Pasar Modal untuk Semua: Sinergi Menuju Ekonomi Kerakyatan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Tidak ada yang lebih menyakitkan selain menyaksikan uang simpanan lenyap begitu saja. Itulah yang dirasakan pria yang saat ini memiliki usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang retail, Ichal di hari perdananya mengenal investasi di pasar modal. Namun, darisitulah ia memahami bahwasannya pasar modal tak hanya sekedar soal untung cepat, melainkan membangun ekonomi kerakyatan.
Saat ia masih menduduki bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan bermodalkan motivasi dan tekad yang kuat, dirinya yakin berinvestasi merupakan salah satu sumber pemasukan keuangannya. Ichal masih ingat betul saat saldo investasinya merah untuk pertama kalinya. Sempat kecewa dan kesal, namun di tahun ketiganya pria asal Yogyakarta tersebut akhirnya memberanikan diri untuk bangkit dari kerugian agar lebih bijak berinvestasi.
"Baru di tahun ketiga, saya Break Even Point (BEP), dan sekarang hitungannya sudah profit. Jadi, menurut saya investasi di pasar modal memiliki dampak yang cukup signifikan dikeuangan saya pribadi," ujar Ichal kepada investortrust.id saat mengenang awal mula terjun ke pasar saham, belum lama ini.
Lebih lanjut, Ichal mengaku modal usahanya tak lagi hanya berputar di tokonya. Sebagian dananya kini mulai disisihkan ke pasar modal. Langkah kecil ini membuatnya merasa ikut memiliki perusahaan besar dan menjadi bagian dari ekonomi nasional.
Fenomena ini memperlihatkan wajah baru perekonomian kerakyatan, di mana usaha mikro tetap menjadi tulang punggung kehidupan sehari-hari, sementara pasar modal hadir sebagai ruang inklusi yang bisa diakses siapa saja. Keduanya berjalan beriringan, membuka jalan menuju ekosistem ekonomi yang lebih adil dan merata.
Senada dengan Ichal, Hanmula seorang pria yang memiliki usaha mikro catering roti dan kopi botolan mengaku motivasi awal melakukan investasi di pasar modal agar memperoleh profit. Dengan kemudahan akses pasar modal, Hanmula mengatakan sebagian dari dananya bisa diinvestasikan dan hasilnya diputar kembali untuk usahanya
"Dampaknya cukup besar, dengan adanya pasar modal, bisa menambah modal dalam perputaran bisnis," tuturnya saat dihubungi investortrust.id, baru-baru ini.
Pola ini menggambarkan lingkaran yang positif, di mana usaha mikro tetap tumbuh, sementara pasar modal menyediakan wadah untuk memperkuat perputaran modal usaha.
Menurut Hanmula, kini pasar modal bukan lagi milik kalangan berjas dan berdasi, melainkan ramah untuk masyarakat kecildan pemula. Dengan bermodalkan mulai dari 100 ribu, bisa turut serta memiliki perusahaan besar dan merasakan pertumbuhan ekonomi nasional. Kisah seperti Ichal dan Hanmula inilah yang menggambarkan bagaimana pasar modal semakin mudah diakses oleh masyarakat luas.
Baca Juga
Meski IHSG Naik Tipis Pekan Ini, Sejumlah Saham Dipimpin CBRE justru Terbang 86%
Sementara dari pandangan pelaku pasar, peluang masuk ke bursa bukan hanya perkara menghimpun dana segar, melainkan juga sebuah lompatan menuju tata kelola yang lebih sehat dan daya saing yang kian terbuka.
Direktur Utama PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT) Is Heriyanto, menjelaskan alasan perseroan untuk melantai di bursa bukan semata-mata meraih pendanaan di pasar modal. Namun, juga untuk mendapatkan validasi kepercayaan oleh publik serta menarik lebih banyak klien.
“Sementara dari sisi tantangannya, perusahaan harus memberikan laporan apa adanya sesuai kondisi asli perusahaan sehingga perusahaan harus siap dengan keterbukaan tersebut,” kata Is saat dihubungi investortrust.id.
Ia juga berharap pihak regulator dan anggota bursa (AB) terus konsisten dan kompeten membantu calon emiten dalam perjalanan menuju IPO saham. “Pasar modal harus bisa melihat lebih jeli terhadap pengusaha pengusaha umkm yang mempunyai potensi besar dalam memperkuat ekonomi rakyat sehingga umkm bisa naik kelas menjadi perusahaan terbuka juga,” terang dia.
Melihat hal tersebut, pengamat pasar modal menilai keterlibatan masyarakat luas hingga emiten menengah ialah tanda nyata bahwa strategi sinergi yang dilakukan regulator dan SRO sudah berada di jalur yang tepat.
Meski demikian, pengamat pasar modal Reydi Octa masih menyoroti tantangan dalam menarik UMKM atau koperasi agar memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pembiayaan adalah kesenjangan literasi dan kompleksitas regulasi.
