Sukses Adalah Keberhasilan Menghubungkan ‘Titik-Titik’
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Kehidupan ini ternyata terdiri atas titik-titik yang bermunculan secara acak. Tanpa disadari, titik-titik itu pada suatu waktu akan saling terhubung menjadi satu gambaran utuh untuk membuka jalan kesuksesan bagi seseorang.
Makin banyak titik yang diciptakan, makin besar peluang seseorang untuk mencapai kesuksesan. Ia hanya perlu menghubungkan titik-titik tersebut. Karena itu, jangan ragu untuk berbuat yang terbaik karena semua yang dikerjakan saat ini pasti berguna kelak.
Contohnya Laksono. Chief Executive Officer (CEO) PT Prismalink International ini dulu tak pernah membayangkan apa yang dilakukannya bakal berguna di kemudian hari. Saat menempati berbagai posisi di bank, misalnya, ia tak menyangka posisi-posisi itu bakal bermanfaat bagi perjalanan kariernya. Begitu pula saat ia belajar information technology (IT) menjelang usia pensiun.
Ternyata jalan karier eksekutif yang lama malang-melintang di perbankan ini justru dibukakan oleh titik-titik yang saling terhubung itu. Bahkan, titik-titik tersebut turut membantu keberhasilan Laksono di Prismalink International, perusahaan payment gateway yang kini dinakhodainya.
“Semua titiknya akan nyambung. Sukses itu ternyata tentang keberhasilan connecting the dots,” kata Laksono kepada jurnalis investortrust.id, Febrianto Adi Saputro, Mohammad Defrizal, dan Abdul Aziz di kantornya, kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Intinya, dalam filosofi Laksono, setiap orang harus melakukan yang terbaik dalam hidupnya, termasuk pekerjaan. Selain akan menjadi ‘titik’ yang berguna di kemudian hari, filosofi melakukan yang terbaik akan membuat nilai (value) seseorang naik.
“Prinsipnya, dikasih pekerjaan apa pun, lakukan yang terbaik karena pada akhirnya orang akan melihat hasilnya. Orang tahu Laksono bagus atau nggak dari mana? Dari hasil karya saya,” ujar Laks.
Pria kelahiran Semarang, 28 Oktober ini mengibaratkan pekerjaan yang sedang dilakukannya adalah pekerjaan yang didedikasikan untuk Tuhan. Dengan begitu, ia akan menjalaninya secara sungguh-sungguh.
“Jadi, pekerjaan apa pun yang kita tangani, lakukanlah sebaik mungkin seperti kita lakukan untuk Tuhan. Kalau kita bekerja buat Tuhan kan nggak berani macam-macam, pasti bikin yang bagus kan?!” tegas Laks yang pernah berkarier sebagai bankir di PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Maybank Indonesia Tbk selama dua dekade lebih.
Laksono adalah tipe pemimpin partisipatif. Ia memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para karyawan untuk berkembang. Bagi Laks, gaya kepemimpinan (leadership) partisipatif jauh lebih efektif alih-alih gaya otoriter, apalagi model diktator.
“Saya bukan orang yang ambil keputusan sendiri. Saya berusaha partisipatif karena buy-in-nya akan lebih besar. Apalagi di perusahaan kecil. Kalau main gaya diktator, akibatnya yang lain akan nunggu semua,” papar dia. Berikut penuturan lengkapnya:
Perjalanan karier Anda dimulai dari mana?
Saya kuliah di Universitas Trisakti, ambil jurusan Teknik Elektro. Dalam bayangan saya dulu, elektro itu menarik karena baru berkembang. Setelah saya lulus, ternyata nggak ada lapangan pekerjaan untuk insinyur elektro seperti saya. Karena kita (Indonesia) kan nggak punya pabrik. Kita kan boleh dibilang negara yang konsumtif, bukan produsen.
Saya sempat bekerja di perusahaan software CAD/CAM (computer-aided design/computer-aided manufacturing). Terus, saya banting setir, mending belajar manajemen, deh. Akhirnya saya kuliah Wijawiyata Manajemen di Sekolah Tinggi Manajemen PPM Jakarta, itu tahun 1990.
Selain manajemen, saya senangnya komputer. Waktu itu, tahun 1980-1990-an, komputer masih hal baru. Orang tahunya komputer itu hebat, nggak seperti sekarang. Dulu, bisa mengetik dengan 10 jari itu luar biasa.
