‘Curiosity’ Bisa Mewujudkan Mimpi Apa pun
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Haris Izmee adalah contoh konkret bahwa karier seseorang tak harus linier dengan latar belakang pendidikannya. Ia berhasil membuktikan siapa pun bisa berkarier di bidang apa saja jika ia memiliki keingintahuan (curiosity) yang tinggi dan mindset (pola pikir) yang benar tentang hidup dan pekerjaan.
Haris Izmee punya karier yang berwarna, melompat-lompat, tak lazim, dan penuh kejutan. Ia pernah bekerja di berbagai sektor, dari industri penerbangan, logistik, kesehatan, teknologi informasi (TI), hingga data center, dengan berbagai jabatan mentereng.
Sebelum bergabung dengan Equinix Indonesia, perusahaan data center berbasis di Amerika Serikat (AS), Haris Izmee adalah top manager di berbagai perusahaan global, seperti Frost & Sullivan, Panasonic Avionics, GE Healthcare, GE Aviation, Microsoft, dan Amazon. Haris menuai sukses meski bidang yang digelutinya tak pernah ia pelajari di bangku sekolah.
“Kuncinya adalah mindset dan curiosity. Kita harus berani bertanya dan belajar bukan cuma dari buku, tapi juga dari pelanggan, partner, dan tim sendiri. Rasa ingin tahu untuk belajar pengetahuan dan skill baru akan membawa kita ke mana pun dan bisa mewujudkan mimpi apa pun,” kata President Director Equinix Indonesia itu.
Bercita-cita menjadi engineer sejak kecil menuntun langkah Haris Izmee untuk menempuh pendidikan Teknik Penerbangan (Aeronautical Engineering) di Queen Mary University of London. Tapi setamat kuliah, Haris harus menerima kenyataan pahit. Krisis moneter 1998 memaksanya berjuang dari bawah, bahkan ia sempat bekerja di restoran sebelum akhirnya masuk ke industri aviasi di Malaysia.
Di Airod, perusahaan BUMN Malaysia, angan-angan Haris kandas. Alih-alih menjadi insinyur aviasi, ia malah masuk business development. Tak lama kemudian, ia terjun ke bidang TI. Tanpa didukung latar belakang sebagai ahli TI, Haris ditugaskan membangun sistem pengadaan (procurement) dari nol. Ia bahkan harus mengedukasi ribuan karyawan untuk menggunakan email.
Salah satu langkah terberat dalam karier Haris Izmee adalah saat ia bergabung dengan General Electric (GE) dan pindah ke Jakarta, lalu memimpin bisnis healthcare. Maklum, industri kesehatan merupakan bidang yang sama sekali baru bagi dirinya. Alhasil, Haris harus belajar dari nol. Tak pelak, ia pun sempat terperangkap dalam masa-masa sulit hingga hampir menyerah. Namun justru dari fase itulah, ia menemukan kekuatan mindset dan ketahanan diri.
Transformasi berikutnya terjadi sewaktu Haris Izmee bergabung dengan Microsoft. Dunia cloud, AI, dan teknologi digital menjadi medan baru yang harus ia pelajari dari awal. Apalagi dalam waktu singkat, ia tidak hanya dituntut untuk beradaptasi, tetapi juga berkontribusi menghadirkan layanan cloud di Indonesia.
Sempat mencoba membangun bisnis sendiri, Haris akhirnya bergabung dengan Equinix. Di sinilah ia melihat peluang besar untuk berkontribusi pada pembangunan infrastruktur digital Indonesia, terutama dalam pengembangan ekosistem data center.
Bagi Haris, perjalanan karier bukan tentang mengikuti jalur yang lurus, melainkan tentang keberanian untuk terus belajar. Dengan curiosity, mindset yang tepat, dan nilai hidup yang kuat, ia membuktikan bahwa perubahan justru bisa menjadi jalan menuju peluang yang lebih besar.
