Tiga Teror Inflasi: Greenflation, Climateflation, dan Fossilflation
JAKARTA, investortrust.id -- Dalam debat cawapres, Minggu (21/01/2024), calon pasangan 02 Gibran Rakabuming melontarkan pertanyaan ‘rada canggih’ kepada calon pasangan 03 Mahfud MD, yakni bagaimana strategi mengatasi greenflation. Jawaban Mahfud yang dinilai Gibran kurang memuaskan ini berubah menjadi rentetan perdebatan riuh dan “saling ejek”.
Topik inflasi hijau (green inflation atau disingkat greenflation) sangat aktual dan menarik belakangan ini, seiring gencarnya dunia mewujudkan energi bersih (hijau) sebagai jalan menuju netral karbon (net zero emission) 2060. Inflasi hijau mencuat karena kenaikan harga energi telah menyebabkan kerusuhan sosial dan masalah ekonomi di banyak negara, terutama Eropa.
Selama sekitar 400 tahun, inflasi telah dipahami sebagai kenaikan harga. Sedangkan inflasi hijau sebenarnya adalah inflasi di mana terjadi kekurangan konsumsi atau peningkatan harga bahan bakar fosil.
Memanasnya tensi geopolitik serta masalah rantai pasokan dan kelangkaan semikonduktor saat ini menghasilkan inflasi yang akan diperkuat oleh harga energi, yang kemudian dipicu di masa depan oleh harga CO2.
Konsep green inflation pertama kali mencuat dalam Konferensi Tahunan UKSIF (Asosiasi Investasi dan Keuangan Berkelanjutan Inggris) tahun 2021.
Pakar Jerman Volkmar Baur dan Janis Blaum dalam artikel di Union Investment bertajuk “Greenflation” menyebut bahwa transisi menuju dunia yang ramah iklim akan berkontribusi terhadap kenaikan inflasi dalam beberapa tahun ke depan. Namun, dia berpendapat bahwa inflasi hijau hanyalah satu faktor yang berada di balik kenaikan harga. Aktor terbesar pemicu inflasi adalah climateflation dan fossilflation.
Dalam beberapa dekade terakhir, harga-harga memang meroket di seluruh belahan dunia, dengan tingkat inflasi mencapai level tertinggi. Harga gas alam di Eropa sempat menembus lebih dari dua kali lipat selama 2022 akibat ketidakpastian pasokan.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan apakah dunia sekarang terjebak dalam lingkaran inflasi energi. Jika saat ini inflasi didorong oleh energi coklat yang mahal, tidak lama lagi akan digantikan oleh energi hijau dan kebijakan iklim secara umum.
Indonesia sendiri cukup tertatih-tatih dalam mewujudkan energi hijau. Skenario bauran energi agar porsi energi baru terbarukan (EBT) terus meningkat ternyata belum memenuhi harapan, alias meleset dari target.
Tiga Bersaudara
Isabel Schnabel, anggota Dewan Eksekutif Bank Sentral Eropa (ECB), mengumumkan bahwa ECB akan memantau dengan cermat biaya-biaya untuk melawan perubahan iklim dan dampaknya terhadap inflasi. Volkmar Baur tidak menganggap kemungkinan bahwa greenflation secara signifikan akan mendorong kenaikan harga.
Secara prinsip dasar, greenflation dapat dipahami sebagai komponen inflasi yang disebabkan secara khusus oleh transisi ke dunia yang lebih ramah lingkungan. Inflasi hijau memiliki dua saudara dekat, yaitu climateflation (inflasi yang dipicu oleh perubahan iklim) dan fossilflation (inflasi yang dipicu kenaikan harga energi atau bahan bakar fosil).
Isabel Schnabel menyebut ketiga dimensi ini sebagai tiga gejolak yang berbeda namun saling terkait yang diprediksi dapat menyebabkan tekanan inflasi yang berkepanjangan.
Climateflation menggambarkan fenomena di mana kenaikan harga dipicu oleh perubahan iklim yang sudah terjadi, yaitu biaya langsung dari perubahan iklim. Misalnya, kenaikan harga ketika terjadi gagal panen karena gelombang panas atau jika produksi terganggu karena badai. Masalah logistik juga termasuk dalam kategori ini.
Sedangkan fossilflation merujuk pada kenaikan harga yang dapat dikaitkan dengan harga bahan bakar fosil yang lebih tinggi, tetapi dengan komponen harga yang dipicu oleh langkah-langkah regulasi, seperti izin emisi dan pajak serta bea lainnya.
Data empiris memperlihatkan bahwa saat ini fossilflation merupakan faktor utama yang mendorong inflasi. Sejak April 2021, harga energi dari bahan bakar fosil yang lebih tinggi secara konsisten menyumbang lebih dari setengah dari seluruh inflasi di zona Euro.
