Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama Tae Yong Shim: Kami Percaya pada Masa Depan Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Keputusan membangun dan mengembangkan perusahaan investasi tak terlepas dari keyakinan kuat terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Di tengah ketidakpastian global dan tekanan domestik terhadap pasar keuangan, PT Samuel Tumbuh Bersama (STB) justru mengambil posisi sebagai investor jangka panjang yang percaya pada fundamental ekonomi nasional.
“Kami membangun dan mengembangkan STB karena percaya pada masa depan Indonesia. Bergabung dengan STB sebagai investor adalah bukti kepercayaan terhadap masa depan Indonesia,” ujar Direktur PT Samuel Tumbuh Bersama (STB) Tae Yong Shim dalam wawancara eksklusif dengan Investortrust, Rabu (16/04/2026).
Prospek kuat tersebut tercermin dari lompatan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) lebih dari 13 kali lipat terhitung sejak tahun 2000 hingga awal 2026. IHSG telah melesat dari level 677 poin ke atas level 8.600. “Kenaikan tersebut mencerminkan tren pertumbuhan jangka panjang pasar modal Indonesia yang sejalan dengan perkembangan perekonomian nasional,” katanya.
Baca Juga
Gubernur BI Bertemu Sejumlah Investor, Sebut Perekonomian Indonesia Berdaya Tahan
STB menilai bahwa pasar saham merupakan representasi dari kondisi ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, keyakinan terhadap prospek ekonomi nasional dinilai selaras dengan optimisme terhadap kinerja pasar modal. STB juga meyakini bahwa pertumbuhan jangka panjang pasar modal Indonesia masih menjanjikan.
“Dengan fondasi tersebut, STB menargetkan dapat memperoleh manfaat dari perkembangan pasar saham Indonesia ke depan. Kami menyampaikan bahwa investor yang percaya pada prospek ekonomi Indonesia dan pasar saham domestik, STB menjadi pilihan investasi yang layak dipertimbangkan,” terangnya.
Meski saat ini ekonomi dan pasar saham Indonesia tengah menghadapi tekanan global akibat perang AS bersama Israel melawan Iran, Perang Rusia melawan Ukraina, dan perang dagang yang meluas, Tae Yong Shim tetap yakin terhadap prospek ekonomi Indonesia sangat cerah. “Jika semua jenis infrastruktur sudah terbangun, kualitas sumber daya manusia bertambah (SDM) bagus dan regulasi semakin mendukung kemajuan dunia usaha, kami yakin bahwa ekonomi Indonesia akan melesat,” terangnya.
Optimisme terhadap masa depan ekonomi Indonesia, terang Shim, dapat dilihat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Korea Selatan (Korsel), China, dan Indonesia. Jika dilihat PDB tiga negara tersebut relatif sama hingga tahun 1970, yaitu berada di bawah US$ 500 per kapita. Tapi, pada 2021, PDB per kapita Korsel telah melesat menjadi US$ 34.9998 dan China US$ 12.556. Sedangkan Indonesia masih tumbuh melambat ke level US$ 4.333. Ini artinya peluang peningkatan pesat masih terbuka.
Apalagi, terang dia, sejumlah program Presiden Prabowo cukup bagus guna mengakselerasi laju pertumbuhan ekonomi hingga menembus 8%. Presiden juga menunjukkan komitmen yang besar dalam membenahi semua regulasi yang menghambat kemajuan dunia usaha dan mengajak semua pelaku usaha mendukung konsep Indonesia Incorporared. Semua program ini sangat penting untuk mencegah Indonesia masuk middle income trap dan membawa Indonesia mencapai generasi emas paling lambat 2045.
Lini Bisnis STB
STB memiliki tiga lini bisnis sebagai arah strategi pertumbuhan ke depan, yaitu investasi strategis, wealth management, dan investment banking. “Maju-mundurnya bisnis tiga sektor ini mencerminkan kemajuan ekonomi Indonesia,” ujar mantan Presdir PT Mirae Asset Sekuritas yang sudah lama tinggal di Indonesia.
