Awal Pekan Rupiah Nyaris Sentuh Lagi Level 17.000, Pasar Pilih Dolar AS Sebagai Aset 'Safe Haven'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (16/3/2026) pukul 09.09 WIB. Rupiah melemah 0,09% dan berada di posisi Rp 16.973 per US$.
Bersama dengan rupiah, mata uang mitra dagang Indonesia seperti rupee India, bath Tailan, dan peso Filipina terpantau melemah. Sementara itu, dolar Hongkong dan Singapura, yuan China, yen Jepan, hingga ringgit Malaysia menguat terhadap dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan bahwa serangan AS yang menargetkan pusat ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg pada akhir pekan menjadi pertimbangan pasar.
Indeks Dolar AS (DXY) naik di atas 100,3, level tertinggi sejak pertengahan Mei 2025. Angka ini berada di jalur kenaikan mingguan kedua berturut-turut karena pelaku pasar terus memilih dolar AS sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya konflik dengan Iran dan belum adanya prospek penyelesaian dalam waktu dekat.
Baca Juga
Militer AS juga mengancam akan memperluas serangan ke infrastruktur energi jika Teheran mengganggu jalur transit melalui Selat Hormuz. Pasar juga menilai laporan bahwa AS segera mengumumkan koalisi negara untuk mengawal kapal yang melintasi jalur perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth mengatakan kepada wartawan bahwa AS akan melancarkan gelombang serangan terbesar terhadap Iran pada Jumat. Harga minyak juga pulih setelah sempat turun di awal perdagangan dan tetap berada di dekat level tertinggi sejak 2022.
"Investor menilai AS berada pada posisi yang lebih kuat dibandingkan ekonomi lain karena tingkat kemandirian energinya yang lebih tinggi," kata Andry.
The Federal Reserve akan memutuskan kebijakan moneter minggu ini. Meskipun tidak ada perubahan pada suku bunga federal funds yang diperkirakan, pasar akan mencermati petunjuk terkait pandangan para pembuat kebijakan untuk sisa tahun ini, terutama bagaimana inflasi dapat berkembang seiring reli harga energi baru-baru ini.
Baca Juga
Rupiah Menguat Tipis, Lonjakan Harga Minyak Bayangi Pergerakan
Investor saat ini hanya memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada 2026.
Perang di Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasokan energi akan terus memengaruhi pasar global serta memainkan peran penting dalam serangkaian keputusan suku bunga oleh otoritas moneter utama.
Setelah The Fed, keputusan kebijakan juga akan datang dari bank sentral negara G10 seperti ECB, BoJ, BoE, SNB, RBA, dan BoC.

