Gurita Bisnis Vingroup, Geliat Ekonomi Vietnam, dan Kisah Kapitalisme di Negeri Komunis
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID – Pagi yang dingin di Kota Hanoi. Hujan rintik-rintik baru saja turun di ibu kota Vietnam itu. Angin musim gugur sesekali berembus, mengempaskan serpihan-serpihan gerimis ke pepohonan di taman kota, meluruhkan daun-daun Sau yang tengah menguning di tepi Danau Hoàn Kiếm.
Cuaca yang kurang bersahabat, tentu saja. Tapi Kota Hanoi sudah terjaga, memamerkan lanskap paling khas dari sebuah negara yang sedang giat membangun.
Orang-orang berjalan tergesa ke tempat kerja, hiruk pikuk kendaraan di jalan-jalan yang penuh sesak, antrean panjang penumpang pesawat di bandara, kerumunan pengunjung di pusat-pusat perbelanjaan dan objek wisata, adalah potret keseharian Kota Hanoi saat ini.
Ya, Kota Naga Terbang itu terus menggeliat. Proyek properti atau infrastruktur publik yang sedang dibangun sangat mudah dijumpai di sudut-sudut kota ini. Meski kegiatan bisnis di Vietnam kini terkonsentrasi di Ho Chi Minh —sekitar 1.700 km dari Hanoi--, Kota Hanoi tak kehilangan pesonanya sebagai pusat pemerintahan sekaligus kota bisnis di Vietnam.
Sekadar tahu saja, Vietnam adalah salah satu negara yang menikmati pertumbuhan ekonomi paling stabil dan paling cepat di dunia. Jangan heran jika negara berjuluk Negeri Ribuan Danau itu digadang-gadang menjadi “macan Asia” baru.
Ekonomi Vietnam dalam dua dekade terakhir (2004–2024) rata-rata tumbuh 6,28% per tahun. Bahkan, saat negara-negara lain dibekap resesi gara-gara Covid-19, Vietnam masih mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi 2,6%.
Jangan salah, Vietnam juga menjadi rujukan investasi langsung (direct investment). Maklum, Vietnam sukses melakukan reformasi perizinan investasi. Berkat debirokratisasi investasi, Vietnam kini menjadi tujuan utama aliran investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI).
Baca Juga
VinFast Perkenalkan Limo Green dan VF Wild, Dua Model Terbaru di GJAW 2025
Investasi yang masuk ke Vietnam bukan investasi kaleng-kaleng, melainkan investasi manufaktur berorientasi ekspor. Bermodalkan mesin FDI dan mesin ekspor yang berputar kencang, Vietnam mampu menorehkan pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan.
Lebih dari itu, Vietnam menjadi hub manufaktur global, di antaranya menjadi pusat produksi Samsung dan menjadi bagian penting bagi kegiatan manufaktur perusahaan-perusahaan teknologi global, dari Apple, Foxconn, Intel, LG, Amkor, hingga perusahaan-perusahaan raksasa lainnya.
Berkat ekonomi serta industrinya yang tumbuh pesat dan stabil bersama Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura, Vietnam menyandang predikat sebagai Negeri Naga Biru alias The Land of Blue Dragon.
Kebijakan “China+1”
Tak kalah penting, Vietnam menjadi tujuan relokasi pabrik dari Tiongkok akibat kebijakan “China+1”. Kebijakan “China+1” adalah strategi bisnis global ketika perusahaan-perusahaan multinasional mengurangi ketergantungan terhadap China sebagai satu-satunya basis produksi, lalu menambah setidaknya satu negara lain sebagai alternatif atau pelengkap rantai pasok, sekaligus sebagai diversifikasi risiko.
Biaya tenaga kerja di China yang semakin mahal, ketegangan geopolitik antara AS–China, gangguan rantai pasok akibat pandemi, serta kebutuhan perusahaan untuk lebih fleksibel dan aman secara logistik telah menjadikan Vietnam sebagai magnit investasi perusahaan-perusahaan global.
Jangan lupa, Vietnam saat ini menempati posisi top di bidang elektronik, tekstil, garmen, alas kaki, dan furnitur global. Juga menjadi salah satu negara dengan neraca perdagangan paling kuat di Asia.
Vietnam didukung demografi muda dan tenaga kerja kompetitif. Dengan usia rata-rata sekitar 32 tahun, negara berpenduduk sekitar 100 juta jiwa itu memiliki tenaga kerja produktif, SDM yang cepat beradaptasi, serta upah yang lebih kompetitif dibanding tetangganya, Tiongkok dan Thailand.