Saya senang kalau bisa masuk kerja di perusahaan komputer atau yang ada hubungannya dengan perbankan. Karena waktu itu ada Pakto 88 (Paket Oktober 1988), bank banyak sekali. Booming. Di mana-mana, banyak yang tiba-tiba diangkat menjadi Kepala Cabang. Kerja di bank enak juga. Tapi saya senang komputer.
Akhirnya saya bekerja di perusahaan komputer, di IBM. Waktu masuk IBM, saya ditanya mau kerja apa? Saya bilang, saya mau bekerja di bidang yang berhubungan dengan bank. Jualan komputer ke bank. Syukurnya waktu itu, karena nilai saya dianggap bagus, saya dikasih. Jadi, harapan saya terpenuhi.
Perusahaan seperti IBM itu kan bisa menjadi besar bukan karena kebetulan. Mereka punya nilai-nilai dan budaya yang bagus. Di sana saya belajar. Setelah itu mulai ada booming ATM (anjungan tunai mandiri). IBM menjadi salah satu vendor ATM dan kami bisa jual ATM cukup banyak.
Saya pun minta menjadi Product Manager ATM. Bagian sales di perbankan penghasilannya memang bagus. Tapi sebagai Product Manager ATM, saya bisa mengembangkan ilmu yang saya dapat saat belajar manajemen. Di sela-sela bekerja, saya sempat kuliah lagi S2 di Sekolah Tinggi Manajemen PPM, itu tahun 1996, saya ambil Magister Manajemen.
Dengan menjadi Product Manager ATM, saya bisa mengembangkan IBM menjadi penguasa market share terbesar untuk ATM. Waktu itu ada yang namanya ATM Mall, satu tempat isinya berbagai ATM bank. Saya senang kalau mengajak anak saya ke mal, mampir ke gerai ATM.
Saya bilang, "Lihat itu, ada yang warna biru, merah, oranye, tapi lihat bentuk ATM-nya. Sama semua. IBM semua. Itu Papa yang jualan." Itu memberikan satu kepuasan tersendiri.
Setelah ATM banyak, saya kepikiran untuk berganti karier. Kebetulan BCA itu klien ATM terbesar kami. Akhirnya waktu saya mau keluar dari IBM, mereka bilang, "Ya sudah, masuk aja ke BCA." Itu tahun 1997. Jadi, awal 1997 saya pindah ke BCA.
Itu menjelang krisis moneter, seperti apa situasinya?
Ya menjelang krismon (krisis moneter). Kalau tahu mau ada krisis moneter, mungkin saya nggak pindah dulu, ha, ha, ha… Jadi, pada Januari 1997 saya masuk BCA untuk meng-handle operasional ATM. Ini yang menarik. Seolah-olah, waktu bekerja di IBM, saya menyiapkan pekerjaan untuk masa depan saya sendiri di BCA, mengurus operasional ATM.
Pada 1998, BCA di-rush (penarikan dana besar-besaran oleh masyarakat). Habis-habisan, ATM banyak yang rusak. Memang itu kondisi berat. Tapi akhirnya kami bisa membereskan puing-puing itu, bangun satu per satu lagi, menghidupkan ATM-nya satu demi satu.
Setelah jalan semua, dari pegang operasional, saya pegang produk, yaitu produk liability (tabungan dan deposito). Di situ ada Tahapan BCA, Gebyar BCA, KlikBCA, Debit BCA, Mobile Banking. Itu cikal bakal e-channel yang ilmunya nanti terpakai setelah saya bekerja di Prismalink.
Setelah beres, saya pindah-pindah lagi, pegang produk, tahapan, meng-handle media dan marketing, Gebyar BCA di Indosiar, Metro TV. Selesai di BCA, saya pindah ke Maybank pada 2010.
Bidang yang Anda tangani sama dengan sebelumnya?
Di Maybank saya pegang e-channel juga. Ilmu yang saya pelajari di BCA diterapkan di sana. Di perbankan kan ada liabilities dan aset (kredit). Sebelumnya saya nggak pernah pegang aset atau kredit. Di Maybank ada posisi Kepala Kartu Kredit yang kosong, saya pun apply. Direktur saya sempat bilang, "Lu jangan nekat." Tapi akhirnya saya dipanggil dan ditantang, "Lu serius? Mau!?"