Di luar curiosity dan midset, pria asal Malaysia yang mempersunting perempuan Indonesia ini juga memegang teguh nilai-nilai 3H, yaitu honest (jujur), humble (rendah hati), dan hardworking (pekerja keras).
“Bekerja keras itu paling gampang, jujur itu menantang, tapi menjadi rendah hati saat kita sudah sukses itu yang paling susah,” tutur ayah dua anak tersebut. Berikut penuturan lengkap Haris Izmee kepada jurnalis investortrust.id, Saliki Dwi Saputra, Mohammad Defrizal, dan Abdul Aziz di Jakarta, baru-baru ini:
Apakah bidang pekerjaan ini sesuai cita-cita Anda?
Menarik kalau diingat-ingat lagi. Sejak umur tiga tahun, saya itu sudah ingin menjadi engineer. Waktu kecil saya memang sangat suka pesawat. Jadi, setelah lulus SMA, saya kuliah mengambil jurusan Aeronautical Engineering (Teknik Penerbangan), di London, Inggris.
Saya lulus tahun 1998, persis saat ekonomi dunia sedang gawat-gawatnya. Cari kerja waktu itu susah sekali. Sambil terus melamar ke industri aviasi, saya kerja apa saja, bahkan sempat bekerja di restoran. Baru pada tahun 2000, saya masuk ke Airod di Malaysia, semacam BUMN Malaysia yang fokus memperbaiki pesawat militer.
Lucunya, saya melamar jadi engineer, tapi malah ditolak karena posisinya penuh. Dua minggu kemudian, saya ditawari masuk ke business development. Jujur, waktu itu saya tidak mengerti apa itu business development, yang penting bekerja saja dulu.
Bagaimana adaptasinya?
Tugas pertama saya adalah membuat business proposal untuk upgrade air conditioning pesawat. Saya bingung karena tidak pernah belajar itu di kuliah. Jadi, saya belajar dari nol. Saya masuk ke hangar, interview para engineer, sampai masuk ke dalam pesawat untuk mempelajari sistem pendinginannya.
Beberapa minggu kemudian, proposal pertama saya selesai dan kami berhasil dapat kontrak dari angkatan udara salah satu negara di Asia Tenggara. Dari situ saya belajar banyak soal perbedaan tipe pesawat dan sistemnya.
Setahun kemudian, saya dipercaya jadi Project Manager untuk membangun tim perangkat lunak (software team). Padahal saya tidak punya latar belakang information technology (IT) sama sekali. Tapi ya saya terima tantangannya, saya bergabung di special projects.
Seperti apa prosesnya?
Saya membangun tim dari nol, membawa developer dari India dan Malaysia untuk membuat sistem pengadaan (procurement system) perusahaan. Uniknya, waktu itu perusahaan kami bahkan belum pakai email. Jadi, sebelum membuat software, saya harus instal email dan mengajari sekitar 1.000 karyawan.
Banyak yang tidak mau pindah karena masih nyaman pakai mesin ketik. Saya jadi seperti IT support yang mengajari cara pakai attachment dan sebagainya. Setelah sistem selesai, saya harus ke Amerika Serikat (AS) untuk mengajari vendor-vendor kami di sana cara menggunakannya. Tanpa disadari, itu adalah pintu masuk saya ke dunia IT. Setelah tujuh tahun, kami berhasil membangun sistem manajemen inventaris dan pengadaan yang jauh lebih baik.
Langkah Anda selanjutnya?
Saya kemudian pindah ke Frost & Sullivan, sebuah perusahaan riset pasar. Mereka mencari orang untuk mengembangkan bisnis di sektor aerospace and defense. Saya adalah karyawan kedua yang direkrut di sana.
Dalam dua tahun, tim yang awalnya nol berkembang menjadi 20 orang dengan cakupan di 10 negara. Kesibukannya luar biasa, sampai rasanya tidak ada kehidupan di luar pekerjaan karena akhir pekan pun tetap dipakai bekerja.
