Jurus Menjaring 5 Juta Pelancong Udara di Libur Nataru
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID – Berbagai cara ditempuh pemerintah untuk menekan tarif tiket pesawat selama musim libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru 2025/2026). Maklum, pemerintah ingin sebagian masyarakat menggunakan angkutan udara untuk melancong atau pulang kampung dengan harga terjangkau.
Dalam skenario pemerintah, jika masyarakat berbondong-bondong berlibur atau pulang kampung menggunakan pesawat terbang, industri penerbangan bakal lebih bergairah. Lebih dari itu, roda ekonomi --terutama di daerah-- akan berputar lebih kencang. Alhasil, perekonomian nasional bisa tumbuh lebih pesat.
Nah, salah satu langkah yang ditempuh pemerintah untuk menekan tarif pesawat adalah “memaksa” maskapai penerbangan memberikan diskon tiket. Caranya, pemerintah memberikan berbagai insentif kepada maskapai penerbangan, mulai dari pajak, biaya parkir pesawat, hingga penurunan harga avtur.
Untuk mendukung maksud tersebut, tiga beleid telah diterbitkan, yaitu Surat Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 50/2025 tentang penurunan besaran biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/2025 tentang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah untuk tiket pesawat kelas ekonomi selama libur Nataru.
Baca Juga
Satu peraturan lainnya adalah Surat Keputusan Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Nomor KP-DJPU 235/2025 tentang Pengenaan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Sebesar 50% terhadap Pelayanan Jasa Kebandarudaraan.
Lewat ketiga beleid ini, maskapai penerbangan menikmati berbagai insentif, sehingga mereka dapat menekan berbagai komponen biaya. Dengan komponen biaya yang turun, airlines bisa memberikan diskon tarif kepada penumpang.
“Jadi, diskon tarif tiket tersebut berasal dari sejumlah komponen biaya yang turun,” kata Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi.
Komponen-komponen insentif itu antara lain PPN Ditanggung Pemerintah (PPN-DP) sebesar 6%, penurunan fuel surcharge pesawat jet dan pesawat propeller masing-masing sebesar 20%, serta potongan 50% pelayanan jasa penumpang pesawat udara.
Komponen lainnya yaitu pengurangan biaya pendaratan, penempatan, dan penyimpanan pesawat udara sebesar 50%. Itu belum termasuk penurunan harga avtur di 37 bandara dan perpanjangan jam operasional layanan penerbangan.
Berkat insentif-insentif tersebut, maskapai penerbangan siap memberikan diskon tarif tiket pesawat domestik kelas ekonomi rata-rata sebesar 13–14% pada periode angkutan Nataru 2025/2026. Diskon berlaku untuk periode penerbangan 22 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026, dengan masa pembelian tiket mulai 22 Oktober 2025 sampai 10 Januari 2026.
“Langkah ini kami ambil agar konektivitas antardaerah tetap terjaga dan mobilitas masyarakat berjalan lancar dengan tarif yang lebih terjangkau. Kami ingin memastikan seluruh masyarakat dapat menikmati layanan transportasi udara, khususnya selama libur Natal dan Tahun Baru,” ujar Menhub.
Baca Juga
Imbas 'Shutdown', 700 Penerbangan di AS Dibatalkan, Ribuan Penumpang Telantar
Tentu saja besaran diskon tarif pada akhirnya diputuskan oleh masing-masing maskapai penerbangan. “Saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi dalam upaya menurunkan tarif tiket pesawat, dari kementerian dan lembaga (K/L) terkait, maskapai, penyedia bahan bakar, hingga pengelola bandara,” tutur Dudy.
5 Juta Penumpang
Yang pasti, pemerintah optimistis insentif bagi maskapai penerbangan yang berujung diskon tarif pesawat bakal mendongkrak jumlah penumpang udara selama libur Nataru. Dalam ancar-ancar Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kemenhub, setidaknya 5 juta orang bakal menggunakan pesawat terbang selama libur Nataru 2025/2026.
Sekadar informasi, Posko Pemantauan Nataru akan beroperasi mulai 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 di Kantor Pusat Kemenhub, Jakarta. Posko tersebut akan memantau 257 bandara di Tanah Air.
“Kami perkirakan jumlah penumpang naik sekitar 7% dibandingkan tahun lalu menjadi 5 juta penumpang, meliputi rute domestik dan internasional,” kata Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F Laisa.
Dari total 5 juta penumpang yang diproyeksikan, penumpang domestik diperkirakan mencapai 3,89 juta orang atau tumbuh 5%. Adapun penumpang internasional diprediksi berjumlah1,15 juta orang atau meningkat 11%.
Kemenhub memproyeksikan kebutuhan pesawat mencapai 326 unit untuk mengimbangi peningkatan permintaan selama libur Nataru 2025/2026, terdiri atas 286 pesawat jet dan 40 pesawat propeller. Dari total 560 armada pesawat nasional, sebanyak 366 unit siap beroperasi, sedangkan 194 unit lainnya sedang menjalani perawatan.