Ya sudah, saya dicemplungin pegang kartu kredit. Itu dunia tersendiri juga. Tapi ilmu dan pengalaman menangani kartu kredit ternyata kepakai waktu saya di Prismalink ini. Apalagi salah satu klien terbesar kami menggunakan jasa kartu kredit. Jadi, istilah-istilah kartu kredit yang awalnya saya nggak tahu, menjadi tahu, saya belajar di situ.
Walaupun saya memimpin, sebenarnya saya belajar dari anak buah saya. Saya banyak bertanya. Balik lagi, attention to detail. Saya coba kuasai. Itu pengalaman pertama saya melakukan turn around. Bisnis kartu kredit yang kondisinya sulit menjadi baik.
Kemudian saya berganti atasan. Atasan saya yang baru meminta saya untuk pindah dari Kartu Kredit. Beliau meminta saya untuk ke unit lain.
Kemudian saya pindah ke IT (information technology). Ini menarik. Saya waktu itu 3-4 tahun lagi mau pensiun. Artinya kalau sudah mau pensiun kan ancang-ancang mau istirahat. Tapi bukannya istirahat, saya malah dikasih kesempatan untuk belajar. Saya belajar IT. Ada IT security, IT development, IT operation, IT infrastructure, project management, dan lain-lain. Kompleks ternyata IT itu.
Ya sudah, saya belajar. Ini menarik karena ilmunya terpakai semua setelah saya di sini (Prismalink). Selesai itu, saya pun pensiun. Ya, sudah, selesai. Karena umur saya memasuki umur pensiun, ya sudah. Saya nggak expect untuk bekerja lagi.
Apa yang terjadi setelah Anda pensiun?
Nah, setelah pensiun beberapa bulan, mantan bos manggil saya. "Lu bantuin gue deh." Makanya saya masuk ke sini (Prismalink). Waktu saya belajar IT tiga tahun menjelang pensiun, saya sempat mikir. Ini ilmu mau dipakai kapan? Ngapain belajar? Saya kan mau pensiun.
Ternyata setelah masuk Prismalink, ilmunya kepakai semua. Kalau ngomong dengan orang IT, saya bisa nyambung. Waktu ngomong dengan orang operation, juga nyambung. Begitu pula tentang HRD (human resources development). Waktu saya menangani kartu kredit, anak buah saya 600 orang. Mau nggak mau ngurusin HRD-nya juga.
Kapan persisnya Anda bergabung dengan Prismalink?
Saya masuk Prismalink pada 2021, pas sedang pandemi Covid-19. Perusahaan ini berdiri pada 2011, berarti sudah 15 tahun. Memang selama itu beberapa kali ganti arah. Sampai akhirnya pada 2019 kami masuk sebagai perusahaan payment gateway (gerbang pembayaran). Pada 2020 kami dapat lisensi dari Bank Indonesia (BI).
Berarti Anda masuk ketika ekonomi sedang sulit?
Seru itu. Memang waktu itu kondisinya agak sulit. Tapi jujur, kami sebenarnya terbantu oleh pandemi. Waktu itu kan orang-orang tidak ingin bertemu secara fisik. Mau nggak mau, semua pakai online, kerja pun pakai online (work from home/WFH). Bisnis kami ini kan memang bisnis untuk transaksi online. Jadi, ketika orang-orang bergeser dari fisik ke online, itu blessing bagi kami.
Pada 2021 dan 2022, perusahaan terus membaik. Lalu pada 2023, 2024, dan 2025, kami makin baik. Kondisinya sekarang, Prismalink boleh dikata sudah baik ya, tinggal meneruskan supaya makin berkembang. Dulu mungkin tidak terlalu terdengar sebagai payment gateway, sekarang orang sudah tahu.
Apa uniqueness dan nilai tambah Prismalink?
Sebenarnya kami punya kedekatan dengan perbankan. Itu sangat menolong kami. Keunikan bisnis kami, payment gateway lain mungkin berangkatnya murni dari teknologi. Kami berangkat dari relationship.
Jujur, memang saat ini transformasi terus berkembang, tapi kami mengutamakan kedekatan dengan merchant. Ada juga merchant yang merintis dari awal bersama kami. Kami percaya kepada mereka, mereka percaya kepada kami, maka kami bangun bareng-bareng. Memang intinya dari relationship dan kepercayaan, kemudian kami berikan bukti.
