Inilah Sederet Pencapaian Self Regulatory Organization (SRO)
JAKARTA, investortrust.id – Self Regulatory Organization (SRO) telah menorehkan sejumlah pencapaian sepanjang tahun ini. Mulai dari rekor baru perusahaan yang tercatat (listed) di Bursa Efek Indonesia (BEI), penambahan jumlah investor, serta peluncuran sejumlah produk derivatif.
Bursa Efek Indonesia juga berupaya untuk menyeleksi lebih ketat calon emiten sehingga perusahaan yang tercatat benar-benar memiliki kualitas sesuai standar. Pencapaian spektakuler lainnya adalah diluncurkannya Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) oleh Presiden Joko Widodo, Selasa (26/09/2023) lalu. Izin usaha Penyelenggara Bursa Karbon telah diberikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Demikian sejumlah pencapaian SRO yang terungkap pada acara Editor in Chief Gathering 2023 di Jakarta, Rabu malam, (4/10/2023). Acara yang digelar oleh SRO ini dibuka oleh Djustini Septiana, Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, dan Pemeriksaan Khusus OJK. Hadir pada acara ini Dirut PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Dirut PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Samsul Hidayat, Dirut PT Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) Iding Pardi, para direksi BEI, dan komisaris BEI.
Rekor Listing
Prestasi pertama adalah dari sisi jumlah pencatatan saham (listing) perusahaan baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mencetak rekor terbanyak sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. Sejak awal tahun 2023 hingga 5 Oktober 2023 (year to date/ytd), terdapat 66 perusahaan telah mencatatkan sahamnya di BEI. Jumlah tersebut sudah sama dengan jumlah perusahaan tercatat di sepanjang tahun 1990.
Baca Juga
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman, mengatakan, pada Jumat (6/10/2023), BEI kedatangan dua perusahaan tercatat baru, sehingga total pencatatan saham baru akan mencapai 68 perusahaan hingga akhir pekan ini. Adapun total jumlah emiten yang sahamnya tercatat di BEI mencapai 890 perusahaan.
Kedua saham pendatang baru tersebut adalah PT Kokoh Exa Nusantara Tbk (KOCI) dan PT Sumber Sinergi Makmur Tbk (IOTF). Artinya BEI berhasil memecahkan rekor pencatatan saham baru sepanjang tahun, setelah penantian 33 tahun.
Selain memecahkan rekor, BEI juga berhasil menempatkan diri sebagai bursa dengan jumlah pencatatan saham baru terbanyak kedua se-ASEAN, setelah Bursa Malaysia. “Untuk skala global, kita nomor 5 terbanyak dunia dari sisi jumlah perusahaan tercatat sepanjang tahun ini,” papar Iman.
BEI menyebut, dari 68 perusahaan tercatat sepanjang tahun ini, dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp 49,60 triliun.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmadi mengatakan, jumlah pencatatan tersebut melampaui rekor pencatatan saham perdana sebelumnya yang terjadi pada tahun 1990, sebanyak 66 pencatatan saham perdana.
Menurut Kautsar, rekor pencatatan ini juga mengukuhkan posisi BEI yang secara konsisten menjadi Bursa dengan jumlah pencatatan saham perdana terbanyak di ASEAN sejak tahun 2018. Dari 68 pencatatan saham baru pada 2023 ini, sebanyak 86,7% perusahaan tercatat berasal dari Pulau Jawa bagian barat, yaitu 42 perusahaan berlokasi di DKI Jakarta, yang kemudian diikuti oleh Banten sejumlah 9 perusahaan, dan Jawa Barat sejumlah 8 perusahaan.
Baca Juga
BEI Resmi Cetak Rekor IPO Terbanyak, Dana Terhimpun Tembus Rp 49,60 Triliun
BEI berharap perusahaan dari seluruh Indonesia dapat bertumbuh secara berkesinambungan melalui pasar modal Indonesia dengan melakukan go public atau penerbitan efek lainnya.
