Potensi Kenaikan NIM Membuat Saham BBNI Jadi Incaran
JAKARTA, investortrust.id – Keberhasilan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatatkan peningkatan laba bersih karena didukung laju pertumbuhan kredit yang kian kuat menjadi sentiment positif terhadap prospek perseroan sampai akhir tahun. Tak hanya itu, potensi kenaikan NIM menjadikan saham BBNI difavoritkan sejumlah analis dan mereka merevisi kenaikan target harga.
BNI berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih sebanyak 15% dari Rp 13,69 triliun menjadi Rp 15,75 triliun. Peningkatan tersebut sejalan dengan kenaikan pendapatan bunga bersih dari Rp 30,19 triliun menjadi Rp 31,13 triliun.
Peningkatan laba diperkuat pula oleh penurunan biaya provisi dari Rp 8,90 triliun menjadi Rp 6,72 triliun hingga September 2023. Hal ini menjadikan laba operasi sebelum provisi (PPOP) BNI merangkak naik dari Rp 25,80 triliun menjadi Rp 26,26 triliun.
BNI juga mencatatkan kenaikan kredit sebesar 8% serta dana pihak ketiga tumbuh 9% dengan kenaikan simpanan berjangka mencapai 18%. Selain itu, NPL turun dari 3,04% menjadi 2,27%, dan biaya kredit juga turun dari 2% menjadi 1,4%.
Mandiri Sekuritas dalam riset hariannya memberikan pandangan positif atas keberhasilan BNI kembali mencatatkan pertumbuhan kredit yang kuat pada kuartal III-2023 dan pendapatan nonbunga yang berangsur-angsur meningkat.
PPOP juga mulai mencatatkan pertumbuhan kuat pada kuartal III-2023. Kondisi serupa diharapkan berlanjut hingga kuartal terakhir tahun ini dan diharapkan dapat membuat return on equity (ROE) tetap kuat di tengah kenaikan tingkat suku bunga. Apresiasi juga disematkan ke BNI atas kemampaunnya dalam menurunkan kredit bermasalah (NPL) menjadi 2,27% hingga kuartal III-2023.
Berbagai faktor tersebut mendorong Mandiri Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga Rp 5.750. Target tersebut telah memperhitungkan keberhasilan perseroan menekan biaya kredit dan potensi pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang stabil hingga kuartal III-2023.
Mandiri Sekuritas menargetkan kenaikan laba bersih BNI menjadi Rp 21,50 triliun tahun ini dan pendapatan bunga diharapkan naik menjadi Rp 63,03 triliun. Sedangkan PPOP diproyeksikan bertumbuh menjadi Rp 36,05 triliun.
Pandangan positif terhadap performa keuangan BNI juga datang dari analis Samuel Sekuritas Indonesia Prasetya Gunadi dan Brandon Boedhiman. Menurut mereka, realisasi kinerja keuangan perseroan sampai kuartal III-2023 telah sesuai dengan estimasi.
“Raihan laba bersih tersebut setara dengan 76,7% dari target kami dan merefleksikan 75,6% dari konsensus analis. Penguatan laba didukung penurunan biaya provisi dan biaya kredit. Begitu juga dengan kenaikan pendapatan bunga bersih dan terlihat perbaikan kualitas aset yang dibuktikan penurunan LAR (loan at risk) menajdi 14,4%,” tulis riset Samuel Sekuritas.
Untuk keseluruhan tahun 2023, Samuel Sekuritas menyebutkan, BBNI menyatakan akan mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit sebesar 7-9% dengan segmen korporasi swasta tier 1 sebagai pendorong utama. Kualitas masih akan menjadi fokus utama BBNI di masa mendatang.
BNI juga berkomitmen kuat untuk mempertahankan margin bunga bersih (NIM) pada level saat ini, meskipun tekanan dari biaya dana (CoF) mungkin terus berlanjut sampai penghujung tahun setelah kenaikan suku bunga BI sebesar 25bps. Samuel Sekuritas menyebut BNI masih memiliki ruang untuk meningkatkan imbal hasil kredit dengan upaya menekan biaya kredit.
