India, Antara Ketahanan Pangan Domestik dan Hubungan Persahabatan Dua Negara
JAKARTA, Investortrust.id – Perubahan iklim nyata berdampak serius pada ketersediaan pangan di seluruh dunia. Pasalnya perubahan iklim dapat menyebabkan suhu yang lebih tinggi, pola hujan yang tidak stabil, dan kejadian cuaca ekstrem. Pada ujungnya kondisi ini dapat mengganggu pola pertanian, menyebabkan musim tanam yang tidak teratur, dan terburuk munculnya risiko gagal panen.
Tak hanya perubahan iklim, dunia juga tengah dihadapkan pada risiko geopolitik. Khususnya perang Rusia - Ukraina yang hampir memasuki tahun kedua, ditambah lagi ketegangan di di Timur Tengah menyusul perang Israel – Hamas. Kondisi geopolitik yang memanas ikut berkontribusi pada tersendatnya pasokan pangan dunia.
Sekadar informasi, Rusia dan Ukraina merupakan produsen utama bijian seperti gandum dan jagung. Gangguan dalam pasokan bijian dari kedua negara ini menyebabkan volatilitas harga di pasar global dan memberikan tekanan pada negara-negara yang bergantung pada impor produk pangan.
Maka tak salah jika sejumlah negara menerapkan kebijakan penutupan keran ekspor produk pangannya, demi menjaga kecukupan pangan di domestik, sekaligus sebagai mitigasi risiko terhadap potensi kelangkaan pasokan pangan dunia.
India merupakan salah satu negara yang menerapkan kebijakan pengetatan ekspor pangannya ke sejumlah negara. Dalam sebuah kesempatan paparannya, Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti medio Oktober 2023 lalu menyebut , larangan ekspor beras dilakukan oleh India, Rusia dan Bangladesh serta Uganda. Berdasarkan catatan dari BPS, India telah melakukan pembatasan ekspor sejak Juli 2023, sementara Uganda, Rusia, dan Bangladesh menerapkan kebijakan serupa lebih awal, pada Juni 2023.
Disampaikan Malvika Priyadarshini selaku Konselor Ekonomi & Perdagangan, Kedutaan Besar India di Jakarta, ketahanan pangan saat ini amat terkait dengan terjadinya perubahan iklim dan semua ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung, yang berujung penerapan pelarangan ekspor komoditas pangan kritis mereka, termasuk India.
“Jadi kita sempat menerapkan kebijakan ekspor beras, gandum, dan gula yang cukup signifikan, serta daging sebagai komoditas pangan utama yang diekspor oleh India. Namun, karena efek El Nino dan pemilihan umum, pemerintah harus mengelola secara komoditas-komoditas tersebut,” ujar Malvika saat menerima Investortrust.id di kantor Kedutaan Besar India di Jakarta, Senin (15/1/2024).
Bantu Kebutuhan Pangan Indonesia sebagai Negara Sahabat
Namun demikian perubahan iklim dan kondisi geopolitik global tadi tak lantas membuat India benar-benar menutup diri untuk memasok sejumlah komoditas pangan terhadap negara yang membutuhkan, khususnya negara-negara sahabat dan mitra baik perdagangan India yang telah terjalin selama puluhan tahun.
“India selalu membuka diri untuk memberikan izin khusus ke negara-negara sahabat yang membutuhkan bantuan dalam keamanan pangan mereka, khususnya Indonesia,” kata Malvika. Dikatakannya, India membuka ekspor beras dua tahap untuk Indonesia di tahun ini, yakni pada bulan Juni dan November.
“Saya kira (administrasi) ekspor beras akan selesai pada Maret, mencapai 200 ribu metrik ton, beras putih yang digunakan untuk tujuan komersial,” ujarnya.
Disampaikan pula bahwa saat ini Pemerintah India tengah menjajaki potensi kesepakatan yang akan dituangkan dalam sebuah MoU (Memorandum of Understanding) terkait penyediaan beras putih untuk Indonesia. Disebutkan Malvika, ia berharap MoU tersebut dapat terwujud sehingga dari pihak India akan mengantongi perjanjian G2G (Government to Government) untuk mengekspor beras putih secara langsung ke Indonesia.
“Indonesia telah mengajukan permintaan untuk lebih banyak ekspor beras, gandum, dan gula. Sampai saat ini, itulah situasinya,” tutur Malvika.
Selain beras, gandum, dan gula, disampaikan Malvika bahwa Bulog juga telah setuju untuk mengimpor tambahan 50 ribu metrik ton daging dari India, yang akan dipasok untuk kebutuhan Ramadan di pasar Indonesia.
