Marimutu Sinivasan: Beri Saya Kesempatan untuk Ikut Membangun Indonesia
JAKARTA, investortrust.id — Kasus Texmaco sudah terkatung-katung sekitar 24 tahun atau satu generasi. Pendiri perusahaan tekstil terpadu dan engineering itu, Marimutu Sinivasan, masih terkena pencegahan ke luar negeri. Untuk negosiasi bisnis dan pengobatan pun, ia tidak diperkenankan ke luar negeri.
Selasa, 17 Desember 2024, Sinivasan genap berusia 87 tahun. Ia tetap bersemangat untuk menghidupkan kembali Texmaco, perusahaan yang didirikan tahun 1963 di Pekalongan, Jawa Tengah. Sebelum dialihkan ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BBPN), tahun 2000, Texmaco adalah perusahaan yang solid di bisnis tekstil dan produk tekstil (TPT), terpadu hulu hingga hilir, dan perusahaan engineering yang bergerak di industri dasar dan perusahaan yang memproduksi berbagai jenis mesin hingga otomotif dengan memproduksi truk Perkasa dan prototip mobil penumpang, Carnesia.
“Saya hanya mengharapkan agar pemerintah Indonesia memberikan saya kesempatan untuk membangun Indonesia di sisa usia saya ini. Saya sudah berusia 87 dan dokter mengatakan, saya mampu bekerja hingga sepuluh tahun ke depan,” kata Sinivasan dalam percakapan dengan investortrust.id di Jakarta, Sabtu (21/12/2024).
Jika diberikan kesempatan, demikian Sinivasan, ia tidak hanya mengaktifkan kembali perusahaan TPT dan engineering serta otomotif, melainkan mengembangkan bisnis lain, mulai dari pertanian hingga artificial inteligence (AI). Ia ingin berkontribusi bagi bangsa ini, khususnya generasi muda agar bisa menjadi generasi emas tahun 2024. “Saya hanya mengharapkan cekal saya dicabut agar saya bisa berobat dan bertemu mitra bisnis,” kata pengusaha yang rajin membaca buku ini.
Untuk membangun bisnis, kata Sinivasan, ia tidak membutuhkan pinjaman dari perbankan nasional. Bisnis yang hendak ia kembangkan mendapatkan pendanaan dari luar negeri. “Saya hanya meminta agar usaha saya tidak dihambat. Rekening saya tidak diblokir agar bisnis yang hendak saya kembangkan bisa segera berjalan,” kata pria kelahiran Medan, 17 Desember 1937.
Di usia senjanya, Sinivasan memang masih memiliki keyakinan bahwa ia punya kesempatan untuk bangkit dan kembali membesarkan usahanya yang saat ini kolaps. Bicara soal keyakinannya ini, Sinivasan mengaku telah bertemu seorang dokter yang memeriksa kondisi kesehatannya. Saat itu, ia menyampaikan bahwa ia masih ingin bekerja hingga usia 100 tahun. “Dokter bilang, saya kasih sama Bapak 15 tahun lagi. Jadi tiap organ itu bisa kita tahu setelah pemeriksaan itu, kira-kira bisa (hidup berapa lama lagi —Red),” cerita Sinivasan.
Berbekal keyakinannya ini, Sinivasan bertekad untuk mewujudkan mimpinya ikut membantu pemerintahan Prabowo-Gibran mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi, di atas 8% setahun dengan menghidupkan kembali industri manufaktur di Tanah Air, mencapai swasembada pangan, hingga mengembangkan transportasi kereta api dari Banda Aceh hingga Papua.
Bagaimana mungkin membangun sebuah industri di tengah kondisinya yang dicekal, dan tak memungkinkannya untuk bertemu mitra bisnisnya di luar negeri. Yang terkena pencekalan tidak hanya dirinya, melainkan juga istri, anak, hingga cucunya. Sinivasan bersumpah tak akan mau menggunakan sumber pendanaan dari perbankan di Tanah Air seperti masa lalu.
