Digitalisasi BRI: Jendela bagi Inklusi, Aksesibilitas, dan Efisiensi
Oleh: Zsazya Senorita MC Ramadhani
JAKARTA, investortrust.id -- Buah dari agresivitas transformasi digital telah dipanen oleh bank terbesar di Tanah Air, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Salah satu produk digital unggulannya, bayi ajaib bernama super app BRImo, berhasil menggaet 30,4 juta pengguna dalam usia empat tahun. Dengan lebih dari 100 fitur atraktif yang disematkan, jumlah transaksi aplikasi mobile banking ini menembus 2,46 miliar kali hingga Oktober 2023, atau melesat 73,88% year-on-year (yoy) serta nominal transaksi mencapai Rp 3.353 triliun atau melonjak 60,83% (yoy).
Di jajaran empat bank papan atas nasional, akuisisi pengguna dan transaksi BRImo tumbuh paling cepat dalam empat tahun terakhir, pada periode 2019-2023. Dari nilai transaksi, rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) BRImo melonjak 206,58%. Sedangkan BCA Mobile rata-rata tumbuh 36,35%, Livin Mandiri 46,67%, dan BNI Mobile Banking 47,23%.
Untuk jumlah transaksi, rata-rata pertumbuhan tahunan BRImo sebesar 163,22%, sedangkan tiga kompetitornya antara 52-69%. Adapun untuk jumlah pengguna, BRImo tumbuh 78,13% per tahun, sementara tiga pesaingnya di kisaran 25-52%. (Lihat grafik berikut).
BRImo juga memberikan nilai tambah baru karena bisa terkoneksi dengan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) antarnegara, yang dapat digunakan di merchant sejumlah negara ASEAN, termasuk Singapura, mulai pertengahan November lalu. Interkoneksi QRIS lintas negara merupakan tonggak penting dalam integrasi ekosistem ekonomi dan keuangan digital. Hal ini bukan hanya memudahkan pengguna BRImo, tapi juga berpotensi menciptakan peluang bisnis baru dan memperluas jangkauan pasar bagi pelaku usaha UMKM yang menjadi nasabah utama BRI.
Dengan berbagai pencapaian itu, alhasil BRImo menjadi aplikasi mobile banking dengan rating terbaik, dilihat dari jumlah pengunduh di Android - Playstore dan IOS -AppStore. Para pengguna Android memberikan rating 4,5 dengan total 1 juta review, sementara pengguna IOS memberikan rating 4,7 dengan 129 ribu review.
Fondasi Transformasi Digital
Sukses BRImo tidak dibangun dalam satu malam. Bank yang pada 9 Desember 2023 berusia 128 tahun itu merintis transformasi digital sejak 2017, kemudian diakselerasi dan diamplifikasi oleh “mastermind” Sunarso pada 2019, ketika dia mulai menakhodai bank yang kini beraset Rp 1.852 triliun tersebut.
BRI meletakkan fondasi transformasi digital yang berfokus pada tiga inisiatif strategis. Yaitu membangun resiliensi sistem teknologi yang dikembangkan, implementasi open banking, dan menginisiasi program BRIbrain yang berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Menurut Direktur Utama BRI Sunarso, transformasi digital BRI mengacu pada tiga kerangka dasar utama. Pertama, digitalisasi proses bisnis dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas dan berfokus pada efisiensi, sebagaimana tercermin pada aplikasi super app BRImo, BRISpot, dan BRILink.
Kedua, ekosistem digital, yang ditempuh dengan menyiapkan platform-platform digital agar BRI masuk ke dalam bisnis ekosistem value chain sebagai sumber pertumbuhan baru untuk dana murah, pendapatan berbasis komisi (fee based income), dan nasabah baru. Untuk tujuan ini, BRI mengembangkan BRIAPI atau BRI Application Programming Interface.
BRIAPI merupakan layanan open banking BRI guna menyederhanakan dan mempercepat proses integrasi produk atau layanan BRI dengan berbagai aplikasi front-end pihak ketiga. Kini, BRIAPI menjadi akselerator integrasi produk BRI dengan lebih dari 200 ekosistem digital berbagai sektor. Layanan ini juga menjadi gerbang kolaborasi BRI dengan lebih 400 perusahaan digital maupun non-digital.
Kerangka dasar ketiga adalahnew digital propositions, dimana BRI melakukan inovasi financial technology dan model bisnis baru dengan sasaran memberikan layanan kepada nasabah lebih cepat, lebih baik, dan lebih efisien.
Transformasi digital BRI menjadi bagian dari strategi perseroan untuk menjangkau layanan perbankan hingga ke berbagai wilayah, termasuk daerah 3 T (tertinggal, terdepan, terluar) secara go smaller, go shorter,dan go faster.Konsep itu sejalan dengan visi utama BRI menjadi The Most Valuable Banking group in Southeast Asia & Champian of Financial Inclusion.