Pada investasi strategis, perusahaan menitikberatkan investasi pada perusahaan berkualitas dan investasi bersifat jangka panjang. Strategi ini bertujuan untuk menciptakan nilai berkelanjutan dengan berinvestasi pada perusahaan berfundamental kuat dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Hingga kini, investasi strategis masih menjadi mesin pendapatan perseroan.
Baca Juga
Purbaya Bertemu Blackrock dan Investor AS, Yakinkan Kondisi Ekonomi Indonesia ke Depan
Investasi strategis dipimpin langsung Founder & CIO Miming Satyono. Miming memiliki keunggulan dalam membangun kemitraan jangka panjang dengan perusahaan berkualitas tinggi dan juga memiliki jaringan investor skala global. Filosofi investasi STB adalah alpha tidak dihasilkan dari siklus makro, tetapi dari pemilihan saham yang tepat.
Kedua, bisnis wealth management yang dipimpin Tae Yong Shim. Melalui segmen bisnis ini, STB diposisikan sebagai platform boutique yang mendorong pendapatan berulang. Saat ini, tak banyak perusahaan investasi yang menyediakan layanan manajemen kekayaan pribadi di Indonesia, selain perbankan. Itulah alasan STB mengembangkan bisnis ini dan menjadi pelopor manajemen kekayaan pribadi.
Wealth management STB menggabungkan model private banking Amerika Serikat dan Eropa, sehingga Samuel Group bisa disebut sebagai platform boutique wealth management terbaik di Indonesia. Penguatan segmen bisnis ini akan berkorelasi terhadap penguatan stabilitas kinerja keuangan perseroan dalam jangka panjang.
Ketiga, segmen investment banking dengan memfokuskan bidang merger dan akuisisi (M&A) serta penggalangan dana melalui pasar modal. Investment banking dipimpin Managing Director Arsiano Poerwanto dengan kemampuan untuk mendapatkan mandat berkualitas dalam menangani M&A dan pasar modal, termasuk penjaminan emisi saham (IPO) saham, layanan advisory end-to-end bagi emiten yang menargetkan masuk dalam indeks MSCI dan FTSE Global Index, hingga perluasan jaringan mitra internasional bagi perusahaan dalam negeri.
“Dengan pendekatan investasi jangka panjang dan fokus pada value creation atau penciptaan nilai, STB memposisikan diri sebagai salah satu kendaraan investasi yang ingin tumbuh bersama ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, keyakinan pendiri dan manajemen STB terhadap masa depan ekonomi Indonesia menjadi pertimbanganutama,” ujarnya.
Sedangkan dalam strategi investasinya, STB mengedepankan filosofi penciptaan alpha melalui seleksi saham yang tepat (stock selection), alih-alih bergantung pada siklus makroekonomi. Pendekatan ini menempatkan kualitas perusahaan dan potensi pertumbuhan jangka panjang sebagai faktor utama dalam pengambilan keputusan investasi.
Selain itu, STB aktif mendukung pertumbuhan perusahaan-perusahaan dalam portofolionya. Salah satu contohnya, STB ikut memfasilitasi masuknya SBS Co Ltd, perusahaan penyiaran televisi terkemuka, berinvestasi di PT MD Entertainment Tbk (FILM). “Langkah ini mencerminkan peran STB tidak hanya sebagai investor, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam memperkuat struktur kepemilikan dan ekspansi bisnis portofolio yang dipegang STB,” ungkapnya.
STB juga menaruh perhatian besar pada peningkatan profil global perusahaan-perusahaan portofolionya. Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan mendorong perusahaan tersebut dapat masuk dalam indeks global bergengsi, seperti MSCI dan FTSE. Dengan demikian, perusahaan portofolio tersebut mampu untuk menarik minat investor internasional dan akhirnya meningkatkan likuiditas saham.
Keunggulan STB
Tae Yong Shim mengungkapkan STB didirikan dengan tiga keunggulan kompetitif yang menjadi fondasi pertumbuhan bisnis ke depan dan menjadi pembeda dengan perusahaan sejenis. Keunggulan tersebut mulai dari kualitas tim kepemimpinan hingga kekuatan di bidang investment banking.
