Menembus Batuan, Mengejar Minyak, Menjaga Roda Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pagi itu, antrean kendaraan mulai memenuhi sebuah SPBU di Jakarta Timur. Sebagian pengendara datang mengisi bensin sebelum bekerja, sementara kendaraan niaga berhenti untuk memastikan perjalanan mengantar barang tetap berjalan.
BBM yang mengalir dari dispenser ke tangki kendaraan mungkin terasa seperti sesuatu yang sederhana. Selama stok tersedia, kendaraan bisa melaju dan aktivitas berjalan seperti biasa. Namun, di balik aliran BBM tersebut terdapat perjalanan panjang yang dimulai jauh dari SPBU.
“Yang kita tahu, kendaraan bisa berjalan dan pekerjaan bisa selesai. Kalau pasokan terganggu, aktivitas sehari-hari juga ikut terdampak,” kata Rani, pekerja yang setiap hari menggunakan kendaraan pribadi berbahan bakar bensin, saat ditemui Investortrust.id, Senin (24/8/2026).
Baca Juga
Elnusa (ELSA) Kembangkan Pertapixel, Bidik Digitalisasi Aset Lintas Industri
Perjalanan itu dimulai dari bawah permukaan bumi. Sebelum minyak menjadi bensin, solar, avtur, dan berbagai produk lainnya, industri migas harus menemukan sumbernya, memastikan cadangannya, mengebor sumur, mengangkat minyak mentah, mengolahnya di kilang, lalu mendistribusikannya ke berbagai wilayah.
Di sepanjang rantai tersebut, PT Elnusa Tbk (ELSA) mengambil peran sebagai perusahaan jasa energi terintegrasi. Anak usaha PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina ini tidak hanya menyediakan jasa eksplorasi dan produksi, tetapi juga mengembangkan teknologi dan riset untuk menjawab tantangan industri migas yang semakin kompleks.
Tantangan itu kian terasa karena banyak lapangan migas Indonesia telah memasuki fase mature. Produksi dari lapangan tua cenderung lebih sulit dipertahankan, sementara sumber daya baru membutuhkan teknologi dan biaya yang lebih besar.
Direktur Utama Elnusa Litta Indriya Ariesca mengatakan peningkatan produksi nasional tidak cukup hanya mengandalkan lapangan konvensional yang sudah berproduksi. Industri perlu mengoptimalkan lapangan lama sekaligus membuka peluang dari sumber daya baru, termasuk minyak dan gas nonkonvensional (MNK).
“Saat ini infrastruktur energi kita masih sangat bertumpu pada migas konvensional. Padahal potensi minyak dan gas non-konvensional masih besar, hanya memang berada jauh di bawah permukaan dengan tingkat kesulitan dan biaya lebih tinggi,” ujar Litta dalam wawancara podcast bersama Investortrust di Jakarta, Senin (9/2/2026).
Untuk itu, teknologi menjadi bagian penting dari upaya menjaga pasokan energi. Elnusa memiliki kompetensi mulai dari jasa seismik, pengeboran, pengelolaan data subsurface hingga layanan operasional produksi.
“Dari seismik, pengeboran, pengelolaan data subsurface hingga operasional produksi, seluruh rantai services itu merupakan kompetensi Elnusa. Itu bisa diaplikasikan baik untuk migas konvensional maupun unconventional,” ungkap Litta.
Dari Laboratorium, Mencari Cara Mengangkat Minyak
Namun, sebagian teknologi tersebut justru bermula dari tempat yang jauh dari lapangan minyak: sebuah laboratorium.
Di Laboratorium Chemical Elnusa Group di Sentul, Bogor, riset dilakukan untuk menjawab persoalan yang muncul dari bawah permukaan. Salah satunya adalah bagaimana membantu minyak yang masih terperangkap di dalam batuan agar dapat diangkat ke permukaan.
Head R&D Elnusa Group Rustanto Setiawan mengatakan proses produksi minyak jauh lebih kompleks daripada yang terlihat ketika masyarakat mengisi BBM di SPBU.
“Jadi saya mulai dengan jasa di Elnusa, kita ada jasa seismik. Kita bisa mengetahui di bawah tanah kita itu ada minyak apa enggak,” ujar Rustanto kepada Investortrust saat media visit Lab Chemical Elnusa Group di Sentul, Bogor, Jumat (14/8/2026).
Seismik menjadi langkah awal untuk membaca kondisi bawah permukaan. Jika suatu wilayah menunjukkan potensi hidrokarbon, proses berlanjut ke pemboran. Pada tahap ini, tekanan di dalam lubang bor harus dikendalikan agar lubang tetap stabil. Karakteristik batuan dan tekanan bawah permukaan juga menuntut formulasi fluida pemboran yang tepat.
“Elnusa melalui kegiatan risetnya mengembangkan formulasi fluida tersebut agar proses pemboran dapat berlangsung secara aman dan efektif,” kata Rustanto.
