Mengesankan, Lima Jam Jokowi di Nagekeo
JAKARTA, Investortrust.id — Hanya satu kata: mengesankan! Itulah reaksi masyarakat Nagekeo terhadap kunjungan Presiden Jokowi di Nagekeo, Selasa, 5 Desember 2023. Setiap warga yang bertatap muka, bahkan yang hanya bisa dilihat dari jauh sekalipun, menjerit kegirangan. Banyak yang berteriak histeris seperti yang terjadi di Pasar Danga.
Kunjungan Presiden terjadi dua hari menjelang Hari Ulang Tahun ke-17 Kabupaten Nagekeo, 8 Desember 2023. Kunjungan Jokowi dilakukan 10 bulan menjelang akhir masa jabatannya, 20 Oktober 2024. Kedatangan Presiden juga terjadi tiga pekan sebelum Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do mengakhiri masa jabatannya, 23 Desember 2023.
Banyak nuansa menyertai kunjungan Presiden. Dua bulan yang akan datang, 14 Februari 2024, lebih darı 204,8 juta warga Indonesia ke TPS untuk memilih calon anggota legislatif dan calon preIden-wakil presiden. Sebagaimana biasanya, pemilu menimbulkan perbedaan pilihan dan perbedaan itu terbawa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk apresiasi warga terhadap kunjungan Presiden ke Nagekeo.
Baca Juga
Namun, untuk menilai reaksi publik, lihatlah reaksi spontan masyarakat Nagekeo. Reaksi spontan itu terbaca dengan sangat jelas di Pasar Danga, pasar terbesar di Nagekeo yang terletak persis di Mbay, ibu kota kabupaten. Pasar yang sudah direvitalisasi oleh Pemda Nagekeo, meski belum sepenuhnya selesai karena keburu “ditorpedo” dengan semena-mena oleh Polres Nagekeo dengan bukti yang terkesan dicari-cari. Tiga tersangka kasus Pasar Danga masih tetap menyandang tersangka, entah sampai kapan.
Kita bisa membayangkan betapa semrawutnya Pasar Danga jika tidak direvitalisasi oleh pemerintah daerah. Kita juga bisa melihat betapa visionernya Pemda Nagekeo yang telah merevitalisasi Psar Danga. Pasar adalah urat nadi perekonomian sekalian meeting point, tempat pertemuan antarmanusia dari berbagai penjuru. Pasar yang tertata rapi mampu mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi.
Kita bisa melihat dengan jelas, betapa Presiden hadir dengan ekspresi gembira dan disambut meriah oleh para pedagang, pembeli, dan terutama masyarakat yang datang khusus untuk melihat pemimpinnya. Saat memasuki Pasar Danga, Jokowi disambut suara histeris massa dan alunan melodi ‘Ndoto’, alat musik tradisional Nagekeo.
Presiden pun sangat antusias, berjalan mengelilingi pasar sambil membagikan pakaian, paket sembako, dan uang. Presiden sempat menginterviu para pedagang soal sejumlah harga bahan pokok dan membeli mangga. Meski dijaga ketat Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dan aparat keamanan, masyarakat berhasil menerobos dan berjabat tangan dengan pemimpinnya.
Indonesia memiliki 514 kabupaten dan kota, 416 di antaranya adalah kabupaten. Dalam sembilan tahun terakhir, rata-rata kunjungan Presiden ke daerah tidak sampai dua kali sebulan. NTT punya 21 kabupaten dan satu kota, yakni Kupang, ibu kota NTT. Belum sampai 50% wilayah kabupaten di NTT yang dikunjungi Jokowi. Nagekeo, kabupaten baru, yang dikunjunginya menjelang injury time.
Baca Juga
Kunker Jokowi di Nagekeo: Tinjau Bendungan Mbay hingga Cek Stok Beras
Nagekeo istiwewa di mata Jokowi. Sejak menjadi presiden Oktober 2014, pembangunan bendungan menjadi perhatiannya dan Bendungan Mbay —yang terletak di Kabupaten Nagekeo— adalah satu di antara puluhan bendungan yang dibangunnya. Dengan total anggaran sebesar Rp 1,915 triliun, Bendungan Mbay masuk daftar proyek strategis nasional (PSN).
