Mempersiapkan Generasi Cerdas Menuju Indonesia Emas
JAKARTA, investortrust.id -- Pemerintahan Prabowo-Gibran memberi prioritas tinggi pada bidang pendidikan, dengan meningkatkan anggaran pendidikan pada tahun 2025. Tapi, tantangan yang dihadapi di bidang pendidikan, sains dan riset, juga tidak sedikit.
Masih ada masyarakat kelas bawah yang belum mengenyam pendidikan. Di berbagai daerah, banyak sekolah dan sarana pendidikan yang rusak. Belum lagi, kalau bicara masalah kualitas pendidik dan kesejahteraan para guru.
Di sisi riset, ada banyak hal yang perlu diperhatikan. Antara lain, dana riset yang rendah. Kurangnya minat peneliti untuk melakukan riset, rendahnya kualitas riset, dan hasil riset yang tidak sinkron dengan kebutuhan dunia usaha.
Kualitas Siswa
Beberapa waktu lalu, viral di media sosial perihal kemampuan anak SD dan SMP yang tidak bisa berhitung. Padahal, soal yang diajukan sangat sederhana, tapi si anak tidak bisa menjawab dengan benar. Meski belum bisa digeneralisir, fakta ini menguak betapa rendahnya pengetahuan sejumlah anak-anak Nusantara. Tak hanya matematika, mereka juga tertinggal dalam beberapa pelajaran lain, seperti pengetahuan umum.
Kondisi ini tentu memprihatinkan dan menimbulkan kegelisahan di kalangan pendidik, para orang tua, dan masyarakat. Kegelisahan yang sama juga dirasakan Presiden Prabowo Subianto.
Prabowo yang dilantik menjadi Presiden RI ke-8 pada 20 Oktober 2024 sempat memanggil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang baru saja dilantik, Abdul Mu’ti dan menyinggung hal itu.
Abdul Mu’ti mengakui, Presiden membahas perbaikan metode pembelajaran, termasuk untuk pelajaran matematika. “Presiden Prabowo menekankan pentingnya kualitas pembelajaran matematika dan bagaimana metode pembelajarannya diperbaiki, termasuk di dalamnya konsekuensi untuk pelatihan guru matematika," kata Abdul Mu'ti usai pertemuannya dengan Prabowo di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.
Bahkan, Prabowo membuka opsi pelajaran matematika diperkenalkan di tingkat taman kanak-kanak (TK). Menurut Mu’ti, Presiden sangat concern pada peningkatan kualitas sains teknologi. Berbicara sains teknologi, tentu termasuk matematika. “Ada tawaran bagaimana pelajaran matematika di tingkat SD, kelas 1-4, dan mungkin mengenalkan matematika untuk anak-anak di tingkat TK," urainya.
Semakin menurunnya kondisi pendidikan Indonesia juga tercermin pada hasil evaluasi PISA (Program for International Student Assessment) yang merupakan hasil kajian oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD/Organization for Economic Co-operation and Development). Survei tingkat kemampuan membaca, matematika, dan sains yang dilakukan kepada anak usia 15 tahun menunjukkan terjadi tren penurunan skor di Indonesia dari tahun 2015.
Di tingkat ASEAN, Indonesia tertinggal di posisi bawah. Berada di bawah negara tetangga, yaitu Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Thailand. Skor perolehan Indonesia terpaut jauh jika dibandingkan dengan Singapura yang merupakan peringkat satu dunia. Bahkan, secara global, perolehan skor Indonesia di semua bidang berada jauh di bawah rata-rata negara yang diteliti.
Penurunan di semua bidang yang terjadi secara konsisten ini merupakan sinyal buruk bagi kualitas pendidikan indonesia. Dalam bidang matematika, misalnya, di Indonesia hanya terdapat 18% siswa yang mencapai level dua dan selebihnya masih berada pada level satu. Kecakapan 82% siswa yang berada pada level 1 ini baru sebatas siswa hanya mampu menyelesaikan soal-soal matematika sederhana. Mereka juga baru mampu mengenali angka atau paparan data yang jelas dari tabel dan diagram sederhana serta dapat menerapkan operasi dasar.
Dana Pendidikan Meningkat
Di balik cerita rendahnya kualitas siswa Indonesia, Presiden Prabowo menggaransi bahwa Pemerintah menaruh perhatian besar pada bidang pendidikan. Hal ini sejalan dengan apa yang telah dilakukan pemerintahan sebelumnya di bawah kepemimpinan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi).
