Babak Baru PT XL Axiata Tbk (EXCL)
JAKARTA, investortrust.id –PT XL Axiata Tbk (EXCL) memasuki babak baru setelah menandatangani kesepakatan untuk mengakuisisi sebanyak 750 ribu pelanggan fixed broadband dan 2 juta home pass PT Link Net Tbk (LINK). Aksi ini merupakan bagian dari upaya perseroan untuk menopang pertumbuhan ke depan melalui penguatan segmen bisnis fixed mobile convergence (FMC).
“Transaksi ini sudah sesuai dengan fokus XL untuk fixed mobile convergence (FMC). Aksi ini tentu akan menekan belanja modal yang dikeluarkan perseroan untuk penguatan segmen FMC ke depan,” terang analis CGS CIMB Sekuritas, Bob Setiadi dan Genie Prunamasari dalam riset yang diterbitkan baru-baru ini.
CIMB Sekuritas menyebutkan, aksi tersebut menjadikan XL sebagai perusahaan telekomunikasi dengan bisnis fixed broadband (FBB) terbesar kedua di Indonesia. Hingga akhir tahun lalu, LINK mencatatkan 757 ribu subscriber dan 4 juta home passes. Dengan aksi korporasi tersebut, XL mengendalikan sebanyak 6,5 juta sambungan home passes.
Selain itu, XL memilki sebanyak 206 ribu pelanggan FBB sampai September 2023. Dengan akuisisi pelanggan LINK, XL memiliki sebanyak 1 juta pelanggan FBB atau setara dengan 7,5% dari total pangsa pasar FBB di Indonesia. Bandingkan dengan IndiHome selaku pemain FBB terbesar mencapai 9,8 juta pelanggan.
Berbagai faktor tersebut mendorong CIMB Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi add saham EXCL dengan target harga Rp 3.500. Target tersebut mempertimbangkan penurunan belanja modal perseroan untuk pengembangan FMC.
Target harga tersebut juga mempertimbangkan peluang pertumbuhan Average Revenue Per Unit (ARPU) XL ke depan. Saat ini, saham EXCL ditransaksikan dengan EV/EBITDA sektiar 4,2 kali atau berada di bawah rata-rata dalam 10 tahun terakhir.
Target harga tersebut juga mempertimbangkan proyeksi kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 1,22 triliun tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu Rp 1,10 triliun. Begitu juga dengan estimasi laba bersih perseroan tahun depan diprediksi menguat menjadi Rp 1,90 triliun.
Sementara itu, analis Mandiri Sekuritas Henry Tedja dan Kresna Hutabarat mengatakan, keputusan pengalihan sebanyak 750.000 pelanggan FBB Link Net ke XL merupakan bagian dari strategi XL untuk memperkuat posisi perusahaan dalam pasar layanan konvergensi (FMC). Perseroan bersama XL juga membidik penambahan 4 juta home passes untuk XL dalam lima tahun mendatang.
“XL telah menunjukkan komitmennya untuk melanjutkan transformasi dari perusahaan telko tradisional menjadi TechCo yang diharapkan meningkatkan nilai bagi pemegang saham ke depan,” terangnya dalam riset yang diterbitkan.
Trasformasi menjadi TechCo dilakukan dengan tiga inisiatif. Yaitu pertama, meningkatkan produktivitas dana. Kedua, unlock valuasi dalam model telekomunikasi yang terintegrasi. Ketiga, perseroan menjajaki pertumbuhan keuntungan dari bisnis yang sudah ada dan jaringan yang sudah ada.
“Ketiga inisiafit ini akan membantu Axiata Group untuk mengerek lebih tinggi return on invested capital (ROIC) dan total shareholder return (TSR),” tulis Mandiri Sekuritas.
Selain ketiga strategi tersebut, kata Henry Tedja dan Kresna Hutabarat, XL memiliki keunggulan biaya jaringan. Program ini diharapkan membantu perseroan menekan alokasi belanja modal yang signifikan dengan perkiraan rasio belanja modal terhadap pendapatan bisa diturunkan di bawah 20% dalam beberapa tahun mendatang. Perseroan juga akan melanjutkan penghematan biaya operasional yang mengarah ke penurunan biaya data atau menjadi US$cent 10/Gb.
Selain itu, EXCL akan terus berupaya untuk memberikan dividen per saham dari keuntungan operasional ke depan. Total dividen ditargetkan minimum sebanyak 50% dari total dividen per saham.
Saat ini, Link Net disebut tengah mengembangkan satu juta home passes yang akan diberikan kepada XL pada kuartal II-2024. Ini merupakan bagian dari upaya Link Net membangun sebanyak 2 juta home passes baru yang akan diberikan kepada XL.
Mesin Pertumbuhan
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis mengatakan, bisnis FMC akan menjadi mesin pertumbuhan kinerja keuangan perusahaan telekomunikasi ke depan. Hal ini sudah mulai terlihat dari kinerja dan EBITDA sejumlah perusahaan telekomunikasi yang menggencarkan pengembangan FMC.
FMC merupakan perpaduan layanan antara seluler dengan fixed broadband (Wi-Fi) yang terintegrasi. FMC bisa diartikan pengguna hanya perlu berlangganan denga satu operator untuk melayani seluruh kebutuhan internet baik di rumah maupun di luar rumah.