Lalu, saya bergabung dengan Panasonic Avionics Corporation, penyedia sistem hiburan atau in-flight entertainment terbesar di dunia. Kalau Anda menonton film di layar kursi pesawat, kemungkinan besar itu sistem buatan Panasonic.
Saya di sana sebagai Program Manager untuk layanan pemeliharaan (maintenance service). Saya berkoordinasi dengan Boeing, Airbus, dan melayani maskapai besar, seperti Singapore Airlines, Qantas, hingga Cathay Pacific.
Berarti Anda selalu bepergian dari satu negara ke negara lain?
Betul sekali. Hampir setiap minggu saya bepergian ke dua sampai tiga negara. Koper saya rasanya tidak pernah benar-benar tertutup. Pulang ke rumah cuma untuk laundry pakaian, lalu berangkat lagi. Saya justru lebih sering melihat bandara daripada kotanya sendiri. Misalnya di Changi, saya cuma ke area ramp untuk bertemu tim operasional, lalu terbang lagi ke destinasi berikutnya. Karena saat itu masih lajang, ritme seperti itu terasa menyenangkan saja.
Cerita Anda sampai menetap di Jakarta?
Itu bermula saat saya pindah ke GE Aerospace untuk menjual mesin pesawat. Awalnya saya berencana menetap di Singapura, tapi di saat-saat terakhir, GE minta saya relokasi ke Jakarta. Saya sempat terkejut karena tidak ada dalam rencana, tapi akhirnya saya terima.
Waktu itu saya sudah punya calon istri dan kami berencana menikah di Singapura. Namun karena pindah tugas, rencana dibatalkan dan kami akhirnya menikah di Jakarta setahun kemudian. Di GE, kami berhasil mengembangkan bisnis mesin pesawat yang tadinya kecil menjadi bisnis bernilai miliaran dolar AS lewat kontrak dengan Garuda, Lion Air, dan lainnya.
Setelah itu?
Setelah tiga tahun di GE Aviation, saya diminta memimpin GE Healthcare. Awalnya saya tolak berkali-kali karena saya tidak mengerti dunia rumah sakit atau kesehatan. Menjual peralatan medis itu terasa asing. Saya sering bertanya, ini alat apa dan fungsinya untuk apa? Tapi setelah dibujuk selama setahun, saya terima tantangan itu pada tahun 2014.
Awalnya pangsa pasar kami rendah, tapi dalam empat tahun, kami berhasil membawa GE Healthcare menjadi nomor 1 atau nomor 2 di pasar Indonesia. Sekarang hampir setiap rumah sakit punya alat GE. Bahkan kedua anak saya lahir dengan bantuan mesin USG buatan GE.
Karier Anda selanjutnya?
Microsoft tiba-tiba menghubungi saya. Saat itu saya jujur bilang bahwa saya tidak mengerti soal AI (artificial intelligence), cloud, atau analytics. Ternyata mereka memang mencari orang dari luar industri IT untuk membawa perspektif baru.
Saya belajar dari nol lagi. Tim saya sangat suportif. Pada 90 hari pertama saya didedikasikan khusus untuk belajar teknologinya. Salah satu momen paling berkesan adalah saat saya membawa Satya Nadella (CEO Microsoft) bertemu Presiden Jokowi pada Februari 2020. Saat Satya tanya apa yang saya inginkan, saya jawab: "Saya ingin Microsoft Cloud hadir di Indonesia!" Itulah awal proses hadirnya Microsoft Azure di sini.
Berapa lama Anda di Microsoft?
Empat tahun.Setelah empat tahun di Microsoft, saya diminta memimpin pasar berkembang di tujuh negara untuk Amazon Web Services (AWS). Fokus utama saya tetap Indonesia karena investasinya sangat besar di sini.
Anda sukses menangani perusahaan-perusahaan global, tidak berminat membangun bisnis sendiri?
Sejak awal saya memang sudah punya keinginan membangun bisnis sendiri. Setelah satu setengah tahun di AWS, saya memutuskan resign dan membangun startup perangkat lunak untuk industri transportasi bersama teman-teman.
