Bagikan

Kapal Terbakar di Lepas Pantai Qatar, Ketegangan Iran-Israel Kembali Memanas

Poin Penting

Sebuah kapal bulk carrier dilaporkan terbakar setelah terkena proyektil tak dikenal di lepas pantai Qatar.
ran masih mempelajari proposal negosiasi damai dari Amerika Serikat terkait konflik Timur Tengah.
Israel terus memperluas serangan militernya ke Lebanon selatan dan wilayah Irak

JAKARTA, Investortrust.id – Ketegangan perang Iran-Israel kembali meningkat setelah sebuah kapal kargo dilaporkan terbakar akibat terkena proyektil tak dikenal di lepas pantai Qatar, Minggu (10/5/2026). Insiden tersebut terjadi di tengah berlanjutnya negosiasi damai antara Iran dan Amerika Serikat, serta meningkatnya operasi militer Israel di Lebanon dan Irak.

Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris atau United Kingdom Maritime Trade Operations Centre (UKMTO) menyatakan kapal bulk carrier tersebut mengalami kebakaran kecil setelah dihantam proyektil di perairan dekat Qatar. Kebakaran berhasil dipadamkan dan tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. Laporan tersebut disampaikan dalam live update perang Iran-Israel yang dipublikasikan The Hindu pada Minggu (10/5/2026) pukul 16.13 IST.

UKMTO tidak menjelaskan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun insiden itu kembali mempertegas tingginya risiko keamanan maritim di kawasan Teluk Persia dan sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia.

Di tengah ketegangan tersebut, Iran menyatakan masih mempelajari proposal terbaru Amerika Serikat terkait negosiasi penghentian konflik di Timur Tengah. Menurut laporan Al Jazeera Live yang dipublikasikan Minggu (10/5/2026), Teheran menyebut akan memberikan respons “pada waktu yang tepat” terhadap proposal Washington.

Kehancuran setelah serangan udara Israel yang menargetkan enam bangunan yang berdekatan hanya tiga menit sebelum gencatan senjata berlaku di Tyre, Lebanon pada 20 April 2026. Foto: Antara/Muhammed Emin Canik/Anadolu/pri.

Baca Juga

President Club dan PSAPI Luncurkan Buku Chappy Hakim, Belajar dari Perang Iran-AS

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Jumat (8/5/2026) bahwa dirinya memperkirakan Iran akan segera mengirimkan tanggapan resmi terkait kerangka negosiasi damai yang diajukan AS melalui mediator internasional. Proposal tersebut dilaporkan mencakup memorandum 14 poin dan rencana perundingan selama satu bulan untuk mengakhiri perang.

Namun hingga Minggu pagi waktu New York, Washington disebut masih menunggu jawaban resmi Iran. The New York Times melaporkan lambannya respons Iran dipengaruhi kondisi politik internal Teheran, termasuk absennya pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dari ruang publik sejak dilaporkan mengalami cedera dalam serangan yang menewaskan ayahnya pada fase awal perang.

Dalam perkembangan lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Sabtu (09/05/2026) bertemu dengan pemimpin Qatar guna membahas upaya mediasi konflik Timur Tengah. Departemen Luar Negeri AS menegaskan Qatar memainkan peran penting sebagai mediator antara Washington dan Teheran.

Presiden AS Donald Trump (tengah) saat memimpin rapat kabinet bersama Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth di Gedung Putih, Washington D.C., Kamis (26/3/2026). Foto: The White House

Baca Juga

Trump: Iran Ingin Damai atau Perang

Sementara itu, Israel terus memperluas operasi militernya di kawasan. Serangan udara Israel di Lebanon selatan pada Sabtu (09/05/2026) dilaporkan menewaskan sedikitnya sembilan orang dan menghantam sejumlah wilayah hingga dekat Beirut. Serangan tersebut disebut menargetkan posisi kelompok Hizbullah.

Laporan lain juga menyebut Israel membangun pos militer rahasia di gurun Irak untuk mendukung kampanye udaranya terhadap Iran. Menurut The New York Times, Israel juga melancarkan serangan udara terhadap pasukan Irak dalam operasi lintas kawasan yang semakin memperluas dimensi konflik Timur Tengah.

Ilustrasi kenaikan harga minyak mentah dunia akibat perang di Teluk Persia. Dok: Investortrust/AI

Ketegangan geopolitik tersebut terus menjadi perhatian pasar global karena berpotensi mengganggu distribusi energi dunia. Reuters dan CNBC sebelumnya melaporkan investor global masih sangat sensitif terhadap perkembangan di Selat Hormuz karena sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut.

Meski upaya diplomasi masih berlangsung, berbagai insiden terbaru menunjukkan situasi di Timur Tengah tetap sangat rapuh. Serangan terhadap kapal dagang di dekat Qatar, operasi militer Israel di Lebanon dan Irak, serta belum adanya jawaban resmi Iran terhadap proposal damai AS memperbesar risiko eskalasi baru yang dapat kembali mengguncang pasar energi dan ekonomi global.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024