Ketika krisis moneter merebak di era 1998-1999, dan semua industri dalam negeri rontok akibat apresiasi nilai dolar terhadap rupiah yang begitu tinggi, Sinivasan termasuk menjadi salah satu pengusaha yang utangnya membengkak akibat apresiasi dolar AS terjadap rupiah dan suku bunga yang melejit tinggi hingga puluhan persen.
Yang menyakitkan, ia kemudian dituduh mengemplang utang dari Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan usahanya yang tengah kesulitan harus menjadi pasien Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Padahal, ia hanya mendapatkan fasilitas kredit komersil dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dan sebelum hempasan gelombang krisis moneter status utangnya adalah debitur lancar.
Pendanaan
Nah, soal mimpinya untuk kembali membangkitkan industri dasar hingga industri manufaktur seperti yang pernah ia bangun di era pemerintahan Orde Baru, Sinivasan menyebut langkah tersebut akan ia wujudkan lewat kolaborasi dengan sejumlah manufaktur dan lembaga pendanaan dari luar negeri.“Ini semua nanti saya bangun lewat kerja sama. Jadi, perusahaan yang hendak dibangun bukan milik saya semuanya,” tuturnya.
“Saya akan kolaborasi dengan perusahaan luar negeri, terutama untuk permodalan. Mereka bisa bawa modal. Karena saya tidak mau pinjam lagi dari bank pemerintah. Dengan pengalaman pahit di masa lalu,saya tidak akan lagi pinjam di bank Indonesia,” imbuhnya.
Salah satu sumber pendanaan yang akan ia upayakan adalah lewat pasar modal di India. Ia yakin dengan jejaring bisnisnya di India serta perusahaan miliknya yang berbasis di sana, pendanaan akan bisa diperoleh. Apalagi kapitalisasi pasar modal di India jauh lebih besar dari Indonesia. Ia optimistis, volume pendanaan yang ia butuhkan bisa didapat dari pasar modal India.
Begitu perusahaannya yang berbasis di India listed di bursa setempat, ia yakin bakal memperoleh pendanaan dari perbankan setempat dengan kisaran US$ 1 miliar hingga US$ 3 miliar.
Bahkan pemerintah India, menurut Sinivasan, telah menawarkan perusahaannya yang beroperasi di sana, yakni Besten, untuk mengerjakan proyek pengembangan jalur kereta api. “Saya akan beritahukan Pak Prabowo, kita bikin kereta api dari Banda Aceh sampai Pulau Jawa,” ujar Sinivasan.
Teknologi yang akan ia kembangkan pun lebih modern, dengan menggunakan teknologi Maglev atau magnetic levitation. Ia mengaku telah mengembangkan teknologi maglev yang siap ditawarkan kepada para investor, baik dari India hingga Eropa.
Harapannya, pengembangan kereta api dengan teknologi Maglev ini akan mendapat restu pendanaan dari Exim Bank India, dan berikutnya pengembangannya akan dikerjasamakan dengan perusahaan industri kereta api Prancis, Alstom. Berikutnya ia pun berharap, dengan digandengnya Alstom, maka pendanaan proyek pembangunan jalur kereta api ini bisa ikut menarik minat Pemerintah Prancis.
“Sekarang kan banyak (negara-negara) Eropa keluarkan stimulus. Dari situ mereka bisa kasih pinjaman. Prancis dan India,” ucapnya.
Jaminan pun ia yakini bisa didapatkan dari otoritas keuangan India, karena pengembangannya akan diserahkan pada sejumlah insinyur asal India yang memang berpengalaman dalam pengembangan jalur kereta api.
Untuk mendukung rencana pengembangan industri kereta api, Sinivasan mengaku akan melibatkan salah satu pabrikdi Hongaria, yang bergerak di produksi roda kereta api. Sementara untuk kembali menghidupkan industri truk yang juga pernah dikembangkan Texmaco, Sinivasan akan melibatkan satu manufaktur di Slovakia yang namanya masih ia rahasiakan.
