demikian, pasar tetap berhati-hati. Trump sebelumnya beberapa kali menyampaikan optimisme tercapainya kesepakatan damai dengan Iran, namun ketegangan antara Washington dan Teheran justru kembali meningkat setelahnya.

Kebuntuan antara Iran dan AS telah berlangsung selama beberapa pekan. Iran masih memblokade Selat Hormuz, sementara Washington memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan minyak dan gas dunia, yang dilalui sekitar seperlima pasokan energi global.

Baca Juga

Trump Tunda Serangan ke Iran, Ini Alasannya

Citibank memperingatkan pasar masih meremehkan risiko gangguan pasokan minyak jangka panjang dari Hormuz. Bank investasi tersebut memperkirakan harga Brent bisa kembali naik hingga US$120 per barel dalam waktu dekat.

“Semakin besar kemungkinan rezim Iran akan mengganggu arus Selat Hormuz untuk beberapa waktu,” tulis analis Citi kepada kliennya, seperti dikutip CNBC.

Sementara itu, konsultan energi Wood Mackenzie memperingatkan skenario terburuk dapat mendorong harga minyak mendekati US$200 per barel apabila Selat Hormuz tetap tertutup hingga akhir tahun.

Namun, Wood Mackenzie juga menyebut harga minyak bisa turun tajam apabila AS dan Iran segera mencapai kesepakatan damai dan membuka kembali Hormuz pada Juni mendatang. Dalam skenario itu, Brent diperkirakan turun menuju US$80 per barel pada akhir 2026.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024