Hal ini mendorong Samuel Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga Rp 5.750. “Target tersebut didukung keyakinan bahwa BNI akan mampu meningkatkan manajemen risikonya, terutama untuk sektor wholesale dan UKM. Perseroan juga akan fokus terhadap peningkatan kualitas aset,” terangnya.
Revisi Naik
Sementara itu, analis CGS CIMB Sekurita Own Tjandra, Utami Ratnasari, dan Handy Noverdanius memilih untuk merevisi naik target kinerja keuangan dan saham BBNI. “Revisi naik target harga tersebut mempertimbangkan perkiraan pertumbuhan kredit dan NIM yang lebih tinggi, dibandingkan estimasi semula,” terangnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, Rabu (01/11/2023).
Hal ini mendorong CIMB Sekuritas merevisi naik target harga saham BBNI dari Rp 5.650 menjadi Rp 5.900 dengan rekomendasi dipertahankan add. Target harga tersebut sudah memasukkan asumsi pertumbuhan kredit dan NIM lebih pesat, dibandingkan perkiraan semula.
Terkait pertumbuhan kredit sebesar 7,8% sampai September 2023, perolehan tersebut sudah sesuai dengan perkiraan manajemen dalam rentang 7-9%. Pertumbuhan kredit tersebut didukung kredit korporasi swasta, enterprise banking, dan konsumer. Tingkat pertumbuhan diprediksi terus berlanjut sampai tahun depan.
CIMB Sekuritas optimistis BNI mampu menaikkan NIM karena didukung realita bahwa hampir seluruh yield kredit perseroan menunjukkan peningkatan 24 bps menjadi 7,9% pada kuartal III-2023. Perseroan juga memiliki peluang lebih lanjut untuk menaikkan tingkat bunga kredit, sehingga diharapkan berimbas positif terhadap NIM.
Potensi penguatan kredit dan NIM tersebut mendorong CIMB Sekuritas merevisi naik target harga saham BBNI dari Rp 5.650 menjadi Rp 5.900. Target tersebut merefleksikan perkiraan kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 21,23 triliun tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu sebesar Rp 18,31 triliun.
Prospek saham BBNI
CGS CIMB Sekuritas
Rekomendasi : add
Target harga : Rp 5.900
Samuel Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 5.750
Mandiri Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga : Rp 5.750
Akselerasi Kredit
Sementara itu, Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menyatakan, BNI telah mengantisipasi perubahan besar kondisi global dalam satu- dua bulan terakhir, terutama terkait dengan peningkatan risiko geopolitik, tingginya imbal hasil obligasi di Amerika Serikat, dan perlambatan ekonomi di Tiongkok. BNI telah mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga kinerja tetap solid.
“Program transformasi yang dijalankan secara disiplin serta strategi pertumbuhan yang selektif dan terukur yang diambil, telah mampu menuntun perseroan untuk memberikan pendapatan yang optimal bagi para shareholder serta menjalankan fungsi intermediasi dengan baik,” kata Royke saat memaparkan kinerja keuangan hingga akhir September 2023, Selasa (31/10/2023).
Royke menyebut akselerasi kredit di kuartal III dengan pertumbuhan 7,8% (yoy) membuat laba bersih BNI naik tinggi. Akselerasi kredit terjadi di segmen berisiko rendah, yaitu korporasi blue chip baik swasta dan BUMN, kredit konsumer, dan perusahaan anak.
Itulah yang membuat NPL dan LAR menurun. Perbaikan kualitas aset membuat BNI dapat mengurangi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN), sehingga biaya kredit dapat ditekan dari 2,0% menjadi 1,4% (yoy). Meski tren suku bunga naik, biaya bunga dana (CoF) bisa ditekan ke 2%.
Royke mengungkapkan pula, kuatnya permodalan (CAR) di level 21,9% memberikan BNI kemampuan untuk memenuhi kebutuhan ekspansi bisnis dan investasi BNI group.
