Yuk! Ajarkan Kesadaran Investasi ke Anak Sejak Dini
JAKARTA, investortrust.id - Mengajarkan investasi sejak dini bisa menjadi langkah awal yang sangat baik untuk membentuk kebiasaan finansial yang positif di masa depan. Menanamkan literasi keuangan tersebut merupakan langkah strategis dalam mempersiapkan kesejahteraan finansial anak di masa mendatang.
Dengan penguasaan literasi keuangan yang baik, anak-anak dapat mengembangkan perspektif yang lebih mendalam tentang nilai uang dan menggunakannya dengan lebih bijaksana.
Memperkenalkan konsep ini sejak usia muda menurut Certified Financial Planner Aline Wiratmaja memberikan dampak positif jangka panjang, membekali mereka dengan keterampilan esensial untuk menghadapi berbagai tantangan finansial yang akan mereka temui di masa depan. Melalui pemahaman keuangan yang kokoh, anak-anak dipersiapkan untuk membuat keputusan finansial yang lebih cerdas dan bertanggung jawab sepanjang hidup mereka.
Apalagi dalam era kemajuan teknologi dan kemudahan akses yang kerap mendorong perilaku konsumtif, fondasi finansial amat penting untuk masa depan.
Mengutip Otoritas Jasa Keuangan (OJK) investasi adalah penanaman modal, biasanya dalam jangka panjang untuk pengadaan aktiva lengkap atau pembelian saham-saham dan surat berharga lain untuk memperoleh keuntungan.
Di sisi lain, menurut wanita kelahiran Banjarmasin 8 Januari 1984 dan ibu dari Evander Shane Sidarta ini untuk menerapkan hal itu, sang orang tua diharapkan bisa memiliki pemahaman finansial yang baik baik terlebih dahulu dan mempersiapkan masa pensiun dengan baik. Sebab, menjadikan anak sebagai investasi bisa menciptakan sandwich generation yang 'terjepit' antara tanggung jawab merawat orang tua dan anak-anak mereka kelak.
Literasi keuangan yang secara umum meliputi kemampuan seseorang untuk memahami dan mengelola keuangan secara efektif, sambung alumni Universitas Gadjah Mada tersebut menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini. Hal ini mencakup wawasan tentang berbagai produk dan layanan keuangan, serta kemampuan untuk membuat keputusan keuangan yang tepat.
Literasi keuangan juga membuka wawasan anak tentang pengelolaan uang yang bijak, termasuk pemanfaatan produk dan layanan keuangan. Pemahaman ini membantu anak merencanakan masa depan melalui kebiasaan menabung dan pengenalan konsep investasi yang sesuai usia.
Baca Juga
Lebih jauh, literasi keuangan mengasah kemampuan anak dalam menilai risiko dan potensi keuntungan, mempersiapkan mereka untuk membuat keputusan finansial yang cerdas dan terhindar dari investasi yang mencurigakan atau aktivitas keuangan yang ilegal.
Namun sayangnya berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK tahun 2024, tingkat literasi keuangan anak usia 15-17 tahun hanya mencapai 51,7% dan inklusinya 57,96%. Angka yang rendah ini mengindikasikan perlunya pengembangan literasi keuangan yang lebih intensif sejak dini.
Alhasil mengajarkan anak tentang investasi sejak dini bisa menjadi langkah penting dalam membangun pemahaman keuangan yang kuat. Dengan pendekatan yang tepat, anak-anak dapat belajar tentang bagaimana uang bekerja dan bagaimana mereka dapat mengambil keputusan keuangan yang bijaksana di masa depan.
Berikut petikan wawancara lengkap Aline Wiratmaja dengan pewarta Investortrust Lona Olavia, baru-baru ini:
Bagaimana memperkenalkan anak soal investasi?
Dari awalnya dulu ya, saya melihat masa kecil saya hingga usia dewasa. Saya dan mungkin juga sebagian besar angkatan saya belajar keuangan otodidak dari trial and error. Dari kesalahan keuangan orangtua, orang di sekitar kita maupun diri sendiri. Kita mencari-cari sendiri. Ada yang mendapatkan “pencerahan” atau “kesadaran”, lalu getol belajar sendiri. Ada pula yang sampai usia pensiun tetap berada dalam “kegelapan” terperangkap dalam habit dan mindset keuangan yang buruk.
