Demi Blokade Selat Hormuz, Hegseth Angkat Bos Angkatan Laut yang Lebih Berpengalaman
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Pergantian mendadak di pucuk pimpinan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) menambah dinamika baru di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Menteri Pertahanan (Menhan) AS Pete Hegseth dilaporkan memecat Sekretaris Angkatan Laut John Phelan dalam sebuah langkah yang disebut “dramatis”, memperpanjang gelombang pembersihan pejabat tinggi di Pentagon.
Laporan ini disampaikan oleh jurnalis Alan Fisher dalam siaran Al Jazeera dari Washington DC yang tayang pada April 2026, mengutip sumber internal pemerintahan. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa pemecatan terjadi di tengah ketegangan hubungan antara Phelan dan Hegseth, serta meningkatnya peran Angkatan Laut AS dalam operasi militer di Timur Tengah, khususnya terkait blokade di Selat Hormuz.
Baca Juga
Secara kronologis, keputusan ini muncul saat Angkatan Laut AS memainkan peran kunci dalam operasi yang berada di bawah koordinasi US Central Command dan pimpinan gabungan militer AS. Blokade laut terhadap Iran—yang menjadi bagian dari strategi tekanan Washington—sangat bergantung pada kekuatan armada laut, sehingga perubahan kepemimpinan di level ini dinilai signifikan.
Sebagai pengganti, Wakil Sekretaris Angkatan Laut Hung Cao ditunjuk untuk mengambil alih posisi tersebut. Cao, yang memiliki pengalaman lebih dari tiga dekade di Angkatan Laut, dipandang sebagai figur yang lebih berpengalaman dan dekat dengan Hegseth, sekaligus dianggap mampu menjaga stabilitas operasional di tengah situasi krisis.
Sumber yang sama menyebutkan bahwa Phelan sebelumnya menghadapi kritik karena tidak memiliki latar belakang militer aktif, yang menjadi salah satu faktor melemahkan posisinya. Sebaliknya, Cao dinilai sebagai “safe pair of hands” dalam mengelola institusi militer di masa genting.
Lebih jauh, pemecatan ini menandai intensitas perombakan internal Pentagon di bawah Hegseth. Dengan keluarnya Phelan, tercatat sedikitnya 34 pejabat senior telah dicopot dari jabatannya sejak ia menjabat sebagai Menteri Pertahanan—sebuah angka yang mencerminkan restrukturisasi besar-besaran di tubuh militer AS.
Baca Juga
2 Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Menlu Sugiono Ungkap Negosiasi Makin Kompleks
Informasi senada juga dilaporkan sejumlah media internasional, seperti Reuters dan CNBC pada periode yang sama, yang menyoroti meningkatnya ketegangan internal Pentagon di tengah tekanan geopolitik global. Kedua media tersebut menekankan bahwa langkah ini terjadi bersamaan dengan eskalasi konflik AS-Iran dan ketergantungan tinggi pemerintahan Donald Trump terhadap kekuatan militer, khususnya Angkatan Laut, dalam menjaga efektivitas blokade di kawasan Teluk.
Dengan latar konflik yang terus berkembang dan peran strategis Angkatan Laut dalam pengamanan jalur energi global seperti Selat Hormuz, pergantian mendadak ini berpotensi memengaruhi arah kebijakan militer AS ke depan, sekaligus menambah ketidakpastian di tengah situasi geopolitik yang sudah sangat rapuh.

