Investortrust Economic Outlook 2024: Optimalisasi Potensi Ekonomi Jadi PR Terbesar
JAKARTA, investortrust.id – Prospek ekonomi Indonesia tahun ini diyakini sangat baik dengan pertumbuhan minimal 5%. Tantangan terbesar adalah bagaimana mengoptimalkan atau memaksimalkan potensi ekonomi yang sebenarnya bisa mencapai lebih dari 5%, bahkan bisa menembus 7-8%. Berbagai indikator ekonomi dan modal untuk menuju pertumbuhan ekonomi 7% sudah sangat mendukung, tinggal political will pemerintah dan semua pemangku kepentingan.
Demikian benang merah seminar “Investortrust Economic Outlook 2024” yang digelar di Artotel Suites Mangkuluhur, Jakarta Pusat, Kamis (25/)1/2024).
Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso menilai risiko ketidakpastian global berlanjut pada 2024 dan bisa terjadi dalam jangka waktu lama. Salah satu penyebab adalah tensi geopolitik yang menjalar ke mana-mana. Efeknya, terjadi volatilitas harga dan disrupsi pasokan komoditas.
Ekonomi China sebagai mitra dagang utama Indonesia melemah akibat masalah sektor properti, penuaan angkatan kerja, hingga tingginya pengangguran usia muda. Inflasi Amerika Serikat (AS) masih tinggi dan suku bunga higher for longer masih terjadi, meski terjadi potensi penurunan tahun ini. Ekonomi Eropa pun masih lemah, defisit fiskal membengkak, dan inflasi masih tinggi.
Meski demikian, Susiwijono yakin fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga, inflasi terkendali di angka 2,61% pada 2023. Pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5% selama delapan kuartal berturut-turut. Neraca perdagangan surplus selama 44 bulan berturut-turut. Meskipun ada penurunan, dari US$ 54,46 miliar pada 2022 menjadi US$ 36,93 miliar pada 2023 akibat merosotnya dua komoditas utama ekspor Indonesia, yakni CPO dan batu bara.
Purchasing manager index (PMI) manufaktur dalam 28 bulan terakhir di level ekspansif, posisi Desember 2023 sebesar 52,5. Cadangan devisa US$ 146 miliar. Kemudian rasio utang pemerintah terhadap PDB 2019-2024 berada di angka 39%. Probabilitas resesi Indonesia sangat rendah. Defisit APBN 2023 hanya 1,65% PDB.
Atas dasar berbagai indikator positif tersebut, Susiwiyono optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tembus 5,2% di tahun 2024.
Optimisme juga diungkapkan oleh Chief Investment Officer PT BRI Manajemen Investasi (BRI-MI), Herman Tjahjadi. Dia memaparkan, Indonesia juga sudah lolos dari kategori Fragile-5 menjadi kelompok negara dengan ekonomi yang resilien. Credit rating Indonesia berada pada kondisi baik-baik saja, di level BBB.
Ada tiga indikator utama yang selama ini dilihat investor. Yaitu defisit fiskal, laju inflasi, dan defisit transaksi berjalan. Ketiga indikator tersebut seluruhnya berada di bawah 3% dari PDB sehingga fundamental ekonomi Indonesia solid.
Yield spread Indonesia yang hanya berkisar 2 – 2,5% pada Januari 2024, membuat pasar saham Indonesia mendapat dana asing sekitar Rp 7 triliun dan di pasar obligasi Rp 6 triliun (year to date).
Sektor Prospektif
Sedangkan dunia usaha membeberkan sejumlah sektor yang bakal bergairah di tahun politik ini. Shinta W Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang juga Wakil Ketua Umum Koordinasi Bidang Kemaritiman, Investasi dan Luar Negeri Kadin Indonesia menyatakan, sektor yang bakal menjadi penggerak perekonomian Indonesia 2024 adalah manufaktur, pertanian, pertambangan, sektor hijau yang berkelanjutan, perdagangan, konstruksi, serta pendidikan dan kesehatan.
"Kalau bicara soal transisi energi hijau, Indonesia tuh punya potensi luar biasa. Ini kesempatan untuk energi baru terbarukan (EBT) sangat tinggi, termasuk carbon credit dan lain-lain," tandasnya.
Pemilu juga mendorong konsumsi lembaga nonprofit (LNPRT). Sektor ritel, komunikasi, perhotelan, MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition), transportasi dan logistik akan bergairah selama pemilu.
Selain itu, pemilu juga akan menggairahkan bisnis jasa konsultasi politik, atribut dan merchandise pemilu, serta jasa pemasangan spanduk dan baliho.
Kendati demikian, Shinta menilai pertumbuhan ekonomi sektor tersebut bergantung pada kecepatan dan ketepatan pemerintah dalam merealisasikan APBN. Anggaran belanja untuk Pemilu 2024 mencapai Rp 179 triliun.
Shinta mengingatkan beberapa hal yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2024, seperti pelemahan ekonomi global termasuk mitra dagang utama, tensi geopolitik yang meluas, shock inflasi tambahan, dan suku bunga global yang higher for longer. Faktor lain adalah gangguan bencana alam serta fragmantasi perdagangan
Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, Shinta berharap pemerintah benar-benar menjaga kondusivitas iklim investasi dan bisnis, memperbaiki daya saing ekonomi, dan mengupayakan pemilu 2024 berjalan baik dan smooth.