Dalam sembilan tahun terakhir, pemerintahan Jokowi sudah merampungkan pembangunan 42 bendungan, sehingga jumlah total bendungan yang beroperasi di Indonesia mencapai 235 bendungan. Tiga provinsi dengan jumlah bendungan terbanyak adalah NTB sebanyak 73 bendungan, Jawa Tengah 44 bendungan, dan Jawa Timur 34 bendungan. Tidak heran jika produksi pangan di NTB jauh lebih banyak dibandingkan NTT. Lombok adalah salah satu lumbung beras nasional.
Bendungan Mbay merupakan salah satu dari 32 bendungan yang masih dalam proses penyelesaian. Sebanyak 15 bendungan ditargetkan selesai tahun ini. Sedangkan Bendungan Mbay masuk kelompok bendungan yang baru akan selesai tahun 2024.
Dengan kapasitas menampung 51,74 juta meter kubik air, Bendungan Mbay akan menjadi bendungan terbesar di NTT dengan luas genangan 499,55 hektare dan diproyeksikan untuk mengairi daerah irigasi (DI) Mbay Kanan dan Kiri hingga 6.100 hektare. Air yang masuk Bendungan Mbay berasal dari sejumlah wilayah, mulai dari wilayah Toto, Ndora, Kawa-Lambo, dan Rendu.
Bendungan di wilayah NTT yang juga besar adalah Bendungan Temef di Timor Tengah Selatan (TTS). Dibangun sejak 2018, bendungan dengan kapasitas 45 juta kubik ini diperkirakan rampung tahun ini. Kapasitas tampung Bendungan Napung Gete di Sikka hanya 11,2 juta meter kubik dan Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang cuma 13 juta meter kubik.
Luar biasa Bendungan Mbay. Bendungan yang terletak di Desa Rendubutowe, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo ini, demikian data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPRT), sangat penting bagi Nagekeo. Bendungan ini akan mendukung kebutuhan air baku di Nagekeo sebesar 205 liter per detik dan mengurangi debit banjir Sungai Aesesa sebesar 283 meter kubik per detik.
Lima Jam
Di bawah langit Nagekeo yang cerah, sekitar pukul 08.20 Wita, helikopter Super Puma TNI AU yang mengangkut Presiden Jokowi mendarat di area Bendungan Mbay, Desa Rendubutowe, Kecamatan Aesesa Selatan. Dalam video, Gunung Amegelu tampak anggun. Begitu pula Gunung Manungae dan Gunung Ebulobo di selatan Bendungan Mbay. Kehadiran Bendung Mbay akan menambah pesona Kampung Kawa dan sekitarnya sebagai kawasan wisata budaya.
Presiden serta rombongan lepas landas dari Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, sekira pukul 07.30 Wita. Saat tiba mendarat di area Bendungan Mbay, 50 menit setelah take off, Presiden disambut Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do dan Ibu secara adat Nagekeo. Sarung Mbay— ragi wo’i— diletakkan Bupati di bahu Presiden sebagai tanda hormat tuan rumah kepada tamu pentingnya.
Didampingi Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Plt Gubernur NTT Ayodhia Kalake, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi, dan Bupati Nagekeo, Jokowi pun langsung meninjau progres pembangunan Bendungan Mbay. Presiden menegaskan, bendungan harus rampung akhir 2024. Pembangunan bendungan baru memasuki tahap breakthrough terowongan pengelak dengan progres konstruksi 27%. Proses pembangunan bendungan yang sudah dimulai tahun 2021 tidak berjalan sebagaimana rencana akibat proses pembebasan lahan yang berjalan terlalu lama dan banyak menyisakan masalah.
Namun, point of no return. PSN ini tak bisa dihentikan. Pembangunan bendungan tidak bisa dibatalkan. Presiden mengingatkan, Bendungan Mbay kelak dapat menyuplai air untuk irigasi seluas 4.200 hektare di Mbay Kanan ditambah 1.900 hektare di Mbay Kiri. "Kita harapkan dengan selesainya Bendungan Mbay, produksi beras di Kabupaten Nagekeo bisa meningkat hingga 250% atau 2,5 kali lipat," kata Presiden.
Baca Juga
Bendungan dan irigasi yang masif dibangun selama ini adalah bagian dari strategi besar pemerintah untuk mencapai ketahanan pangan dan kedaulatan pangan nasional. Ketersediaan air, kata Menteri PUPR, menjadi kunci pembangunan di NTT yang memiliki curah hujan lebih rendah dibanding daerah lain di Indonesia.