Keunggulan pertama, STB didukung sumber daya manusia yang dinilai sangat berbakat dan berpengalaman. Grup ini dipimpin oleh figur-figur dengan rekam jejak kuat di industri keuangan. Di antaranya, Miming Satyono, yang dikenal sebagai bankir investasi di Indonesia dan merupakan pendiri Grup Samuel pada 1992 memiliki latar belakang pendidikan dari Harvard dan Golden Gate dengan gelar MBA.
Dari sisi organisasi, struktur STB juga diperkuat oleh kehadiran Teguh Hartanto yang memiliki pengalaman luas di sektor keuangan, termasuk di institusi global seperti HSBC serta Bahana, dengan cakupan berbagai fungsi dan level manajemen.
Kedua, STB dalam memberikan layanan investment banking. Perusahaan memiliki rekam jejak panjang dalam memberikan nasihat kepada pelaku usaha, khususnya aksi korporasi, seperti IPO saham, penerbitan saham, surat utang, hingga ekspansi melalui akuisisi regional ke berbagai negara, seperti Korea, Jepang, dan Taiwan.
“Dengan reputasi tersebut, Samuel menjadi rujukan bagi pemilik bisnis dan manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan strategis, termasuk dalam penggalangan dana dan pengembangan usaha. Kami menilai bahwa tidak semua institusi memiliki kemampuan serupa dalam menarik kepercayaan pelaku usaha untuk berkonsultasi secara langsung terkait aksi korporasi,” terangnya.
Ketiga, STB memiliki komitmen kuat untuk membuka nilai bagi pemegang saham (unlock shareholder value) dengan pendekatan yang berfokus pada penciptaan imbal hasil. Hal ini ditunjukkan Miming, pendiri Grup Samuel, dengan memberikan perhatian sangat besar untuk menghasilkan keuntungan melalui pendekatan yang konsisten dan terarah. Pendekatan ini diibaratkan kuda pacu yang hanya fokus ke depan tanpa terdistraksi, yaitu mencerminkan konsentrasi penuh dalam menciptakan nilai dan keuntungan bagi perusahaan.
Baca Juga
Samuel AM Raih Most Trusted Financial Brand Awards 2026 Kategori Reksa Dana Campuran
Samuel Tumbuh Bersama (STB) menegaskan bahwa strategi investasinya bertumpu pada penggunaan modal internal, sehingga perusahaan tak terikat pada kewajiban divestasi dalam jangka waktu tertentu sebagaimana praktik umum di industri private equity.
Tae Yong Shim menjelaskan bahwa pendekatan modal sendiri memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk menahan investasi dalam jangka panjang, bahkan melampaui satu dekade. Dampaknya STB dapat lebih optimal dalam menciptakan nilai berkelanjutan tanpa tekanan exit selama periode tertentu.
“Kami tidak mengejar keuntungan jangka pendek. Kami membangun nilai,” tegas profesional berkebangsaan Korsel yang mengaku menjadikan gaya investasi superinvestor kelas dunia, Warren Edward Buffett, chairman dan mantan CEO Berkshire Hathaway sebagai rujukan.
Meski focus menciptakan nilai berkelanjutan, STB ternyata tidak terlibat langsung dalam operasional perusahaan yang diinvestasikan. Oleh karena itu, pemilihan investasi menyasar entitas yang telah memiliki manajemen kuat dan tata kelola yang baik.
Sosok Pendiri
STB yang telah berusia 34 tahun ini didirikan oleh Miming Satyono, wanita profesional yang menjadi bankir di Citibank beberapa dekade pada jayanya di Indonesia. Cikal bakal STB adalah pendirian PT Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) tahun 1992. Setelah sukses membangun PT SSI, Miming dan rekan bisnisnya mendirikan PT Samuel Asset Management, yakni butik investasi. STB juga mendirikan Samuel Kripto Indonesia, berdiri sejak 2021, sebagai platform pertukaran kripto.
“Miming memiliki rekam jejak panjang sebagai bankir di Citibank pada masa ketika bank tersebut berada di puncak industri keuangan global. Dengan basis networking yang luas dan akses langsung ke berbagai kelompok usaha besar hingga konglomerasi, dia mendirikan Samuel Sekuritas tahun 1992,” jelas Shim.