“Selain di Indonesia, saya juga bikin truk di Slovakia untuk pasar Eropa. Jadi, ke depan, Texmaco bukan hanya jago kandang. Texmaco menjadi global company, global player,” tuturnya.
Membangun Industri
Lebih jauh Sinivasan mengungkapkan tekadnya untuk kembali membangkitkan bisnis tekstil domestik yang kini tengah terpuruk akibat serbuan produk impor. Sinivasan menyebut, kehancuran industri tekstil di Tanah Air salah satunya disebabkan tidak adanya manufaktur yang membuat mesin tekstil. Sementara Texmaco yang membesarkan dirinya, sejatinya mampu menyediakan mesin-mesin industri dasar, khususnya tekstil.
Tak cuma tekstil, ia pun bertekad akan ikut mengembangkan industri baja domestik. Sayangnya, untuk rencana pengembangan bisnis yang satu ini, ia belum mengurainya lebih rinci. “Ada hal-hal yang untuk sementara ini perlu saya rahasiakan,” ujarnya. Namun ia memberikan sedikit bocoran, bahwa pengolahan baja yang akan ia kembangkan tak akan menggunakan bahan bakar coking coal atau batu bara kokas.
Pengolahan baja tradisional memang sering menggunakan bahan bakar berupa batu bara kokas, karena kandungan karbonnya tinggi dan abu rendah, sehingga membuatnya cocok untuk proses metalurgi, khususnya dalam blast furnace.
Nah, industri baja yang akan ia kembangkan, nantinya berbasis bahan bakar steaming coal, sebuah skema yang amat jarang dilakukan di industri baja. Tapi lagi-lagi ia menolak mengelaborasi lebih jauh soal teknologi dan bahan bakar industri baja yang akan ia besut.
Dalam bincang-bincang dengan Investortrust kali ini, Sinivasan benar-benar ingin agar di sisa hidupnya, ia masih bisa berkontribusi pada negara, untuk bisa membantu pencapaian cita-cita Indonesia sebagai negara maju dan berpendapatan tinggi. Ia pun berhasrat bisa ikut berpartisipasi di salah satu program yang kini tengah didengungkan oleh pemerintahan Prabowo-Gibran, yakni makanan bergizi gratis (MBG).
Salah satunya adalah lewat pengembangan traktor yang akan membantu para petani meningkatkan kapasitas produksinya. Pengembangan industri traktor untuk pertanian sejatinya bukan hal yang baru buat Sinivasan. Dengan latar belakang sebagai salah satu pengembang truk bermerek Perkasa di era Orde Baru, maka pengembangan industri traktor di Tanah Air diyakini bisa ia penuhi.
Ia bertekad ikut membantu Indonesia lepas dari ketergantungan impor gandum. Ia yakin Indonesia sebagai negara tropis juga layak untuk menjadi tempat budi daya gandum. Khususnya di kawasan Indonesia Timur, dengan curah hujan yang rendah, namun tingkat suhu yang cukup rendah di malam hari.
Capaian Texmaco
Selama berkiprah di Republik ini, banyak pencapaian yang ditorehkan Grup Texmaco. Industri tekstil terpadu ini dinobatkan sebagai salah satu perusahaan terbaik di Asia, berdasarkan studi Konsultan Management dan Outsourcing Global Hewitt Associates bersama Asian Wallstreet Journal dan Far Easten Economic Review, yang dimuat pada Harian Suara Pembaruan, edisi Sabtu, 8 September 2001.
Ada sejumlah alasan yang mendasarinya. Pertama, Texmaco adalah pemasok bahan tekstil untuk merek internasional Mark & Spencer Inggris dan Tommy Hilfiger Amerika Serikat. Kedua, pengakuan pasar otomotif Eropa terhadap truk Perkasa produksi Texmaco dalam kategori EURO I dilihat dari emisi gas buang. Ketiga, mendapat kesetaraan dengan produk-produk terbaik Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang.
