Blokade AS Disebut “Tak Tertahankan”, Presiden Trump Siapkan Opsi Perang Baru
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id —Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran sebagai tindakan “tidak tertahankan” dan setara dengan perpanjangan operasi militer. Pernyataan itu muncul di tengah ancaman Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan kemungkinan membuka kembali perang.
Mengutip laporan langsung Al Jazeera yang diterbitkan Jumat (01/05/2026), Pezeshkian menegaskan bahwa pengepungan pelabuhan Iran oleh Angkatan Laut AS merupakan bentuk tekanan yang tidak dapat diterima oleh Teheran. Sementara itu, Trump menyatakan bahwa opsi militer masih terbuka, bahkan menyebut hanya segelintir orang yang mengetahui arah negosiasi sebenarnya.
Situasi di lapangan juga menunjukkan eskalasi berlapis. Aktivitas pertahanan udara terdengar di Teheran untuk menghadapi drone dan pesawat pengintai kecil, sementara serangan Israel di Lebanon selatan dilaporkan menewaskan lebih dari 30 orang dalam sehari, menurut kantor berita nasional Lebanon. Kondisi ini semakin meruntuhkan efektivitas gencatan senjata yang sebelumnya didukung AS.
Dalam perkembangan lain, militer Israel menyatakan akan memindahkan 175 aktivis dari armada Global Sumud menuju Gaza ke otoritas Yunani, setelah mereka ditahan di perairan internasional, langkah yang menuai kritik internasional.
Dari sisi global, dampak konflik kian meluas. Sekretaris Jenderal United Nations Antonio Guterres memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz telah “mencekik ekonomi global”, karena mengganggu rantai pasok energi, transportasi, manufaktur, hingga pangan. Ia mendesak semua pihak kembali ke jalur dialog sebelum krisis memburuk.
Di Washington, dinamika politik juga menghangat. Pemerintahan Trump mengklaim konflik Iran secara teknis telah “berakhir” sejak gencatan senjata awal April 2026, sehingga tidak memerlukan persetujuan Kongres sesuai War Powers Resolution 1973. Namun, laporan Reuters dan Associated Press menyebut langkah ini mendapat tekanan dari Partai Demokrat yang menuntut persetujuan formal legislatif.
Baca Juga
Harga Minyak Tembus US$ 126 per Barel, Trump Bersiap Lanjutkan Perang di Iran
Sinyal eskalasi bahkan datang dari Senat AS. Senator Demokrat Richard Blumenthal memperingatkan adanya kemungkinan “serangan militer dalam waktu dekat” terhadap Iran, yang berpotensi memicu korban besar dan keterlibatan langsung pasukan Amerika.
Di sisi lain, laporan media AS menyebut Iran memanfaatkan jeda gencatan senjata untuk memulihkan kemampuan militernya, termasuk menggali kembali persenjataan yang sebelumnya terkubur akibat serangan udara. Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa konflik dapat kembali pecah sewaktu-waktu.
Faktor global lain yang turut memperumit situasi adalah hubungan dengan China. Rencana kunjungan Trump ke Beijing pada 14–15 Mei 2026 disebut menjadi pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan terkait Iran. The New York Times dan NBC melaporkan bahwa blokade ganda di Selat Hormuz dan pelabuhan Iran menambah kompleksitas menjelang pertemuan tingkat tinggi tersebut, terutama karena China sangat bergantung pada pasokan minyak dari kawasan itu.
Dengan semua perkembangan ini, konflik Iran-AS kini memasuki fase yang semakin tidak pasti. Blokade ekonomi, ancaman militer, dan gangguan rantai pasok global saling berkelindan, menciptakan tekanan bukan hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi perekonomian dunia.
Seperti diperingatkan Guterres, setiap jam yang berlalu tanpa solusi hanya akan memperdalam krisis, mendorong dunia semakin dekat ke jurang eskalasi yang lebih luas.