“Kondusivitas regulasi dan perizinan harus baik. Biasanya kalau tahun pemilu, lebih banyak kebijakan populis, nah ini harus sangat berhati-hati,” katanya.
Daya saing Indonesia tertinggal dibanding pesaing seperti Vietnam dan Thailand. Penyebabnya adalah cost of doing business yang lebih tinggi, seperti biaya energi dan biaya tenaga kerja yang termasuk tertinggi se-ASEAN.
Kualitas sumber daya manusia (SDM) mendapat penekanan Shinta. Pasalnya, investasi yang masuk ke Indonesia dalam tujuh tahun terakhir sudah beralih dari padat karya ke padat modal. “Artinya kita butuh SDM dengan high skill, bukan low skill. Nah hati-hati dengan bonus demografi, harus benar-benar disiapkan dari sekarang,” kata dia.
Miskin Teknologi
Di lain sisi, Indonesia saat ini menggencarkan hilirisasi yang diharapkan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi ke depan. Tapi, sebuah otokritik dilontarkan Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM, Nurul Ichwan. Meski negeri ini getol menggelorakan hilirisasi, dia menyayangkan bahwa Indonesia belum menguasai teknologi untuk mewujudkan hilirisasi tersebut.
Akibatnya, hilirisasi dilakukan oleh negara-negara asing yang punya teknologi tersebut. Negara-negara yang tidak punya sumber daya alam (SDA) tersebut datang berkolaborasi dengan Indonesia. Itu memang sebuah keniscayaan. Sebab, hilirisasi menjadi panglima yang menjadi kekuatan untuk menarik investasi dan berkontribusi terhadap PDB.
Salah satu akibat buruk miskinnya teknologi adalah kenyataan bahwa 80-90% kebutuhan bahan baku farmasi Indonesia masih harus diimpor.
Semua itu terjadi karena di setiap pengembangan industri apapun di Indonesia, ketika pemerintah menyusun roadmap, tidak pernah disertai dengan roadmap teknologinya. Jangan heran jika kemudian ketergantungan terhadap impor sangat tinggi, termasuk hilirisasi yang tergantung asing.
Itulah sebabnya, Nurul Ichwan menekankan pentingnya kerja sama triplehelix antara dunia usaha, pemerintah, serta dunia kampus dan inovator.
“Jika strategi itu tidak dilakukan, sekali kita berkonflik dengan negara pemilik teknologi, kemudian dia mem-banned teknologi tidak masuk ke Indonesia, hancur ekonomi kita. Jadi ini persoalan serius tentang pengembangan teknologi dan me-link-kan teknologi dan inovasi kepada dunia industri,” tandasnya.
Nurul juga mengungkapkan bahwa misinformasi dan disinformasi yang kerap terjadi saat musim pemilihan umum (Pemilu) bisa berimbas terhadap minat berinvestasi ke suatu negara. Itu disuarakan di World Economic Forum 2024 di Davos. Misinformasi dan disinformasi berpengaruh besar terhadap polarisasi masyarakat, yang bisa menciptakan lack of economic opportunity. “Polarisasi menutup sebagian besar potensi-potensi ekonomi, yang bisa memunculkan pengangguran dan pelemahan ekonomi,” terangnya.
Oleh karena itu, Nurul Ichwan menekankan, agar ekonomi dan investasi Indonesia tumbuh dengan baik, publik jangan membanjiri masyarakat dengan informasi yang salah, fitnah, maupun hoax.
Kementerian Investasi/BKPM mencatat, realisasi investasi di Indonesia mencapai Rp 1.418 triliun sepanjang tahun 2023, melampaui target yang diminta Presiden Jokowi sebesar Rp 1.400 triliun. Nilai investasi di Tanah Air selalu melampaui target dalam tiga tahun terakhir.
“Kemarin Pak Menteri menekankan, selama media bisa memberikan informasi yang akurat dan positif, maka insyaallah perekonomian Indonesia bisa tersampaikan secara akurat dengan baik bahwa kita berada dalam kondisi yang cukup optimis,” ujar Nurul Ichwan.
Dari nilai tersebut, 52% di antaranya datang dari sektor sekunder, yakni yang berhubungan dengan industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya. Sedangkan sektor menempati posisi kedua dengan dengan kontribusi 38%, dan sektor primer 10%. Ini merupakan tren yang baik, terutama terkait industrialisasi.
Di Bawah Potensi
Dalam pandangan Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5% pada 2024 dapat diwujudkan “sambil merem tanpa harus berbuat apa-apa”.
Apalagi, bank sentral AS (The Fed) akan menurunkan suku bunga, sehingga Bank Indonesia (BI) pun diharapkan bisa melonggarkan kebijakan moneternya. Berbagai indikator yang ada mampu menjadi katalis untuk tumbuh seadanya di level 5%.