Alasan keempat, Texmaco telah memperoleh ISO 9001 dan 9002 sehingga mendapat kesetaraan dengan produk-produk terbaik dunia untuk standardisasi sistem managemen. Kelima, mendapat pengakuan The American Society of Mechanical Engineers, dengan sertifikat nomor 35811 tanggal 21 Mei 2009.
Pengakuan dunia usaha internasional juga terbukti dengan adanya pesanan produk dari Grup Texmaco oleh perusahaan internasional. Antara lain General Electric (AS) yang memesan komponen gas turbin, generator, dan lokomotif pada 2001 senilai US$ 25 juta serta Hitachi Zosen Corporation Jepang untuk polymer reactor dan mesin untuk kilang minyak, pembangkit listrik, mesin pabrik gula, mesin pengolahan limbah, dan mesin pengolahan air laut menjadi air minum untuk berbagai perusahaan luar negeri;
Pesanan juga datang dari Siemens dan Krups, Jerman, berupa komponen boiler tenaga listrik uap dan alat pertambangan serta Al Jomaih Holding Co (Arab Saudi), dealer otomotif terbesar Timur Tengah yang membeli 100 unit bus Perkasa.
Selain pengakuan berbagai korporasi global, Texmaco menyabet berbagai pernghargaan. Di antaranya dari Departemen Keuangan Republik Indonesia sebagai pembayar pajak penghasilan badan dengan peringkat kesepuluh terhitung sejak tahun 1988 hingga 1994 serta Departemen Perdagangan RI sebagai Eksportir Terbaik kategori menengah-besar tahun 1992.
Seluruh unit usaha Grup Texmaco telah menyerap total 42.850 tenaga kerja. Mereka bekerja tersebar di PT Polysindo Eka Perkasa, PT Texmaco Jaya Tbk, PT Texmaco Taman Synthetics, PT Multikarsa Investama, PT Wastra Indah, PT Bima Peranan Busana, PT Citra Indah Textil, PT Saritex Jaya Swasthi, dan PT Sumatex Subur.
Selain itu, Grup Texmaco telah memasok bahan-bahan baku bagi industri pemintalan, pertenunan, dan garmen di dalam negeri yang seluruhnya menyerap kurang lebih 175.000 tenaga kerja. “Secara sosio-ekonomi, penyerapan tenaga kerja tersebut sangat berpengaruh terhadap pengurangan angka pengangguran, kriminalitas, dan peningkatan ekonomi masyarakat di berbagai daerah,” tutur Sinivasan.
Untuk kegiatan bidang engineering, Grup Texmaco telah menggunakan komponen 75% komponen lokal. Hal itu merefleksikan peran aktif Texmaco dalam menciptakan kemandirian usaha nasional dari ketergantungan impor produk luar negeri dengan diproduksinya alat-alat berat, tekstil, mesin-mesin industri, dan peralatan kendaraan yang dapat digunakan juga oleh militer untuk kepentingan pertahanan NKRI.
Dari sisi devisa, Grup Texmaco memberikan sumbangan signifikan. Untuk periode Oktober 1996- September 1997 saja, devisa ekspornya mencapai US$ 227 juta. Texmaco yang menjadi nasabah Bank BNI sejak 1967 telah terpilih sebagai penerima fasilitas rediskonto preshipment pada November 1999. Dalam pertemuan antara Bank Indonesia dan perbankan pada 2 Oktober 1997, Grup Texmaco dinilai paling eligible dan siap menerima skim yang dipersiapkan oleh pemerintah melalui BI. Upaya piloting ini didukung oleh Bank BNI.
BNI memilih Texmaco dengan pertimbangan sebagai debitur loyal selama 32 tahun, kewajibannya dipenuhi dengan lancar dan tidak pernah gagal bayar (default), dan kondisi keuangannya baik sampai Maret 1998 (7 bulan setelah krisis moneter). Grup ini bahkan mampu membayar kembali kredit sebesar US$ 500 juta kepada BNI dan BRI.
“Fakta hukum ini dapat membuktikan bahwa sebelum krisis keuangan 1997, Grup Texmaco adalah debitur dan perusahaan yang bertanggung jawab dan mempunyai performa yang baik dalam kredit perbankan,” kata Sinivasan.
