Jalan Panjang I-Wave Meniru Sukses K-Wave
JAKARTA, investortrust.id - “Kalau saya harus memilih musik rock atau musik jazz, maka saya akan pilih musik K-Pop. Karena dengan musik K-Pop saya akan merasa strong dan muda, seperti minum gingseng. Kalau saya harus memilih nonton apa, film Hollywood atau film yang lain, saya suka drakor atau drama Korea. Kenapa? Karena saya bisa menangis dari pagi hingga sore.”
Ucapan tersebut disampaikan Ketua MPR, Bambang Soesatyo saat memberi sambutan pada acara “Korea-Indonesia Cooperation Forum in Commemoration of the 50th Anniversary of Diplomatic Relations” di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (30/11/2023).
Bambang bukan satu-satunya politisi dan warga negara Indonesia (WNI) yang menggemari budaya Korea. Jutaan orang lain mungkin merasakan hal yang sama.
Aliran budaya Korea, atau Korean Wave (K-Wave) telah menjadi bagian dari industri hiburan global. Penetrasi K-Wave telah menjadi sumber pendapatan baru ekonomi Korea Selatan.
Penelitian yang ditulis Jonheon Park dari Shattuck St Mary’s Forest City International School, Malaysia menyebutkan,konten budaya Korea menghasilkan US$ 12,45 miliar. K-pop, kata Park, berdampak pada tiga bidang, yakni penjualan musik dan platform streaming, industri turunannya, serta periklanan dan pemasaran.
Salah satu alasan mengapa industri musik K-pop bisa berkembang pesat adalah karena pasar musik digital yang tumbuh baik. Korea Selatan saat ini memiliki 13 platform streaming yang memberikan akses warga Korea Selatan untuk mendengarkan musik. “Digitalisasi Musik memungkinkan musik menjadi lebih mudah diakses,” tulis Park.
Dengan tumbuhnya K-pop secara eksponensial, industri turunannya dapat berkembang dengan baik serta menawarkan berbagai produk dan layanannya. Baik domestik maupun internasional, kekuatan K-pop memberikan kesempatan kepada khalayak internasional mengenal budaya Korea.
Dari budaya ini, muncul industri media dan penyiaran dengan pemirsa yang berdedikasi. Ekspansi ini mendorong pemirsa internasional yang berdampak pada pendapatan iklan dan sponsor yang berdampak bagi perekonomian.
Inisiatif ini tidak hanya tumbuh dari sektor swasta. Pada 2008, pemerintah Korea Selatan mendirikan Korea Creative Content Agency (Kocca) untuk memenuhi kebutuhan konten di dalam negeri dan internasional.
Pembuatan agensi ini bukan tanpa alasan. Potensi dari pasar digital secara konsisten terus tumbuh dan diproyeksikan mencapai US$ 111,8 miliar pada 2030. “Hal ini menyiratkan bahwa jika industri K-pop berupaya menarik khalayak yang lebih besar, kemungkinan besar industri tersebut akan mendapat eksposur di pasar global,” ujar dia.
Industri hiburan ini juga mendorong pertumbuhan pariwisata ke Negeri Ginseng. Park mencatat, kunjungan wisawatan mancanegara (wisman) ke Korea tumbuh tajam pada 2019.
“Tercatat hanya 300.000 wisman pada 1998, tapi Korea mencatat wisman mencapai 17,5 juta wisman pada 2019,” tulis dia.
Kisah suskes inilah yang ingin turut dicapai Indonesia. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan, Gandi Sulistiyanto menegaskan, Indonesia perlu belajar mengembangkan ekonomi kreatif dari Korea Selatan.
Dia menyebut kemajuan perekonomian Korea Selatan diimbangi kemajuan industri kreatif dan digital. “Melalui apa yang disebut hallyu atau Korean Wave (K-Wave),” kata Gandi.
Menurut Gandi, Korea Selatan memimpin industri kreatif tidak hanya di kawasan Asia-Pasifik, tapi di dunia. Salah satu puncaknya yaitu diakuinya film Parasite pada Academy Awards 2020. “Juga mencuatnya BTS dan Blackpink,” ucap dia.
Gelombang ekonomi kreatif ini membawa perubahan lanskap ekonomi Korea Selatan, seiring kenaikan produk domestic bruto (PDB) Korea Selatan yang menembus US$ 1,7 triliun dengan populasi 51 juta penduduk. Untuk meniru gerakan itulah, Indonesia ingin menyebut gerakan Indonesia Wave (I-Wave).