Piter Abdullah berpendapat bahwa meski kredit perbankan disebut-sebut tumbuh 10%, kenyataannya terjadi kekeringan likuiditas di pasar. Inilah yang diingatkan Presiden Jokowi dalam pertemuan tahunan Bank Indonesia, pada November 2023.
Hal itu terjadi karena fenomena crowding out atau perebutan dana antara bank serta lembaga keuangan dengan pemerintah dan BI.
Salah satu potensi untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi adalah bonus demografi yang hanya terjadi sekali dalam siklus sebuah negara. Tapi jika pertumbuhan ekonomi hanya 5%, bonus demografi bisa menjadi bencana.
Dia menjelaskan, Bank Indonesia mengeluarkan instrumen Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sedangkan pemerintah gencar menerbitkan SBN dengan kupon bunga menarik. Selama periode September-Desember 2023, dana yang disedot ke SBN mencapai Rp 238 triliun dan SRBI Rp 254,4 triliun, sehingga total mencapai sekitar Rp 500 triliun. “Kita mengalami crowding out parah, sehingga terjadi kekeringan likuiditas," tegasnya.
Dengan dana masuk ke BI, bahan pokok yang menciptakan uang itu berkurang. Karena begitu masuk ke BI, uang itu tidak berputar. Karena tidak terjadi penciptaan uang, M1 dan M2 menurun.
Di banyak negara, rasio M2 (uang beredar secara luas) terhadap PDB umumnya mencapai di atas 100%, bahkan ada yang 200%. “Di Indonesia, rasio itu hanya 50%,” kata dia.
Rendahnya rasio M2 terhadap PDB serta fenomena crowding out itulah yang membuat Indonesia gagal memaksimalkan potensi pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya. Itu sebabnya, siapa pun pemenang di pilpres 2024 ini, mereka harus memaksimalkan seluruh potensi ekonomi, sehingga bisa mencapai pertumbuhan sekiyar 7%-8% ke depan.
Paradoks
Sementara itu, Pemimpin Redaksi investortrust.id, Primus Dorimulu menyebut bahwa dunia memasuki tahun 2024 dengan sejumlah paradoks. Di satu sisi, dunia ingin mempercepat pemulihan ekonomi yang terpukul pandemi Covid-19. Dunia ingin menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran. Dunia ingin bahu-membahu mengatasi pemanasan global dan perubahan iklim yang kian ekstrem.
Dunia berusaha mengatasi dampak buruk kemajuan kecerdasan buatan. Tapi, pada saat yang sama dunia mengalami masalah geopolitik, bukan saja konflik, melainkan perang terbuka. Dunia mengalami defisit kepercayaan.
Laporan Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan, pertumbuhan global diperkirakan rata-rata 3,1% selama lima tahun ke depan. Ini adalah tingkat pertumbuhan paling lambat dalam beberapa dekade. Pada periode 2000 hingga 2019, pertumbuhan PDB dunia sebesar 3,8%. Bank Dunia memperingatkan, dunia sedang menuju pertumbuhan terburuk dalam 30 tahun terakhir.
Prospek ekonomi jauh lebih suram dalam 10 tahun ke depan. Hampir dua pertiga responden yang disurvei WEF memperkirakan prospek yang penuh badai atau gejolak. Ini adalah hasil survei terhadap 1.500 pemimpin di berbagai sektor, yakni pemimpin bisnis, akademisi, masyarakat sipil dan pemerintahan, serta lebih dari 200 pemimpin tematik.
Meski ada gambaran suram, ekonomi dunia tahun ini dinilai tidak seseram gambaran ekonomi tahun sebelumnya. Inflasi dan suku tinggi sudah berlalu meski laju pertumbuhan ekonomi agak menurun. Jika masalah geopolitik di Ukraina dan Palestina bisa diatasi, pertumbuhan ekonomi akan melaju dengan lebih cepat.
Tahun 2024 adalah tahun politik. Ada 64 negara yang menggelar pilpres tahun ini. Ke-64 negara memiliki populasi 3,9 miliar atau 49% dari total penduduk dunia. Negara yang menggelar pilpres, antara lain, AS, India, China, Taiwan, Uni Eropa, India, Afsel.
Primus menegaskan bahwa Indonesia memasuki tahun politik, 2024, dengan kondisi ekonomi yang cukup stabil dan menunjukkan pertumbuhan di atas rata-rata dunia. Inflasi dan nilai tukar stabil, defisit APBN 2023 hanya 1,65% dari PDB.Cadangan devisa kuat. Neraca pembayaran sehat.
Kondisi perbankan juga sehat seiring meredanya gejolak pasar keuangan global. Di pasar modal dan pasar uang, capital inflow yang sudah terjadi kuartal keempat 2023 akan berlanjut tahun ini. Realisasi investasi langsung terus meningkat.
Alhasil, prospek perekonomian Indonesia tahun ini dan di masa depan sangat atraktif. Fundamental makro ekonomi sangat kuat. Selain pekerjaan rumah mengoptimalkan potensi ekonomi yang ada agar bisa tumbuh di atas 7%, tantangan bagi negara ini adalah memanfaatkan fundamental ekonomi yang kuat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan lebih inklusif.***