Terkait potensi kerja sama untuk memasok sejumlah bahan pangan asal India ke Indonesia sebagai salah satu negara sahabat, Federasi Organisasi Ekspor India (Federation of Indian Export Organisations - FIEO), sebuah organisasi ekspor terbesar India, membawa delegasi bisnis yang beranggotakan 37 orang dari India untuk menggelar pertemuan ‘Buyer and Seller Meet’ di Jakarta, pada Selasa, 16 Januari 2024.
Ajang business matching ini digelar atas kerja sama FIEO dengan Kedutaan Besar India di Jakarta, dan diselenggarakan di hotel JW Marriot, Jakarta. Acara dibuka oleh Dr Basir Ahmed selaku Deputi Chief of Mission dari Kedutaan India, dan dihadiri Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kementerian Perindustrian, Dyan Garneta.
Disampaikan Prashant Seth, Juru Bicara Deputi FIEO, Indonesia merupakan adalah mitra perdagangan terbesar keenam bagi India secara global, dan mitra perdagangan terbesar pertama di ASEAN dengan nilai perdagangan sekitar US$ 39 miliar pada tahun fiskal 2022-2023.
Menurut Prashant, hampir 20% ekspor India ke Indonesia masuk dalam kategori pangan dan pertanian. Untuk itu FIEO membawa para delegasi untuk menunjukkan kemampuan dan sekaligus berbagi pengalaman di sektor pangan dan agrikultur. Para delegasi dari seluruh India ini juga akan membawa berbagai produk termasuk rempah-rempah, buah & sayuran, sereal & kacang-kacangan, produk susu, selai kacang, gula aren, hingga makanan siap saji, yang berpeluang untuk diserap oleh masyarakat Indonesia.
Prashant juga menyatakan optimismenya bahwa inisiatif promosi ekspor semacam ini akan membantu mengurangi defisit perdagangan India yang saat ini sebesar US$ 19 miliar, akibat impor substansial batu bara, minyak kelapa sawit, dan lainnya.
Sementara itu Dr. Basir Ahmed menyebutkan bahwa selama bertahun-tahun, India dan Indonesia telah mengembangkan hubungan perdagangan dan ekonomi yang sangat dekat dan bersahabat berdasarkan rasa saling percaya dan hormat.
Dia mengatakan tahun 2024 juga akan menjadi momen peringatan 75 tahun hubungan diplomatik antara India dan Indonesia. Di tengah kondisi dunia yang sedang mengalami kekurangan pangan akibat perubahan iklim dan gangguan geopolitik, India sebagai mitra yang bersahabat dan memiliki latar belakang dukungan yang bersejarah, menawarkan dukungan yang bertujuan untuk ikut meniptakan ketahanan pangan di Indonesia. “Dengan meningkatkan kerja sama teknologi misalnya dalam meningkatkan produktivitas pertanian, menggunakan teknologi untuk memenuhi tantangan logistik dan meningkatkan nilai produk dan juga peningkatan akses ke pasar yang dapat membantu petani mendapatkan harga terbaik,” ujar Prashant dalam kata sambutannya.
Tawarkan Kerja Sama Pengembangan Produk Pangan
Dalam ajang ‘Buyer and Seller Meet’ di Jakarta, India lewat Federation of Indian Export Organisations – FIEO akan mencoba menawarkan kerja sama di bidang pengembangan produk pangan. Salah satunya adalah memaksimalkan difersifikasi bahan pangan dengan mengeksplorasi millet atau biji-bijian yang banyak dihasilkan di India.
Disampaikan Malvika, India sebagai salah satu negara pengekspor biji-bijan dunia, bisa menawarkan Indonesia untuk membudidayakan millet atau biji-bijian di Tanah Air. Salah satu jenis millet yang mulai populer di Indonesia adalah sorgum.
Seperti diberitakan, pemerintah Indonesia melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) memulai penanaman perdana sorgum pada pertengahn Juli tahun 2023 lalu di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Disampaikan Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi saat itu, penanaman sorgum merupakan salah satu upaya pemerintah Indonesia membangun tata kelola pangan terintegrasi hulu hilir dalam kerangka kesiapsiagaan krisis pangan.
Malvika menganggap apa yang telah dilakukan pemerintah Indonesia sudah tepat dengan mulai mencari diversifikasi pangan di luar beras, seperti millet jenis sorgum. India sendiri bisa berbagi ilmu soal budi daa sorgum yang baik, agar tingkat produktivitas per hektare dari areal penanaman sorgum bisa maksimal.