Kami bergerak secara bertahap agar semakin profesional. Artinya, kami membuktikan supaya orang percaya. Kami juga apply beberapa lisensi. Contohnya untuk melayani transaksi kartu kredit, terutama kan harus punya sertifikasi PCI-DSS (Payment Card Industry Data Security Standard). Kami juga punya ISO 27001 (standar internasional untuk sistem manajemen keamanan informasi atau Information Security Management System/ISMS).
Jadi, kami bukan sekadar memperbaiki proses, tapi juga membuktikan dengan sertifikasi bahwa standar kami sudah benar. Itu yang membuat para partner kami lebih yakin. Relationship is one thing, tapi habis itu kami harus bisa deliver. Itu yang kami kejar.
Prismalink sudah masuk top 10?
Jujur, asosiasi payment gateway baru ada. Berbeda dengan industri lain yang mungkin sudah punya angka pasti, payment gateway ini belum ada angka pastinya secara asosiasi. Tapi kami percaya Prismalink masuk 10 besar.
Kenapa kami percaya demikian? Karena kami lihat dari partner kami, yaitu perbankan. Sekarang kami sering diundang mereka. Kemudian juga dari merchant-merchant. Kalau ada bidding atau tender, kami dipanggil. Tren transaksi kami juga meningkat cukup tinggi. Kalau top 10 harusnya masuk.
Latar belakang Anda sebagai bankir cukup membantu?
Sangat membantu. Kenapa? Karena perbankan itu punya standar yang bagus. Keuntungan saya, saya bekerja di dua bank. Pertama BCA, bank swasta terbesar di Indonesia. Kedua di Maybank, bank regional. Jadi, dari sisi tata kelola, sistem prosedur, SOP (standard operating procedures), itu bagus. Sebelumnya saya juga di IBM, perusahaan komputer terbesar di dunia waktu itu.
Apa yang Anda adopsi dari perusahaan-perusahaan tersebut?
Perusahaan-perusahaan ini punya governance yang bagus. Bagaimana mereka mengelola proses, mengelola risiko, semuanya bagus. Itu yang saya coba terapkan di sini. Saya percaya apa yang kami lakukan mengikuti standar perbankan. Mungkin beda dengan payment gateway lain yang murni dari luar atau dari merchant.
Karena dari perbankan, kami mengerti bagaimana mengelola standar perbankan. Apalagi payment itu subset dari perbankan. Garis besarnya, dalam mengelola risiko, mengelola governance, dan mengelola bisnis, kami menggunakan standar yang ada di perbankan.
Bagaimana dengan corporate culture?
Pertama adalah attention to detail (perhatian pada detail). Kami nggak mungkin sukses kalau nggak detail. Jadi, kadang-kadang kalau staf saya ngomong satu hal yang simpel, saya nggak bisa terima.
Kami harus kupas benar-benar sampai ketemu hakikatnya, intinya. Dari situ, mau main variasi kayak apa, kami sudah ngerti karena sudah tahu fondasinya. Kalau nggak, begitu ada perubahan, kami akan bingung. Nomor satu attention to detail. Tanpa detail, kami nggak bisa sukses.
Kedua yaitu excellent in execution. Orang mungkin ngomong yang penting brilian, punya ide jenius, punya terobosan. Bagi kami, excellent in execution adalah yang utama.
Saya lihat pengalaman saya waktu di BCA. Waktu itu Kepala Divisi kami adalah Pak Barry Lesmana (yang kemudian menjadi Country Manager Citibank Indonesia – Warga Negara Indonesia/WNI pertama yang menduduki jabatan ini). Saya belajar dari beliau bahwa ide cukup satu saja. Untuk jalanin satu ide itu minimal perlu waktu tiga tahun.
Contoh waktu kami punya ide untuk meluncurkan kartu Debit BCA. Idenya satu, simpel. Tapi menjadikannya sebagai barang (produk) butuh waktu paling nggak setahun. Setelah jadi barang, men-deliver ke masyarakat itu sekitar 2-3 tahun, itu juga nggak selesai. Perlu edukasi. Orang pertama kali pakai debit untuk apa? Masyarakat terbiasa pakai cash. Ribet harus masukin PIN segala.
Berarti seluruh sumber daya harus dikerahkan ke situ untuk mengegolkannya. Supaya tidak bercabang-cabang, harus tetap fokus. Itu excellent in execution. Kalau nggak, orang pakai debit banyak gagalnya, akhirnya nggak mau pakai.
