“Project Freedom” Dihentikan Sementara, Trump Sebut Ada Kemajuan Negosiasi dengan Iran
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk menghentikan sementara operasi militer “Project Freedom”, yakni upaya AS mengawal kapal-kapal komersial keluar dari Selat Hormuz, hanya sehari setelah misi tersebut diluncurkan.
Baca Juga
Iran Serang Kapal dan Fasilitas UEA, AS Mulai Jalankan “Project Freedom”
Dalam pernyataannya di Truth Social pada Selasa (5/5/2026), Trump menyebutkan keputusan itu diambil seiring kemajuan signifikan dalam negosiasi menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran.
“Project Freedom akan dijeda untuk waktu singkat guna melihat apakah kesepakatan dapat difinalisasi dan ditandatangani,” tulis Trump, seperti dikutip CNBC.
Pengumuman ini langsung mendorong kenaikan kontrak berjangka saham AS, karena meningkatkan harapan pasar terhadap tercapainya perdamaian yang dapat mengakhiri konflik AS-Israel dengan Iran sekaligus membuka kembali Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global.
Sebelumnya, Trump meluncurkan Project Freedom pada Minggu malam dengan tujuan memastikan kapal-kapal yang terjebak akibat konflik dapat melintasi jalur tersebut dengan aman. Pemerintah AS menyebut sekitar 23.000 pelaut dari 87 negara terdampak penutupan de facto Selat Hormuz oleh Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) bahkan telah menyiapkan kekuatan besar untuk mendukung operasi ini, termasuk kapal perusak, lebih dari 100 pesawat, drone, serta sekitar 15.000 personel militer.
Namun, respons Iran terhadap operasi tersebut justru meningkatkan ketegangan. Uni Emirat Arab melaporkan serangan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone yang diduga berasal dari Iran, menyebabkan sejumlah korban luka.
Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper menyebut Pasukan Garda Revolusi Iran meluncurkan berbagai serangan terhadap kapal-kapal yang berada di bawah perlindungan AS.
Baca Juga
Insiden lain juga terjadi ketika sebuah kapal yang dioperasikan Korea Selatan terbakar di Selat Hormuz, yang menurut Trump merupakan akibat serangan Iran.
Meski demikian, jeda operasi ini mengindikasikan bahwa Washington mulai mengedepankan jalur diplomasi dibanding eskalasi militer, setidaknya dalam jangka pendek.