Perbedaan antara menakhodai perusahaan global dan membangun bisnis sendiri?
Di situ saya benar-benar merasakan betapa sulitnya membangun bisnis dari nol. Kami sempat bertemu banyak venture capital yang berminat. Namun, tiba-tiba Equinix datang mengajak saya bergabung untuk meluncurkan bisnis mereka di Indonesia. Setelah berdiskusi dengan keluarga, saya memutuskan bergabung, sementara startup saya tetap dijalankan oleh teman-teman.
Apa yang membuat Anda tertarik bergabung dengan Equinix?
Equinix memberi peluang dampak nyata bagi ekonomi digital Indonesia melalui infrastruktur digital. Apalagi Equinix ini perusahaan patungan dengan Astra International, yang timnya sudah saya kenal.
Di Equinix, Anda benar-benar memulai dari awal?
Suasananya mirip startup. Saat awal bergabung, gedungnya bahkan belum siap, masih berdebu, tanpa dinding dan pintu, sehingga kami harus pakai alat pelindung diri di lokasi.
Anda sukses di bidang-bidang yang bukan kompetensi Anda, apa kuncinya?
Dulu saya pikir, saya akan di industri aviasi sampai pensiun. Tapi pindah ke healthcare dan teknologi membuka mata saya untuk terus belajar. Kuncinya adalah mindset (pola pikir) dan curiosity (rasa ingin tahu). Kita harus berani bertanya dan belajar bukan cuma dari buku, tapi juga dari pelanggan, partner, dan tim sendiri. Rasa ingin tahu untuk belajar pengetahuan dan skill baru akan membawa kita ke mana pun dan bisa mewujudkan mimpi apa pun.
Pernah jatuh atau terpuruk?
Hidup itu pasti ada naik turunnya. Tahun pertama pindah dari aviasi ke healthcare itu sangat susah dan membuat stres karena passion saya belum terbentuk di sana. Saya bahkan hampir menyerah dan sudah menyiapkan surat pengunduran diri.
Apa yang membuat Anda bangkit?
Bos saya waktu itu menantang saya: "Apakah kamu pernah menyerah dalam hidup? Apakah ini akan menjadi yang pertama?" Saya terdiam. Beliau menyuruh saya istirahat dua hari untuk berpikir. Akhirnya saya putuskan bertahan, fokus mengejar target, dan ternyata hasilnya sangat baik. Itu pelajaran berharga bahwa mindset sangat menentukan.
Filosofi hidup Anda?
Saya memegang prinsip 3H, yaitu honest (jujur), humble (rendah hati), dan hardworking (kerja keras). Nilai-nilai ini selaras dengan didikan kakek saya yang sangat jujur dan rendah hati.
Mana yang paling sulit dijalankan?
Bekerja keras itu paling gampang, jujur itu menantang, tapi menjadi rendah hati saat kita sudah sukses itu yang paling susah.
Anda menerapkan nilai-nilai tersebut kepada karyawan Equinix?
Mindset dan integritas adalah dua hal utama yang saya tanamkan. Integritas, bagi saya, berarti melakukan hal yang benar, bahkan saat tidak ada yang melihat. Saya juga membangun semangat kekeluargaan. Kami rutin mengadakan town hall dan acara kebersamaan, seperti memakai batik saat Hari Kartini atau kumpul-kumpul saat Lebaran.
Model kepemimpinan Anda?
Sederhana saja. Saya memperlakukan semua orang sama, mulai dari petugas keamanan hingga anggota tim. Rasa saling menghormati itu penting. Di kantor, tim sering berbagi makanan, itu bagian dari budaya kekeluargaan kami.
Sebagai orang Malaysia, Anda punya kendala dalam beradaptasi di Indonesia?
Awalnya terasa kaku dan ada jarak saat berkomunikasi. Tapi setelah dua tahun belajar budaya dan cara bicara bahasa Indonesia, saya merasa menjadi lebih Indonesia. Sekarang rasanya tidak ada bedanya lagi.