Persoalan berikutnya muncul setelah minyak ditemukan. Minyak yang berada di dalam reservoir tidak selalu mudah diangkat. Karakteristiknya bisa berbeda-beda, mulai dari minyak yang sangat kental hingga minyak yang bercampur dengan air dan senyawa lain.
“Tidak semudah kita nyedot boba dari minuman kita, banyak kompleksitasnya mulai ada yang terlalu kental atau minyaknya bercampur sama air atau kompleksitas lain,” kata Rustanto.
Di sinilah laboratorium mengambil peran. Tim R&D melakukan penelitian dan pengujian untuk menemukan formulasi kimia yang dapat membantu proses pengangkatan minyak sekaligus memisahkannya dari berbagai campuran.
Kebutuhan tersebut semakin besar pada lapangan tua. Rustanto menggambarkan reservoir, seperti spons yang sebagian besar kandungannya sudah diambil. Ketika minyak tersisa di antara pori-pori batuan, mengeluarkannya menjadi jauh lebih sulit.
“Nah laboratorium ini mendesain bagaimana supaya fluida yang terjebak di antara pori-pori spons tadi untuk bisa kita keluarkan, kita pisahkan minyak dengan batuannya,” ujarnya.
Dari ruang laboratorium yang relatif kecil, lahir berbagai pengujian yang diarahkan untuk menjawab persoalan besar di lapangan. “Jadi memang core penelitian dan riset adanya di ruangan kecil ini. Ruangan kecil, ide-idenya besar,” kata Rustanto.
Menurut dia, riset tersebut menjadi bagian dari strategi memperpanjang kemampuan produksi lapangan sekaligus meningkatkan peluang keberhasilan operasi.
Teknologi Menjawab Lapangan yang Makin Sulit
Kondisi lapangan migas yang semakin tua juga membuat biaya produksi meningkat. Litta memperkirakan biaya produksi minyak di Indonesia secara rata-rata sekitar US$ 25 per barel, sedangkan produksi dari wilayah lepas pantai (offshore) dapat mendekati US$ 50 per barel.
Baca Juga
Laba Elnusa (ELSA) Melesat 29%, Begini Target Semester II-2026
“Biaya produksi minyak cukup tinggi karena lapangan kita sudah mature, dan juga untuk memproduksi tadi unconventional itu biayanya tinggi sekali,” jelas Litta.
Tekanan tersebut membuat efisiensi menjadi semakin penting. Ketika harga minyak global bergerak fluktuatif, perusahaan migas harus semakin selektif dalam menjalankan proyek.
“Mungkin tidak hanya minyak yang fluktuatif, segala hal sekarang tidak menentu. Oleh karena itu memang kita harus siap dan sigap. Efisiensi di segala lini. Kemudian, kita juga meminta teman-teman untuk bekerja lebih efektif,” kata Litta.
Teknologi menjadi salah satu cara untuk menjawab tekanan tersebut. Investasi teknologi memang dapat meningkatkan biaya awal, tetapi menurut Litta, teknologi dengan tingkat keberhasilan lebih tinggi justru dapat menghasilkan efisiensi dalam jangka panjang.
“Kalau kita membayar sedikit lebih mahal untuk teknologi, tetapi tingkat keberhasilannya jauh lebih besar, itu akan lebih menguntungkan,” ujarnya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan pandangan Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro. Menurut dia, peningkatan produksi minyak nasional membutuhkan eksplorasi baru sekaligus upaya mempertahankan produksi lapangan yang sudah ada.
“Saya kira eksplorasinya perlu dimasifkan. Kemudian lapangan-lapangan yang sudah ada juga harus dipertahankan produksinya karena eksplorasi membutuhkan waktu,” ujar Komaidi kepada Investortrust di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Artinya, teknologi tidak hanya dibutuhkan untuk menemukan minyak baru. Teknologi juga menjadi kunci untuk membuat cadangan yang sudah ditemukan dapat diproduksikan secara lebih optimal.
Menjaga Produksi, Menjaga Lingkungan
Riset dan inovasi Elnusa tidak berhenti pada bagaimana minyak dapat diangkat. Di laboratorium yang sama, perusahaan juga mengembangkan solusi untuk menghadapi risiko lingkungan dari kegiatan migas.
Salah satunya melalui pengembangan oil spill dispersant, produk yang digunakan untuk membantu memecah dan menyebarkan lapisan minyak ketika terjadi tumpahan sehingga proses degradasi secara alami dapat berlangsung lebih efektif.
“Jadi kami bukan hanya tentang lifting, produksi, tapi kami juga bertanggung jawab bagaimana sisi lingkungan ketika ada mitigasi risiko adanya tumpahan minyak di atas, di tengah lautan,” ujar Rustanto.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa teknologi dalam industri energi memiliki cakupan yang lebih luas. Ia tidak hanya berbicara mengenai menambah produksi, tetapi juga bagaimana operasi berjalan lebih aman dan dampaknya terhadap lingkungan dapat diminimalkan.