K-pop Masih Mendominasi
Budaya Korea masih terasa mendominasi pasar industri hiburan di Tanah Air, setidaknya hingga 2020. Berdasarkan data yang dihimpun Won So, Indonesia berada pada posisi pertama persentase penonton video K-pop di Youtube, yang mencapai 9,9%. Selain Indonesia, negara lain yang menjadi penonton setia K-pop yaitu Thailand, Vietnam, dan Amerika Serikat (AS).
“BTS, Blackpink, TWICE, Momoland, dan Exo menjadi lima artis yang tercatat memiliki perolehan catatan 54,3% dari seluruh penonton K-pop di Youtube,” tulis So.
Charlie Zheng membagikan temuannya di laman Medium mengenai dominasi BTS dan Blackpink. Dua grup vokal ini memiliki video yang sudah menembus angka 1 miliar penonton.
Dirilis pada 15 Juni 2018, lagu milik Blackpink berjudul Ddu Du Ddu Du, menembus 1,5 miliar penonton. Setahun setelahnya, lagu lain yang dinyanyikan Jennie, Lisa, Rose, dan Ji-soo, berjudul Kill This Love mencatatkan 1,2 miliar. Lagu Boombayah juga mencatat penonton hingga 1,15 miliar. Sedangkan lagu dari BTS berjudul DNA dan Boy With Luv masing-masing mencatatkan 1,2 miliar penonton dan 1,19 penonton.
Dominasi BTS dan Blackpink terus menembus batas. Tak hanya di dunia hiburan, BTS dan Blackpink dianggap berperan terhadap isu perubahan iklim dan politik.
BTS menggaungkan isu perubahan iklim di panggung sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, AS, 20 September 2021. Selain perubahan iklim, para personel BTS dari Jungkook, RM, Jin, V, Suga, hingga Jimin menggaungkan kondisi global yang terdampak Covid-19.
“Mereka yang berusia remaja dan 20-an kini disebut sebagai Covid Lost Generation. Ini berarti, saat masa di mana mereka butuh banyak kesempatan dan menghadapi rintangan, mereka justru kehilangan jalan,” kata RM.
Sementara itu, pada November 2023, Blackpink mendapat penghargaan dari Kerajaan Inggris berupa Most Excellent Order of the British Empire (MBE) yang dianugerahkan Raja Charles III. Penghargaan diberikan karena Blackpink berperan dalam KTT COP26 di Glasgow, Skotlandia. Blackpink daianggap menyuarakan peran generasi muda untuk terlibat dalam konferensi global perubahan iklim dan topik aksi iklim.
Pekerjaan Rumah Kemenparekraf
Mimpi untuk mengejar ketertinggalan industri kreatif ini terus dipupuk Indonesia. Meski jaraknya bumi dan langit. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Baparekraf), Sandiaga Uno berupaya memaksimalkan potensi kerja sama K-Wave dan I-Wave. Sebab, potensi kerja sama ini bisa menjadi bagian target penciptaan 4,4 juta lapangan kerja baru. “Industri kreatif lah yang memiliki potensi,” kata Sandiaga.
Sandiaga optimistis industri kreatif Indonesia bisa unggul. Dia menyebut potensi sektor musik, film, animasi, dan game. Selain itu, Indonesia berpotensi mengembangkan sektor kuliner, kriya, dan fashion.
Sandiaga menyoroti sosok-sosok inspiratif dari Indonesia yang harus diperbanyak. Salah satu yang jadi sorotannya yaitu atlet bola voli Indonesia, Megawati Pertiwi. Pemain asal Jember ini tidak hanya unjuk kebolehan di Negeri Gingseng, tapi juga mengenalkan budaya Indonesia. “Megawati yang kalau pemanasan menggunakan lagu dangdut itu mempromosikan lebih banyak budaya Indonesia,” ucap dia.
Meski demikian, menjadikan industri hiburan sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia masih memiliki banyak tantangan. Ini terlihat dari belum terlihatnya industri turunan dari industri hiburan tersebut.
Dari sektor pariwisata, Sandiaga mengakui ada pekerjaan rumah untuk menarik wisawatan asing, khususnya Korea Selatan, datang ke Indonesia. “Masih banyak orang Indonesia yang ke Korea. Itu yang jadi PR buat kita,” kata dia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini mengungkapkan, dari Januari-Oktober 2023 kunjungan wisman yang masuk ke Indonesia sudah mencapai 9,49 juta kunjungan. Angka ini cukup menggembirakan lantaran lewati jumlah kunjungan wisman secara total pada 2022 yang mencapai 5,9 juta.
“Meski demikian, capaian ini masih di bawah capaian kunjungan dari Januari hingga Oktober 2019 yang mencapai 13,45 kunjungan,” tulis BPS.