Tahun ini, ekonomi Vietnam diperkirakan masih mampu tumbuh 6,6% kendati perekonomian global masih diselimuti ketidakpastian, terutama akibat tarif resiprokal yang diberlakukan Presiden AS, Donald Trump.
Baca Juga
Gandeng 6 Lembaga Keuangan, VinFast Hadirkan Skema Kredit Super Ringan
“Itu karena pertumbuhan ekonomi Vietnam didukung pencapaian paruh pertama yang kuat sebesar 7,5%,” jelas Bank Dunia dalam laporan pembaruan ekonomi Vietnam terbaru yang dilansir pada 8 September lalu.
Dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi Vietnam diproyeksikan melambat menjadi 6,1% pada 2026 sebelum kembali pulih menjadi 6,5% pada 2027. Kemajuan ekonomi Vietnam ditopang pemulihan perdagangan global dan daya tarik yang berkelanjutan sebagai basis manufaktur yang kompetitif.
Selain itu, utang publik Vietnam terbilang rendah. Itu sebabnya, pemerintah Vietnam punya ruang fiskal yang memadai untuk melakukan manuver dan ekspansi.
“Pembuat kebijakan dapat memanfaatkan investasi publik yang terlaksana dengan baik untuk menutup kesenjangan infrastruktur dan menciptakan lapangan kerja,” ujar Direktur Divisi Bank Dunia untuk Vietnam, Kamboja, dan Republik Demokratik Rakyat Laos, Mariam J Sherman dalam publikasi lembaga keuangan multilateral itu.
Produk domestik bruto (PDB) per kapita Vietnam sejatinya masih di bawah Indonesia. Tahun lalu, pendapatan per kapita nominal Vietnam mencapai US$ 4.717 dibandingkan Indonesia US$ 4.925. Berdasarkan paritas daya beli (purchasing power parity/PPP), pendapatan per kapita Vietnam sekitar US$ 14.415 dibanding Indonesia US$ 14.960.
Dari sisi infrastruktur, Indonesia pun saat ini boleh berbangga. Soalnya, Indonesia memiliki infrastruktur yang lebih lengkap dan modern. Kota-kota di Vietnam, terutama Hanoi --bahkan Ho Chi Minh yang sudah lebih maju sekalipun--, tak semegah Kota Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya di Tanah Air.
Namun, di masa mendatang, bukan mustahil Vietnam bisa menyalip Indonesia, baik dari sisi pendapatan per kapita, kemajuan infrastruktur, teknologi, maupun bidang-bidang lainnya.
Bukan apa-apa. Dengan sistem pemerintahannya saat ini, Vietnam bisa mengontrol langsung kemudahan perizinan bisnis dan investasi, selain memastikan situasi politik dan keamanan tetap terjaga.
Baca Juga
Punya Pabrik di Subang, VinFast Pede Jadikan Indonesia Pusat Revolusi Otomotif di ASEAN
Yang pasti, banyak pertanyaan menarik tentang Vietnam. Misalnya, mengapa negara komunis ini mengalami perkembangan ekonomi yang begitu pesat? Lantas, mampukah Vietnam menjelma menjadi “macan Asia” baru?
Lima Fase Ekonomi Vietnam
Pesatnya perkembangan ekonomi Vietnam tidak datang dari langit. Selama hampir empat dasawarsa, negara yang terletak di semenanjung Indochina itu terus berbenah.
Berdasarkan laporan publikasi Bank Dunia, Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), Dana Moneter Internasional (IMF), dan Bank Pembangunan Asia (ADB) yang dirangkum investortrust.id, perkembangan ekonomi Vietnam terbagi atas lima fase.
Fase pertama dimulai sejak awal-awal negara itu merdeka, yakni fase ekonomi terpusat dan tertutup (1945–1986). Setelah memproklamasikan kemerdekaan dari Prancis pada 2 September 1945, Vietnam mengikuti model sosialisme-Marxis ala Uni Soviet dan China.
Selama periode ini, negara menguasai seluruh alat produksi, semua perusahaan berskala besar dinasionalisasi, sistem koperasi pertanian (collectivization) diterapkan, dan perdagangan internasional dibatasi.