Di Indonesia, digitalisasi perbankan ditopang oleh penetrasi smartphone yang sangat agresif di seluruh pelosok negeri. Pengguna smartphone di Indonesia mencapai 192 juta lebih, yang menempatkan negara ini di peringkat keempat dunia.
Katalisator digitalisasi lainnya adalah penetrasi internet yang masif karena tarif internet yang kian terjangkau. Mengacu data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, tingkat penetrasi internet Indonesia mencapai 77,02% pada 2022.
Hybrid: Duet BRImo-BRILink
Salah satu kunci sukses digitalisasi bank yang didirikan oleh Raden Aria Wirjaatmadja pada 1895 ini adalah terobosan dalam mensinergikan dan mengorkestrasi platform dan infrastruktur yang dimiliki. Dalam konteks itu, BRI menginisiasi strategi hybrid bank.Strategi ini diusung karena karakteristik nasabah BRI sangat beragam dan unik. Banyak di antara mereka yang belum familiar dengan digital banking atau belum memiliki literasi digital.
Konsep hybrid bank ini menggabungkan layanan digital BRImo dan para agen BRILink. Tugas agen BRILInk adalah mendampingi nasabah dalam mengakses layanan digital BRI. Hingga kini, pasukan agen BRILink sudah mencapai lebih 700 ribu orang yang tersebar di sekitar 55 ribu desa dan hadir di 7.500 pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan layanan perbankan masyarakat.
Sedemikian uniknya strategi hybrid, seperti disebut Sunarso, karena mengawinkan layanan high-tech lewat peranti digital dan layanan high-touch lewat jasa para agen BRILink.
Division Head of Digital Banking Development and Operation Division BRI, Kaspar Situmorang menyebut bahwa hybrid banking menjadi solusi terbaik dan kekuatan BRI dalam menghadapi persaingan digitalisasi ke depan. Digitalisasi harus dipadukan dengan pendekatan fisik (offline), karena besarnya nasabah yang belum melek digital. Apalagi, BRI juga mengemban amanah untuk menjangkau 90 juta rakyat yang belum tersentuh bank. Itulah yang membuat BRI lebih memilih opsi konsep hybrid ketimbang fully digital.
Satu lagi produk digital BRI yang mendapat sambutan antusias masyarakat adalah aplikasi pinjaman digital “Ceria” untuk pembiayaan e-commerce, dengan suku bunga yang rendah dan kompetitif. Proses verifikasi dilakukan dengan cepat sehingga dalam waktu 10 menit pinjaman bisa cair dengan plafon maksimum Rp 50 juta.
Dampak Multiplikasi
Transformasi digital telah membawa dampak multiplikasi (multiplier effect) yang luas bagi BRI maupun para pemangku kepentingan, khususnya konsumen dan debitur. Layanan digital terbukti dapat memberikan layanan keuangan yang lebih personal, lebih berkualitas, efisien, cepat, dan aman, juga mensimplifikasi proses administratif.
Kini BRI berhasil mentransformasi proses bisnis dari konvensional menjadi secara digital yang lebih pro-pasar dan pro-nasabah. Sebagai ilustrasi adalah aplikasi kredit mikro dan kecil di BRI yang selama ini butuh persetujuan sekitar dua pekan, kini bisa disetujui dalam 1-2 hari, sepanjang persyaratan yang dibutuhkan sudah lengkap.
Hal itu terwujud berkat BRIbrain, platform AI yang mempercepat penilaian dan persetujuan kredit baru, dipadukan dengan aplikasi BRISpot yang dilengkapi credit scoring hingga deteksi fraud. Dengan terobosan penyederhanaan proses ini, jumlah nasabah mikro dan ultra mikro yang kini mencapai 37 juta bisa meningkat pesat ke depannya.
Adopsi digital menuntut BRI untuk menciptakan nilai-nilai baru melalui penciptaan model bisnis baru yang lebih modern guna semakin memperkokoh fundamental. Untuk itu, BRI perlu mengoptimalkan talenta-talenta digital terbaiknya agar terus menciptakan inovasi produk dan layanan yang sesuai tuntutan pasar. Dengan mengadopsi artificial intelligence (AI), BRI dapat mengidentifikasi pola perilaku nasabah serta menganalisis data dan informasi yang lebih baik.
Di lain sisi, transformasi digital diakui oleh manajemen BRI mampu mengubah budaya perusahaan ke arah yang jauh lebih baik, efisien, dan kompetitif.