Adapun jika ditinjau dari jenis usaha, perusahaan tercatat baru didominasi oleh usaha dengan klasifikasi sektor Consumer Cyclicals sebanyak 12 perusahaan tercatat. Beberapa sektor lain yang mendominasi adalah sektor Technology sebanyak 9 perusahaan tercatat serta sektor Consumer Non-cyclicals, sektor Industrial dan sektor Properties & Real Estate, dengan masing-masing sebanyak 8 perusahaan tercatat.
Ditinjau dari sisi skala usaha, mayoritas perusahaan tercatat baru pada tahun 2023 berhasil melantai di Bursa di Papan Pengembangan sejumlah 34 perusahaan, kemudian di Papan Utama sejumlah 19 perusahaan di Papan Akselerasi sejumlah 15 perusahaan.
Selain 68 perusahaan yang sudah tercatat, saat ini masih terdapat 28 perusahaan potensial di pipeline pencatatan saham di BEI yang berasal dari berbagai sektor. Tiga sektor terbanyak adalah sektor Consumer Non-Cyclicals sebanyak 6 perusahaan, sektor Energy sebanyak 5 perusahaan, serta sektor Basic Material sebanyak 4 perusahaan.
“BEI berharap akan semakin banyak perusahaan yang mempercayakan pertumbuhan dan perkembangannya melalui pendanaan di pasar modal Indonesia dari berbagai sektor dan ukuran Perusahaan,” pungkasnya.
Kinerja IHSG
Jika ditinjau dari sisi kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dalam setahun terakhir hanya naik kurang dari 2% atau bisa dikatakan stagnan.
Baca Juga
Tingkatkan Kualitas Saham Listing, Dirut BEI Iman Rachman Paparkan Skenario Ini
Iman Rachman menyebut, pada 22 September 2022 IHSG sempat menyentuh all time high ke level 7.318. Penguatan IHSG kala itu mampu mendongkrak nilai kapitalisasi pasar di BEI hingga mencapai Rp 10.400 triliun.
Sayangnya, ketidakpastian global akibat lonjakan inflasi dan kenaikan suku bunga memupus optimisme pemodal, membuat IHSG terpaksa mengalami tren penurunan.
Saat ini IHSG tampak masih berupaya menggapai level 6.900, posisi yang terakhir dicapai pada 29 September 2023. Penurunan IHSG yang terjadi membuat nilai kapitalisasi pasar saham juga turun dari posisi tertinggi Rp 10.400 triliun. “Saat ini kapitalisasi pasar kita sekitar Rp 10.000 triliun,” papar Iman.
Iman mengakui, tekanan sentimen global juga berpengaruh pada penurunan aktivitas transaksi pemodal. BEI pernah mencatat rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) sebesar Rp 14,7 triliun “Tapi penurunan ini bukan hanya terjadi di pasar modal kita, tapi juga terjadi di seluruh bursa saham dunia,” terang Iman Rachman.
Kendati begitu, Iman menilai, optimisme pemodal mulai kembali meningkat. Saat ini menurut Iman, RNTH sudah mulai meningkat menjadi Rp 10,5 triliun, bandingkan dengan posisi RNTH di akhir tahun 2022 sebesar Rp 10,3 triliun.
Sementara dari sisi frekuensi dan volume diakui Iman masih mengalami penurunan dibandingkan posisi akhir tahun 2022, di mana di mana secara year to date BEI mencatat frekuensi sebanyak 1,7 juta transaksi perhari dengan volume sebanyak 18,9 miliar saham per hari.
Dari sisi kapitalisasi pasar (market cap), Iman megatakan, saat ini tercatat lebih dari Rp 10.000 triliun, di mana pernah mencapai Rp 10.400 triliun pada 22 September 2023.
Mengenai frekuensi dan volume perdagangan di BEI, dia mengatakan memang ada penurunan dibandingkan dengan akhir tahun di mana secara year to date 1,7 juta transaksi per hari, dan volume 18,9 miliar saham per hari
Kualitas Emiten
Sementara itu, Iman Rachman menegaskan bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan sejumlah langkah untuk menyaring banyak emiten berkualitas masuk bursa. Hal ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan investor saham ke depan.
