Iran Tetap Serang UEA dan Kapal di Selat Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan masih bertahan untuk sementara waktu, meski ketegangan di lapangan terus memanas setelah serangkaian serangan Iran terhadap kapal di Selat Hormuz dan wilayah Uni Emirat Arab (UEA).Mengutip laporan CBS News yang diperbarui pada 5 Mei 2026 pukul 13.17 EDT (5 Mei 2026 waktu AS), Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa gencatan senjata “untuk saat ini masih bertahan.” Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah insiden serangan intensif Iran terhadap kapal militer dan komersial di Selat Hormuz pada Senin, 4 Mei 2026.
Namun demikian, situasi di lapangan menunjukkan eskalasi yang belum mereda. Dalam operasi pengawalan yang disebut “Project Freedom,” Angkatan Laut AS dilaporkan harus menghadapi gelombang serangan berupa rudal, drone, dan perahu cepat Iran saat melindungi dua kapal yang melintas di jalur strategis tersebut. Presiden AS Donald Trump menyebut pasukannya berhasil menghancurkan tujuh hingga delapan kapal kecil Iran dalam insiden itu.
Di saat yang sama, ketegangan juga meluas ke kawasan Teluk. Pemerintah Uni Emirat Arab melaporkan bahwa Iran kembali meluncurkan serangan rudal dan drone pada Selasa, 5 Mei 2026, hari kedua berturut-turut setelah sebelumnya menembakkan sedikitnya 15 rudal pada Senin (4/5/2026), yang melukai setidaknya tiga pekerja. Serangan ini mempertegas bahwa konflik tidak sepenuhnya mereda meski gencatan senjata secara formal masih berlaku.
Dalam pernyataannya, Hegseth menegaskan bahwa operasi “Project Freedom” bersifat sementara dan terpisah dari kesepakatan gencatan senjata. Ia bahkan mengklaim adanya perlindungan penuh militer AS atas jalur Selat Hormuz, yang disebutnya sebagai “red, white and blue dome,” merujuk pada dominasi pengamanan AS di wilayah tersebut.
Baca Juga
Iran Serang Kapal dan Fasilitas UEA, AS Mulai Jalankan “Project Freedom”
Namun dari pihak Iran, nada yang disampaikan justru semakin keras. Negosiator utama Iran memperingatkan bahwa konflik “baru saja dimulai,” mengindikasikan minimnya ruang kompromi dalam waktu dekat. Iran juga bersikukuh bahwa mereka tetap mengendalikan Selat Hormuz dan berhak merespons setiap kehadiran militer asing.
Sejumlah laporan lain dari media internasional memperkuat gambaran bahwa situasi sangat rapuh. Laporan BBC News dan Reuters pada periode yang sama menyebut bahwa setiap insiden kecil di Selat Hormuz berpotensi memicu kembali konflik skala penuh, terutama jika tidak ada konsesi dari kedua pihak.
Sementara itu, dampak ekonomi global mulai terasa. Analis ekonomi Faisal Islam dalam laporan BBC (diterbitkan 5 Mei 2026) mencatat bahwa gangguan di Selat Hormuz telah mendorong harga energi ke level tertinggi sejak 2022. Kenaikan ini memicu lonjakan inflasi global dan meningkatkan biaya pinjaman pemerintah, terutama di negara-negara maju. Pasar obligasi global bahkan mengalami tekanan signifikan, mencerminkan kekhawatiran akan blokade berkepanjangan di jalur vital pengiriman minyak dunia tersebut.
Dengan kondisi ini, para analis menilai bahwa meski gencatan senjata masih bertahan secara teknis, situasi di lapangan tetap berada di ambang eskalasi. Tanpa langkah kompromi nyata dari Washington maupun Teheran, konflik besar dapat kembali pecah hanya karena satu insiden kecil di Selat Hormuz—jalur energi paling strategis di dunia.