Saat itu, ekonomi Vietnam sangat bergantung pada bantuan Uni Soviet (Rusia dan blok sekutunya). Pada fase ini, inflasi dan kelangkaan barang sudah menjadi hal biasa di Vietnam.
Perang Vietnam (1955–1975) dan embargo ekonomi AS setelah reunifikasi turut memperburuk keadaan. Pada awal 1980-an, Vietnam mengalami stagflasi (kontraksi ekonomi saat terjadi hiperinflasi) akibat krisis pangan.
Baca Juga
Fase kedua (1986–1995) menjadi tonggak sejarah ekonomi Vietnam. Pada 1986, Vietnam menjalankan Đổi Mới (“pembaruan” atau “renovasi”), yaitu reformasi ekonomi yang mirip Perestroika di Uni Soviet dan reformasi Deng Xiaoping di China.
Kebijakan utama Đổi Mới mencakup desentralisasi ekonomi, pengakuan terhadap kepemilikan individu dan sektor swasta, pembubaran sistem koperasi wajib, reformasi harga dan perdagangan, pembukaan kepada penanaman modal asing (FDI), serta integrasi ke pasar global dan promosi ekspor.
Hasilnya sungguh mencengangkan: krisis pangan berakhir, bahkan Vietnam berubah dari importir menjadi eksportir beras terbesar dunia. Kecuali itu, inflasi turun drastis dan pertumbuhan ekonomi mulai stabil.
Fase ketiga adalah masa-masa integrasi perekonomian Vietnam dengan perekonomian global setelah negara itu membuka lebar-lebar perekonomiannya. Pada fase ketiga ini (1990-2010), ekonomi Vietnam tumbuh pesat.
Sejak membuka perekonomiannya, Vietnam menempuh sejumlah langkah besar, yaitu melakukan normalisasi hubungan dengan AS (1995), bergabung dengan ASEAN (1995), dan menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO (2007).
Langkah besar lainnya adalah menjalankan reformasi BUMN dan melakukan privatisasi terhadap sebagian aset negara, melakukan percepatan industrialisasi dan urbanisasi, serta menggenjot pembangunan infrastruktur modern.
Pada fase inilah Vietnam beralih dari ekonomi agraris ke ekonomi berbasis manufaktur dan ekspor global, terutama di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), sepatu, elektronik, serta furnitur.
Berlanjut ke fase keempat (2010 - sekarang), Vietnam benar-benar menjalankan ekonomi terbuka dan berorientasi investasi asing. Dalam tempo singkat, negara yang berbatasan dengan China di utara, Laos dan Kamboja di barat, dan Laut China Selatan di timur ini menjadi salah satu negara tujuan FDI utama di Asia.
FDI mengalir deras ke Vietnam karena berbagai alasan, seperti upah tenaga kerja yang lebih kompetitif, kondisi politik yang stabil, populasi muda berlimpah, dan pemerintahnya pro-investasi.
Ekonomi Vietnam kini dikategorikan sebagai ekonomi pasar berorientasi sosialis (socialist-oriented market economy). Sistem politik Vietnam tetap komunis, tetapi ekonominya sangat kapitalistik dan terbuka.
Baca Juga
VinFast Berani Jamin Nilai Jual Kembali 73%, Harga Mobil Listrik Bekas Tak Bakal Anjlok?
Perekonomian Vietnam kini memasuki fase kelima, yaitu fase ekonomi baru. Vietnam fokus pada pengembangan teknologi, kendaraan listrik (electric vehicle/EV), dan digitalisasi.
Fase ini antara lain diwarnai transisi ke ekonomi bernilai tambah tinggi, ekspansi sektor EV, semikonduktor, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan perusahaan rintisan berbasis teknologi digital (digital startup).
Peran Vingroup di Vietnam
Perekonomian Vietnam yang tumbuh pesat dalam beberapa dekade terakhir tak bisa dilepaskan dari peran Vingroup, konglomerasi swasta terbesar yang tumbuh subur di negeri komunis tersebut.
Vingroup telah membangun ekosistem bisnis lengkap yangmencakup berbagai aspek kehidupan, mulai otomotif, robotika, kecerdasan buatan, hiburan, pariwisata, properti, dirgantara, layanan kesehatan, pendidikan, hingga kegiatan sosial kemanusiaan.
“Tak hanya di Vietnam, kami juga terus melebarkan sayap ke tingkat global,” kata Vice Chairwoman Vingroup, Dương Thị Hoàn saat menyambut rombongan jurnalis Indonesia di Hanoi, baru-baru ini.
