Di Luar Negeri, Generasi Zillennial Sudah Diajarkan Berinvestasi
JAKARTA, investortrust.id – Berbeda dengan di Indonesia yang hanya diajarkan menabung, generasi zillennial di luar negeri sudah diajarkan berinvestasi. Alhasil, kesadaran pentingnya berinvestasi sudah tertanam sejak dini, yang antara lain mendorong penetrasi industri aset manajemen. Di negara tetangga Malaysia dan Thailand misalnya, total dana kelolaan (asset under management/AUM) manajer investasi masing-masing telah mencapai 35,8% dan 30,3% terhadap produk domestik bruto (PDB), sementara di Tanah Air hanya 4%.
Di sisi lain, potensi pertumbuhan AUM kita masih sangat besar. Target AUM manajer investasi (MI) pada 2027 sebesar Rp 1.000 triliun akan terlampaui. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, per Agustus 2023, dana kelolaan MI sebanyak Rp 840,66 triliun, yang antara lain terdiri atas reksa dana Rp 516,68 triliun.
Oleh karena itu, Chief Investment Officer PT STAR Asset Management Susanto Chandra mendorong agar literasi investasi kepada generasi muda ditingkatkan. Generasi zillennialatau Z,yang berumur 11-26 tahun, dalam sensus Penduduk Indonesia tercatat mendominasi, mencapai 27,94% dari total populasi.
“Nah, reksa dana yang dikelola oleh MI bisa menjadi alternatif investasi bagi para investor (muda) untuk mendapatkan investasi dengan returnyang optimal ke depannya. Dengan dana kelolaan MI per GDP di Indonesia masih sekitar 4% PDB dibanding regional yang sudah 20% sampai 30%, harusnya potensi kita masih akan terbuka lebar," kata Susanto saat diskusi mengenai reksa dana dengan tema “Tantangan Investasi Reksa Dana di Tahun Politik", yang digelar Investortrust di Jakarta, Senin (18/09/2023).
Baca Juga
20 Reksa Dana Paling Moncer 2023, Ada yang Cetak Return 18,16%
Jadi, lanjut Susanto, perlu langkah yang tepat untuk terus meningkatkan literasi generasi Z yang lebih muda, selain generasi milenial. Dengan demikian, investor baru di pasar modal kita makin cepat bertambah.
Perlu Permudah Regulasi
Untuk meningkatkan investor ke depan, Susanto menegaskan, regulator juga berperan penting. "Kalau kita lihat saat pandemi Covid-19 kemarin, industri ritel meningkat signifikan. Hal tersebut tidak terlepas dari peran regulator yang mempermudah dari segi opening account, sehingga semua proses bisa dijalankan dengan lancar," ucap Susanto kepada Investortrust.
Baca Juga
Susanto meminta regulator industri pasar modal untuk mempermudah aktivitas para pelaku pasar. Regulasi yang dipermudah akan semakin membuka pengembangan berbagai jenis investasi ke depan.
"Industri pasar modal khususnya reksa dana kita masih tertinggal jika dibandingkan negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Jadi, penting bagi regulator untuk mempermudah regulasi bagi pelaku pasar," tandas Susanto. (CR-1)