“Pertama-tama saat menjabat sebagai direksi BEI, kami kualitas emiten yang masuk bursa menjadi perhatian kami, karena memang hal tersebut bertujuan untuk menjaga kepercayaan investor bertransaksi,” kata Iman.
Berdasarkan pengamatan, dia melanjutkan, penyaringan awal emiten berkualitas dilakukan saat mengajukan listing. Oleh karena itu, emiten yang berniat listing saham diminta untuk membuat research report untuk dinilai BEI dan OJK.
Baca Juga
Kelola Dana Jaminan Rp 7,4 Triliun, KPEI Terus Berupaya Ciptakan Efisiensi Transaksi
“Dari 66 emiten perusahaan yang listing hingga saat ini (4/10/2023) setara dengan 70% dari jumlah emiten yang mengajukan listing. Artinya sebanyak 30% perusahaan yang berniat listing tidak disetujui dengan alasan suistainibilitas,” terangnya.
Apabila harga saham saat listing naik hingga kemahalan, terang dia, memang itu adalah mekanisme pasar supply dan demand. Sedangkan saat sudah masuk bursa, dia mengatakan, BEI melakukan pengawasan secara optimal, seperti menerapkan suspensi bagi saham-saham yang tiba-tiba melesat dan turun. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan pemodal dalam bertransaksi.
“Kita sadar bahwa ada 11 juta investor dan terdiri atas 5 juta investor saham. Jangan sampai investor tersebut kapok bertransaksi di pasar modal ke depan,” terangnya.
Luncurkan Derivatif
Iman mengatakan, BEI juga menerapkan solusi bagi pemodal yang harga sahamnya sedang jatuh melalui pasar derivatif. Saat harga saham turun, investor bisa menggunakan derivatif sebagai hedging, bukan spekulasi.
BEI sebelumnya sudah meluncurkan waran terstruktur sebagai derivatif dengan nilai transaksi terus meningkat. Tahun depan, dia mengatakan, BEI akan memperkenalkan single stock future. “Mudah-mudahan derivatif ini bisa diluncurkan pada kuartal I-2024. Single stock future akan menjadi alat hedging maupun alternatif investasi bagi investor,” kata dia.
Jumah Investor
Total investor produk keuangan di Indonesia terus bertambah, menembus 15,86 juta SID atau naik 12,62% year to date (ytd). Dari jumlah itu, sebanyak 4,13 juta SID merupakan peserta program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).
“Total SID yang sudah di-produced itu sekitar 15,86 juta. Dari angka ini, investor pasar modal sebanyak 11,73 juta (tumbuh 13,76% ytd),” kata Samsul Hidayat.
Samsul menjelaskan, nilai aset yang tercatat di C-BEST -- yang sudah scriptless -- sekitar Rp 7.128 triliun (naik 6,11% ytd). Aset tersebut di luar aset yang tidak dicatatkan. Untuk frekuensi pemindahbukuan efek tercatat sekitar 3,88 juta, menurun 48,85% dibandingkan tahun yang lalu (year on year).
“Nilai pemindahbukuan efek tercatat sekitar Rp 4.201,49 triliun (turun 0,20% ytd). Sedangkan frekuensi distribusi tindakan korporasi, yang juga kami urusi kegiatan korporasi misalnya pembagian dividen, corporate action, dan stock split, sekitar 5.940 kali,” ucapnya.
Untuk nilai subscription and redemption reksa dana tercatat sekitar Rp 664,38 triliun. Frekuensi subscription and redemption reksa dana sekitar 19,50 juta kali.
“Kemudian, AUM reksa dana sekitar Rp 769 triliun. Itu angka-angka yang tercatat saat ini di sistem KSEI,” imbuhnya.
Samsul juga menjelaskan mengenai sebaran investor. Sampai saat ini, investor masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sebanyak 68% berdasarkan data per September 2023. Berikutnya di Sumatra 16%, Kalimantan 5%, Sulawesi 4%, Bali, NTB, dan NTT sekitar 3,54%, serta Maluku dan Papua sekitar 1,13%.
