Bagikan

Trump Tunda Serangan ke Iran, Ini Alasannya

Poin Penting

Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan besar terhadap Iran setelah tekanan dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Meski negosiasi kembali dibuka, AS dan Iran masih saling mengancam dan belum mencapai kesepakatan permanen terkait program nuklir maupun Selat Hormuz.
Selat Hormuz tetap menjadi titik paling krusial dalam konflik karena jalur itu dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Harga minyak global dan pasar keuangan terus bergejolak akibat kekhawatiran perang besar di Timur Tengah dapat kembali pecah sewaktu-waktu.

WASHINGTON, investortrust.id - Presiden AS Donald Trump menunda serangan militer besar-besaran terhadap Iran yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung Selasa waktu setempat.

Baca Juga

Bursa Asia Melemah, Ancaman Trump terhadap Iran Guncang Pasar

Dilansir Reuters, keputusan itu diambil setelah Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan meminta Washington menahan diri demi memberi ruang bagi negosiasi damai baru.

Dalam unggahan di Truth Social, Senin (18/5/2026), Trump mengatakan dirinya telah memerintahkan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal Dan Caine untuk membatalkan “serangan terjadwal terhadap Iran besok.”

Namun, Trump menegaskan militer AS tetap siaga penuh untuk melancarkan “serangan skala besar” kapan saja jika kesepakatan yang dianggap memadai gagal tercapai.

“Kami siap bergerak dalam waktu singkat apabila tidak ada kesepakatan yang dapat diterima,” tulis Trump.

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa meski jalur diplomasi kembali dibuka, ancaman perang besar di Timur Tengah masih jauh dari selesai.

Perdamaian Rapuh

Konflik AS-Iran dalam beberapa bulan terakhir berubah menjadi perang tekanan ekonomi dan militer yang semakin sulit dikendalikan. Serangkaian ancaman Trump untuk “meluluhlantakkan” Iran apabila Teheran tidak menyetujui proposal perdamaian justru dibalas Iran dengan tekanan di Selat Hormuz — jalur energi paling strategis di dunia.

Reuters melaporkan bahwa proposal terbaru Iran mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap, pembahasan lanjutan soal nuklir, serta pelonggaran sebagian sanksi ekonomi terhadap Teheran.

Namun hingga kini, kedua pihak masih saling curiga. Iran tetap menolak menghentikan program misil dan pengayaan uranium sepenuhnya, sementara Washington bersikeras bahwa kesepakatan final harus memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.

Baca Juga

Trump Ancam Iran, Harga Minyak Melambung

Media Inggris The Guardian melaporkan bahwa Iran bahkan menawarkan pemindahan uranium yang telah diperkaya ke Rusia sebagai bagian dari kompromi diplomatik, meski proposal itu belum diterima penuh oleh Washington.

Sementara itu, Associated Press menyebut keputusan Trump menunda serangan langsung memicu spekulasi global bahwa konflik masih dapat berubah drastis dalam hitungan hari.

Fokus Selat Hormuz

Fokus utama dunia kini tertuju pada Strait of Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak global.

Sejak konflik meningkat, Iran berulang kali mengancam akan menutup atau membatasi akses kapal tanker minyak di wilayah tersebut. Washington merespons dengan ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran.

Baca Juga

Semena-Mena, Iran Siapkan Tarif Hormuz

Laporan Reuters menyebut kebuntuan di Hormuz menjadi simbol utama perang tekanan antara AS dan Iran. Bahkan sejumlah pejabat intelijen AS mengakui kepada CNN bahwa Iran memiliki “leverage nyata” atas Selat Hormuz dan tidak ada solusi cepat untuk membukanya sepenuhnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, Trump beberapa kali mengeluarkan ultimatum agar Iran membuka kembali jalur pelayaran internasional di Hormuz. Ancaman serangan terhadap pembangkit listrik dan fasilitas energi Iran juga berulang kali diumumkan lalu ditunda. (Military.com)

Meski sempat muncul gencatan senjata sementara, bentrokan sporadis dan serangan drone tetap terjadi. Trump sendiri pekan lalu menyebut proses perdamaian berada dalam kondisi “life support” atau hidup segan mati tak mau.

Harga Energi dan Inflasi

Ketidakpastian di Timur Tengah langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak Brent kini bertahan di atas US$112 per barel, sementara minyak mentah AS WTI mendekati US$109 per barel.

Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi global baru, terutama ketika bank sentral dunia belum sepenuhnya berhasil menurunkan tekanan harga pasca krisis ekonomi global sebelumnya.

Analis geopolitik Timur Tengah dari Eurasia Group, Gregory Brew, mengatakan konflik di Hormuz kini bukan hanya persoalan regional, melainkan ancaman langsung bagi ekonomi dunia.

“Selat Hormuz adalah urat nadi energi global. Gangguan kecil saja dapat memicu lonjakan harga minyak dan mengguncang pasar internasional,” ujarnya dalam wawancara dengan berbagai media internasional.

Sementara itu, Direktur Program Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai kedua pihak kini terjebak dalam strategi tekanan maksimal yang berisiko memicu salah perhitungan.

“Tidak ada solusi militer yang nyata untuk konflik ini. Semakin lama kebuntuan berlangsung, semakin besar risiko perang terbuka,” katanya, seperti dikutip Reuters.

Bagi pasar global, situasi ini menciptakan ketidakpastian besar: negosiasi terus dibuka, tetapi ancaman perang juga terus dipertahankan. Dan selama Selat Hormuz belum benar-benar aman, dunia akan tetap hidup dalam bayang-bayang krisis energi berikutnya.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024