Ilham Habibie: Indonesia Super Power Baterai Listrik
JAKARTA, investortrust.id -- Indonesia diyakini bakal menjadi super power dalam industri baterai, karena berlimpahnya cadangan nikel yang menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik, yang kini berada dalam tahap hilirisasi masif. Namun, dia menekankan bahwa industri baterai bukanlah tujuan akhir. Itu hanya target antara, karena target akhirnya adalah kendaraan listrik.
“Jadi, industri hilir yang kita tuju adalah kendaraan listrik. Jangan sampai kita hanya menggunakan produk kendaraan listrik negara lain,” kata Ilham Akbar Habibie, Komisaris Utama PT Investortrust Sejahtera Indonesia dalam pidato pembukaan seminar “Membangun Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik” di Hotel Rafles Jakarta, Selasa (29/08/2023). Acara ini sekaligus menandai soft launching investortrust.id yang diresmikan oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia.
Industri baterai maupun kendaraan listrik diharapkan menjadi kebangkitan industrialisasi di Indonesia. Sebab, Ilham khawatir dengan realita bahwa pertumbuhan industri manufaktur cenderung di bawah pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut terjadi karena deindustrialisasi. Kontribusi industri manufaktur yang di masa lalu bisa mencapai di atas 25% dari Produk Domestik Bruto (PDB), kini kurang dari 20%.
“Deindustrialisasi ini harus dibalikkan menjadi reindustrialisasi. Momentum tersebut salah satunya berada di industri baterai dan kendaraan listrik, dan kita siap menjadi super power untuk itu. Termasuk bagaimana kita akan mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045 sebagai negara maju, negara yang sejahtera, berdaya saing tinggi, terbuka, dan inovatif. Semua itu perlu didukung industri yang kuat,” kata kata peraih gelar doktor dengan predikat summa cum laude diTechnische Universität München, Jerman ini.
Baca Juga
Dia mencontohkan sejumlah negara di Asia Timur yang sukses dalam mewujudkan sebagai negara maju karena industrialisasi, seperti Jepang dan Korea Selatan. Dua negara itu tidak memiliki sumber daya alam dan dulu termasuk kategori negara miskin. Namun mereka sanggup melompat sebagai negara maju berkat industrialisasi, karena dukungan sumber daya manusia yang bermutu sehingga melahirkan inovasi dan teknologi.
“Korea Selatan mulai dari nol membangun industri setelah perang Korea Utara dan Selatan. Mereka kini memiliki pendapatan per kapita tinggi. Dengan anggaran R&D 4,2% dari PDB, itu juara dunia,” kata putra sulung mantan Presiden BJ Habibie tersebut.
Ilham Habibie menyatakan, Battery Electric Vehicle (BEV) atau Baterai Kendaraan Listrik kini menjadi topik yang sedang menarik. Menarik karena kendaraan listrik dinilai sebagai solusi untuk mengurangi emisi karbon dan membawa masyarakat dunia mencapai net zero emission tahun 2060.
Memerangi emisi karbon —untuk mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim yang ekstrem— sudah menjadi topik kampanye di berbagai negara. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pada tahun 2015 ada Kesepakatan Paris (Paris Agreement) yang diadopsi 196 negara anggota Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). Tujuan Paris Agreement adalah untuk menahan kenaikan suhu bumi agar kurang dari 1,5°C di atas terhitung sejak masa pra-industri.
Kendaraan listrik —mobil dan motor listrik- menjadi solusi penting di bidang transportasi. Sejumlah negara maju menargetkan untuk menghentikan penjualan kendaraan bermotor berbahan bakar fosil dalam beberapa tahun hingga 18 tahun ke depan. Belanda, misalnya, menargetkan tahun 2030, Inggris tahun 2030, Perancis tahun 2040, Kanada tahun 2040, negara bagian California, AS, tahun 2035. Jerman berencana beberapa tahun ke depan tak ada lagi kendaraan fosil di jalan raya. “Indonesia diharapkan tidak ada kendaraan berbahan bakar fosil pada 2060,” ujar Ilham yang pernah memimpin perusahaan keluarga Ilthabi Rekatama ini.
Ilham menyebut topik “Membangun Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik” menarik karena Indonesia berpeluang menjadi basis BEV, Batttery Electric Vehicle. Niat ini bisa dicapai karena Indonesia penghasil nikel, bahan baku utama BEV. Sekitar 80% isi baterai adalah nikel. Sisanya, 20%, adalah lithium hidroksida, kobalt, mangan, dan grafit. Indonesia akan maju sebagai penghasil kathoda (elemen BEV) yakni nikel, mangan, cobalt (NMC).
Indonesia bukan hanya berpotensi menjadi basis untuk mobil listrik, tapi juga motor listrik. Saat ini populasi sepeda motor listrik di Indonesia mencapai 100 juta, nomor 3 di dunia. Ini potensi yang sangat besar. “Baterai ke depan juga bisa berpotensi untuk pesawat dan kapal, meski saat ini belum memungkinkan. Namun, bisa jadi untuk tahap awal didesain secara hibrida, seperti yang sekarang banyak dioperasikan di mobil,” kata Ilham yang menjadi komisaris sejumlah perusahaan tersebut.
Indonesia layak menjadi basis produksi kendaraan listrik dunia karena besarnya komitmen pemerintah. Pada tahun 2030, ditargetkan, sekitar 2 juta mobil dan 13 juta sepeda motor yang melaju di jalan raya Indonesia adalah kendaraan listrik.
Lebih lanjut Ilham Habibie mengungkapkan, masih dalam suasana ulang tahun kemerdekaan RI ke-78, masyarakat perlu mengingat kembali cita-cita para founding fathers, yakni mewujudkan Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur. Masyarakat adil dan makmur hanya bisa terwujud jika Indonesia memiliki fondasi industri yang kuat dan menguasai teknologi terkait, dan didukung SDM yang canggih, andal, dan maju. Tanpa SDM dengan kualifikasi demikian, kita tidak akan kemana-mana.
“Mari kita bahu-membahu dengan negara lain di dunia untuk mencapai net zero emission, memerangi gobal warming, dan climate change yang ekstrem. Mari kita mendukung upaya besar bangsa ini untuk mewujudkan ekonomi hijau dan pembangunan ekonomi berkelanjutan,” kata Ilham.
Tentang investortrust.id, kata Ilham Habibie, ini bukan sekadar media baru, tapi juga baru dalam cara penyajian. “Kita semua adalah digital native, kita juga akan menggunakan teknologi seperti artificial intelligence (AI), sehingga budaya perusahaan kita akan disesuaikan dengan bagaimana masa depan media. Kita akan menghadirkan berita dan data yang terolah, yang dipercaya (trust). Kepercayaan itu sangat penting, termasuk di mata investor,” tuturnya.
Investortrust tidak akan masuk ke FTA (free to air), tapi lewat streaming. Sebab, anak muda sekarang melihat informasi apapun selalu lewat handphone. Termasuk investasi portofolio, di pasar modal saat ini 70-80% volume transaksi dilakukan oleh anak muda, meski secara nilai hanya 20%. “Mereka memanfaatkan channel digital, sehingga investortrust harus masuk ke sana,” kata mantan petinggi BPPT yang kini berubah nama menjadi BRIN tersebut.

