ION, Jalan Indonesia Merebut Kedaulatan Ekonomi Digital dari Dominasi Platform Besar
JAKARTA, Investortrust — Indonesia mulai memasuki babak baru ekonomi digital. Setelah bertahun-tahun perdagangan daring berkembang melalui marketplace dan platform tertutup yang menguasai hubungan antara penjual dan pembeli, Indonesia mulai membangun model berbeda: jaringan perdagangan digital terbuka dan interoperabel. Melalui Indonesia Open Network (ION), pelaku UMKM diharapkan dapat menjual barang dan jasa melalui berbagai aplikasi tanpa harus bergantung pada satu platform tertentu. Gagasan besarnya bukan hanya menciptakan kanal baru bagi perdagangan elektronik, melainkan membangun kedaulatan ekonomi digital Indonesia.
Ekonomi digital global sedang mengalami pergeseran paradigma: dari sistem yang berpusat pada platform tertutup atau walled garden menuju jaringan terbuka yang memungkinkan berbagai aplikasi, penjual, pembeli, penyedia pembayaran, logistik, dan layanan keuangan saling berkomunikasi melalui standar yang sama. Dengan arsitektur seperti ini, kekuatan ekonomi digital tidak lagi harus terkonsentrasi pada pemilik sebuah platform.
Dari “Super App” Menuju Infrastruktur Digital Terbuka
Perbedaan kedua model tersebut cukup mendasar. Dalam sistem marketplace konvensional, sebuah platform pada dasarnya membangun ekosistemnya sendiri. Penjual masuk ke platform itu, konsumen berbelanja melalui aplikasi yang sama, sementara aturan transaksi, algoritma pencarian, komisi, pengelolaan data, hingga hubungan penjual dengan konsumen sebagian besar ditentukan pemilik platform.
Model jaringan terbuka berusaha memisahkan pasar digital dari pemilik aplikasi. Prinsipnya menyerupai internet atau sistem telekomunikasi. Pengguna operator telekomunikasi A dapat menelepon pengguna operator B karena keduanya menggunakan standar yang memungkinkan interoperabilitas. Dalam open network, prinsip serupa diterapkan pada perdagangan: pembeli yang menggunakan aplikasi A secara teoritis dapat menemukan dan bertransaksi dengan pedagang yang bergabung melalui aplikasi B.
Inilah yang dimaksud dengan interoperabilitas. Karena itu, ION tidak dirancang menjadi super app baru yang kemudian bersaing dengan platform-platform yang sudah ada. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria ketika peluncuran ION pada 5 Februari 2026 menegaskan bahwa ION merupakan jaringan terbuka yang memungkinkan UMKM ditemukan dan bertransaksi lintas aplikasi. Pemerintah melihat model tersebut sebagai salah satu cara mengatasi komisi tinggi, keterbatasan akses terhadap data, dan ketergantungan pedagang pada sistem platform tertutup. (Komdigi Portal)
Dengan kata lain, ION bukan toko digital milik pemerintah dan bukan pula marketplace baru. Ia lebih tepat dipahami sebagai infrastruktur atau “jalan raya digital” tempat berbagai perusahaan dan aplikasi dapat beroperasi. Jika internet menyediakan protokol yang memungkinkan berbagai komputer berkomunikasi, jaringan perdagangan terbuka menyediakan standar agar berbagai pelaku ekonomi dapat menemukan satu sama lain dan melakukan transaksi.
Beckn Protocol, “Bahasa Bersama” Perdagangan Digital
Secara teknologi, konsep jaringan terbuka tersebut antara lain dikembangkan melalui Beckn Protocol, protokol open source yang memungkinkan sistem-sistem digital berbeda berkomunikasi tanpa harus berada di bawah satu pemilik platform. Dalam briefing note, Beckn bahkan dianalogikan sebagai “HTTP for commerce”.
Analogi tersebut penting. HTTP membantu memungkinkan situs dan perangkat berbeda bertukar informasi melalui internet tanpa seluruh internet harus dimiliki satu perusahaan. Dengan logika yang sama, protokol perdagangan terbuka berusaha membuat pembeli, penjual, transportasi, logistik, pertanian, pembayaran, dan berbagai layanan lain dapat saling terhubung tanpa semuanya harus menjadi bagian dari satu super app.
Implikasi ekonominya besar. Persaingan bergeser dari persaingan antarekosistem tertutup menjadi persaingan layanan di atas infrastruktur yang terbuka. Pedagang tidak harus menyerahkan seluruh akses pasarnya kepada satu platform, sedangkan perusahaan teknologi tetap dapat memperoleh pendapatan dengan menawarkan aplikasi, logistik, pembayaran, pembiayaan, analitik, dan berbagai layanan bernilai tambah lainnya.
