Bursa Eropa Menguat Ditopang Saham Energi dan Pertahanan
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id - Bursa saham Eropa ditutup menguat pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Investor mencermati perkembangan geopolitik Timur Tengah, kenaikan harga energi global, serta dinamika ekonomi di Inggris dan Jerman.
Baca Juga
Dikutip dari CNBC, indeks pan-Eropa Stoxx 600 ditutup naik hampir 0,2%, dengan mayoritas sektor berada di zona hijau. Bursa utama di London, Paris, Frankfurt, dan Milan juga mencatat penguatan.
Sorotan utama datang dari pemerintah Jerman yang mengumumkan rencana privatisasi kembali perusahaan energi Uniper. Pemerintah Jerman saat ini menguasai 99,12% saham Uniper setelah menyelamatkan perusahaan tersebut pada krisis energi Eropa 2022 dengan biaya mencapai 13,5 miliar euro atau sekitar US$15,7 miliar.
Rencana penjualan atau pencatatan saham kembali Uniper diperkirakan menjadi salah satu transaksi korporasi terbesar di Eropa tahun ini. CEO Uniper, Michael Lewis, mengatakan perusahaan kini jauh lebih stabil dan memiliki posisi strategis yang lebih kuat dibanding saat krisis energi melanda Eropa.
Sentimen positif itu langsung mengerek saham Uniper hingga melonjak sekitar 11,8%.
Sementara itu, sektor pertahanan Eropa juga ikut reli setelah laporan bahwa Swedia akan membeli kapal fregat angkatan laut dari Prancis dalam investasi militer terbesar negara Nordik tersebut dalam beberapa dekade terakhir.
Perusahaan pertahanan Swedia Saab disebut akan mengembangkan sistem radar dan persenjataan kapal perang tersebut. Saham Saab pun melonjak 5%, sementara indeks sektor dirgantara dan pertahanan Eropa naik sekitar 1,7%.
Di sisi geopolitik, perhatian investor tertuju pada pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran setelah adanya permintaan dari pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Baca Juga
Trump menyatakan kesepakatan baru dengan Iran masih mungkin dicapai, dengan syarat utama tidak ada pengembangan senjata nuklir Teheran. Namun ia juga memperingatkan militer AS tetap bersiaga jika negosiasi gagal.
Pernyataan itu mendorong harga minyak dunia turun tipis. Kontrak minyak Brent turun sekitar 1,21% menjadi US$110,74 per barel, sementara West Texas Intermediate relatif stabil di kisaran US$108,67 per barel.
Selain Timur Tengah, pasar juga memantau kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping pada 19-20 Mei. Pertemuan tersebut berlangsung hanya beberapa hari setelah kunjungan Trump ke China, mencerminkan meningkatnya persaingan geopolitik global.
Dari Inggris, data resmi menunjukkan tingkat pengangguran naik menjadi 5% dalam tiga bulan hingga Maret, lebih tinggi dibanding 4,9% pada Februari dan melampaui ekspektasi ekonom.
Ekonom senior Indeed, Jack Kennedy, mengatakan perang Iran berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi Inggris dalam beberapa kuartal mendatang dan memperburuk permintaan tenaga kerja.
Ia menilai situasi itu membuat Bank of England menghadapi dilema besar antara menahan inflasi akibat lonjakan energi atau menghindari pelemahan pasar tenaga kerja yang lebih dalam.
Di Paris, pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G7 juga berakhir Selasa dengan fokus utama pembahasan dampak ekonomi global dari perang Iran.
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure mengatakan para pemimpin G7 masih mengkaji dampak konflik terhadap pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan defisit anggaran sebelum mengambil langkah kebijakan lebih lanjut.