Pergantian estafet kepemimpinan yang berjalan mulus, memang memberi kesempatan kepada pemerintahan baru untuk bergerak cepat melanjutkan program yang telah disusun sebelumnya. Termasuk, dalam penganggaran. Pada penyusunan RAPBN 2025 misalnya, Prabowo sebagai Presiden terpilih saat Jokowi masih menjabat, sudah diberikan akses untuk terlibat. Dengan begitu, penyusunan anggaran dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mendapatkan alokasi anggaran sebanyak Rp 722,6 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025, yang kemudian disahkan menjadi UU APBN 2025. Angka ini sekitar 24% dari total APBN 2025 sebesar Rp 3.005,1 triliun. Pada 2024, anggaran pendidikan dialokasikan sebesar Rp 665,02 triliun atau setara dengan 20% belanja negara 2024.
Seperti disampaikan Joko Widodo dalam pidato penyampaian RUU APBN 2025 di Gedung MPR/DPR/DPD Jakarta, 16 Agustus 2024, Pemerintah sudah mengalokasikan anggaran itu untuk peningkatan gizi anak sekolah, renovasi sekolah, pengembangan sekolah unggulan serta perluasan program beasiswa. Selain itu, anggaran tersebut juga akan dialokasikan untuk memajukan kebudayaan, penguatan perguruan tinggi kelas dunia serta untuk pengembangan riset.
Dalam 10 tahun kepemimpinan Jokowi, Pemerintah telah menganggarkan Rp 113 triliun untuk Program Kartu Indonesia Pintar. Meliputi pendidikan lebih dari 20 juta siswa per tahun, mulai dari SD sampai SMA/SMK di seluruh Indonesia.
Presiden Prabowo mengakui, anggaran pendidikan tahun 2025 merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. Ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. "Alokasi kita dalam anggaran 2025 untuk pendidikan, salah satu yang tertinggi. Mungkin selama sejarah kita, untuk pertama kali kita capai," kata Prabowo. Di Rapat Pleno Kabinet Merah Putih (KMP) pertama, yang digelar di Istana Kepresidenan Jakarta pada 23 Oktober 2024, sehari setelah pelantikan kabinet.
Transformasi Pendidikan
Pengembangan pendidikan merupakan program yang berkelanjutan. Selama 10 tahun pemerintahan Joko Widodo, ada sejumlah transformasi yang dilakukan di bidang pendidikan di Indonesia. Transformasi itu dilakukan melalui para menteri pendidikan yang diangkat. Yaitu, Anies Rasyid Baswedan, Muhadjir Effendy, dan Nadiem Anwar Makarim.
Program Indonesia Pintar (KIP) digagas oleh Jokowi pada tahun 2014 untuk membantu anak-anak tidak mampu agar bisa mendapatkan akses pendidikan yang layak, mulai dari jenjang pendidikan dasar dan menengah. Realisasi dari program ini adalah adanya Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan KIP Kuliah.
Pada era Jokowi, pemerintah juga berupaya untuk menghilangkan stigma sekolah unggulan atau favorit. Calon peserta didik mulai dibatasi untuk menuju sekolah berlabel favorit. Selain menghapus sekolah-sekolah favorit, pemerintah pun telah menghapus sistem ranking di sekolah, sehingga semua anak bisa selalu naik kelas.
Pada tahun 2021, pemerintahan Jokowi melalui Mendikbud Ristek Nadiem Makarim resmi menghapuskan Ujian Nasional (UN). Nadiem menilai UN sangat diskriminatif bagi anak yang tidak mampu. UN kemudian diganti dengan Asesmen Nasional (AN) untuk melihat sejauh mana kemampuan siswa.
Presiden Jokowi memberikan bola kepada siswa usai meresmikan renovasi gedung MTs Negeri 3 Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Jumat (21/2) pagi. Foto: Humas Setkab/Rizky
Jurusan IPA, IPS dan Bahasa di semua Sekolah Menengah Atas (SMA) seluruh Indonesia dihapus. Tes potensi akademik (TPA) diubah menjadi tes potensi skolastik (TPS). TPS adalah tes yang bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan kognitif, yang mencakup penalaran umum dan pemahaman. TPS diadakan untuk mendorong anak-anak tidak hanya sekadar belajar, tetapi juga menyerap pelajaran hingga tumbuh kemampuan nalar yang baik.
Tes baca, tulis, dan hitung (calistung) dihapus dari proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SD. Tujuannya, untuk pemerataan akses pendidikan.