Dalam tiga dasawarsa terakhir, Vingroup selalu hadir dalam geliat ekonomi Vietnam. Berkat Vingroup pula, Vietnam punya industri otomotif nasional.
Adalah VinFast, perusahaan di bawah bendera Vingroup, yang membuat Vietnam termasyhur di bidang EV. Selain memproduksi EV, VinFast ikut ambil bagian dalam rantai pasok (supply chain) di AS dan Asia, termasuk Indonesia.
Vingroup didirikan pengusaha nasional Vietnam, Phạm Nhật Vượng, pada 1993. Vượng --kini Chairman Vingroup-- tercatat sebagai pengusaha paling sukses di Vietnam yang berhasil membangun konglomerasi setelah era ekonomi terbuka (Đổi Mới).
Melalui Vingroup, Phạm Nhật Vượng memperkenalkan model bisnis modern dengan standar internasional di banyak sektor strategis. Tak mengherankan jika pengusaha terkaya di Vietnam yang lahir pada 5 Agustus 1968 ini dianggap sebagai salah satu pelopor kapitalisme modern.
Entrepreneur jebolan Universitas Pertambangan dan Geologi Hanoi yang kemudian menuntut ilmu di Institute Geological Prospecting, Moskow, Rusia, dan mengawali bisnis di Ukraina sebagai produsen mi instan melalui bendera Technocom Group ini pun dinilai sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam ekonomi Vietnam modern.
Vingroup, yang mempekerjakan sekitar 200 ribu orang, telah merambah berbagai sektor bisnis di Vietnam, bahkan di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Baca Juga
Ogah Ikutan Perang Harga, VinFast VF 7 Fokus Perkuat Loyalitas Jangka Panjang
Vingroup bukan “jago kandang”. Selain melantai di Ho Chi Minh Stock Exchange (HoSE) dengan sandi saham VIC, Vingroup mencatatkan saham anak perusahaannya, VinFast, di bursa saham teknologi AS, Nasdaq, dengan kode saham VFS. Anak usaha lainnya yang bergerak di bidang perhotelan dan hiburan, VinPearl (VPL), juga menjadi listed company di bursa efek Ho Chi Minh.
Berdasarkan pantauan investortrust.id, saham VIC pada perdagangan akhir pekan (Jumat, 21/11/2025) di bursa Ho Chi Minh ditutup di level VND 229.700, menguat 0,75%, dengan market cap VND 854.48 triliun atau sekitar Rp 542,4 triliun (VND 1 = Rp 0,6342).
Adapun saham VFS di bursa Nasdaq ditutup terkoreksi 6,78% ke posisi US$ 3,23 dengan market cap US$ 7,56 miliar atau sekitar Rp 126,3 triliun (US$ 1 = Rp 16.712).
Vingroup punya kinerja keuangan yang ciamik. Keterbukaan informasi yang dilaporkan manajemen Vingroup kepada otoritas bursa Ho Chi Minh, menunjukkan, Vingroup membukukan pendapatan bersih konsolidasian hingga kuartal III-2025 sebesar VND 169,61 triliun (sekitar Rp 107,5 triliun), dengan torehan laba bersih VND 7,56 triliun (Rp 4,79 triliun).
Sebaliknya, VinFast masih mencatatkan kerugian bersih sebesar VND 24,01 triliun (sekitar Rp 15,23 triliun) sampai kuartal III-2025, antara lain akibat besarnya biaya ekspansi.
Perusahaan Terbaik di Dunia
Nama Vingroup tak cuma harum di Vietnam, tapi juga di dunia. Berdasarkan siaran pers dan laporan publikasi Vingroup, imperium bisnis tersebut belum lama ini dinobatkan sebagai salah satu dari 1.000 perusahaan terbaik di dunia alias masuk daftar World's 1.000 Best Companies.
Kerajaan bisnis Vingroup beroperasi dalam lima pilar strategis, yaitu industri dan teknologi, pengembang dan layanan properti, infrastruktur, energi hijau, serta usaha sosial.
Pada pilar industri dan teknologi, Vingroup hadir melalui VinFast, VinCSS, VinSOC, VinSF, VonRobotics, VinMotion, dan VinDynamics. Sedangkan pada pilar pengembang dan layanan properti, Vingroup punya VinHomes, VinPearl, Vincom Retail, dan VEC.