Apa yang biasa Anda lakukan di akhir pekan untuk menjaga work-life balance?
Saya mengutamakan waktu bersama keluarga karena anak-anak saya masih dalam masa pertumbuhan. Saya punya dua putra, usia 12 dan 8 tahun. Mereka suka main basket, jadi saya sering ikut mereka. Selain itu, saya suka lari pagi untuk menjaga kesehatan.
Seberapa besar peran keluarga dalam pengambilan keputusan karier Anda?
Sangat besar. Setiap ada langkah besar, kami selalu mengadakan family meeting. Kami bahas tantangan dan dampaknya bagi semua. Kalau anak-anak saya tidak setuju, saya tidak akan pindah. Kebahagiaan keluarga adalah prioritas utama.
Siapa sosok yang menjadi role model dalam hidup Anda?
Inspirasi terbesar saya adalah kakek saya. Beliau mantan jenderal bintang satu di Malaysia dan penyintas Perang Dunia II. Meski jabatannya tinggi, beliau sangat rendah hati dan baik kepada semua orang. Beliau bukan hanya kakek, tapi sudah seperti ayah sendiri bagi saya. Nilai-nilai kebaikan itulah yang saya teladani sampai sekarang.
Target Anda untuk Equinix Indonesia?
Target utama kami adalah menjaga keandalan operasional dengan standar uptime 99,999% atau five nines. Kami juga ingin membangun ekosistem digital yang kuat. Saat ini fasilitas JK1 (Jakarta Satu) kami sudah melayani lebih dari 70 pelanggan. Kami ingin JK1 menjadi hub bagi pemain digital, mulai dari perbankan hingga e-commerce, yang saling terhubung dalam satu ekosistem.
Apa tantangan terbesar mengedukasi pasar Indonesia soal data center?
Tantangan pertama adalah pemahaman. Data center bukan sekadar gedung berisi computer; ada sistem pendingin kompleks, redundansi daya, dan teknologi canggih lainnya. Kami sering mengundang calon pelanggan datang langsung agar mereka paham.
Tantangan kedua adalah kapasitas. Ekonomi digital kita tumbuh sangat cepat. Pada 2024, kapasitas yang beroperasi baru sekitar 300 megawatt, padahal kebutuhannya mencapai 600 megawatt. Meski sekarang sudah naik jadi 500 megawatt lebih, laju penambahan kapasitas tetap harus dipercepat.
Bagaimana dengan regulasi?
Landasannya sudah kuat dengan adanya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PSTE). Ada juga UU Pelindungan Data Pribadi yang sudah berlaku. Kami di Equinix patuh 100% pada regulasi local, seperti dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) atau Kementerian Komdigi. Banyak pelanggan ingin data mereka tetap di dalam negeri, dan kami memfasilitasi itu.
Apakah investasi data center di Indonesia masih menarik?
Tentu saja. Indonesia masih sangat menarik. Dengan populasi yang besar, pertumbuhan ekonomi yang stabil, dan transformasi digital, Indonesia sangat menarik.
Ada isu bahwa harga listrik di Johor (Malaysia) lebih murah dibanding Indonesia, sehingga banyak investor pindah ke sana, benarkah?
Itu tidak sepenuhnya benar. Biaya listrik di Indonesia justru termasuk yang paling kompetitif di Asia Tenggara berkat subsidi pemerintah. Johor berkembang karena dulu Singapura sempat memberlakukan moratorium pembangunan data center lantaran khawatir pasokan energi untuk masyarakat terganggu. Batam, Singapura, dan Johor sekarang membentuk satu ekosistem yang saling terhubung.
Bagaimana Anda melihat lanskap industri data center ke depan?
Ada dua tipe: hyperscale dan retail. Hyperscale itu seperti Microsoft dan Google, yang investasinya besar dan akan terus tumbuh seiring konsumsi cloud dan AI. Sedangkan Equinix fokus di retail data center. Sekitar 80% pendapatan global kami dari retail data center. Peran kami sangat penting dalam membangun ekosistem interkoneksi bagi ISP (internet service provider), sistem pembayaran, hingga keamanan siber.
