Sejak Invasi Rusia ke Ukraina, ke Mana Dana Asing Mengalir?
JAKARTA, investortrust.id - Sejak Rusia menginvasi negara tetangga Ukraina 24 Februari 2022, dampak negatifnya merambat ke mana-mana, selain menciptakan konflik terburuk di Eropa setelah Perang Dunia II. Negara dengan perekonomian terbesar Amerika Serikat dan Tiongkok pun terseret-seret dalam prahara gonjang-ganjing ekonomi global. Lantas, ke mana investasi asing kini berlabuh?
Bila merujuk data Neraca Pembayaran Indonesia triwulan II 2023 yang dirilis Selasa ini (22/08/2023) di Jakarta, animo investasi ke Indonesia pun surut. Neraca investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI) pada 2022, merosot 14% dari US$ 17,29 miliar tahun 2021 menjadi US$ 14,82 miliar. Penurunan masih berlanjut pada paruh pertama tahun ini, net FDI anjlok 11% dari US$ 8,02 miliar semester I tahun lalu ke US$ 7,17 miliar.
UNCTAD menggarisbawahi, setelah rebound kuat tahun 2021, FDI global anjlok 12% ke US$ 1,3 triliun tahun lalu. OECD juga membeberkan dalam laporan terbarunya, aliran FDI global merosot tajam sejak perang Rusia-Ukraina pecah dan hingga kini belum pulih.
Pada kuartal I 2023, aliran investasi langsung asing secara global memang sudah kembali mencapai US$ 440 miliar atau tiga kali lipat dari titik rendahnya pada kuartal IV 2022, namun masih 25% di bawah level pada triwulan I tahun lalu. Secara umum, FDI yang masuk dan keluar di seluruh dunia seharusnya setara, sehingga FDI flows tersebut mengacu pada rata-rata kedua angka tersebut.
Pada kuartal pertama tahun ini, FDI inflows global terbesar ke Amerika Serikat menembus US$ 109 miliar. Berikutnya dengan jarak sangat jauh di posisi kedua mengalir ke Brasil US$ 21 miliar dan Tiongkok US$ 21 miliar. Sedangkan FDI outflows dunia terbanyak dari AS juga mencapai US$ 110 miliar, dibuntuti Jerman (US$ 57 miliar) dan berikutnya Tiongkok (US$ 50 miliar).
Industri Otomotif-Logam Penyelamat RI
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono menjelaskan di Jakarta, Selasa (22/08/2023), investasi langsung ke Indonesia pada triwulan II 2023 dinilai tetap solid, membukukan surplus, sebagai cerminan dari tetap terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi domestik. Dilihat dari arus masuk neto investasi langsung di Indonesia atau Penanaman Modal Asing (PMA) pada triwulan I 2023, angkanya masih mencapai US$ 4,9 miliar, namun lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar US$ 5,6 miliar.
Secara sektoral, PMA pada triwulan I 2023 terutama mengalir ke sektor industri pengolahan, perdagangan, serta pertambangan dan penggalian. Aliran PMA pada ketiga sektor tersebut memiliki pangsa sebesar 77,9% dari total PMA atau senilai US$ 3,8 miliar.
Aliran masuk PMA di sektor industri pengolahan terutama didorong oleh penanaman modal dari investor Jepang pada perusahaan yang bergerak di industri otomotif, serta investor Hong Kong pada beberapa perusahaan di industri logam. PMA di sektor perdagangan antara lain didorong oleh penanaman modal dari investor Belanda pada industri pengolahan tembakau, serta investor Amerika Serikat pada perusahaan platform perdagangan online.
Sedangkan aliran masuk modal asing di sektor pertambangan dan penggalian antara lain berasal dari investor Tiongkok dan Amerika Serikat. Selain itu, Singapura mencatatkan PMA cukup besar di sektor transportasi, pergudangan, dan komunikasi.
Dipilah berdasarkan negara asal, aliran masuk PMA selama triwulan II 2023 terutama berasal dari Asean dan negara emerging market Asia, termasuk Tiongkok serta Jepang. Aliran masuk PMA dari kawasan tersebut sepanjang triwulan II 2023 mencapai US$ 3,6 miliar atau 75,1% dari total PMA.
Namun, neraca investasi portofolio dan investasi lainnya tercatat defisit, lantaran kenaikan pembayaran global bonds dan pinjaman luar negeri yang jatuh tempo sesuai pola kuartalan, serta terdampak meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Dari sisi aliran dana asing pada Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi rupiah, berdasarkan data BI, mencatatkan pembelian neto US$ 2,5 miliar. Dengan perkembangan tersebut, posisi kepemilikan asing pada instrumen SUN rupiah meningkat dari US$ 52,6 miliar pada akhir triwulan I 2023 menjadi US$ 55,0 miliar pada akhir triwulan II 2023, alhasil persentase kepemilikan asing naik dari 17,6% menjadi 18,5% terhadap total posisi SUN rupiah.
Di pasar saham, aliran dana asing selama triwulan II 2023 tercatat mengalami pembelian neto sebesar US$ 0,6 miliar, meningkat dibandingkan pembelian neto pada triwulan sebelumnya sebesar US$ 0,2 miliar. Hal itu ditopang adanya tambahan 16 emiten baru yang melakukan penawaran saham perdana (IPO), dengan total emisi senilai Rp 176,2 triliun atau setara US$ 11,9 miliar. Nilai emisi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan total nilai emisi triwulan sebelumnya sebesar Rp 55,3 triliun atau setara US$ 3,6 miliar dari 28 emiten baru.
Tipisnya arus masuk dana asing ini mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia masih ditutup di level 6.661,9 pada akhir triwulan II 2023, di bawah level psikologis 7.000 dan rekor tertingginya 7.355. Pergerakan IHSG tersebut searah dengan kinerja bursa di kawasan Asean khususnya Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, yang menurun point-to-point dibandingkan triwulan sebelumnya.