Texmaco juga mencapai mengakuan dari The Export-Import Bank of Japan pada 25 Maret 1997. Ketika perwakilan bank tersebut meninjau langsung pabrik Texmaco, mereka percaya bahwa Texmaco akan menjadi percontohan terbaik dalam menghasilkan barang-barang modal untuk ekspor berkualitas tinggi di Indonesia. Mereka telah melaporkan hal tersebut kepada Gubernur BI saat itu, Soedradjad Djiwandono dan Penasihat Presiden Widjoyo Nitisastro.
Konsultan Senior Bank Dunia dalam kunjungan pabrik pada 18 September 1998 juga memberikan apresiasi serupa. “Saya sangat terkesan oleh kecanggihan pabrik, yang mana peralatan tersebut dibeli dengan dana Bank Dunia melalui BNI. Sangat jarang sekali saya temukan pabrik dengan rancangan dan operasional industri yang luar biasa selama saya bertugas di Bank Dunia,” kata dia.
Tidak Menerima BLBI
Dalam banyak kesempatan, Texmaco kerap disebut-sebut sebagai badan usaha yang ikut menikmati Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Namun hal ini dibantah keras oleh Sinivasan.
Sebagai gambaran, pada saat krisis moneter 1998-1999, pemerintah Indonesia melalui Bank Indonesia (BI) memberikan bantuan likuiditas untuk menyelamatkan sistem perbankan nasional. Bantuan ini dikenal sebagai BLBI dan bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi, terutama sektor perbankan yang menghadapi masalah likuiditas akibat krisis moneter. BLBI diberikan kepada berbagai bank umum nasional yang mengalami kesulitan likuiditas.
Texmaco Group memang memiliki entitas bisnis intermediary berupa bank, bernama PT Bank Putera Multikarsa. “Setelah bank-bank ditutup atas saran IMF, terjadi rush karena nasabah panik dan menarik dananya dari perbankan, sehingga beberapa bank kolaps dan akhirnya pemerintah mengucurkan BLBI untuk bank-bank tersebut. Hal ini tidak dilakukan terhadap PT Bank Putera Multikarsa. Bank ini tidak pernah meminta BLBI dan karenanya tidak pernah menerima BLBI,” tegas Sinivasan.
Ia pun menuturkan, awalnya Texmaco tak pernah berniat untuk memiliki entitas bisnis bank di kelompok usahanya. Alasannya, Sinivasan merasa tak memiliki kompetensi yang cukup untuk mengelola bisnis bank.
Ceritanya, kata Sinivasan, pada tahun 1994 manajemen Texmaco dipanggil direksi Bank Indonesia yang meminta Texmaco untuk mengambil alih kepemilikan PT Bank Putera Multikarsa yang mengalami mismanajemen dari pengurus sebelumnya. Manajemen diduga menyalahgunakan dana nasabah sebesar Rp 160 miliar, dan Bank Indonesia meminta Texmaco menyuntikkan modal Rp 80 miliar agar menjadi pemegang saham mayoritas dan bisa menyelamatkan bank tersebut.
“Kami menjawab bahwa Texmaco tidak memiliki pengalaman di bank dan kami tidak perlu bank. Tapi direksi BI menjawab, karena semua konglomerat memiliki bank, maka ke depan Texmaco pun akan memerlukan bank untuk para pelanggannya dan industri tekstil,” papar Sinivasan.
Pada akhirnya, sebagai pengusaha nasional dan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, Sinivasan akhirnya menerima permintaan direksi BI untuk mengambil alih Bank Putera Multikarsa. Dalam tiga tahun, total aset bank meningkat dari Rp 600 miliar menjadi Rp 3 triliun.
“Bank ini dikelola oleh para profesional yang ditunjuk oleh Bank Indonesia, dan tidak ada satu pun keluarga kami yang duduk sebagai pengurus pada bank tersebut,” kata Sinivasan.