Di sisi lain, ada yang ‘beruntung’ dikaruniai orangtua yang memang punya kebiasaan keuangan yang baik, sehingga mereka secara tak langsung mengadopsi habit yang baik dengan melihat seperti apa orangtuanya.
Menjadi orangtua yang punya habit keuangan dan investasi baik, itu sudah secara tidak langsung memperkenalkan investasi pada anak. Kalau saya ingat-ingat lagi, anak saya tertarik soal investasi di usia relatif muda (7 tahun). Karena waktu itu dia melihat saya sibuk mempelajari saham. Dia juga melihat saya sharing materi soal keuangan saat saya IG Live atau diundang memberikan seminar.
Selain secara alamiah seperti ini, juga bisa kita buat intentional, dengan mengajak anak ngobrol dan terlibat soal keuangan dari hal-hal keseharian. Misalnya, dengan membandingkan produk satu dengan yang lain saat berbelanja supaya anak menjadi conscious spender.
Bisa juga mengajak anak menabung di celengan, dari konsep uang yang konkret, lalu ajak anak ke bank buka rekening tabungan, dan menyetorkan uangnya. Uang yang tadinya berbentuk fisik kini menjadi abstrak dalam bentuk angka-angka.
Dari situ anak punya kartu ATM, dia bisa ambil uangnya di ATM. Anak jadi tahu, uang di ATM itu ternyata adalah uang yang sudah disetorkan sebelumnya, jadi jumlahnya terbatas. ATM bukan mesin ajaib yang selalu bisa keluarin uang saat kita punya keinginan beli beli.
Mulai dari konsep uang, nilai uang, pelan-pelan mengajarkan anak soal investasi. Begitu anak punya keinginan beli sesuatu yang nilainya lumayan, itu jadi momentum untuk mengajarkan punya goals, rutin menabung menyisihkan untuk mencapainya, dan salah satunya dengan berinvestasi.
Saya ingat Evan kecil sejak umur 6 tahun menabung di celengan, katanya untuk sekolah pilot. Akan membantu anak semangat menabung dan berinvestasi kalau ada hal yang ingin anak tuju atau ada hal yang disukainya.
Satu hal yang sangat penting adalah kedekatan yang kuat antara anak dan orangtua, serta nilai nilai yang kita pegang sebagai keluarga, supaya anak kita tetap berpijak pada bumi dan nilai kemanusiaan yang baik, menghindarkan anak jadi materialistik.
Baca Juga
Dear Investor Pemula! Simak Empat Keunggulan Investasi di Reksa Dana Berikut
Apa jenis investasi yang sebaiknya diajarkan untuk anak kecil?
Untuk anak yang masih kecil, diajarkan punya regulasi diri yang baik itu menjadi fondasi yang kuat dan membantu dia mandiri hingga usia dewasa. Saya lihat konsep Montessori yang mengajarkan anak untuk bisa mandiri dan bertanggung jawab, seperti melepas dan memasang sepatu sendiri, makan, menyimpan dan menemukan barang-barangnya sendiri dapat membantu regulasi diri.
Sesuai umur, pelan pelan anak-anak diajari terlibat atau punya tanggung jawab di rumah, misalnya merapikan sisa makan sendiri, mencuci piring yang dipakai sendiri. Dia tahu di sekolahnya besok ada acara apa, ada agenda apa, harus bawa apa.
Memang sepertinya tidak terkait dengan keuangan atau investasi ya, tapi itu modal yang berharga untuk anak. Satu hal yang juga sangat penting, menumbuhkan self esteem pada anak (keyakinan atas nilai diri). Anak dengan self esteem yang baik akan lebih baik dalam pengambilan keputusan (termasuk keputusan keuangan), punya sikap yang lebih baik terhadap keuangan karena mereka tidak cenderung mengkompensasi rasa rendahnya nilai diri dengan membeli barang-barang ‘keren’ untuk mendapatkan validasi eksternal.
Membantu anak untuk meregulasi emosi akan membantu anak dalam pengendalian diri yang bisa menjadi modal mereka supaya tidak mengambil keputusan keuangan, pembelian maupun investasi berdasar emosi semata.
Mengajarkan anak berpikir kritis supaya tidak mudah termakan “iklan” atau mengikuti tren begitu saja, tanpa mencari tahu dan bertanya lebih jauh.
Dari usia berapa anak sudah mengerti investasi atau sudah harus belajar investasi?