India Menjadi Laboratorium Terbesar
Model yang menjadi referensi utama Indonesia adalah Open Network for Digital Commerce (ONDC) India. ONDC dikembangkan sebagai jaringan perdagangan digital terbuka untuk membuat perdagangan elektronik lebih kompetitif dan inklusif. Data resmi ONDC menunjukkan jaringan tersebut telah berkembang ke ratusan kota dan menghubungkan ratusan ribu penjual serta penyedia jasa. (ONDC | Open Network for Digital Commerce)
Briefing note Juni 2026 menyebut ONDC telah mencapai sekitar 18,2 juta pesanan per bulan, melampaui 326 juta transaksi sepanjang siklus operasinya, menjangkau lebih dari 1.200 pusat perkotaan, serta membentuk ekosistem lebih dari 800.000 pedagang, sekitar 84% di antaranya UMKM. Angka-angka tersebut menunjukkan skala yang ingin dicapai oleh model jaringan terbuka: bukan membangun satu perusahaan e-commerce raksasa, melainkan menciptakan infrastruktur yang memungkinkan banyak perusahaan berkompetisi di atas jaringan yang sama.
India juga mulai membawa konsep tersebut ke pertanian. Pemerintah Uttar Pradesh mengembangkan Uttar Pradesh Open Network for Agriculture (UPONA) untuk menghubungkan petani dengan informasi pertanian, pembiayaan, serta pembeli. Dalam model ini, use case jaringan terbuka tidak berhenti pada e-commerce perkotaan. Infrastruktur yang sama dapat digunakan petani untuk memperoleh informasi, mencari pembiayaan, menemukan pasar, dan menjual hasil pertanian secara lebih langsung.
ION Membidik 64 Juta UMKM Indonesia
Indonesia kemudian mengadaptasi pengalaman tersebut melalui Indonesia Open Network. Akar kerja samanya dapat ditelusuri ke kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025. Dalam pertemuan Prabowo dengan Perdana Menteri Narendra Modi, kedua negara menyatakan keinginan mempercepat kerja sama dalam digital public infrastructure atau DPI untuk mendorong pertumbuhan yang inklusif. (The Jakarta Post)
ION resmi diperkenalkan di Jakarta pada 5 Februari 2026. Sasaran ekonominya sangat besar karena Indonesia memiliki sekitar 64,2 juta UMKM, yang menurut Kementerian Komunikasi dan Digital menyumbang sekitar 61% terhadap PDB dan menopang hampir 97% tenaga kerja. (Komdigi Portal)
Briefing note menyebut ION menargetkan penurunan biaya transaksi perdagangan elektronik yang dalam model tertentu dapat mencapai sekitar 20% menjadi sekitar 2–3%. Tahap awalnya bahkan diarahkan untuk membawa hingga 30 juta usaha ke dalam sebuah ekosistem digital yang interoperabel. Target tersebut sangat ambisius dan karena itu perlu dibedakan antara sasaran program dengan pencapaian yang sudah terealisasi.
Jika target itu tercapai, dampaknya bukan sekadar UMKM memperoleh kanal penjualan baru. Struktur pembagian nilai dalam ekonomi digital juga berpotensi berubah. Semakin kecil biaya perantara, semakin besar bagian nilai transaksi yang dapat tinggal pada produsen, pedagang, pengemudi, petani, nelayan, dan penyedia jasa lokal.
Kedaulatan Digital Bukan Berarti Menutup Diri
Di sinilah konsep digital sovereignty atau kedaulatan digital menjadi relevan. Kedaulatan digital tidak harus berarti menolak perusahaan teknologi asing ataupun membangun internet yang tertutup dari dunia luar. Secara ekonomi, konsep tersebut lebih tepat dimaknai sebagai kemampuan suatu negara untuk menentukan aturan, standar, pengelolaan data, serta arsitektur infrastruktur digital strategisnya sendiri.
Dalam sistem yang sangat terkonsentrasi, perusahaan pemilik platform memiliki keuntungan luar biasa karena menguasai jaringan sekaligus data transaksi. Semakin banyak transaksi terjadi, semakin banyak data diperoleh; semakin banyak data diperoleh, semakin baik algoritma dan kemampuan perusahaan memahami konsumen; dan semakin kuat pula posisi platform tersebut. Fenomena ini dikenal sebagai network effect dan dapat menciptakan konsentrasi pasar yang sangat tinggi.
