Dear Investor: Jangan Terusik September Effect, Pantau Saham Blue Chip Murah untuk Bulan Ini
JAKARTA, investortrust.id – Sejatinya September bukanlah bulan baik buat pasar saham. Jejak sejarah pasar mencatat, dalam lima tahun terakhir, terdapat empat kali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan di bulan September, dan hanya satu kali menguat yakni September 2021.
Pelemahan pasar saham September bukan tanpa sebab, nyaris tidak ada sentimen kuat yang mendorong IHSG untuk menanjak. Saat September, sentimen laporan keuangan kuartal II emiten papan atas telah berlalu, sudah tercermin di bulan Juli dan Agustus, sehingga tidak tersisa sentimen baik terkait kinerja emiten untuk September.
Ada pula psikologi yang masih lekat di benak pelaku pasar tentang fenomena September Effect. Banyak peristiwa kejatuhan pasar yang terjadi di September, sebut diantaranya krisis finansial di Amerika Serikat pada September 2008, krisis keuangan akibat serangan teroris di AS pada 11 September 2001, lalu Black Friday pada September 1869 di AS, juga Black Wednesday di Inggris pada September 1992.
Tapi, sepertinya kali ini momok September Effect perlu ditepis jauh-jauh, anomali pasar di September 2023 berpeluang terjadi. IHSG bakal disokong bejibun sentimen positif, meski pelaku pasar disarankan tetap selektif dan berhati-hati memilih portofolio investasi.
Baca Juga
Di Atas Ekspektasi, BPS Catat Deflasi 0,02% per Agustus 2023
Saham-saham yang masih murah dengan fundamental kuat tetap menarik untuk jadi pilihan, sebab peluang penguatannya akan cukup besar. Kepala Riset PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe mengatakan, penetapan pasangan capres dan cawapres dalam waktu dekat bakal jadi sentimen kuat penepis momok September Effect.
Bila koalisi parpol memilih pasangan capres dan cawapres sesuai ekspektasi pasar, IHSG diyakini akan mudah menggapai level resistance 7.050. Ketika target psikologis itu tercapai IHSG akan terus melaju ke level 7.300. Ini merupakan target optimistis IHSG hingga akhir tahun ini. IHSG bahkan bisa terus menguat sampai perhelatan akbar pemilu pada Februari 2024.
Kiswoyo Adi Joe, mengatakan, saat ini target support IHSG sudah naik ke level 6.750 dari sebelumnya level 6.500, menggambarkan pasar mulai menunjukan kepercayaan diri. Sebagai catatan, masa pendaftaran calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dijadwalkan medio Oktober hingga 25 November 2023. Ini berarti keputusan mengusung sosok cawapres pendamping Ganjar Pronowo, Prabowo Subianto maupun Anies Baswedan telah disepakati sehingga mendatangkan kepastian bagi pelaku pasar.
‘’Saya yakin semua akan kondusif, terlebih dua capres yang maju Ganjar dan Prabowo punya visa dan misi sama, melanjutkan pembangunan yang telah dimulai oleh Jokowi, siapapun diantara keduanya yang terpilih Indonesia akan tetap aman,’’ paparnya saat dihubungi belum lama ini.
Dinamika politik yang kondusif jelang pemilu diyakini mampu meredam sentimen terkait ketidakpastian ekonomi global maupun momok September Effect. Fundamental ekonomi yang kokoh seiring tingginya konsumsi domestik juga membuat Indonesia lebih percaya diri menghadapi perlambatan ekonomi dunia.
‘’Kontribusi ekspor-impor hanya sekitar 25% terhadap perekonomian, sementara konsumsi domestik kita porsinya lebih 50%. Jadi meski global mengalami tekanan ekonomi Indonesia bisa tetap tumbuh 5%,’’ urai Kiswoyo.
Founder & CEO CTASaham Andri Zakarias Siregar, juga mengamini proyeksi optimis pasar saham, setidaknya hingga akhir tahun ini. Andri menyebut sejumlah sentimen positif boleh diharapkan menopang pasar pada September 2023 diantaranya: Net buy asing YTD 2023 sebesar Rp 1,47 triliun, ekspektasi pemulihan ekonomi Indonesia di 2023 yang diprediksi masih di atas 5%.
Kemudian rebound-nya harga komoditas (coal, gas, oil, CPO) di kuartal III-2023, karena Arab Saudi memangkas produksi minyak, dan melonjaknya harga gas di Eropa.