Setelah satu tahun JK1 beroperasi, apa rencana ekspansi selanjutnya?
Kami berharap jumlah pelanggan di JK1 (Jakarta Satu) tumbuh menjadi ratusan. Kami juga sedang menyusun rencana untuk JK2 (Jakarta Dua) dan fasilitas berikutnya, kemungkinan tetap di kawasan Jabodetabek karena konsentrasi pelanggan ada di sana. Secara global, Equinix memang tumbuh pesat. Di Tokyo, kami punya 15 fasilitas, di Singapura ada lima dan sedang bangun yang keenam.
Layanan Equinix juga bisa menjangkau UMKM?
Secara bisnis, kami bergerak di segmen B2B (business to business) untuk perusahaan besar dan ISP. Untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), biaya menyewa satu rak sendiri mungkin masih terlalu besar. Namun, UMKM tetap bisa memanfaatkan infrastruktur kami melalui para mitra kami. Itu cara yang lebih terjangkau bagi mereka.
Keunggulan, keunikan, dan nilai tambah Equinix dibanding kompetitor?
Interkoneksi dan lokasi strategis. Lokasi kami di Mega Kuningan terkoneksi langsung dengan Gedung Cyber 1, yang merupakan internet exchange terbesar di Indonesia dengan lebih dari 600 perusahaan. Pelanggan kami bisa terhubung ke ribuan anggota APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) hingga ke jaringan kabel bawah laut internasional dengan sangat mudah.
Ini penting untuk menekan latensi. Koneksi kami bisa kurang dari 1 milidetik, sementara koneksi biasa ke cloud provider bisa 6 milidetik. Selisih itu sangat krusial bagi aplikasi yang butuh respons secara real-time. ***
Biodata
Nama: Haris Izmee.
Pendidikan:
* B. Eng., Aeronautical Engineering - Queen Mary University of London (1996 – 1998).
* Diploma, Aeronautical Engineering - Prime College (1995 – 1996).
Karier:
* President Director Equinix Indonesia – Jakarta (September 2024 – sekarang).
* Strategic Advisor Chatra - Jakarta (Juli 2024 - sekarang).
* CEO & Co-Founder Chatra - Jakarta (September 2023 -Juli 2024).
* Strategic Advisor CaringUp - Singapura (September 2023 - sekarang).
* Strategic Advisor BetterPlace - Singapura (September 2023 - sekarang).
* Managing Director ASEAN Growth Markets Amazon Web Services (AWS) - Jakarta (Desember 2021 - Mei 2023).
* Presiden Director Microsoft Indonesia - Jakarta (November 2017 - Desember 2021).
* Country Manager & Director GE HealthcareIndonesia - Jakarta (Februari 2014 - September 2017).
* Senior Sales Director GE Aviation Indonesia - Jakarta (Maret 2011 - Februari 2014).
* Service Program Manager, Technical Services, Asia Panasonic Avionics Corporation - Singapura (Mei 2009 - Maret 2011).
* Senior Consultant, Aerospace & Defense, Asia Pacific Frost & Sullivan - Kuala Lumpur (Januari 2008 - April 2009).
* Consultant, Aerospace & Defense, Asia Pacific Frost & Sullivan - Kuala Lumpur (Februari 2007 - Desember 2007).
* Manager, Logistics Development & Strategic Sourcing Airod - Kuala Lumpur (Januari 2006 - Desember 2006).
* Manager, Systems Development Airod - Kuala Lumpur (Januari 2005 - Januari 2006).
* Senior Executive, Special Projects Airod - Kuala Lumpur (Januari 2002 - Desember 2004).
* Executive, Business Development Airod - Kuala Lumpur (Desember 2000 - Desember 2001).
Lain-Lain:
* ICT Committee AmCham Indonesia (April 2018 - 2019).
* Mentor Endeavor Indonesia (Oktober 2019 - sekarang).