Pemerintahan Jokowi juga memperhatikan nasib guru honorer dan kesejahteraan pengajar. Pemerintah telah menargetkan untuk mengangkat satu juta guru honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) hingga akhir tahun 2024. Terkait dosen, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Mendikbud Ristek Nomor 44 Tahun 2024 tentang Profesi, Karier dan Penghasilan Dosen. Peraturan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dosen, mulai dari aturan gaji, tunjangan, hingga peningkatan karier.
Harapan Baru
Pemerintahan baru di bawah pimpinan Presiden RI Prabowo Subianto memulai langkah awal dalam membangun pendidikan tinggi serta pengembangan ekosistem sains dan teknologi di Indonesia dengan membentuk Kementerian baru bernama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Pada 21 Oktober 2024, Prabowo melantik Satryo Soemantri Brodjonegoro sebagai Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, didampingi dua wakil menteri, Stella Christie dan Fauzan. Penunjukan ketiga akademisi ini membawa harapan baru dalam dunia pendidikan tinggi, sains, dan teknologi, mengingat kiprah mereka yang dianggap kompeten di bidangnya.
Satryo Brodjonegoro misalnya, sudah memiliki pengalaman panjang di dunia pendidikan, sains dan teknologi di Indonesia. Putra dari Soemantri Brodjonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1973, ini pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi periode 1999-2007 dan Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) periode 2018-2023. Ia juga dikenal sebagai penggagas otonomi kampus dengan konsep perguruan tinggi badan hukum milik negara atau PT BHMN, sekarang perguruan tinggi negeri badan hukum atau PTNBH). Saat menjabat Ketua AIPI, ia menjadi perancang utama lembaga pendanaan riset independen, seperti Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI) serta Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI).
Fauzan, yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, membawa berpengalaman dalam pengelolaan universitas, manajemen pendidikan, dan pembenahan kurikulum. Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman di bidang pedagogi, diharapkan Fauzan mampu memperbaiki sistem pendidikan tinggi Indonesia, terutama dalam penataan kurikulum dan proses pembelajaran yang sesuai dengan tantangan zaman.
Stella Christie memiliki latar belakang pendidikan yang kuat di bidang sains kognitif, begitu juga pengalaman bertaraf internasional di dunia akademisi. Hal ini diyakini menjadi potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan pendidikan di Indonesia.
Kemunculan Stella membetot perhatian publik ketika ia dipanggil Prabowo ke rumah Kartanegara, berbarengan dengan pemanggilan calon anggota Kabinet Merah Putih lainnya.
Profil dan kiprah Stella pun viral dan memenuhi ruang media sosial. Salah satu hasil penelitian Stella yang populer berfokus pada bagaimana manusia belajar dan berpikir. Dalam penelitian itu, ia menggunakan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan studi manusia, hewan, dan kecerdasan buatan (AI) untuk menjawab pertanyaan mendasar: “Mengapa Kita Pintar?”.
Karya-karya dari wanita kelahiran Medan 11 Januari 1979 itu juga telah dipublikasikan di berbagai jurnal ilmiah terkemuka, seperti Current Biology, Cognitive Science, Scientific Reports, hingga Journal of Cognition and Development, dan salah satunya mendapat predikat sebagai artikel terbaik pada tahun 2010.
Riwayat Pendidikan Stella bisa menjadi contoh inspiratif dan motivasi bagi anak bangsa. Stella Christie menempuh pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah di SD, SMP, dan SMA Santa Ursula, Jakarta, dan kemudian mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Red Cross Nordic United World College, Norwegia.
Stella juga meraih beasiswa penuh dari Universitas Harvard di Fakultas Psikologi dan lulus dengan predikat magna cumlaude with Highest Honors pada tahun 2004, dan kemudian melanjutkan studinya hingga tingkat doktoral di Northwestern University, dan berhasil memperoleh gelar PhD pada tahun 2010. Kemudian ia menjadi profesor di Universitas Swarthmore, Pennsylvania, Amerika Serikat, dari 2012 hingga 2018 dan memperoleh posisi sebagai profesor dengan jabatan tetap di Tsinghua University China.
Di dunia pendidikan tinggi Indonesia, Stella bukanlah orang baru karena pernah berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dalam membahas bagaimana membuat ekosistem yang kreatif di dunia pendidikan tinggi pada 2020, serta memberikan kata pengantar untuk buku yang diterbitkan oleh Kemendikbudristek berjudul "Kumpulan Esai tentang Memupuk Kreativitas di Indonesia".
Peran Stella dalam memperkenalkan metode pengajaran yang inovatif diyakini selaras dengan visi-misi Presiden Prabowo, yang salah satu fokus utamanya adalah peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan sains dan teknologi untuk mendorong kemandirian bangsa.