Jaringan terbuka berusaha mengubah struktur itu. Infrastruktur dasarnya diperlakukan lebih menyerupai Digital Public Infrastructure: fondasi bersama yang dapat digunakan pemerintah, swasta, startup, bank, perusahaan logistik, UMKM, petani, dan masyarakat. Data strategis pun diharapkan tidak otomatis terkonsentrasi menjadi aset eksklusif satu perusahaan.
Google dan NFH Masuk Mendukung Ekosistem
Pengembangan ION juga memperoleh dukungan internasional. Networks for Humanity (NFH) menjadi knowledge partner dalam pengembangan jaringan terbuka dan interoperabel tersebut, sementara Google.org memberikan dukungan untuk fase inkubasi infrastruktur perdagangan digital terbuka Indonesia. (Voice of ASIA)
Dalam briefing note, teknologi kecerdasan buatan juga ditempatkan sebagai salah satu pengungkit penting. AI multibahasa berbasis suara dapat membuat jaringan digital dapat digunakan masyarakat yang tidak terbiasa mengetik, tidak memahami bahasa teknis, atau lebih nyaman berkomunikasi menggunakan bahasa lokal. Ini sangat relevan bagi Indonesia yang memiliki keragaman bahasa dan tingkat literasi digital yang berbeda-beda.
Bayangkan seorang petani tidak perlu memahami aplikasi perdagangan yang kompleks. Ia cukup mengatakan melalui telepon genggamnya bahwa dirinya mempunyai satu ton jagung untuk dijual. Sistem AI dapat menerjemahkan perintah suara tersebut menjadi informasi produk yang dapat ditemukan calon pembeli melalui aplikasi lain. Pada titik itulah kombinasi AI dan open network berpotensi memperluas digitalisasi dari masyarakat yang sudah melek teknologi menuju jutaan pelaku ekonomi akar rumput.
Tantangannya: Jangan Sampai “Terbuka” Hanya Menjadi Slogan
Namun, keberhasilan ION tidak otomatis ditentukan oleh kecanggihan protokolnya. Secara ekonomi, sebuah jaringan baru hanya bernilai apabila memiliki cukup banyak penjual, pembeli, penyedia pembayaran, perusahaan logistik, lembaga pembiayaan, dan pengembang aplikasi. Tantangan terbesar ION karena itu adalah membangun network effect tanpa berubah menjadi monopoli baru.
Ada pula persoalan tata kelola. Siapa menentukan standar jaringan? Bagaimana data transaksi disimpan dan digunakan? Siapa bertanggung jawab jika terjadi penipuan? Bagaimana perlindungan konsumen dilaksanakan ketika pembeli dan penjual menggunakan aplikasi berbeda? Bagaimana sistem menyelesaikan sengketa, menjaga keamanan siber, memastikan perlindungan data pribadi, serta mencegah pemain besar mendominasi jaringan yang secara konseptual dibangun untuk keterbukaan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menentukan apakah open network benar-benar menjadi Digital Public Infrastructure atau sekadar bentuk baru perantara perdagangan digital.
Karena itu, ukuran keberhasilan ION seharusnya bukan berapa banyak aplikasi yang bergabung atau seberapa besar nilai transaksi yang tercatat. Ukuran yang lebih substantif adalah berapa banyak UMKM yang memperoleh pasar baru, seberapa besar biaya transaksi turun, apakah pendapatan pedagang meningkat, apakah petani dan produsen mendapatkan harga lebih baik, dan berapa besar nilai tambah ekonomi digital yang tetap berputar di Indonesia.
Pada akhirnya, pertarungan ekonomi digital masa depan mungkin bukan lagi sekadar tentang siapa memiliki aplikasi terbesar, melainkan siapa menguasai arsitektur tempat seluruh aplikasi itu beroperasi. Indonesia Open Network menawarkan sebuah pilihan strategis: ekonomi digital yang tidak sepenuhnya bergantung pada “kerajaan-kerajaan platform”, tetapi berdiri di atas infrastruktur terbuka yang memungkinkan banyak pemain berkompetisi.
Jika berhasil, ION dapat berkembang jauh melampaui proyek e-commerce. Ia dapat menjadi jalan raya ekonomi digital nasional, tempat UMKM, petani, nelayan, perusahaan teknologi, lembaga keuangan, logistik, dan konsumen bertemu dalam satu jaringan interoperabel. Di situlah arti strategis ION sesungguhnya: bukan menciptakan raksasa digital baru, melainkan memastikan Indonesia memiliki jalan rayanya sendiri dalam ekonomi digital dunia. ***