“Melalui agenda transformasi berkelanjutan, perseroan telah berhasil melakukan reorganisasi yang diharapkan membangun pola kerja yang lebih agile, kolaboratif, dan cermat dalam mengelola risiko,” kata Royke.
Direktur Finance BNI Novita Widya Anggraini menambahkan, akselerasi kredit dilakukan dengan tetap mengedepankan asas kehati-hatian. Kredit segmen korporasi swasta blue chip tumbuh 19,2% (yoy) menjadi Rp 251,6 triliun, diikuti segmen enterprise, yang merupakan direct value chain dari nasabah korporasi tersebut, tumbuh 10,2% menjadi Rp 57,4 triliun.
Segmen konsumer tumbuh 12,7% menjadi Rp 119,5 triliun, yang dikontribusikan terutama dari pertumbuhan personal loan dan kredit pemilikan rumah (KPR). Sementara itu, secara gabungan, perusahaan anak mencatatkan pertumbuhan kredit 94,3% (yoy), sebagai dampak transformasi bisnis yang mulai berjalan.
"Kami melihat bahwa kinerja top line yang baik merupakan dampak dari upaya berkelanjutan yang kami lakukan melalui implementasi program transformasi. Kami optimis untuk dapat terus mempertahankan momentum pertumbuhan bisnis dan mencapai target bisnis tahun ini," jelas Novita.
Untuk kredit restrukturisasi, Direktur Risk Management BNI David Pirzada menyatakan, posisinya tinggal tersisa Rp 33,2 triliun atau 5% dari total kredit. "Kami tetap konservatif dalam hal pembentukan pencadangan, sehingga kami yakin lebih siap dalam menghadapi periode berakhirnya program stimulus OJK tahun depan," ujarnya.
Selanjutnya, sebagai bank pionir Green Banking dan motor penggerak pelaksana keuangan berkelanjutan (Sustainable Finance) di Indonesia, BNI telah mengucurkan pinjaman Kategori Kegiatan Usaha Berkelanjutan (KKUB) sebesar Rp 178,9 triliun atau 27% dari total portofolio kredit BNI.
"Kami menawarkan pricing yang menarik sebagai insentif bagi debitur dalam rangka meningkatkan pencapaian aspek ESG dalam bisnis mereka. Kami ingin terus meningkatkan inisiatif tersebut agar menjadi bank dengan praktik ESG terbaik di Indonesia," kata David.
Kinerja Digital
Sedangkan Wakil Direktur Utama BNI Adi Sulistyowati memaparkan, kinerja digital banking perseroan yang tumbuh positif didukung oleh inovasi digital untuk menjawab kebutuhan nasabah yang semakin beragam. Perseroan tidak hanya menghadirkan solusi keuangan yang inovatif bagi nasabah, tetapi juga terus memperkuat kapasitas dan kapabilitas layanan digital.
Hal ini terlihat pada jumlah pengguna BNI Mobile Banking hingga September 2023 yang meningkat 20,9% (yoy) menjadi 15,6 juta, diikuti peningkatan jumlah transaksi sebesar 75,3% menjadi 738 juta transaksi dengan nilai Rp 874 triliun. “Pencapaian ini sejalan dengan strategi BNI untuk menjadikan BNI Mobile Banking sebagai One Stop Financial Solutions bagi nasabah ritel,” kata Susi.
Untuk itu, BNI akan terus memperluas layanan dengan mengoptimalkan ekosistem BNI Group, membangun kemitraan strategis, terutama dalam mengoptimalkan ekosistem transaksi mitra korporasi dalam negeri hingga mitra global untuk menjawab kebutuhan nasabah di era digital banking saat ini.
Selain itu, BNI memiliki platform BNIDirect yang menjadi solusi total bagi nasabah bisnis. Hingga September 2023, jumlah pengguna layanan Cash Management BNI (BNIDirect) tumbuh 24,9% (yoy) menjadi 152.600 user, dengan pertumbuhan volume transaksi 17,2% atau setara Rp 5.017 triliun, dari 745 juta transaksi. (Hari Gunarto)