Investor individu di pasar modal Indonesia kebanyakan merupakan pegawai swasta, sedangkan yang berprofesi sebagai pengusaha relatif tidak terlalu banyak jumlahnya. Dari sisi penghasilan, jumlah investor individu paling banyak yang mengantongi antara Rp 10 juta sampai Rp 100 juta per bulan.
Sedangkan dari sisi umur, berdasarkan update data demografi investor di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), yang paling banyak adalah investor berusia di bawah 30 tahun.
“Kalau lihat dari demografi investornya, saya lihat yang paling banyak jumlahnya saat ini adalah di bawah 30 tahun. Tapi kalau dilihat dari nilai asetnya, yang paling besar investor berumur di atas 60 tahun,” kata Samsul.
Baca Juga
Bikin Bangga! ESG Risk Rating BEI Terbaik Nomor 2 se-Asia Pasifik
Samsul menjelaskan lebih lanjut, walaupun dari jumlah, investor paling banyak berusia 30 tahun ke bawah, asetnya kecil-kecil, karena uangnya sedikit. Bila kemudian asetnya naik banyak, kemungkinan didapat setelah memperoleh warisan dari orangtua.
“Semua kepulauan di Indonesia, sudah tumbuh jumlah investornya. Ini juga berkat kerja keras dan kerja sama yang sangat erat SRO maupun OJK, dan angka itu terus bertambah. Mudah-mudahan dari hari ke hari perkembangannya jadi lebih proporsional ke depan, terutama nanti ketika IKN sudah ada di Kalimantan,” paparnya.
Bursa Karbon
Samsul Hidayat juga mengatakan tugas KSEI sebagai lembaga penyimpanan dan penyelesiaan terkait Bursa Karbon. Hingga saat ini KSEI sudah membuka 17 Single Investor Identification (SID) untuk Bursa Karbon yang resmi beroperasi pada 26 September 2023.
“Dari data yang ada saat ini sudah ada 17 SID yang dibuka. Yang terdiri dari 2 perusahaan efek (SC), 4 bank (IB), dan 11 perusahaan (CP),” kata Samsul Hidayat.
Samsul menjelaskan, KSEI sebagai salah satu self registary di Bank Indonesia maka KSEI diberi tugas untuk melakukan penyelesaian di Bursa Karbon, dan juga saat ini KSEI sebagai SID generator untuk investor di Bursa Karbon.
Baca Juga
Nilai Transaksi Bursa Karbon Capai Rp 29,2 Miliar di Hari Pertama
Kemudian, lanjut Samsul, hingga saat ini sudah ada 18 frekuensi dana yang masuk dengan nilai Rp 30,98 miliar, frekuensi dana keluar sebanyak 6 kali senilai Rp 29,87 miliar. “Ini masih rupiah semua,” jelas dia.
Seperti diberitakan, Indonesia mampu menancapkan milestone, dengan diluncurkannya Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) oleh Presiden Joko Widodo, Selasa (26/09).
Izin usaha Penyelenggara Bursa Karbon telah diberikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Surat Keputusan nomor KEP-77/D.04/2023 pada 18 September 2023 lalu. Sesuai dengan Peraturan OJK (POJK) Nomor 14 Tahun 2023 tentang Perdagangan Karbon Melalui Bursa Karbon, IDXCarbon sebagai Penyelenggara Bursa Karbon (PBK) menyediakan sistem perdagangan yang transparan, teratur, wajar, dan efisien.
Selain memberikan transparansi pada harga, perdagangan IDXCarbon juga memberikan mekanisme transaksi yang mudah dan sederhana. Terdapat empat mekanisme perdagangan IDXCarbon, yaitu Auction, Regular Trading, Negotiated Trading, dan Marketplace. (Tim investortrust.id)
Baca Juga
KLHK Sederhanakan Registrasi SRN Bursa Karbon, Semua Sektor Usaha Bisa Masuk