Nah, pada saat krisis terjadi, hampir seluruh bank terpukul termasuk Bank Putera Multikarsa milik Texmaco. Sinivasan menggambarkan, saat terjadi rush, semua konglomerat yang memiliki bank mendapatkan fasilitas BLBI, seperti Grup Salim yang mendapat bantuan Rp 52,7 triliun, lalu Syamsul Nursalim sebesar Rp 28 triliun, dan Grup Sinar Mas sebesar Rp 13 triliun. “Sedangkan Grup Texmaco tidak memiliki atau tidak mendapatkan BLBI,” tegasnya.
Terkait utang pada bank, lanjut Sinivasan, hingga terjadinya krisis moneter 1998, Grup Texmaco selalu tercatat sebagai nasabah lancar dan prima pada Bank BNI. Namun, dengan terjadinya krisis moneter tersebut beberapa di antara perusahaan Grup Texmaco mengalami kesulitan likuiditas akibat menurunnya modal kerja neto sebagaimana juga dialami oleh perusahaan-perusahaan industri di luar Texmaco.
Selanjutnya pengelolaan Grup Texmaco diambil alih dari Bank BNI oleh BPPN dengan dalih melakukan penyehatan sesuai Master Restructuring Agreement (Perjanjian Restrukturisasi Induk) No. 10 tertanggal 23 Mei 2001.
“Namun, fakta menunjukkan bahwa Texmaco tidak kunjung sehat melainkan lumpuh total di bawah BPPN. Bahkan, menurut BPPN, utang Grup Texmaco telah membumbung tinggi hingga mencapai Rp 30 triliun,” ujarnya.
Sebagai pengusaha nasional yang lahir di Indonesia, besar di Indonesia, dan berusaha di Indonesia, Sinivasan berjanji akan mati di Indonesia. Apalagi usianya sudah di atas 87. Tak perlu pencekalan karena ia tidak akan melarikan diri. Kalau pun hendak melarikan diri, mau lari ke mana? Bukankah dalam 20 tahun terakhir ia berada di Indonesia dan sesekali ke India?
Dalam 20 tahun terakhir, kata Sinivasan, ia mengaku menghabiskan waktu untuk belajar. Ia selalu membaca berbagai buku terbaru. Karena itu, ia fasih menjelaskan tentang pertanian, aneka bisnis jasa, industri dasar, industri barang modal, otomotif, digital, data center, hingga artificial intelligence (AI).
Tidak ada yang hendak ia kejar selain ingin kembali membangun Indonesia setelah 20 tahun tidak mendapatkan kesempatan. Ia akan membayar lunas semua kewajibannya dalam waktu tujuh tahun tanpa meminta haircut seperti halnya para konglomerat lainnya.
“Beri saya waktu dua tahun moratorium, dan menyelesaikan pembayaran selama lima tahun. Jadi, saya akan menyelesaikan semua utang saya dalam tujuh tahun,” tandas Sinivasan.
Sinivasan mengaku memiliki SDM yang ahli di berbagai lini bisnis yang hendak ia bangun. “Mereka sekarang bekerja di berbagai perusahaan terkenal di luar negeri, Asia, Eropa, dan Amerika. Di Indonesia juga ada. Begitu ada kesempatan, mereka semua segera bergabung,” papar Sinivasan.
Di usianya sekarang, ia masih memiliki semangat hidup yang tinggi dan semangat hidup itu lahir karena tekadnya untuk membangun Indonesia. “Tidak ada yang saya kejar selain ingin berpartisipasi membangun Indonesia,” tukas Sinivasan.
Putranya, Ben Sinivasan, belum ia libatkan dalam membangun kembali Texmaco. Ia tidak rela putranya terkena sanksi pencekalan seperti yang dialami dirinya. “Biarlah Ben berusaha sendiri sebagaimana selama ini. Jika pemerintah sudah menerima saya, memberikan saya kesempatan untuk ikut membangun Indonesia dan Texmaco sudah kembali berjalan, baru saat itu, putra saya dilibatkan,” papar Sinivasan. (Tim Investortrust)