“Pembangunan bendungan juga harus diikuti oleh pembangunan jaringan irigasinya. Dengan demikian, bendungan yang dibangun dengan biaya besar dapat bermanfaat karena air-nya dipastikan mengalir sampai ke sawah-sawah milik petani," kata Basuki.
Pembangunan Bendungan Mbay dimulai sejak 2021 melalui dua paket pekerjaan dengan nilai kontrak Rp 1,47 triliun. Paket I dikerjakan PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan Bumi Indah dalam skema kerja sama operasi (KSO), sedangkan Paket II digarap oleh PT Brantas Abipraya. Pemerintah sudah menganggarkan biaya total pembangunan Bandungan Mbay sebesar Rp 1,915 triliun.
Setelah meninjau bendungan, Presiden mengunjungi Pasar Danga untuk mengecek kondisi harga kebutuhan pokok dan membagikan sejumlah bantuan. Presiden tiba pukul 10.00 Wita. Presiden juga mengunjungi Kompleks Pergudangan Bulog untuk mengecek persediaan beras. Pada kesempatan itu, Presiden menyerahkan bantuan pangan cadangan beras pemerintah (CBP) kepada sejumlah keluarga penerima manfaat (KPM).
Hanya dua titik yang disinggahi Presiden di dataran Mbay, yakni Pasar Danga dan Gudang Bulog. Massa yang berkumpul Lapangan Berdikari —yang hanya berjarak sepelempar batu dari Pasar Danga— tidak sempat dikunjungi Presiden. Massa berkumpul di Lapangan Berdikari untuk menyaksikan Festival One Be, acara budaya yang digelar Pemda untuk merayakan HUT Kabupaten Nagekeo ke-17.
Presiden juga tidak sempat mengunjungi SMK di Aeramo. Bukan saja para siswa yang kecewa, tetapi juga masyarakat yang memilih menyambut Presiden di Aeramo. Para siswa sudah mempersiapkan berbagai atraksi beberapa pekan sebelumnya untuk menyambut Presiden.
Kekecewaan juga dialami masyarakat Tonggung Rambang, yakni mereka yang bermukim dekat bakal Bandara Surabaya II. Mereka tidak ke Pasar Danga karena sebelumnya tersiar kabar bahwa helikopter Presiden akan mendarat di sebuah lokasi dekat Lapangan Surabaya II. Keyakinan masyarakat menguat ketika Pemda secara intensif mempersiapkan landasan landing bagi helikopter Presiden dan rombongan.
Dari Gudang Bulog, Presiden langsung kembali ke kawasan Bendungan Mbay yang berjarak sekitar 30 km dari Pasar Danga. Sekitar pukul 13.20 WITA, Presiden kembali ke Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo, Presiden mengunjungi Embung Anak Munting dan melakukan penanaman pohon bersama. Di sore harinya, pesawat Kepala Negara take off menuju Kupang untuk serangkaian kunjungan di sana.
Di setiap titik, warga sudah menunggu pemimpinnya. Protokol Presiden harus cermat membagi waktu yang terbatas. Kekecewaan sebagian warga Nagekeo bisa dipahami. Pada acara kunjungan yang sangat padat, tidak semua titik bisa dijangkau. Jika sejumlah titik di Nagekeo harus dikunjungi, Presiden harus membatalkan kunjungannya di Embung Anak Munting, Manggarai Barat dan Kupang. Untuk memuaskan warga di satu titik, Presiden mengecewakan warga di titik lainnya.
Bagi Presiden, yang terpenting ia sudah melihat dari dekat kemajuan pembangunan Bendungan Mbay yang belum sampai 30%. Tidak biasanya Presiden Jokowi hadir di acara ground breaking dan meninjau bendungan yang masih dalam proses pembangunan seperti Bendungan Mbay. Namun, demi Nagekeo, ia datang untuk melihat langsung proses pembangunan fisik.
Target kedua dari kunjungannya yang singkat adalah mengecek langsung harga bahan kebutuhan pokok, terutama pangan di Pasar Danga. Dibandingkan dengan rata-rata harga bahan kebutuhan pokok di Indonesia, harga cabai, bawang, dan aneka bumbu dapur di Pasar Danga jauh lebih murah.
