Bagikan

Iran Ultimatum AS: Pilih Serangan "Mustahil" atau Kesepakatan Buruk

Poin Penting

Iran memberi ultimatum 30 hari kepada AS untuk menghentikan blokade laut atau menghadapi eskalasi konflik.
Donald Trump merespons skeptis proposal damai 14 poin Iran, mempertegas kebuntuan diplomasi kedua pihak.
Ancaman gangguan Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar karena jalur ini menopang sekitar 20% pasokan minyak dunia.

JAKARTA, Investortrust.id — Eskalasi konflik Iran–Amerika Serikat (AS) kembali memasuki fase krusial setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan ultimatum 30 hari kepada Washington untuk menghentikan blokade militer terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Jika tidak, Teheran menegaskan Presiden AS Donald Trump hanya dihadapkan pada dua pilihan, yakni melakukan operasi militer yang “mustahil” atau menerima “kesepakatan buruk”.

Informasi tersebut disampaikan dalam laporan Al Jazeera Live yang ditulis oleh Edna Mohamed dan Alex Milan Durie, dan dipublikasikan Minggu (03/05/2026), mengutip perkembangan terbaru di Teheran tanggal 2–3 Mei 2026 waktu setempat. Dalam laporan itu, IRGC menyatakan bahwa tekanan militer AS melalui blokade laut telah mempersempit ruang diplomasi. Iran, melalui jalur mediasi Pakistan, juga telah mengirimkan proposal 14 poin kepada Washington yang mencakup jaminan non-agresi, pencabutan blokade angkatan laut, serta penghentian perang di seluruh front, termasuk di Lebanon.

Baca Juga

Harga Minyak Turun Meski Trump Tolak Proposal Iran dan Siap Lanjutkan Perang

Namun, Presiden Donald Trump merespons dengan skeptisisme. Ia mengakui akan meninjau proposal tersebut, tetapi secara terbuka menyatakan pesimistis bahwa kesepakatan dapat tercapai. Pernyataan ini memperkuat sinyal kebuntuan diplomasi yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir.

Sejalan dengan itu, tekanan internasional terus meningkat. Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul dalam komunikasi diplomatiknya mendesak Iran untuk segera membuka kembali Selat Hormuz serta menghentikan program nuklirnya secara penuh dan terverifikasi.

Perkembangan ini sejalan dengan laporan media internasional lain. BBC sebelumnya (21 April 2026) melaporkan bahwa Iran menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz “tidak mungkin” selama blokade AS masih berlangsung. Sementara itu, Associated Press pada 28 April 2026 mengungkap bahwa Iran sempat menawarkan pembukaan kembali jalur strategis tersebut dengan syarat penghentian perang dan pencabutan blokade, proposal yang dinilai sulit diterima Washington karena tidak menyentuh isu program nuklir.

Baca Juga

Konflik Selat Hormuz Picu Pembatalan Polis Risiko Perang, Industri Asuransi Global Tertekan

Di sisi lain, Reuters dan CNN dalam laporan akhir April 2026 menyoroti bahwa kebuntuan negosiasi telah memicu lonjakan harga minyak global hingga ke level tertinggi dalam empat tahun, dengan kekhawatiran utama tetap tertuju pada gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Dengan posisi kedua pihak yang semakin mengeras —Iran menuntut penghentian blokade dan AS menolak kesepakatan tanpa pembahasan nuklir— pilihan yang tersisa kian sempit. Dunia kini menanti apakah jalur diplomasi masih memiliki ruang, atau konflik akan bergerak menuju eskalasi militer yang lebih luas dengan dampak sistemik terhadap ekonomi global.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024