Baca Juga
Faktor positif lainnya adalah antrian IPO sebanyak 27 perusahaan di BEI, termasuk 7 emiten jumbo hingga akhir 2023. Kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang masih bertahan di level 5,75% juga dianggap positif bagi pasar.
Walau jajaran sentimen positif siap memayungi pasar, Andri tetap mengingatkan adanya potensi tekanan, terutama terkait suku bunga the Fed dan bank sentral Eropa yang berpotensi naik kembali akibat ancaman kenaikan inflasi.
Inflasi global yang mengalami trend kenaikan akibat melonjaknya harga komoditas energi & pangan juga hantu bagi pasar finansial, begitu pula dengan peluang pelemahan rupiah terhadap dollarAS, dari melonjakya yield Treasury AS 10 tahun. ‘’Kami juga ingatkan potensi memanasnya proses pemilu jelang pendaftaran capres dan cawapres, serta siklus IHSG dalam 5 tahun terakhir, di mana bulan September mengalami empat tahun koreksi, hanya 1 tahun menguat di tahun 2021,’’ urainya.
Aneka sentimen positif-negatif yang dipaparkan bisa saling tarik-menarik. Andri bilang ada peluang IHSG untuk cenderung bergerak moderat di level 6.900 - 7.000 sepertinya lebih dominan untuk September. Namun bila mampu menembus level di atas 7.000, maka peluang menggapai target optimistis 7.300 sangat terbuka. Sebaliknya kalau muncul sentimen negatif skala besar, maka tekanan hebat bisa membawa IHSG melorot ke target pesimistis 5.300 – 5.500.
Saham Pilihan
Saat pasar menguat, saham-saham kapitalisasi besar yang masih murah seperti PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Telkom Indonesia (TLKM) berpotensi diserbu investor asing, terlebih kalau pemerintah mampu terus menjaga stabilitas keamanan dan pertumbuhan ekonomi di tengah berlangsungnya proses pemilu.
Kiswoyo meramal saham ASII akan menjajal target Rp 7.500. Menurutnya pada tahun 2017 saham ASII sempat mencapai Rp 9.350. Peluang menuju level tertingginya tersebut cukup besar, terlebih pendapatan dan laba bersih ASII saat ini sudah melebihi pencapaian tahun buku 2017.
Sementara saham BBNI akan ditopang sentimen pemecahan nilai saham atau stock split, dengan rasio 1:2. Artinya satu saham lama BBNI yang beredar di publik akan dipecah menjadi dua saham. Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar menyampaikan tujuan stock split agar harga saham BBNI setara dengan saham bank big caps lainnya, sehingga bisa lebih likuid dan terjangkau oleh investor ritel.
Biasanya sebelum stock split harga saham akan terdongkrak, bahkan mencapai new high. Sebagai catatan harga tertinggi BBNI sempat berada di level 10.250, Adapun target sebelum stock split, BBNI diyakini menggapai level Rp 10.000.
Baca Juga
IHSG Perlahan-lahan Bangkit, Saham Ini Cuan Besar di Awal Transaksi
Saham TLKM juga masuk dalam jajaran saham blue chip yang belum mencapai new high. Tampaknya penurunan kinerja TLKM di semester I-2023 jadi sentimen yang menekan saham TLKM. Diketahui pendapatan TLKM turun 2,07% yoy, sementara laba bersih tergerus 4,16% yoy.
Tapi tekanan terhadap TLKM tampaknya bakal hengkang seiring suksesnya sinergi IndiHome dan Telkomsel. Analis optimistis sinergi ini akan memperkuat TLKM menghadapi ketatnya persaingan bisnis telekomunikasi. Kiswoyo Adi Joe menilai saham TLKM akan mencapai level Rp 4.500 bahkan Rp 5.000 pada akhir 2023.
Di luar saham-saham tadi, dari perspektif teknilkal Andri Zakarias Siregar cenderung merekomendasikan saham PT Adaro EnergY Tbk (ADRO), PT AKR Korporindo (AKRA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Untuk ADRO Andri mematok target resistance Rp 2.780 – Rp 2.950, posisi support Rp 2.480 – 2.280. Saham AKRA resistance Rp 1.345 – Rp 1.440, support Rp 1.255 – Rp 1.180. Kemudian BBRI posisi resistance Rp 5.750 – Rp 6.150, support Rp 5.350 dan saham BMRI dengan target resistance Rp 6.025 – Rp 6.350, sedangkan support Rp 5.600 - Rp 5.300.