“Banyak UMKM dan koperasi belum paham bahwa pasar modal bisa jadi alternatif pembiayaan. Mereka perlu diberikan sosialisasi, edukasi dan dikawal sedemikian rupa hingga akhirnya berhasil mendapatan pendanaan dari pasar modal,” ungkapnya.
Reydi juga meminta regulator semakin memperbanyak sosialisasi program-program pendanaan melalui pasar modal hingga menjangkau ke pelaku bisnis usaha kecil dan menengah, tidak hanya eksklusif untuk perusahaan besar saja.
“Jika dikawal dan dibimbing dengan tepat, maka eksekusinya bisa baik, perekonomian pada level bawah pun mampu terakselerasi lebih cepat melalui pembiayaan yang transparan,” bebernya.
Baca Juga
Sinergi inilah yang diyakini bisa mempertemukan geliat ekonomi rakyat dengan kemandirian usaha menengah yang siap naik kelas. Namun, keterbukaan akses ini tentu tidak lepas dari peran lembaga pendukung pasar modal sebagai Self Regulatory Organization (SRO) yakni, Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam beberapa tahun terakhir, BEI bersama SRO lainnya terus mendorong inklusi agar akses ke investasi terbuka lebih luas bagi masyarakat.
Belum lama ini, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga bersinergi dengan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), serta didukung pemerintah daerah menggelar kegiatan sosialisasi dan edukasi pasar modal terpadu (SEPMT) 2025 yang digelar di Purwokerto, Jawa Tengah dilakukan pada 27–29 Agustus 2025 dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Kegiatan ini merupakan bagian upaya memperkuat pemahaman masyarakat serta mendorong pemanfaatan pasar modal sebagai alternatif pembiayaan bagi perusahaan, UKM, dan masyarakat.
"Selama ini inklusivitas pasar modal yang kita kembangkan adalah partisipasi publik seluas luasnya. Tak hanya itu, saat ini dengan uang Rp 10.000 atau 20.000 sudah bisa jadi investor pasar modal," tulis Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik melalui pesan singkatnya kepada investortrust,id, beberapa waktu lalu.
Jeffrey mengungkapkan, BEI terus gencar memperluas akses literasi keuangan melalui 29 Kantor Perwakilan BEI dan lebih dari 950 Galeri Investasi di berbagai daerah. Di mana dari seluruh lapisan masyarakat, khususnya anak muda sudah menjadi investor.
Di sisi lain, Jeffrey menegaskan untuk akses perusahaan kecil menengah terhadap pendanaan di pasar modal juga sudah tersedia papan akselerasi yang dapat dimanfaatkan.
Berdasarkan data KSEI, kontribusi aset dari kalangan pengusaha menunjukkan pertumbuhan signifikan. Nilai aset yang dimiliki pengusaha pada Juni 2025 tercatat sebesar Rp 611,87 triliun dengan jumlah investor sebanyak 64,20 ribu.
Angka tersebut melonjak pada Juli 2025 menjadi Rp 723,68 triliun dengan jumlah investor 68,64 ribu. Lonjakan lebih dari Rp 100 triliun, hal ini mencerminkan peran penting pengusaha sebagai motor penggerak pertumbuhan investasi.
Peningkatan jumlah investor juga memperlihatkan adanya kepercayaan yang semakin kuat terhadap pasar, sekaligus mengindikasikan geliat optimisme dunia usaha dalam memanfaatkan momentum ekonomi.
BEI juga berharap pelaku usaha yang telah melakukan penawaran efek melalui mekanisme penggalangan dana berbasis teknologi informasi (securities crowdfunding) bisa melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) serta mencatatkan sahamnya di Bursa.
“Di pasar modal juga tersedia mekanisme crowdfunding yang diawasi oleh OJK, tanpa perlu listing di Bursa,” tambahnya.
Semangat keterbukaan akses pasar modal inilah yang juga didukung oleh pemerintah. Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman menegaskan dukungannya kepada pelaku usaha menengah untuk bisa melantai di pasar bursa.
“Kita mendorong agar usaha-usaha menengah kita bisa lebih melakukan penataan good corporate, good governance. Lalu yang kedua juga membuka akses pasar dan akses keuangan, selain dengan metode akses keuangan pembiayaan yang konvensional,” ucap Maman usai ditemui dalam peluncuran RISE To IPO : Empowering Medium Enterprises to IPO di Gedung BEI, Jakarta,
Mengacu data BEI hingga 2024 tercatat sudah ada 42 perusahaan menengah yang tercatat di papan akselerasi dengan mayoritas sektor konsumsi, teknologi, dan properti.
Dengan semakin luasnya keterlibatan masyarakat, pasar modal diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan. Bukan sekadar wadah transaksi, melainkan jembatan bagi generasi muda, pelaku usaha kecil, hingga pekerja sehari-hari untuk ikut serta merasakan manfaat pertumbuhan ekonomi. Semangat “Pasar Modal untuk Semua” pada akhirnya bermakna membangun ekonomi yang inklusif, ekonomi yang tidak meninggalkan siapa pun.