Sedangkan efek climateflation paling jelas terlihat dalam sektor makanan dan jasa.
Nah, mengukur greenflation lebih sulit karena dampaknya jarang dapat dipastikan secara langsung. Greenflation lebih berkaitan dengan kenaikan harga yang disebabkan oleh biaya tambahan yang dikenakan secara eksternal dan dari penyesuaian rencana pengeluaran perusahaan.
Empat Pemicu Greenflation
Volkmar Baur dan Janis Blaum membedakan empat faktor yang mendorong greenflation, dan beberapa faktor di antaranya saling tumpang tindih.
Pertama, regulasi. Jumlah peraturan dan persyaratan regulasi telah meningkat selama beberapa tahun terakhir, terutama di sektor lingkungan. Kepatuhan terhadap aspek lingkungan, misalnya untuk membatasi emisi berbahaya, telah memberatkan bisnis dengan biaya yang lebih tinggi. Investasi modal menjadi kurang menguntungkan dibandingkan dalam dunia tanpa pembatasan seperti itu.
Kini, mengusahakan bahan baku energi baru menjadi terlalu mahal. Hal ini membuat pasokan menurun bahkan langka, sehingga harga melejit. Namun, dalam perkembangan terkini, regulasi pun bisa diubah kembali demi kondisi darurat, seperti diizinkannya pembangkit listri batu bara di Eropa yang dianggap teknologi masa lalu.
Kedua adalah internalisasi biaya eksternal. Hingga beberapa tahun yang lalu, CO₂ tidak memiliki harga nyata yang dapat dihitung. Pajak karbon terasa seperti mimpi yang jauh dan perdagangan emisi masih terbatas. Perusahaan dapat mengeluarkan gas rumah kaca tanpa biaya sama sekali. Dalam istilah ekonomi, itu adalah eksternalitas yang ditanggung oleh semua orang, termasuk sektor korporat. Sekarang, bisnis di banyak industri harus membayar pajak karbon atau membeli izin emisi jika mereka ingin mengeluarkan CO₂. Biaya ini diinternalisasi dan jika memungkinkan, diteruskan kepada pelanggan dalam harga produk.
Faktor ketiga, investasi lebih besar dalam teknologi masa depan. Kendala eksternal seperti target emisi karbon yang lebih ketat mewajibkan bisnis harus berinvestasi dalam proses dan struktur baru. Akibatnya, biaya tetap meningkat, dan dibebankan kepada pelanggan, sehingga inflasi pun meningkat.
Keempat, ketidakseimbangan pasokan dan permintaan. Pasokan komoditas tidak dapat dengan mudah ditingkatkan ketika ada lonjakan permintaan di pasar. Saat ekonomi beralih ke jalur yang lebih hijau, komoditas logam seperti tembaga, nikel, dan lithium akan sangat dicari, sehingga harganya meroket.
Perspektif ke Depan
Pertanyaannya, seberapa lama greenflation dapat menjadi pendorong inflasi utama. Apakah perang melawan perubahan iklim akan membuat inflasi secara struktural lebih tinggi di masa depan?
Menurut Volkmar Baur dan Janis Blaum, greenflation akan berlanjut selama beberapa tahun, jika bukan beberapa dekade. Ketika berbicara tentang komoditas yang diperlukan untuk peralihan ke ekonomi hijau, pasar kadang meremehkan permintaan yang meningkat. Regulasi yang lebih ketat manambah beban karena faktor input lainnya menjadi lebih mahal. Semua faktor kenaikan produksi itu bagaimanapun akan dibebankan kepada konsumen.
Perspektif kontribusi inflasi dari bahan bakar fosil minyak, gas, dan batu bara lebih rumit, dan harganya diprediksi terus meningkat. Regulasi lingkungan yang meningkat akan menyebabkan kekurangan investasi di sektor tersebut. Namun, bahan bakar fosil bakal menghadapi titik kritis dalam jangka menengah. Begitu energi terbarukan tersedia dalam jumlah yang cukup, permintaan bahan bakar fosil akan turun tajam, begitu juga harganya.
Itulah sebabnya, greenflation kemungkinan besar belum terlihat secara keseluruhan dibandingkan fossilflation akibat fluktuasi dan lonjakan harga energi fosil yang tetap mendominasi terhadap tingkat inflasi. Namun, greenflation tetap akan tercermin dalam harga barang dan jasa yang diproduksi.
Uraian di atas memberikan pemahaman bahwa perpektif ke depan, dunia akan dihantui tiga teror inflasi yang berjalan beriringan: greenflation, climateflation, dan fossilflation. ***