“Kami melihat bahwa potensi pasar FMC masih sangat besar di Indonesia, khususnya pelanggan masyarakat menengah ke bawah. Kami mengantisipasi bahwa FMC akan muncul sebagai tren pasar telekomunikasi dan diharapkan menopang pertumbuhan kinerja perseroan ke depan,” tulis riset BRI Danareksa Sekuritas.
Strategi tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham EXCL dengan target harga Rp 3.000.
PROSPEK SAHAM EXCL
CGS CIMB Sekuritas
Rekomendasi : Add
Target harga : Rp 3.500
Mandiri Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 3.000
BRI Danareksa Sekuritas
Rekoemendasi: buy
Target harga : Rp 3.000
Kebut Layanan Konvergensi
Menanggapi pencapaian kinerja 9 bulan pertama, Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini mengatakan, situasi dan kondisi industri telekomunikasi nasional yang terus menantang serta kompetisi yang terus berlangsung ketat hingga saat ini, mampu dijawab EXCL dengan pencapaian kinerja yang menggembirakan. “Tantangan ke depan tentunya tidak akan lebih ringan. Untuk itu, berbagai inisiatif akan terus kami lakukan,” kata dia, Rabu (22/11/2023).
Hingga kuartal III-2023, tercatat EXCL memiliki 206 ribu pelanggan layanan Home, dengan penambahan lebih dari 52 ribu dalam tiga bulan. Pencapaian tersebut tidak terlepas dari semakin luasnya jaringan XL SATU Fiber yang kini telah mencapai 75 kota/kabupaten. “Di sisi lain, XL Axiata mampu terus meningkatkan penetrasi layanan konvergensi hingga 69% dari pelanggan layanan Home,” tutur Dian.
Dengan total jumlah pelanggan mencapai 57,5 juta hingga akhir September 2023, ARPU Mobile XL Axiata tercatat sebesar Rp 40 ribu untuk layanan prabayar, Rp 90 ribu pascabayar, dan Rp 42 ribu blended.
Dari sisi biaya-biaya operasional, XL Axiata berhasil menjaga tingkat stabilitasnya. Bahkan biaya terkait penjualan dan pemasaran bisa ditekan menurun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, seiring dengan penerapan strategi digitalisasi. Sementara
Selain itu, kata Dian, strategi transformasi digital yang dijalankan XL Axiata termasuk dalam mengembangkan pengalaman pelanggan melalui aplikasi MyXL dan AXISNet terus menunjukkan efektivitasnya. Kedua aplikasi telah memberikan hasil yang sangat kuat hingga sembilan bulan pertama 2023. Tercatat lebih dari 27 juta pelanggan yang aktif menggunakan MyXL.
XL Axiata terus melakukan upaya peningkatan kualitas jaringan sebagai penopang utama layanan konvergensi. Komitmen XL Axiata memperkuat jaringan tercermin dari pengalokasian belanja modal (capex) sebesar Rp 8 triliun, yang mayoritas untuk mendukung kebutuhan ekspansi jaringan.
Hingga akhir September 2023, total jumlah BTS XL Axiata mencapai 158.225 BTS, termasuk BTS 4G sebanyak 103.408 unit.
Kolaborasi yang semakin erat antara XL Axiata dengan Link Net diharapkan akan mampu meningkatkan penetrasi layanan konvergensi di Indonesia. Dalam lima tahun ke depan, kedua pihak akan memperluas cakupan layanan hingga 8 juta home pass.
XL Axiata melakukan penawaran umum perdana (IPO) saham di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham EXCL pada 2005. Kemudian pada 2008, TM Group mengumumkan penyelesaian proses demerger, menghasilkan dua entitas yang terpisah, yaitu Telekom Malaysia Berhad (“TM”) dan TM International Berhad (sekarang bernama Axiata Group Berhad/Axiata), dimana Indocel Holding Sdn. Bhd. secara tidak langsung merupakan anak perusahaan Axiata melalui TM International (L) Limited. Axiata mengakuisisi seluruh kepemilikan saham XL yang dimiliki oleh Khazanah Nasional Berhad, sehingga kepemilikan Indocel Holding Sdn. Bhd menjadi 83,8%.
Pada 2010, pemegang saham mayoritas XL Axiata yaitu Axiata Investments (Indonesia) melepaskan sebagian sahamnya (20%) di XL Axiata melalui Private Placement untuk meningkatkan jumlah saham XL Axiata yang dimiliki publik.
Etisalat, salah satu pemegang saham utama di XL Axiata, menginvestasikan 9,1% kepemilikan sahamnya melalui penawaran saham pada investor institusi pada 2012. Sehingga porsi kepemilikan saham publik meningkat dari 20,2% menjadi 33,5%. XL Axiata terus berfokus pada bisnis komunikasi data dan investasi pada infrastruktur jaringan secara komprehensif, termasuk menggelar lebih dari 11.000 BTS baru di tahun 2012.
XL Axiata dan Saudi Telecom Company (STC) dan Teleglobal Investment menandatangani perjanjian jual beli bersyarat untuk mengakuisisi PT AXIS Telekom Indonesia (AXIS). (Hari Gunarto)