Pada pilar infrastruktur dan energi hijau, Vingroup berbisnis masing-masing melalui bendera VinSpeed dan VinEnergo. Vingroup juga memiliki sejumlah perusahaan afiliasi, seperti XANHSM, V-Green, dan Green Future.
Baru-baru ini, Vingroup menambahkan dua pilar strategis baru, yaitu infrastruktur dan energi, sekaligus mengumumkan langkah penting untuk memasuki sektor industri metalurgi di bawah pilar teknologi dan industri.
“Langkah ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan internal dari berbagai bisnis inti seperti VinHomes dan VinFast, tetapi juga menjadi dorongan signifikan bagi perkembangan industri berat di Vietnam,” tutur Dương Thị Hoàn.
Adapun pada pilar usaha sosial, Vingroup hadir lewat sejumlah entitas, di antaranya VinMec, VinSchool, VinUniversity, Qu Thien Tam, VinFuture Prize, VinIF, dan Inventures.
Baca Juga
VinFast VF 7 Usung Strategi Nilai Tambah, Bukan Perang Harga
Perusahaan-perusahaan Vingroup menguasai hampir seluruh segmen bisnis di Vietnam. VinHomes, misalnya, baru-baru ini didaulat sebagai merek properti nomor wahid di Vietnam dan termasuk dalam daftar 20 besar merek properti paling bernilai di dunia.
VinHomes telah meluncurkan 34 proyek, terdiri atas 143 ribu vila, apartemen, dan townhouse. “Untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan dan operasional, kamimenerapkan konsep kota cerdas dan teknologi tinggi,” demikian manajemen Vingroup dalam laporan tahunannya kepada otoritas bursa Ho Chi Minh.
VinHomes fokus pada pengembangan kawasan perkotaan berskala besar yang cerdas, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Perusahaan tersebut memiliki persediaan hunian terbesar di beberapa lokasi strategis di Vietnam, antara lain di Cam Lam Hon dan Ha Long Xanh Tren.
Strategi Ekspansi Global
Bagaimana dengan VinFast? VinFast merupakan merek unggulan Vingroup dalam strategi ekspansi globalnya. Vinfast mengoperasikan tiga pabrik EV berskala besar di Hai Phong dan Ha Tinh (Vietnam), serta di India. Itu belum termasuk pabrik keempat di Indonesia, persisnya di Subang, Jawa Barat, yang sedang dibangun.
VinFast mengklaim memiliki salah satu ekosistem EV paling lengkap di dunia. Pabrikan VinFast sejauh ini sudah membesut 13 model mobil listrik pintar, tiga model bus listrik (dengan dua model tambahan yang sedang dikembangkan), delapan model skuter listrik, dan satu model sepeda listrik.
Selain di Vietnam, produk VinFast telah hadir di 11 negara, dengan 395 showroom jaringan global dan 519 dealer sekuter listrik. Kendaraan listrik VinFast diklaim telah mencapai lokalisasi lebih dari 60% dan ditargetkan melampaui 80% pada 2026.
Dalam urusan penjualan EV di Vietnam, VinFast nangkring di urutan pertama. Tahun ini, perusahaan itu membidik pangsa pasar domestik sekitar 40% dibanding 17% pada 2024. Majalah Time mengakui VinFast sebagai salah satu dari 100 perusahaan paling berpengaruh di dunia.
Vingroup punya VinPearl, merek perhotelan dan hiburan nomor 1 di Vietnam. Didirikan pada 2001, VinPearl memiliki portofolio premium yang mencakup 59 fasilitas di 19 dari 34 kota dan provinsi di Vietnam, serta satu lapangan golf di Australia.
VinPearl mengoperasikan kompleks hiburan VinWonders, sebuah destinasi hiburan kelas dunia. Pada 2025, VinPearl resmi tercatat di bursa efek Ho Chi Minh dan langsung menjadi salah satu dari 15 perusahaan publik terbesar berdasarkan market cap. Brand Finance menempatkan VinPearl sebagai merek terkuat nomor 1 di ASEAN tahun ini.
Pilar pengembangan dan layanan properti Vingroup juga mencakup Vincom Retail. Mengelola 90 mal yang tersebar di 31 kota dan provinsi, perusahaan ini disebut-sebut sebagai pengembang dan pengelola properti ritel nomor 1 di Vietnam. Vincom Retail mengelola area ritel seluas 1,9 juta M2 serta menaungi lebih dari 1.000 merek lokal dan internasional.