“Saya rasa India dan Indonesia memiliki geografi yang mirip, kondisi cuaca yang serupa, dan selera makan yang serupa. Jadi ada banyak hal di bidang pangan yang bisa kita lakukan bersama. Misalnya, belajar teknologi untuk meningkatkan produktivitas,” tuturnya.
Ia pun menyitir apa yang pernah disampaikan oleh Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi ketika Kedubes India menggelar Festival Millet ASEAN-India belulm lama ini. Saat itu Kepala Bapanas yang hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa ada dua hal yang sangat menarik dari ajang festival biji-bijian yang digelar pemerintah India.
“Pertama, India dan Indonesia dapat bekerja sama dalam pemupukan mikro yang dapat membantu meningkatkan produktivitas. Kedua, dia (Kepala Bapanas, red) mengatakan bahwa Indonesia bisa mempelajari teknologi yang digunakan India untuk meningkatkan produktivitas millet per hektarenya, dia senang bisa mengadopsi tanaman ini untuk diversifikasi,” kata Malvika mengutip pernyataan Kepala Bapanas RI.
Sementara itu dari sisi Indonesia, bisa memanfaatkan kelebihan ketersediaan buah-buahan eksostis asal dalam negeri untuk bisa dipasarkan ke India.
“Jadi ada seluruh rentang kerjasama yang mungkin bisa memenuhi kebutuhan ketahanan pangan kita, yang dapat memenuhi kebutuhan makanan sehat kita,” imbuhnya.
Di luar soal varietas pangan yang proses budi dayanya bisa didapat lewat transfer pengetahuan dari India, Indonesia juga bisa menggali ilmu soal penerapan teknologi demi meningkatkan kapasitas produksi produk pertanian, hingga perikanan.
Menurut Malvika, di India telah tumbuh begitu banyak startup-startup yang bergerak di sejumlah esktor industri, termasuk pangan. Setidaknya para pelaku usaha di Indonesia bisa memperdalam pemahaman mereka soal pentingnya dan potensialnya pengembangan startup yang bergerak di sektor pangan, atau yang menjadi pendukung pengembangan sektor pangan.
Benefit bagi Indonesia dan India
Sementara itu dalam kesempatan acara Buyer and Seller Meet’ B2B Event of Food & Agri Exporters to Indonesia pada Selasa (16/1/2024), Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Dyan Garneta mengatakan potensi perdagangan Indonesia dengan India masih prospektif, seiring dengan hubungan kedua negara yang saling membutuhkan khususnya di sektor bahan pangan.
“Potensinya masih cukup bagus, karena kita sama-sama butuh. Dari India butuh kita, begitu juga sebaliknya,” katanya kepada Investortrust.id
Dyan berharap, ke depannya potensi perdagangan antara Indonesia dan India dapat terus meningkat, salah satunya dipicu oleh acara B2B Event of Food & Agri Exporters to Indonesia. Namun demikian ia juga menyampaikan harapannya bahwa benefit akan dinikmati oleh dua pihak. “Kementerian Perindustrian berharap dua pihak yang meningkat ya, bukan cuma dari India saja tetapi juga dari dalam negeri kita juga bisa ekspor ke sana,” tuturnya.
Harapan yang sama juga disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman yang hadir sebagai salah satu pembicara. Ia berharap perdagangan dan investasi (trade and investment) antara Indonesia dengan India dapat terus ditingkatkan. Ia berharap para investor dari India menaruh dananya atau memindahkan produksi mereka ke Indonesia. “Jadi, kita open saja untuk peningkatan trade and investment,” ujarnya kepada Investortrust.id, usai acara B2B Event of Food & Agri Exporters to Indonesia, di Jakarta, Selasa (16/01/2024).
Adhi mengatakan, transaksi perdagangan khususnya di sektor makanan dan minuman (mamin) tidak bisa dibilang kecil. "Terkait perdagangan, pada 2022, jumlah ekspor makanan-minuman nonsawit ke India lebih dari US$ 290 juta. Sementara, nilai impor untuk sektor yang sama mencapai US$ 800 juta,” ucap Adhi.
Perihal kerja sama investasi, lanjut Adhi, masih perlu ditingkatkan. Ia berharap investor India bisa berinvestasi untuk memproduksi berbagai produk mamin di sini.
Pada dasarnya, kedua pihak baik India dan Indonesia berharap ajang ‘Buyer and Seller Meet’ di Jakarta, selama dua hari pada 16 – 17 Januari 2024 ini bisa membuka cakrawala pelaku usaha dari dua negara sahabat ini, untuk saling mengembangkan potensi pangan masing-masing negara, sekaligus mendukung proses penciptaaan skema ketahanan pangan di dua negara.