“Tiga maskapai dengan jumlah armada terbanyak meliputi Lion Air sebanyak 97 unit, Wings Air 77 unit, dan Garuda Indonesia 81 unit,” kata Lukman.
Berdasarkan prediksi Kemenhub, puncak arus keberangkatan terjadi pada 21 Desember 2025. Adapun puncak arus balik digadang-gadang berlangsung pada 3–4 Januari 2026.
Bandara tersibuk, menurut perkiraan Kemenhub, di antaranya Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Ngurah Rai, Sultan Hasanuddin, Kualanamu, dan Juanda. Sementara itu, pergerakan tertinggi rute internasional diperkirakan dari dan menuju Singapura serta Kuala Lumpur.
Baca Juga
Injourney Airports Sebut Maskapai Asing Mulai Masuk, Sebagian Belum Beroperasi
Maskapai dan Bandara Siap
Kemenhub memastikan maskapai penerbangan siap melayani angkutan Nataru. Dari total 598 unit pesawat nasional, sebanyak 398 unit dalam kondisi laik operasi (serviceable), sedangkan 200 unit lainnya tidak laik operasi (unserviceable).
Dalam kalkulasi Kemenhub, kebutuhan pesawat selama periode Nataru 2025/2026 diperkirakan mencapai 325 unit. “Dengan jumlah pesawat yang serviceable sebanyak 398 unit, kebutuhan armada untuk Nataru sudah mencukupi,” tegas dia.
Dari sisi pengelola bandara, PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau Injourney Airports memproyeksikan pergerakan penumpang pesawat di 37 bandara yang dikelolanya mencapai 10,5 juta orang selama periode Nataru 2025/2026 atau meningkat 4,1% dibandingkan periode yang sama tahun silam. Periode angkutan Nataru berlangsung pada 15 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026.
“Pada periode Nataru ini, jumlah penumpang pesawat di seluruh bandara Injourney Airports secara kumulatif diproyeksikan mencapai 10,5 juta orang atau naik 4,1%,” tutur Direktur Utama Injourney Airports, M Rizal Pahlevi.
Dari jumlah itu, jumlah penumpang di Bandara Soetta diperkirakan sekitar 3 juta orang atau naik 3,3%, sedangkan Bandara I Gusti Ngurah Rai diproyeksikan melayani 1,36 juta penumpang atau tumbuh 13,3%.
“Untuk mendukung kelancaran layanan selama Nataru, kami menyiapkan 15.998 personel, terdiri atas 12.316 personel internal dan 3.682 personel eksternal,” ujar mantan Direktur Komersial dan Pelayanan PT Angkasa Pura II itu.
Injourney Airports menerapkan potongan tarif jasa kebandarudaraan sebesar 50% untuk Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) serta Pelayanan Jasa Pendaratan, Penempatan, dan Penyimpanan Pesawat Udara (PJP4U).
“Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari kebijakan pemerintah terkait penurunan tarif transportasi udara selama libur Natal dan Tahun Baru,” tandas Rizal.
Baca Juga
Dorong Peningkatan Devisa, Prabowo Ingin Perbanyak Jalur Baru Penerbangan Internasional
Semua maskapai menyatakan kesiapannya untuk mendukung program diskon tarif selama musim libur Nataru 2025/2026. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), misalnya, sudah menyiapkan diskon tiket pesawat sebesar 13–14% selama periode Nataru.
Garuda Group mengoperasikan total 94 armada pesawat selama musim libur Nataru 2025/2026. “Dari Garuda sendiri sudah siap dengan 58 armada, selebihnya pesawat Citilink. Itu yang bisa kami operasikan secara standby 24 jam,” kata Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro.
Diskon serupa diberikan AirAsia. Maskapai penerbangan itu memberikan potongan harga tiket domestik hingga 13% selama periode Nataru 2025/20206.
“Indonesia AirAsia mendukung penuh arahan pemerintah untuk menciptakan transportasi udara yang lebih terjangkau, terutama di momen penting seperti libur Natal dan Tahun Baru,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Indonesia AirAsia, Achmad Sadikin Abdurachman.
Para operator penerbangan umumnya optimistis program dapat membantu masyarakat untuk mengakses layanan penerbangan yang lebih terjangkau sekaligus berkontribusi pada peningkatan mobilitas dan pertumbuhan sektor pariwisata domestik.
Di pihak lain, Citilink menurunkan harga tiket penerbangan hingga 17% pada periode libur Nataru 2025/2026. Anak perusahaan Garuda Indonesia ini percaya penurunan harga tiket penerbangan merupakan langkah yang efektif untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap layanan transportasi udara, terutama pada periode libur panjang Nataru 2025/2026.
“Kebijakan ini diharapkan berdampak positif terhadap peningkatan mobilitas masyarakat pada periode peak season akhir tahun, sehingga dapat berkontribusi terhadap kinerja perusahaan, terutama dari sisi tingkat keterisian penumpang dan pendapatan,” papar Direktur Utama Citilink, Darsito Hendroseputro.***