Di pihak lain, Vingroup punya Vietnam Exposition Center di Golden Turtle Exhibition Hall, dengan luas area 900 ribu M2, yang tercatat sebagai pusat pameran terbesar di Asia Tenggara dan masuk daftar 10 terbesar tempat pameran di dunia.
Baca Juga
Bikin EV Makin Terjangkau, VinFast Tawarkan Langganan Baterai dan Bisa Hemat Rp 113 Juta
Di samping itu, Vingroup masih punya VinMec, pilar usaha sosial, berupa sistem kesehatan swasta terbesar di Vietnam yang beroperasi dengan standar internasional. VinMec mengoperasikan sembilan rumah sakit (RS) umum dan lima klinik internasional dengan fasilitas canggih layanan bintang 5.
Pada 2025, VinMec menjadi satu-satunya merek kesehatan Vietnam yang masuk Top 100 Most Valuable Brands in Vietnam versi Brand Finance.
Pendidikan dan Teknologi Tinggi
Di sektor pendidikan, Vingroup hadir melalui VinSchool sebagai sistem pendidikan terbesar di Vietnam sekaligus pelopor dalam membentuk lanskap pendidikan nasional.
VinSchool punya 54 kampus dengan 48 ribu murid. Sembilan klaster sekolah di 15 kampus VinSchool seluruhnya terakreditasi Council of International Schools (CIS) dan menempati peringkat ke-67 dalam Top 100 Most Valuable Brands di Vietnam. Vingroup bekerja sama dengan Brighton College untuk mendirikan Brighton College Vietnam.
Masih di bidang pendidikan, Vingroup memiliki VinUni, yaitu universitas swasta nirlaba yang didirikan untuk mengembangkan talenta masa depan. VinUni telah menarik ribuan mahasiswa unggul dari 35 negara.
VinUni konon menjadi universitas termuda dan tercepat di dunia yang meraih QS 5-Star rating secara komprehensif hanya dalam lima tahun. VinUni menargetkan masuk Top 100 universitas dunia dalam lima tahun ke depan.
Vingroup juga berinvestasi dalam riset, pengembangan, dan penerapan teknologi di bidang big data, AI, keamanan siber dan perlindungan data, serta infrastruktur transmisi dan manajemen data. Melalui tiga perusahaannya, yakni VinRobotics, VinMotions, dan VinDynamics, Vingroup telah berhasil memproduksi prototipe humanoid (robot mirip manusia) generasi pertama.
Vingroup, di bawah pilar infrastruktur, VinSpeed, juga berkontribusi pada pembangunan infrastruktur publik di Vietnam. VinSpeed berencana meluncurkan dua proyek jalur kereta cepat tahun ini, sekaligus ikut dalam pengembangan proyek kereta cepat utara-selatan Vietnam. Vigroup pun bakal berinvestasi di kompleks pelabuhan dan pusat logistik untuk mendorong perdagangan dan ekspor.
Sementara itu, di bawah pilar energi hijau, VinEnergo, Vingroup terus mengembangkan proyek energi terbarukan, termasuk tenaga angin dan surya serta solusi penyimpanan energi dari VinFast.
Tak hanya di Vietnam, VinEnergo memperluas kehadirannya di pasar regional utama, seperti India, Indonesia, dan Filipina, dengan total kapasitas yang direncanakan hingga 80 GW.
Baca Juga
Di Indonesia, Vingroup telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan PT Sulsel Andalan Energi (Perseroda), Sulawesi Selatan, untuk bekerja sama dalam proyek tenaga surya berskala besar. MoU itu juga mencakup riset bersama, survei lokasi, dan solusi penyimpanan energi terintegrasi.
Ekosistem Mobilitas Hijau
Guna mendukung transisi hijau di Vietnam dan kawasan sekitar, menurut laporan publikasi Vingroup, kelompok usaha ini mengembangkan ekosistem mobilitas hijau yang komprehensif melalui perusahaan afiliasinya, GSM.
GSM menjadi penyedia layanan ride-hailing dan taksi terkemuka di Vietnam, dengan pangsa pasar 44,68%. GM telah berekspansi ke Laos, Indonesia, dan Filipina, menjadikannya aplikasi ride-hailing listrik penuh terbesar di Asia Tenggara.
Ekspansi bisnis Vingroup di sektor transportasi tak berhenti sampai di situ. Vingroup punya VinBus yang mengoperasikan 37 rute bus listrik di lima provinsi dan kota di Vietnam.