Waktu pertama kali Debit BCA dipasang di supermarket Hero, itu kita pelototin benar-benar. Transaksi bagus nggak? Ada masalah nggak? Sudah efisien belum? Diamatin semua. Sampai kami yakin bagus, baru diperkenalkan (promosi). Idenya nggak perlu banyak-banyak. Satu dulu. Tapi eksekusinya sampai tuntas.
Jadi, yang penting eksekusinya harus excellent. Bank-bank lain launching produk satu tahun satu, tapi nggak fokus. Setahun itu nggak cukup untuk mengedukasi masyarakat. Percuma kita punya relationship yang bagus kalau saat produk kita digunakan, transaksinya bermasalah.
Account opening harus mudah, testing harus mudah, integrasi harus mudah. Setelah integrasi mudah, transaksinya harus mudah. Operasional harus mudah. Kalau komplain juga harus mudah. Makanya kami siapkan call center 24 jam. Jadi, dua itu yang kami pegang, yaitu detail dan eksekusi. Ide satu saja cukup.
Cara Anda meyakinkan karyawan bahwa visi dan strategi yang Anda terapkan adalah yang terbaik bagi perusahaan?
Ya tentunya perlu waktu. Saya bersyukur karena mereka juga percaya saya. Lihat background saya juga, jadi relatif lebih mudah. Tapi memang yang menariknya adalah kami melakukan transformasi di perusahaan ini dengan menggunakan mayoritas orang-orang yang sama (orang lama).
Jujur, ini saya juga terinspirasi oleh CEO BCA dulu, Pak Setijoso (Djohan Emir Setijoso). Waktu masuk BCA, beliau nggak bawa ‘pasukan’. Biasanya kan gampang, kadiv-kadiv (kepala divisi) tarik dari bank lama, masuk semua. Beliau nggak. Beliau pakai staf yang ada.
Itu lebih bagus karena tidak menimbulkan resistensi. Jadi, tetap jalan dengan orang yang ada, itu yang dikembangkan. Kecuali memang benar-benar membutuhkan kompetensi yang di internal nggak ada, baru diambil dari luar. Sejauh ini kami kembangkan dari dalam, resistensinya lebih kecil.
Apalagi setelah ada hasilnya. Satu hal lagi yang penting di sini, yaitu Komunikasi. Saya katakan kepada para karyawan bahwa ini kondisi kita sekarang, ini yang hendak kita tuju, yuk kita jalan bareng-bareng. Along the way kita jalan, kita tunjukkan bahwa kita sudah melangkah maju, tapi belum nyampe. Berikutnya lagi, nah ini sudah semakin mendekat. Jadi, ada komunikasi seperti itu yang membuat mereka juga semangat untuk mengejar.
Gaya leadership Anda?
Partisipatif. Saya bukan orang yang ambil keputusan sendiri. Saya berusaha partisipatif karena dengan demikian buy-in-nya akan lebih besar. Apalagi kalau di perusahaan kecil. Kalau kita main gayanya gaya diktator, akibatnya yang lain akan nunggu semua. Akan lebih repot kalau saya nggak masuk kantor, bisa-bisa nggak ada yang kerja. Makanya lebih baik partisipatif, masing-masing mengerti peran masing-masing.
Perjalanan karier Anda seperti sudah ‘diatur’, Anda merasa begitu?
Ya, jalan hidup kita kan sudah diatur sama Yang Di Atas. Cuma, kadang-kadang kita nggak mengerti, nggak sadar. Ternyata bekalnya sudah ada. Semua titiknya akan nyambung. Sukses itu ternyata tentang keberhasilan connecting the dots (menghubungkan berbagai pengalaman yang terpisah menjadi satu pemahaman utuh).
Anda pernah ‘jatuh’ dan terpuruk?
Jatuh? Ya seringlah. Saya anggap itu sebagai proses aja. Bahkan, sebelum bekerja pun saya pernah bikin keputusan yang salah.
Waktu di bagian sales, kan ada target. Tahun pertama masuk over achieve. Tahun kedua kadang-kadang gagal, nggak mencapai target. Ya sudah, tahun depan saya perbaiki lagi. Kadang saya juga salah ngomong. Tapi menariknya, ada teman yang ngasih tahu. "Eh, next time jangan ngomong begini, orang nangkapnya salah."
Waktu di BCA saya pegang Call Center. Saya ingin lebih baik lagi. Tapi ternyata mencari vendor nggak gampang. Waktu itu kami nggak ada yang punya pengalaman di situ. Mau coba ini, coba itu, akhirnya cukup lama, baru bisa terapkan satu sistem baru untuk membuat automation.
