Gen Z & Y Hanya Kuasai 3% Aset di Pasar Modal, Kaum Lansia 53%
Poin Penting
|
BANDUNG, investortrust.id – Jumlah investor di pasar modal dikuasai oleh anak muda. Namun dari sisi nilai aset, kaum lansia masih mendominasi. Dari sekitar 17,35 juta investor yang tercatat di pasar modal per Juni 2025, mereka yang berusia 30 tahun ke bawah tercatat sebanyak 54,25% dari total investor.
Namun aset yang dikuasai Gen Z dan sebagian milenial (Gen Y) di pasar modal tersebut tercatat hanya sebesar Rp 58,08 triliun atau 3% dari total aset investor di pasar modal yang totalnya berjumlah Rp 1.848,22 triliun per Juni 2025. Dana mereka ini hanya sepertujuhbelas atau 6% dari total aset yang dikuasai oleh kaum lansia (berusia 60 tahun ke atas) yang nilainya sebesar Rp 986,28 triliun. Dengan kata lain, kaum lansia menguasai 53% aset di pasar modal Indonesia.
Sebagai informasi, generasi Y atau milenial adalah mereka yang lahir pada periode 1981-1996, sehingga pada 2025 ini berusia 29 – 44 tahun. Adapun Generasi Z (Gen Z) lahir pada 1997 – 2012, sehingga kini berusia 13 – 28 tahun. Sedangkan Generasi Alpha adalah anak yang lahir tahun 2013 ke atas.
Eddy Manindo Harahap, Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan, pertumbuhan jumlah investor di pasar modal menunjukkan tren yang menggembirakan. Terjadi booming sejak pandemi Covid-19, sehingga ketika tahun 2020 baru tercatat 3,88 juta investor, per 24 Juli 2025 sudah tembus 17,35 juta investor.
“Tambahan baru investor sudah mencapai 2,48 juta secara year to date, melampaui target tahunan yang ditetapkan sebesar 2 juta investor,” kata Eddy Manindo dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan editor media di Bandung, Sabtu (2/8/2025).
Eddy merinci, jumlah investor usia 30 tahun ke bawah mencapai 54,25%, dengan nilai aset di pasar modal hanya Rp 58,08 triliun. Investor berusia 31-40 tahun sebanyak 24,81%, asetnya Rp 282,09 triliun. Adapun investor usia 41-50 sebanyak 12,25%, dengan aset yang dikuasai sebesar Rp 219,03 triliun.
Kemudian investor usia 51-60 hanya sebanyak 5,74%, namun aset di pasar modal tercatat Rp 302,74 triliun. Yang mencengangkan adalah para lansia, dengan usia di atas 60 tahun, jumlahnya hanya 2,95% tapi menguasai mayoritas aset hingga 53% atau setara Rp 986,28 triliun.
Data di atas membuktikan bahwa investasi di pasar modal dari sisi nilai masih dikuasai kelompok usia 51 tahun ke atas. “Tapi kan yang anak muda, Gen Z dan milenial ini nanti kariernya akan bagus, sehingga di tahun-tahun mendatang investasinya akan semakin mendominasi, menuju cita-cita Indonesia Emas,” kata Eddy Manindo.
Menuju Market Cap Rp 15.000 Triliun
Lebih lanjut Eddy menyebut, kapitalisasi pasar (market cap) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 13.519 triliun per 25 Juli, atau tumbuh 9,6% ytd sedangkan indeks harga saham gabungan (IHSG), meningkat 6,55% (ytd) di periode sama. Kapitalisasi pasar tersebut mencapai 61,1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) 2024.
”Rasio market cap terhadap PDB kita masih rendah, yang berarti peluang untuk tumbuh masih besar. Rasio kita masih tertinggal dibanding Thailand yang sebesar 98% dan Singapura 83%,” kata Eddy.
Guna mendongkrak rasio market cap terhadap PDB, pendalaman pasar keuangan harus digenjot agar terdapat instrumen yang kian terdiversifikasi sehingga suplai bisa meningkat. “Upaya dari sisi menaikkan demand tentu dengan memperbaiki infrastruktur dan penguatan kelembagaan,“ tutur Eddy.
Menurut Eddy Manando, OJK telah mendesain roadmap pasar modal periode 2023-2027. Targetnya adalah kapitalisasi pasar di atas Rp 15.000 triliun (70% PDB), jumlah perusahaan tercatat 1.100 entitas, rata-rata transaksi harian (RTH) Rp 25 triliun/hari, jumlah investor lebih dari 20 juta, serta nilai dana kelolaan (AUM) sebesar Rp 1.000 triliun.
Sementara itu, terdapat 954 emiten dengan 16 merupakan emiten baru di Bursa Efek Indonesia, yang terdiri atas 14 emiten saham dan dua emiten EBUS (syariah). Nilai penghimpunan dana mencapai Rp 142,12 triliun dari 125 emisi penawaran umum per 25 Juli 2025.
Di reksa dana, dana kelolaan (asset under management/AUM) per 24 Juli 2025 tercatat sebesar Rp 885,4 triliun atau tumbuh 5,5% ytd. Khusus untuk reksa dana, nilai aktiva bersih (NAB) mencapai Rp 539,8 triliun atau tumbuh 8,13% ytd, yang meliputi 1.508 jenis produk.
Di perdagangan derivatif keuangan indeks dengan underlying efek (ytd), nilai transaksi tercatat sebesar Rp 38,8 juta di BEI (2 kontrak), Rp 376,2 triliun di Bursa Berjangka Jakarta (57 kontrak), serta Rp 925,2 triliun di Bursa Komoditi Derivatif Indonesia (ICDX) untuk 34 kontrak.