Kecuali itu, Vingroup mengoperasikan jaringan rental mobil nomor 1 di Vietnam, GreenFuture. Perusahaan tersebut kini menargetkan ekspansi ke pasar global. Pilar ini didukung V-Green, perusahaan yang melayani jasa stasiun pengisian kendaraan listrik.
Menjadikan Vietnam sebagai salah satu negara dengan stasiun pengisian listrik tertinggi di dunia, V-Green telah hadir di Filipina, Indonesia, dan India. V-Green menargetkan 500 ribu titik pengisian di Vietnam dalam tiga tahun ke depan, 15 ribu titik pengisian di Filipina, dan 50 ribu titik di Indonesia.
Vingroup sangat concern terhadap iptek. Itu sebabnya, konglomerasi ini rutin menganugerahkan penghargaan tahunan berskala global di bidang iptek (VinFuture Awards) guna mengapresiasi terobosan ilmiah yang memberikan dampak positif bagi dunia.
Bercerita tentang Vingroup tentu belum lengkap tanpa kisah filantropinya. “Kami telah menyumbangkan hampir US$ 2 miliar untuk kegiatan amal, dukungan di bidang kesehatan, pendidikan, sains, dan komunitas,” ujar Vice Chairwoman Vingroup, Dương Thị Hoàn.
Pada 19 Agustus 2025, Vingroup dianugerahi First-Class Labor Order, penghargaan nasional bergengsi atas kontribusi nyatanya terhadap pembangunan ekonomi dan sosial Vietnam.
Baca Juga
Vinfast Siap Bangun Pabrik di Subang, Bakal Produksi 50.000 Mobil Listrik per Tahun
Tak perlu kaget pula jika pendiri dan Chairman Vingroup, Phạm Nhật Vượng selama dua tahun berturut-turut (2020 dan 2021) dinobatkan Forbes sebagai Pahlawan Filantropi Asia-Pasifik atas kontribusi luar biasa dalam perjuangan melawan pandemi Covid-19 secara global.
Di luar itu semua, Vingroup berperan penting dalam mendongkrak reputasi Vietnam di panggung internasional. Pada awal November 2025, Vingroup merilis perusahaan barunya, VinSpace, yang fokus pada teknologi kedirgantaraan dan ruang angkasa.
VinSpace bisa dibilang terobosan besar Vingroup dalam mendiversifikasi bisnisnya ke teknologi tinggi dan industri masa depan (aerospace), bukan cuma properti atau otomotif.
Tetapi, harus diakui, di antara seabrek brand konglomerasi Vingroup, VinFast-lah yang paling mendunia. VinFast bukan hanya simbol inovasi, tetapi juga kekuatan utama yang membimbing Vietnam ke panggung global dalam industri EV.
“Dengan target tingkat kandungan lokal mencapai 80% tahun depan, kami akan menjadikan Vietnam sebagai simbol industri modern dan berkelanjutan di level global,” tandas Vice Chairwoman Vingroup, Lê Thị Thu Thủy.
Nah, Vingroup menempatkan Indonesia sebagai negara strategis dalam jangkauan bisnisnya, terutama di bidang EV dan energi hijau.
“Ketika Indonesia tengah memasuki era keemasan, kami dengan bangga berbagi visi hijau. Yang membuat kami kian bangga, mobil-mobil listrik VinFast telah mendapat sambutan hangat dari konsumen Indonesia, bahkan beberapa model berhasil masuk ke dalam daftar kendaraan listrik perkotaan terlaris,” papar Dương Thị Hoàn.
Bagi VinFast, Indonesia memang bukan sekadar pasar baru. Lebih dari itu, Indonesia sudah dianggap sebagai rumah kedua Vingroup. Apalagi pemerintah menargetkan jumlah kendaraan listrik tembus 2 juta unit pada 2030.
“Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan kebijakan pro-EV yang kuat, Indonesia adalah pilihan yang strategis bagi kami,” tegas Chief Executive Officer (CEO) VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto.
Kembali ke pertanyaan awal, mampukah Vietnam menjadi macan Asia baru? "Di bidang otomotif sangat mungkin. Syaratnya, saat berinvestasi di pasar baru seperti Indonesia, VinFast jangan hanya mengandalkan EV, tapi juga sumber daya pada seluruh ekosistem bisnis Vingroup," kata pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu. ***