Cerita akan berbeda jika Nagekeo sudah memiliki bandara sendiri. Namun, Bandara Surabaya II, yang direncanakan sejak era Nagekeo masih menjadi bagian dari Kabupaten Ngada, belum juga terbangun. Upaya Pemda untuk membangun bandara juga “ditorpedo” oleh Polres Nagekeo dengan data yang keliru.
Baca Juga
Pada awal 2020, saat Waduk Mbay hendak dibangun, Pemda Nagekeo menargetkan pembangunan landasan pacu Bandara Surabaya II sudah bisa rampung sebelum Oktober 2024 agar pesawat Presiden Jokowi bisa mendarat di landasan eks Jepang itu. Namun, apa boleh buat, pembangunan bandara kebanggaan rakyat Nagekeo ini keburu kena “torpedo” hukum Polres NTT dengan alasan yang juga terkesan dicari-cari.
Dari laporan Pemda Nagekeo diketahui, landasan untuk pendaratan helikopter Presiden dan rombongan kurang layak karena debu meski sudah disiram. Pilihan akhirnya jatuh ke area Bendungan Mbay, saat datang dan pergi.
Memuji
Sejumlah harga bahan pokok yang ada di Pasar Danga tergolong rendah dibandingkan dengan harga produk sejenis di Pulau Jawa. Harga cabai, misalnya, masih Rp 50.000 per kilogram.
“Saya ke Pasar Danga di Kabupaten Nagekeo ini untuk ngecek harga pangan. Saya senang, cabai yang di Jawa sekarang harganya Rp 80.000 sampai Rp 100.000, di Pasar Danga hanya Rp 50.000,” tukas Presiden kepada media.
Harga bawang merah di Pasar Danga, kata Presiden, tergolong lebih murah, hanya di kisaran Rp 15.000-an per kilogram. Presiden menilai, stabilitas harga terjadi karena produksi kedua bahan pokok itu cukup baik di Kabupaten Nagekeo.
Selain mengecek harga kebutuhan pokok, Presiden juga turut membagikan sejumlah bantuan dan sembako kepada masyarakat dan pedagang yang ada di sana. Presiden pun tampak membeli sejumlah produk yang dijual oleh pedagang di Pasar Danga, salah satunya mangga.
“Ini beli mangga. Mangga ada lima kumpul, saya minta hanya Rp 40.000. Tadi, Bapak kasih uang Rp 200.000,” demikian Martina, penjual buah dan sayur yang dihampiri Presiden.
Martina berterima kasih kepada Presiden yang telah membeli dagangannya. Ernasiana, penjual tempe yang dihampiri oleh Presiden, juga bercerita bahwa dirinya sangat senang karena Presiden membeli lima buah tempe.
“Beli lima, satunya Rp 5.000, kami dapat Rp 200.000. Luar biasa, Pak Presiden,” ungkapnya.
Saat mengunjungi Gudang Bulog, Presiden menjelaskan, masyarakat yang belum menerima bantuan El Nino sebesar Rp 400.000 dari pemerintah akan dikirimkan segera di bulan Desember 2023. Kepala Negara mengingatkan bahwa terdapat beberapa hal yang masih harus diselesaikan. Salah satunya adalah data rekening penerima yang belum semua masyarakat memiliki dan terdaftar. Kepala Negara meminta kepada Bupati Nagekeo untuk segera menyelesaikan hal tersebut.
Untuk menjaga daya beli rakyat, pemerintah berusaha mengendalikan harga bahan kebutuhan pokok, antara lain, lewat Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Pemantau Inflasi Pusat (TPIP). Harga bahan kebutuhan pokok di setiap pasar rakyat menjadi indikator penting. Ketika global dilanda hiperinflasi, inflasi di Indonesia tahun ini cukup terkendali.
Inflasi November 2023, month to month, sebesar 0,38%. Inflasi 11 bulan pertama 2023, Januari-Neovember, year to date, sebesar 2,19%. Inflasi November 2022-November 2023, year on year, 2,86%. Rendahnya inflasi nasional disebabkan oleh kesuksesan pemerintah mengendalikan laju inflasi.
Kehadiran Presiden Jokowi di Nagekeo hanya lima jam, tetapi sangat berkesan. Pemerintah dan rakyat Nagekeo mengapresiasi kunjungan Presiden di tengah jadwalnya yang sangat padat.