Dia mengatakan, kemampuan luar biasa Miming dalam membangun jaringan dan menarik peluang investasi yang tepat adalah kekuatan yang tidak mudah direplikasi. Itulah pertimbangan utama Tae Yong Shim, ekspatriat Korsel, tertarik belajar langsung dari Miming sebagai orang Indonesia yang mengenal medan Indonesia.
STB sebagai entitas induk merupakan perusahaan investasi dengan portofolio terdiversifikasi. Struktur kepemilikan terdiri dari Samuel International yang menjadi pemegang saham terbesar sebanyak 52,1%, Mitra Agro Dharma Unggul sebesar 36,3%, serta Mining secara pribadi menggenggam 11,6% saham STB.
Lonjakan Kinerja
Dengan berbagai strategi investasi tersebut, STB berhasil meraih pertumbuhan signifikan atas kinerja keuangan dalam empat tahun atau periode 2022 hingga 2025. Pendapatan perusahaan naik signifikan dari Rp 99,1 miliar pada 2022 menjadi Rp 12,09 triliun pada 2025 atau melesat 586%. Laba bersih juga melonjak dari Rp 107 miliar menjadi Rp 12,06 triliun atau naik 578%.
Shim mengatakan, kenaikan kinerja ini mencerminkan ekspansi agresif sekaligus keberhasilan strategi investasi jangka panjang yang dijalankan perusahaan. STB juga mencatatkan return on equity (ROE) sebanyak sebesar 72,8% dan return on assets (ROA) sebesar 74,1%. Struktur keuangan juga tergolong solid dengan debt-to-equity ratio hanya 0,2%. Dari sisi neraca, total aset meningkat dari Rp 230,4 miliar pada 2022 menjadi Rp 16,27 triliun pada 2025, sementara ekuitas naik dari Rp 219,8 miliar menjadi Rp 16,56 triliun.
Usai sukses mencatatkan pertumbuhan keuangan pesat, Shim mengatakan, STB mulai beruapaya untuk menyeimbangkan struktur pendapatan. Tahun 2025, sekitar Rp 11 triliun atau sekitar 90% dari total pendapatan berasal dari unrealized gains, yaitu kenaikan nilai investasi yang belum direalisasikan menjadi kas.
Sedangkan pendapatan dari realized gains yang telah dikonversi menjadi kas tercatat sekitar Rp 926 miliar tahun 2025. Pendapatan tersebut berasal dari dividen anak usaha serta laba bersih dari perusayaan yang dioperasikan langsung, yaitu Samuel Sekuritas Indonesia dan Samuel Asset Management.
Shim mengatakan tidak menampik bahwa struktur ini perlu dipahami secara cermat oleh investor. “Unrealized gains memang belum menjadi kas, tetapi mencerminkan peningkatan nilai portofolio kami secara nyata. Unrealized gains sangat bergantung pada kondisi pasar, sehingga tidak selalu berulang dengan nilai pertumbuhan yang sama,” katanya.
Dia menegaskan bahwa fokus utama perusahaan bukan pada volatilitas jangka pendek, melainkan pada peningkatan nilai intrinsik portofolio secara berkelanjutan. Dalam jangka panjang, nilai tersebut diyakini akan terealisasi melalui strategi divestasi yang terukur. Artinya keseimbangan pendapatan realized gains dan dividen bisa lebih besar dibandingkan pendapatan unrealized gains, seiring dengan kematangan portofolio investasi.
IPO STB
Saat ini, Samuel Tumbuh Bersama (STB) sedang mempersiapkan langkah strategis melalui penawaran umum perdana (IPO) sekitar 20% saham. Melalui go public, perusahaan membidik penguatan struktur permodalan, peningkatan transparansi, serta percepatan pertumbuhan pada lini bisnis strategis, termasuk investasi strategis, wealth management, dan investment banking.
Manajemen menyampaikan bahwa jadwal pelaksanaan IPO saham masih berpotensi berubah, seiring dinamika global. Ketegangan geopolitik, khususnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, dinilai masih menjadi faktor yang perlu dicermati sebelum mulai menawarkan saham STB ke publik.
“Timeline dapat IPO saham STB bisa bergeser, jika tensi geopolitik berlanjut. Konflik AS-Israel dengan Iran masih berlangsung, dan kami berharap situasi ini segera mereda,” ujar Shim.