Data BPS tahun 2022 menunjukkan, wisman yang datang ke Tanah Air masih menjadikan Bali (46,72%) dan DKI Jakarta (13,03%) sebagai destinasi utama. Kepulauan Riau mencatatkan angka kunjungan wisman sebanyak 11,81%.
Wisman asal Korea Selatan yang datang di Indonesia merupakan yang terbesar untuk kategori Asia. Wisman asal Korea Selatan total tercatat sejumlah 122.221 wisman. Angka ini masih di bawah wisman asal Timor Leste dengan 703.780 orang dan Jepang dengan 281.814 orang.
Dalam catatan BPS, wisman asal negara-negara di Asia (non-ASEAN, Jepang, dan Hong Kong, dan negara-negara Timur Tengah) menghabiskan US$ 1.351,07 per kunjungan, dengan durasi kunjungan rata-rata 16,46 malam dan rata-rata pengeluaran per malam mencapai US$ 82,07.
Lantas bagaimana dengan kunjungan wisata masyarakat Indonesia ke Korea Selatan? BPS mencatat Korea Selatan menjadi salah satu destinasi wisata bagi para wisatawan nasional (wisnas) dengan kisaran angka 1,23% dengan total kunjungan 3.540.542, atau 43.548 orang.
Rata-rata wisnas yang berkunjung ke Korea Selatan menghabiskan 28,33 malam dengan rata-rata pengeluaran US$ 7.363,09 per harinya. Pengeluaran tersebut untuk akomodasi US$ 2.449,95, makan dan minum US$ 1.442,07, serta angkutan lokal US$ 619,69.
Itu belum termasuk untuk belanja keperluan pribadi US$ 884,67, komunikasi US$ 172,57, cenderamata US$ 472,25, pendidikan dan pelatihan US$ 250,17, hiburan US$ 550,69, kesehatan US$ 33,89, pengeluaran paket wisata US$ 197,12, dan lainnya US$ 290,01.
Kerja Sama Pendidikan
Ketua DPR RI, Puan Maharani terus mendorong promosi budaya Indonesia ke generasi muda Korea Selatan. Pesan itu disampaikan Puan menerima gelar doktor kehormatan dari Pukyong National University, Korea Selatan, awal November 2022.
Upaya Puan itu muncul dalam bentuk Busan Indonesia Center. “BIC merupakan oase tentang Indonesia di Kota busan,” kata Puan di laman resmi DPR.
Promosi budaya ini tidak hanya lahir melalui bangunan fisik. Gandi menyebut penting juga untuk terus membangun kemitraan di bidang pendidikan. Bahkan, pendidikan merupakan kunci sukses K-Wave.
Gandi menyebut ada beberapa universitas di sejumlah provinsi di Korea Selatan yang menyiapkan khusus di bidang ekonomi kreatif, seni, dan budaya. Termasuk, inisiatif 5G dan kecerdasan buatan (AI). Upaya kerja sama ini bermuara pada gagasan untuk mengekspor produk kebudayaan pada gerakan I-Wave.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Suharso Monoarfa menyebut peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu kunci sukses untuk menuju visi Indonesia Emas 2045.
Dari peningkatan SDM, Korea Selatan dapat memiliki “pencipta” yang membangun kompleksitas produknya, misalnya mobil dan gadget. “Kalau kita punya banyak kompleksitas (produk) seperti itu, dengan sendirinya lapangan kerja terbentuk. Akhirnya, orang-orang cerdas ikut serta,” ujar dia.
Meski demikian, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dalam paper berjudul Indonesia-Sout Korea At 50: One Step Further for The Special Strategic Partnership? memiliki catatan penting untuk hubungan pertukaran budaya untuk kemajuan ekonomi kedua negara ini.
Salah satu rekomendasi yang disampaikan CSIS yaitu hubungan bilateral Indonesia dan Korea Selatan masih tidak proporsional. Pengaruh budaya massa Korea Selatan lebih besar ketimbang budaya Indonesia yang masuk ke Korea selatan.
“Untuk itu, dengan sumber daya yang terbatas, Jakarta perlu mempromosikan mereknya sendiri di Korea Selatan dan memperbaiki ketidakseimbangan ini,” tulis CSIS.
Ide untuk membangun kerja sama universitas dan gerakan gelombang, tulis CSIS, K-Wave dan I-Wave perlu memberi dampak level elit dan masyarakat luas.
“Meskipun ide-ide tersebut saat ini masih dalam tahap awal, dalam jangka menengah-panjang, kolaborasi ini memiliki manfaat ekonomi dan soft power yang besar bagi Jakarta, baik di pasar Korea Selatan dan juga di tingkat regional dan global,” tulis mereka. (CR-7)

