Yield Obligasi AS Tembus 5,18%, The Fed Bisa Naikkan Bunga Lagi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 30 tahun melonjak menembus level 5,18% pada perdagangan Selasa (19/05/2026), tertinggi sejak sebelum krisis keuangan global 2008. Lonjakan yield terjadi di tengah kekhawatiran pasar bahwa inflasi AS kembali memanas akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu konflik Iran.
CNBC dalam laporan yang dipublikasikan Selasa (19/05/2026) pukul 03.53 EDT dan diperbarui beberapa menit kemudian menyebut yield Treasury 30 tahun naik sekitar 4 basis poin menjadi 5,198%, level tertinggi sejak Juli 2007. Sementara yield Treasury 10 tahun — yang menjadi acuan utama bunga kredit rumah, otomotif, dan kartu kredit di AS — naik sekitar 6 basis poin menjadi 4,687%, tertinggi sejak Januari 2025. Yield Treasury 2 tahun yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan Federal Reserve (The Fed) juga naik lebih dari 3 basis poin menjadi 4,135%.
Kenaikan yield tersebut mencerminkan aksi jual besar-besaran di pasar obligasi karena investor khawatir tekanan inflasi kembali meningkat. Dalam pasar obligasi, yield bergerak berlawanan arah dengan harga.
“Ini masalah serius. Awal tahun semua orang memperkirakan suku bunga akan turun. Sekarang justru terlihat kemungkinan kenaikan suku bunga lagi,” kata Senior Vice President Morgan Stanley Wealth Management Jim Lacamp dalam wawancara dengan CNBC “Squawk on the Street”.
Menurut CNBC, lonjakan harga minyak akibat perang Iran menjadi salah satu pemicu utama perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed. Investor kini mulai memperkirakan bank sentral AS tidak hanya menunda penurunan suku bunga, tetapi bahkan berpotensi kembali menaikkan suku bunga acuan.
Baca Juga
Inflasi AS Memanas, Pasar Mulai Prediksi Kenaikan Bunga The Fed
Harga minyak dunia sendiri sempat melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan energi global dari Timur Tengah. Namun pada perdagangan Selasa, harga minyak sedikit turun setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pembatalan rencana serangan baru terhadap Iran.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 0,4% menjadi US$ 103,81 per barel, sedangkan Brent crude melemah sekitar 1% menjadi US$ 110,96 per barel. Kenaikan yield Treasury dipandang pasar sebagai sinyal negatif bagi ekonomi global karena akan meningkatkan biaya pinjaman, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan menekan valuasi pasar saham.
CNBC melaporkan indeks S&P 500 turun sekitar 0,8%, sedangkan Nasdaq Composite melemah 1,2% pada perdagangan Selasa. Kedua indeks Wall Street tersebut menuju penurunan tiga hari berturut-turut.
Head of U.S. Rates BMO Ian Lyngen mengatakan apabila yield Treasury 30 tahun mencapai 5,25% dalam beberapa pekan ke depan, pasar saham global kemungkinan akan mengalami koreksi yang lebih dalam. “Jika yield 30 tahun mencapai 5,25%, akan ada penurunan valuasi saham yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Tekanan di pasar obligasi ternyata tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Yield obligasi jangka panjang pemerintah Inggris, Jerman, dan Jepang juga ikut meningkat.
Yield obligasi pemerintah Jerman tenor 30 tahun tercatat berada di level 3,684%, sementara yield obligasi Inggris tenor 30 tahun mencapai sekitar 5,773%. Bahkan yield obligasi Jepang tenor 30 tahun mencetak rekor tertinggi baru pekan ini.
Survei Bank of America yang dipublikasikan Selasa menunjukkan sekitar 62% manajer investasi global memperkirakan yield Treasury 30 tahun akan menembus 6%, level tertinggi sejak akhir 1999. Hanya sekitar 20% responden yang memperkirakan yield akan kembali turun ke level 4%.
Reuters dan Bloomberg juga melaporkan meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap kombinasi inflasi tinggi, kenaikan harga energi, dan ketidakpastian geopolitik Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu perpindahan besar dana global dan meningkatkan volatilitas pasar obligasi internasional.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kenaikan yield Treasury AS berpotensi meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar obligasi domestik karena investor asing cenderung menarik dana ke aset dolar AS yang kini menawarkan imbal hasil lebih tinggi dan dianggap lebih aman.