Waktu saya pegang HaloBCA itu ada 100 orang, sekarang saya dengar sudah 500 orang. Bisa 500 dari mana? Karena sudah disiapkan dulu infrastrukturnya. Dulu kami ngurusin 50 orang agen saja pusing. Bagaimana mengatur yang terima call, follow up, dan sebagainya. Detail-detail kecilnya itu banyak. Waktu gagal memang pusing. Sempat merasa down juga.
Apa yang membuat Anda bisa segera bangkit setelah mengalami kegagalan?
Saya percaya sama Yang Di Atas. Artinya, kalaupun gagal, ya memang saya diizinkan untuk gagal. Itu membuat saya sadar, jangan sombonglah. At the end kita itu manusia biasa, bisa berbuat salah. Tapi setelah itu, saya percaya kalau sebelum-sebelumnya saya dibantu untuk berhasil.
Jadi, saya diberi kekuatan untuk terus melangkah lebih baik lagi. Kalau mengandalkan diri sendiri mungkin bisa kecewa, patah arang. Tapi saya percaya Tuhan, Dia akan selalu menolong saya. Ya sudah jalan aja.
Filosofi hidup Anda?
Prinsipnya, dikasih pekerjaan apa pun, lakukan yang terbaik karena pada akhirnya orang akan melihat hasilnya. Orang tahu Laksono bagus atau nggak dari mana? Dari hasil karya saya. Orang mungkin nggak pernah ngobrol dengan saya, tapi dia melihat hasil karya saya, dia tahu bahwa saya bekerja serius atau nggak.
Jadi, pekerjaan apa pun yang kita tangani, lakukanlah sebaik mungkin seperti kita lakukan untuk Tuhan. Kalau kita bekerja buat Tuhan kan nggak berani macam-macam, pasti bikin yang bagus kan?! Saya percaya jalan hidup kita ini ada yang mengatur.
Pandangan Anda tentang work-life balance?
Memang kita sebenarnya bekerja buat istri dan anak ya. Kalau dulu enak. Sebelum ada smartphone, itu enak. Begitu kita tinggalkan kantor, kita bisa benar-benar ngurusin keluarga. Yang agak repot itu sejak ada smartphone.
Kuncinya bagi saya, selesaikan masalah satu demi satu. Kalau pas ada urusan kantor di hari libur, mau nggak mau saya bereskan. Tapi setelah pekerjaan beres, saya kembali ngurusin keluarga. Intinya bagi saya bukan multitasking, tapi one at a time. Satu beresin, gantian satu beresin lagi.
Kalau ngomong work-life balance, intinya weekend sebisa mungkin dengan keluarga. Kemudian kalau punya cuti juga main dengan keluarga. Kalau seandainya mendadak kena interupsi pekerjaan, ya apa boleh buat. Toh tidak setiap hari.
Industri payment gateway makin menjamur, strategi Anda untuk memenangi kompetisi?
Payment gateway itu kan menjembatani antara perbankan dan merchant. Kebanyakan payment gateway fokusnya ke merchant. Kalau kami, karena kebanyakan berasal dari perbankan, justru kami lebih dekat ke bank. Karena dekat dengan bank, ada beberapa bisnis yang oleh bank dikasih ke kami.
Jadi, arah kami lebih ke sana. Ke merchant juga ada, tetap kita jalan. Mungkin dibandingkan dengan yang lain, mereka lebih kuat ke merchant, kalau kami lebih kuat di perbankan, sambil pelan-pelan membangun jejaring di merchant juga.
Sektor yang paling banyak digarap Prismalink?
Macam-macam. Ada edutech, hospitality, rumah sakit, game online. Banyak. Prinsipnya kami nggak akan menolak rezeki. Kalau ada kami garap. Menariknya kan transaksi online terus tumbuh. Kami beruntung karena kami bisa riding the wave. Pas wave-nya naik, kami ikut terbawa naik.
Ada rencana ekspansi atau go public?
Aksi korporasi, seperti IPO (initial public offering) atau akuisisi sepertinya nggak karena kami percaya bahwa kami growing dari dalam, dari bisnis yang kami lakukan. Kami fokus menjalankan payment gateway terus.
