Kebijakan DHE akan Dorong DPK dan Rupiah Menguat, Asing Antusias Akuisisi Bank di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Pemberlakuan kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) yang wajib disimpan dulu di dalam negeri berdampak positif pada perbankan dan stabilisasi rupiah, yang diproyeksikan menguat kembali akhir tahun ini. Prospek perbankan Indonesia yang cerah ditambah menguatnya transaksi digital mendorong investor asing antusias mengakuisisi bank-bank di Indonesia.
“Antusiasme asing untuk mengakuisisi bank di Indonesia tinggi, lantaran negara ini memiliki potensi ekonomi yang besar, termasuk dalam hal transaksi digital. Mengacu Kemenko Perekonomian triwulan I-2023, 40% nilai transaksi digital di ASEAN berasal dari Indonesia. Pada prinsipnya, kami membuka kesempatan investor masuk ke perbankan RI dalam rangka memperkuat permodalan, untuk mendukung dan menjaga pertumbuhan bank berkelanjutan. Ini termasuk kepada investor bank dengan fokus bisnis layanan perbankan digital,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan Dian Ediana Rae dalam keterangan pada Sabtu (09/09/2023) malam.
Baca Juga
Sementara itu, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2023 yang ditetapkan Presiden Joko Widodo, eksportir SDA wajib memasukkan dulu DHE ke dalam sistem keuangan Indonesia. Beleid ini diberlakukan efektif per 1 Agustus tahun ini.
Secara umum, pemberlakuan kebijakan DHE positif terhadap dana pihak ketiga (DPK) valas perbankan, karena akan merepatriasi (membawa pulang) sebagian dana hasil ekspor ke perbankan domestik. Kebijakan DHE tersebut akan berdampak positif menambah supply valas domestik atau meningkatkan likuiditas valas dan membantu memperkuat cadangan devisa Indonesia, yang nantinya juga menopang stabilisasi nilai tukar rupiah. Selain itu, berpotensi mendorong aktivitas dan meningkatkan variasi produk berbasis ekspor (valas), serta kegiatan jasa sektor keuangan lainnya seperti letter of credit (L/C) dan asuransi ekspor.
“Apabila DHE tersebut dikonversi ke rupiah, juga berdampak positif dalam memperkuat dan mendorong pendalaman pasar keuangan. Dapat kami informasikan pula, DPK perbankan tumbuh 6,62% (yoy) pada Juli 2023, lebih besar dari 5,79% pada Juni 2023. Bahkan, untuk DPK valas tumbuh 14,39% (yoy) pada Juli 2023, lebih besar dari 11,42%(yoy) pada Juni 2023 maupun 7,49% (yoy) pada Juli 2022,” tandas Dian.
Cukup tingginya pertumbuhan DPK valas tersebut, lanjut Dian, juga didukung peningkatan porsi kepemilikan asing pada pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham dalam setahun ini.
Naik 2 Kali Lipat
Dian menjelaskan, dukungan OJK terhadap kebijakan DHE antara lain berupa arahan langsung kepada para jajaran direksi perbankan umum agar memberi dukungan penempatan DHE SDA dari eksportir di bank. Ini misalnya bisa mendapatkan agunan tunai atau cash collateral, sepanjang memenuhi persyaratan agunan tunai sebagaimana ketentuan terkait kualitas aset.
Sementara itu, Ekonom Senior Bank Mandiri Faisal Rachman mengatakan sebelumnya, Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2023 tentang DHE SDA berpotensi menyumbang US$ 12-15 miliar pada cadangan devisa (cadev) Indonesia periode Agustus-Desember 2023. Hal ini berpotensi mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
“Sejak diterapkannya kebijakan DHE SDA tersebut, ada peningkatan volume transaksi deposito operasi pasar terbuka (OMO) dalam mata uang asing sebesar US$ 535 juta pada Agustus 2023. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dibandingkan rata-rata transaksi pada periode Maret-Juli 2023 yang tercatat senilai US$ 228,45 juta,” papar Faisal sebagaimana dilansir Antara.
Selain itu, terjadi pergeseran tenor deposito dari yang semula rata-rata berdurasi satu bulan, menjadi tiga bulan. Perkembangan itu berpotensi memberikan manfaat dalam menstabilkan nilai tukar rupiah ke depan, di tengah masih tingginya risiko pasar keuangan global.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) merilis laporan posisi cadangan devisa (cadev) RI pada akhir Agustus 2023 sebesar US$ 137,1 miliar, menurun dibandingkan posisi akhir Juli 2023 sebesar US$ 137,7 miliar. Dalam keterangan resmi, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menyampaikan, penurunan cadev antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah, sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Namun demikian, BI menilai cadev tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan RI. Cadev ini setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Kurs di Bawah Rp 15.000/US$
Faisal menjelaskan lebih lanjut, sepanjang Agustus 2023, Indonesia berada di bawah tekanan ketidakpastian pasar keuangan global. Tren inflasi yang terus-menerus tinggi di tingkat global turut memberikan pengaruh mendorong perbankan mempertahankan suku bunga di level yang tergolong tinggi.
Hal itu meningkatkan volatilitas nilai tukar rupiah dan pasar portofolio. Namun demikian, lanjut dia, di tengah tekanan pasar keuangan global, cadev RI diproyeksikan tetap berada pada tingkat yang aman, dengan perkiraan antara US$ 135-150 miliar pada akhir 2023.
"Potensi cadev tersebut akan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Nilai tukar rupiah kemungkinan akan berada pada kisaran Rp 14.864 per dolar AS pada akhir tahun 2023," imbuhnya.

