Bagikan

Rupiah Capai Rp 17.007 per US$, Imbas Perang di Teluk Persia yang Tak Kunjung Beres

JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dalam perdagangan pembuka Senin (6/4/2026) pukul 09.11 WIB, rupiah melemah 0,16% ke posisi Rp 17.007 per US$.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah menguatnya sejumlah mata uang negara mitra dagang seperti dolar Singapura, baht Tailan, dan yen Jepang, serta yuan China.

Pelemahan juga dialami secara terbatas pada ringgit Malaysia dan peso Filipina.

Baca Juga

Sempat Tembus Rp 17.000 per Dolar AS, Rupiah Menguat Pagi Ini

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan perang antara AS-Israel dengan Iran yang tak kunjung selesai membuat indeks dolar AS atau DXY naik tipis di atas 100. Selain perang, kenaikan DXY terjadj setelah data ketenagakerjaan AS lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Data nonfarm payrolls mencatat kenaikan terbesar sejak akhir 2024, sementara tingkat pengangguran secara tak terduga turun ke 4,3%, sebagian mencerminkan penurunan partisipasi angkatan kerja.

Data AS yang dirilis saat libur pada hari Jumat menunjukkan ekonomi AS menambah 178 ribu lapangan kerja pada Maret, jauh di atas ekspektasi 60 ribu, sementara tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,3% dan pertumbuhan upah melambat. Investor kini menantikan risalah terbaru Federal Open Market Committee untuk mendapatkan sinyal lebih lanjut mengenai arah kebijakan bank sentral.

Baca Juga

Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Masih Perkasa Akibat Konflik Timur Tengah

Presiden AS Donald Trump menetapkan tenggat waktu baru bagi Iran dan meningkatkan ancaman terhadap pembangkit listrik serta infrastruktur sipil lainnya jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Teheran menolak tuntutan terbaru tersebut dan melanjutkan serangan terhadap aset energi di seluruh Timur Tengah, sementara jalur perairan vital tersebut secara efektif masih tertutup.

Saham AS berada di bawah tekanan jual yang kuat karena konflik mendorong harga energi naik tajam, memicu spekulasi bahwa Federal Reserve dapat menunda penurunan suku bunga dan berpotensi menaikkan biaya pinjaman tahun ini jika inflasi berlanjut.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024