Setelah minyak berhasil diproduksikan, perjalanan energi belum selesai. Minyak mentah harus masuk ke kilang dan diolah menjadi berbagai produk seperti bensin, solar dan avtur. Produk tersebut kemudian membutuhkan sistem distribusi agar dapat sampai ke konsumen.
Baca Juga
IHSG Cenderung Bergerak Terbatas, Saham Pilihan ELSA hingga BNBR
Melalui PT Elnusa Petrofin, Elnusa juga menjalankan bisnis logistik dan distribusi energi, terutama untuk mendukung pengiriman produk BBM hingga titik distribusi di berbagai wilayah, termasuk di luar Jawa.
Dengan demikian, rantai bisnis Elnusa membentang dari bawah permukaan hingga mendekati konsumen. Dari membaca data seismik, mengebor sumur, membantu mengangkat minyak, hingga mendukung pergerakan produk energi.
Menopang Target 1 Juta Barel
Rangkaian kemampuan tersebut menjadi semakin relevan ketika pemerintah mengejar target produksi minyak nasional 1 juta barel per hari pada 2029.
Rustanto mengatakan Elnusa siap mendukung target tersebut melalui kompetensi riset, pengembangan bahan kimia, teknologi produksi hingga logistik.
“Betul, kami siap sekali mendukung program Asta Cita Pak Prabowo dengan 1 juta barrel per day, dengan segala tantangannya, dengan segala challenging-nya dari segala pihak kami siap men-support,” kata Rustanto.
Menurut dia, Elnusa juga terbuka mengembangkan produk dan solusi baru sesuai kebutuhan lapangan. “Baik dari sisi chemical, logistik atau sisi apa pun, kami siap berkolaborasi dan mengembangkan produk apa pun untuk bisa mendukung program tersebut,” ujarnya.
Di sisi lain, pada 2025, Elnusa menyelesaikan pekerjaan seismik di Thailand, proyek suplai pipa di Aljazair untuk Pertamina International Algeria, serta proyek EPC booster pump untuk Pertamina Hulu Rokan yang selesai 4 bulan lebih cepat dari jadwal.
Baca Juga
Umumkan Rencana ‘Buyback’ Saham, Elnusa (ELSA) Siapkan Rp 100 Miliar
Elnusa juga menerapkan teknologi seperti casing while drilling, inline inspection, dan wireline logging. Di bisnis hilir, throughput meningkat 23% pada 2025, didorong antara lain oleh permintaan layanan fleet dan logistik di luar Jawa.
Pertumbuhan juga mulai diarahkan ke energi baru dan terbarukan. Elnusa bekerja sama dengan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dalam pengumpulan dan pengolahan data eksplorasi panas bumi di sejumlah wilayah.
“Jika dari sisi data dan kelayakan proyeknya positif, ke depan akan kami kembangkan lebih luas bersama PGE,” ujar Litta.
Memasuki 2026, Elnusa membawa strategi “Rediscover Technology and Innovation Age”. Strategi ini menempatkan teknologi dan inovasi sebagai fondasi untuk merespons kebutuhan klien sekaligus mendukung target produksi energi nasional. “Respons cepat terhadap kebutuhan lapangan menjadi titik balik strategi kami karena itu, pada 2026 kami mengusung tema ‘Rediscover Technology and Innovation Age’,” ungkap Litta.
Perjalanan panjang BBM yang terlihat sederhana di depan dispenser SPBU melibatkan begitu banyak tahapan. Ada data yang dibaca, batuan yang dipetakan, fluida yang dirancang, minyak diangkat, hingga produk energi yang dikirim ke berbagai wilayah. Di balik seluruh proses itu, teknologi menjadi benang merahnya.
Baca Juga
Elnusa (ELSA) Ungkap Peran Laboratorium dalam Dukung Lifting Minyak 1 Juta Barel 2029
Hasil akhir bagi konsumen, mungkin hanya satu, yakni kendaraan dapat kembali berjalan. Namun bagi industri energi, setiap liter BBM merupakan hasil dari perjalanan panjang yang dimulai jauh di bawah permukaan bumi.
Perjalanan 57 tahun Elnusa menjadi pijakan untuk memasuki babak baru. Bukan sekadar memperbesar bisnis jasa energi, tetapi menemukan cara yang lebih cerdas untuk menjaga produksi, memperluas inovasi, dan memastikan energi tetap mengalir.
Sebab, di balik aliran BBM yang tampak biasa di SPBU, ada pekerjaan besar yang terus berlangsung, dari laboratorium, lapangan migas hingga jaringan logistik, untuk memastikan roda kehidupan dan ekonomi Indonesia tetap bergerak.