Lebih dari itu, sebagai bank terbesar dan paling tersebar di Nusantara, digitalisasi menjadi jawaban atas tingginya biaya operasional yang disertai oleh berbagai risiko operasional. Itulah sebabnya, digitalisasi mampu mendorong efisiensi yang luar biasa, sekaligus mendongkrak produktivitas.
Indikator perbaikan efisiensi terefleksi pada rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) BRI pada semester I-2023 yang turun ke angka 66,2, dari periode sama tahun sebelumnya sebesar 69,6. Biaya kredit pun dipangkas menjadi 2,24%. Adapun proporsi dana murah atau CASA tetap terjaga di level 65,49%. Selain itu, cost to income ratio (CIR) terus membaik ke level 41,28% per kuartal III-2023, dari 42,55% (yoy).
Muara dari kesuksesan transformasi digital mengantarkan BRI meraih profitabilitas yang mengagumkan. Bank ini mampu melewati masa sulit pandemi Covid-19, terbukti pada 2020 meraih laba bersih Rp 18,7 triliun, kemudian melonjak ke Rp 30,8 triliun pada 2021, dan meroket jadi Rp 51,4 triliun pada 2022. Tahun ini, dengan pencapaian laba selama sembilan bulan pertama sebesar Rp 44 triliun, keseluruhan tahun bisa melampaui Rp 55 triliun.
Dampak Negatif?
Digitalisasi kerap dipandang sebagai pisau bermata dua. Di balik berbagai kelebihan dan manfaatnya, terselip juga dampak buruk. Beberapa ekses negatif yang perlu diantisipasi adalah kebocoran data nasabah, serangan siber, fraud, dan kejahatan perbankan lainnya. Belum lagi soal penutupan sejumlah kantor cabang yang notabene harus mengurangi jumlah karyawan.
Namun, bank sekaliber BRI tentu sudah memitigasi berbagai risiko dan memikirkan keamanan siber (cyber security) demi menjaga reputasi. Divisi teknologi informasi (TI) BRI mengklaim sudah menggunakan aneka enkripsi serta terus meng-update sistem keamanan dengan mengacu pada best practice dan standar keamanan internasional.
Untuk menggaransi aspek keamanan, BRI menjadi bank pertama di Asia Tenggara yang mendapatkan sertifikasi Payment Application Data Security Standard dari PCI Security Standard Council, Amerika Serikat. Sertifikasi ini memastikan keamanan data nasabah. Selain itu, BRI telah memperoleh sertifikasi ISO 27001 untuk layanan BRIAPI sejak 2019. ISO 27001 adalah standar keamanan internasional untuk penerapan sistem manajemen keamanan informasi pada suatu produk.
Tentang penyusutan jumlah kantor BRI, itu merupakan sisi lain disrupsi yang tak terelakkan. Tetapi, hal itu justru bisa dipandang sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk mengikuti kemauan dan perilaku konsumen (customer behavior). Sebab, realitanya, transaksi digital di BRI saat ini sudah mendominasi, mencapai 98,5% dan hanya 1,5% nasabah yang bertransaksi di outlet konvensional.
Konklusi
Sederet fakta objektif di atas mempertegas premis bahwa digitalisasi di perbankan, termasuk BRI, memberikan dampak positif dan manfaat jauh lebih besar dibanding dampak negatifnya. Digitalisasi mampu memberikan layanan keuangan yang tak terbatas dalam memenuhi ekspektasi konsumen.
Seluruh produk dan layanan digital BRI telah memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada masyarakat, baik penyimpan dana maupun usaha-usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang dibiayai BRI selaku debitur. Baik itu masyarakat perkotaan, perdesaan, maupun daerah 3T yang sulit terjangkau. Ini semua membuat pengguna layanan digital BRI dimanjakan hanya dalam satu genggaman smartphone. Dan, layanan digital ini bisa menjadi pintu bagi pengusaha mikro-kecil tersebut untuk naik kelas.
Artinya, digitalisasi BRI menjadi jendela bagi perluasan aksesibilitas masyarakat terhadap layanan keuangan yang beragam. Model bisnis digital terbukti memiliki daya jangkau dan penetrasi yang lebih dahsyat, ke titik-titik yang belum tersentuh. Dalam skala lebih makro, digitalisasi mampu menaikkan inklusi keuangan sehingga membuka peluang terhadap pemerataan ekonomi.
Sementara itu, digitalisasi telah menghantarkan BRI dalam menciptakan efisiensi yang lebih baik, mendorong performa keuangan, menaikkan daya saing, dan berujung pada optimalisasi profitabilitas. Harapannya, resultan dari sinergi seluruh kekuatan itu turut menaikkan peran BRI dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional yang inkslusif.
Dirgahayu BRI. ***