Dalam misi tersebut, Presiden Prabowo menekankan pentingnya inovasi teknologi dalam pembangunan industri strategis serta meningkatkan peran pendidikan tinggi dalam menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan adaptif terhadap perubahan global.
Ditetapkannya Stella Christie menjadi Wamdiktisaintek RI diharapkan mampu mempercepat langkah menuju negara maju berbasis inovasi. Integrasi antara riset dan industri yang didukung oleh kebijakan yang memadai diharapkan akan mendorong kemajuan di sektor-sektor strategis, seperti teknologi digital, energi hijau, dan industri manufaktur.
Stella Christie sebagai wakil menteri, diharapkan bisa membantu dalam perspektif pendidikan tinggi dan riset internasional. Sebagai akademisi yang memiliki pengalaman mengajar dan meneliti di berbagai kampus ternama di Aerika Serikat (AS) dan China, Stella bisa membantu mewujudkan mimpi perguruan tinggi Indonesia berkiprah di lingkup global. Kehadiran Stella juga menjadi sinyal kuat kemungkinan peningkatan kerja sama pendidikan tinggi dan penelitian antara Indonesia dan China, mengingat posisi terakhirnya sebagai guru besar di Tsinghua University.
Pemisahan Kementerian
Sementara itu, pemisahan fungsi Kemendiktisaintek dari Kementerian Pendidikan sebenarnya bukanlah hal baru. Pada periode pemerintahan Jokowi 2014-2019, fungsi ini juga pernah dipisahkan, dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mengurus pendidikan tinggi, sedangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan fokus pada pendidikan dasar dan menengah. Namun, pada periode 2019-2024, keduanya digabung Kembali.
Pemisahan fungsi ini tampaknya diperlukan untuk mendorong peran pendidikan tinggi dalam pengembangan sains dan teknologi yang bisa memberikan dampak ekonomi dan sosial kepada masyarakat.
Penggabungan koordinasi pendidikan tinggi dengan pengembangan sains dan teknologi, lewat aktivitas riset di berbagai lembaga riset non-universitas, telah terbukti berhasil di beberapa negara. Jerman, misalnya, menjadi salah satu negara paling produktif dalam menghasilkan riset berkualitas sejak menerapkan penggabungan koordinasi tersebut.
Sebagian besar universitas di Jerman memiliki kapasitas melakukan riset-riset dasar yang diperlukan oleh industri. Riset dasar ini mungkin belum tentu langsung aplikatif, tetapi memberikan fondasi penting bagi riset terapan di masa depan. Penelitian tersebut kemudian diselaraskan dengan kegiatan lembaga-lembaga riset non-universitas. Berbeda dengan Singapura, yang justru memisahkan koordinasi pendidikan tinggi dan riset. Kementerian Pendidikan Singapura bertanggung jawab atas pendidikan tinggi, sementara National Research Foundation (NRF) menangani koordinasi riset. Meski berbeda dengan Jerman, pendekatan ini juga sukses menjadikan Singapura sebagai pusat pendidikan dan riset terdepan.
Dalam konteks Indonesia, menggabungkan koordinasi pendidikan tinggi dan riset bisa jadi pilihan terbaik saat ini. Sebab, dengan langkah ini, universitas bisa lebih banyak menghasilkan riset berkualitas yang diselaraskan dengan kebutuhan industri dan kegiatan lembaga riset lainnya.
Keberadaan Kemendiktisaintek juga diharapkan dapat memecahkan berbagai masalah ekosistem riset di Indonesia, seperti belum banyaknya universitas riset yang memiliki otonomi penuh untuk menjalankan proses pendidikan dan penelitian.
Untuk memperkuat koordinasi pendidikan tinggi dengan pengembangan sains dan teknologi, beberapa universitas di Indonesia bisa menjadi perintis universitas riset (research university) yang memiliki otonomi luas dalam hal formulasi kurikulum, pendanaan, dan pengelolaan aset.
Dengan begitu, mahasiswa pascasarjana bisa lebih terlibat dalam riset, sementara universitas bisa merekrut peneliti postdoktoral untuk mendukung proyek riset jangka panjang. Dengan strategi ini, budaya riset akan berkembang, sehingga akan banyak generasi muda yang menjadi ilmuwan unggul.
Segudang harapan membuncah setelah Presiden Prabowo Subianto meletakkan fondasi di bidang pendidikan, sains dan riset. Termasuk, menata ulang kelembagaan dan menunjuk personel yang kompeten. Kini, warga dan seluruh anak bangsa menunggu kiprah dan hasilnya.***