Menurut saya tidak ada patokan harus umur berapa. Kita bisa sesuaikan dengan kesiapan anak dan orangtua. Utamanya di orangtuanya dulu. Kita sebagai orangtua perlu mengedukasi diri sendiri terlebih dahulu, membangun fondasi keuangan dan habit keuangan yang baik. Supaya anak melihat ketika orangtuanya mengajarkan soal investasi itu bukan gimmick, karena mereka melihat orangtuanya juga menjalaninya. Lakukan ketika orangtua dan anaknya siap, secara mental maupun finansial.
Baca Juga
Seberapa pentingnya bagi anak untuk mengerti dunia investasi sejak dini?
Penting untuk kita membangun kualitas yang akan membantu anak tumbuh menjadi individu yang mandiri, berdaya dan terampil mengelola uang, serta konsisten dalam mencapai tujuan keuangan dan kehidupan yang mereka inginkan. Untuk menanamkan kualitas-kualitas baik ini bisa sedini mungkin, sebut saja critical thinking, regulasi diri dan emosi, pengambilan keputusan dengan porsi sesuai usia mereka.
Menurut saya yang lebih penting kualitas ini dulu, kalau untuk mengajari mereka fasih menggunakan aplikasi investasi dan bertransaksi menggunakannya, sebenarnya anak usia SD, juga bisa. Karena anak kecil, begitu mereka tahu cara menggunakan gadget dan aplikasi, maka mereka juga bisa menggunakan aplikasi investasi.
Tetapi yang jauh lebih penting daripada itu adalah bagaimana membuat mereka memahami apa yang sedang kita lakukan. Bahkan yang lebih penting daripada itu adalah pembentukan karakternya dan kebiasaan baik dalam diri anak.
Bisa bagikan tips agar orangtua semangat mengajari investasi buat anak?
Sebagai keluarga kita pasti punya tujuan bersama atau ‘rich life’ versi kita sendiri yang mungkin beda dengan versi kebanyakan orang pada umumnya. Spirit untuk mengupayakan ini bersama-sama bisa bikin kita sebagai keluarga bersemangat untuk berinvestasi dan mengendalikan keinginan berlebihan yang bisa menghambat tercapainya tujuan bersama.
Kalau saya juga punya alasan tersendiri, saya ingin anak saya mandiri, bisa terbang dengan sayapnya sendiri di usia dewasa. Saya pun juga tidak ingin membebani anak di masa pensiun saya. Intinya saya ingin memutus rantai sandwich generation.
Lalu lebih berperan ayah atau ibu dalam memberi pengenalan akan investasi?
Ayah dan ibu sama-sama berperan, mungkin dengan cara yang berbeda-beda. Suami saya sebagai seorang konsumen sangat teliti. Survei, riset, membandingkan. Buat dia butuh waktu cukup lama dari dia berniat membeli sesuatu sampai akhirnya barang itu dia beli. Karena lamanya proses dia memastikan dia membeli barang yang baik di harga yang baik. Saya rasa hal ini membantu anak saya secara tidak langsung belajar menjadi konsumen yang teliti dan tidak asal beli.
Sementara saya suka membaca dan cukup telaten dalam menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan anak terkait berbagai macam hal, misalnya soal inflasi, bagaimana cara bank makes money, dan lainnya. Satu hal yang saya rasakan, kedekatan orangtua dengan anak sangat membantu dalam mengkomunikasikan sesuatu sehingga penerimaan dan penyerapan anak lebih baik.
Mengutip buku “Make Your Kid a Money Genius’, “Don’t expect your child to have money skills if all you’ve given him is money.” Jadi kita benar-benar harus menginvestasikan waktu dan hubungan yang berkualitas dengan anak.
Terakhir, apakah ada perbedaan cara mengenalkan investasi pada anak laki-laki dan perempuan?
Saya belum punya pengalaman punya anak perempuan. Menurut saya, baik anak laki laki maupun perempuan perlu mendapatkan pengetahuan dan akses yang setara ke keuangan dan investasi. Penulis Beth Koblinger dalam bukunya “Make Your Kid a Money Genius’, dengan mengutip sejumlah penelitian, menulis ada kecenderungan orangtua lebih banyak bahas uang dengan anak laki-laki ketimbang perempuan. Nah, di sini kita perlu lebih aware supaya tidak terjadi “money gap” antara anak laki laki dan perempuan.