Mungkin berbeda dengan beberapa kompetitor kami yang mulai kehilangan fokus, urusin ini, urusin itu, mulai banyak macam-macam. Yang kayak gitu kemungkinan span of control-nya nggak kepegang. Kalau kami terus fokus di sini.
Kalau bicara mengenai aksi korporasi, kami prudent (hati-hati). Kalau pas kebetulan bertemu dengan partner yang cocok, ya kami akan lakukan. Tapi kalau nggak, ya kami self-sufficient (mandiri).
Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi pusat ekonomi digital ASEAN, pandangan Anda?
Indonesia itu agak unik ya. Saya bilang tadi kan Indonesia itu negara konsumen. Kita bukan negara yang create sesuatu. Kebanyakan kita itu bagus untuk menggunakan produk dari luar negeri. WhatsApp, YouTube, Facebook. Di domestik ada yang bikin? Ada, tapi nggak laku. Mesin pencari buatan anak bangsa ada, tapi nggak laku.
Ini mungkin yang seharusnya dibantu pemerintah, dibantu regulator. Contoh, China bisa berkembang karena mereka ekstrem ya, perusahaan Amerika dilarang masuk. Mereka tinggal contek yang di Amerika apa, bikin di negaranya.
Ada Google bikin kayak Google, ada YouTube bikin kayak YouTube. Sementara yang dari sana dicegah untuk masuk. Kalau di Indonesia kan kita buka selebar-lebarnya. Di pemerintah pun saya nggak melihat mereka mendukung gerakan "Aku Cinta Indonesia".
Jujur, ekonomi digital atau ekonomi kreatif kita berkembang karena usaha keras anak bangsa sendiri tanpa dukungan pemerintah. Tapi berapa banyak yang nanti bisa berhasil?
Regulasi seperti apa yang dibutuhkan industri payment gateway?
Contoh begini. Kalau kita bicara agregat makro ekonomi kan pertumbuhan ekonomi berasal dari beberapa pos, di antaranya belanja pemerintah dan belanja swasta. Ya kenapa nggak belanja pemerintahnya diwajibkan menggunakan misalnya local content 99%? Sekarang sudah ada ketentuan tentang TKDN (tingkat komponen dalam negeri), tapi kan nggak maksimal, terutama untuk industri teknologi. Problemnya kan kita nggak punya pabrik. Memang harus secara komprehensif mikirnya.
Itu beyond kemampuan kami. Tapi yang kami coba lakukan ya kami kembangkan industri payment (pembayaran). Kebetulan kami aturannya menginduk ke Bank Indonesia (BI). Nah, bagusnya BI punya blueprint. Misalnya perkembangan QRIS itu luar biasa. Ya kita ngikutin BI.
Dengan ikut di belakang BI, impact-nya cukup besar. Pencapaian QRIS itu, merchant-nya berapa puluh juta, transaksi meningkat tinggi, itu karena kolaborasi bareng-bareng yang dimotori BI, semua bergerak ke satu arah. Baru impact-nya berasa. Harusnya di semua sektor kita seperti itu. ***
BIODATA
Nama: Laksono.
Tempat, tanggal lahir: Semarang, 28 Oktober.
Pendidikan:
S1 Teknik Elektro - Universitas Trisakti (1998).
S2 Magister Manajemen - Sekolah Tinggi Manajemen PPM (1996).
Karier:
* 2021 – sekarang: CEO PT Prismalink International.
* 2016 - 2020: Senior Vice President – IT Global Banking, IT Group PT Maybank Indonesia Tbk.
* 2013 - 2016: Senior Vice President – Card Business Group PT Maybank Indonesia Tbk.
* 2010 –2013: Senior Vice President - Electronic Banking Group PT Bank Internasional Indonesia Tbk.
* 2008 – 2010: Head of Funding Products & Customer Segmentation Subdivision PT Bank Central Asia Tbk.
* 2003 –2008: Head of Funding Product & Marketing Sub Division PT Bank Central Asia Tbk.
* 2000 –2003: Deputy Division Head, Electronic Banking Sub Division PT Bank Central Asia Tbk.
* 1997 – 2000: Bureau Head, Consumer Operations & Support, Consumer Banking Division PT Bank Central Asia Tbk.
* 1991 – 1996: posisi terakhir Marketing Specialist IBM Self Service Solution, USI/IBM.
* 1988 – 1989: System Engineer PT Cadcom International.
* 1987 – 1988: Physics Class and Laboratory Teacher, Karunia Christian School, Jakarta.

